Kopi Ajaib dari Tanah Priangan: Kejayaan dan Keruntuhan Kopi Priangan (1808–1875)

5 menit baca
Junior Fajar Rimbawan
Ditulis oleh Junior Fajar Rimbawan diterbitkan
Perkebunan kopi arabica yang masih eksis sampai saat ini di Loa, Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Junior Fajar Rimbawan)
Perkebunan kopi arabica yang masih eksis sampai saat ini di Loa, Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Junior Fajar Rimbawan)

Pada abad ke-18 pemerintah Hindia Belanda mendirikan perkebunan kopi di Keresidenan Priangan. Kemudian, Pieter Engelhard mencoba membuka perkebunan kopi di daerah selatan Priangan, Khususnya di Lereng gunung Tangkuban Parahu. Panen Kopi pertama kali terjadi pada tahun 1807 dengan memperoleh hasil yang sangat baik, sehingga pemerintah Hindia Belanda memperluas area penanaman kopi di beberapa titik, seperti lereng Gunung Patuha, Mandalawangi, Galunggung, dan Malabar.

Pada Tahun 1808, Daendels mengabulkan permintaan para kepala pribumi untuk melakukan pembagian tidak merata. Lawick Menyetujui atas perintah Daendels mengenai peraturan diperbolehkannya perawatan sebanyak 500 pohon saja sebagai ganti 1.000 pohon setiap keluarga yang mengabdi kepada bupati atau kepala distrik. Pada tahun 1810 Lawick menyampaikan kepada Daendels Bahwasanya masih banyak tenaga kerja yang masih bersembunyi.

Pada tahun 1811 Daendels pun menanggapi berita ini dan memerintahkan jika ada penduduk yang melarikan diri, baik untuk sementara waktu ataupun dengan waktu yang lama, yang membuat pekerjaan mereka ditinggalkan, maka pekerjaan mereka sebagai petani kopi itu menjadi tanggungan penduduk yang masih tinggal. Dengan kebijakan pekerjaan perawatan kopi ini meningkat hingga 3.900 pohon.

Pada Tahun 1816 pemerintah Belanda yang dipimpin oleh Van der Capellen memutuskan untuk mempertahankan sistem pajak tanah yang diberlakukan oleh Raffles, sebagai penyangga kebijakan kolonial. Keputusan ini tidak berlaku di Priangan, karena adanya dorongan dan keinginan untuk meneruskan produksi kopi dan perluasanya agar bisa memenuhi permintaan kopi yang semakin meningkat. Pada Tahun 1818, hanya berselang beberapa tahun setelah pemulihan kekuasaan belanda, harga kopi meningkat hingga lebih dari dua kali lipat harga yang dihasilkan dari satu pikul pada tahun 1815 (M.L. van Deventer 1891: CLXII).

Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal 1808-1811 (Sumber: KITLV 4635)
Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal 1808-1811 (Sumber: KITLV 4635)

Kemudian, Belanda mampu melakukan persaingan yang kuat di pasar dunia yang semakin meluas, dan menjamin masa depan bagi tanaman kopi di Priangan. Kemudian, konsumsi kopi meningkat pada tahun 1822 mencapai 225.000 ton, Hindia-Belanda memasok 100.000 ton dari total jumlah (A. Wild 2004: 99).

Ketika masa jabatan Van den Bosch dimulai pada tahun 1826 ini muncul sistem kebijakan tanam paksa baru yang bernama cultuurstelsel, sistem ini adalah pengadopsian dari sistem yang terlebih dahulu sudah ada yaitu preangerstelsel. Pada tahun 1833 terjadi kegagalan dalam penanaman nilai dan membuat warga harus menanggung semua, sehingga membuat penanaman kopi menjadi prioritas utama. Dengan meningkatnya peminat kopi di pasar Eropa, Van den Bosch mengarahkan penanaman kopi untuk menambah menjadi 40 juta pohon pertahun.

Namun, para pribumi enggan untuk melanjutkan penanaman kopi karena adanya resiko seperti akses jalan yang sulit, karena ditemukan jalan-jalan terjal sehingga pengangkutan barang menyulitkan bagi pribumi, kemudian pengangkutan barang yang menggunakan gerobak pun menjadi alasan yang signifikan, karena ongkosnya sangat mahal yang akan mempengaruhi upah tenaga kerja.

Cuaca yang tidak bisa diprediksi, akan menyulitkan para petani dan rakyat, karena bisa mempengaruhi perjalanan dan waktu kapal bersandar. dan binatang buas yang berkeliaran, dalam kondisi ini para petani menjadi takut Sehingga, tata cara penanaman kopi pada masa Van den Bosch ini dapat dikatakan sebagai cara yang kurang tepat.

Van de Capellen (Sumber: KITLV 36D21)
Van de Capellen (Sumber: KITLV 36D21)

Pada tahun 1840 pasca pemerintahan Van den Bosch, sistem tanam paksa masih terus berlanjut, terutama di Keresidenan Priangan. Keresidenan Kopi Priangan membutuhkan banyak lahan dan tenaga kerja, sehingga Keresidenan priangan menjadi salah satu produksi paling tinggi daripada keresidenan lain yang ada di pulau Jawa. Tercatat antara tahun 1840-1849, kopi memperoleh keuntungan sebesar 65 juta gulden (mata uang belanda) pada saat itu. Hal menjadikannya salah satu penyumbang kopi terbesar di Priangan (Fasseur, 1975). Kopi juga menjadi tanaman ekspor utama di pulau Jawa yang menguntungkan pemerintah Hindia Belanda sebesar 80% mengalahkan gula.

Tahun 1857-1868 lebih dari 80% pohon kopi yang ditanam adalah kopi perkebunan. Sebagai perbandingan, pada tahun 1870 kopi hutan sangat populer di Keresidenan Pasuruan; bahkan pada tahun 1875 sebanyak 2/3 kopi di Keresidenan Pasuruan ditanam dengan model tersebut. Pada waktu yang sama pemerintah membuka kesempatan kepada masyarakat pribumi untuk membuka perkebunan kopi yang kemudian disebut sebagai vrijwillig, merdeka atau manasuka tuinen (perkebunan bebas). Pada tahun 1874 dilaporkan bahwa di delapan afdeling Keresidenan Priangan terdapat 382 petani pribumi yang menanam kopi seluas 4.729 bau, atau dalam hektar seluas 3.357,59 Hektar.

Pada tahun 1875 Harga Kopi di Keresinan Priangan sangat rendah dan selalu dibawah harga pasaran, karena di Keresidenan ini tidak ada sewa tanah, termasuk pada tanah yang tidak ditanami kopi (non-coffee land) yang ditarik oleh Pemerintah Kolonial, kecuali pajak-pajak khusus yang ditarik oleh pemimpin-pemimpin tradisional. Alasan yang mendekati ini adalah bahwasanya petani di keresidenan ini memiliki terlalu sedikit sumber yang bisa dijadikan subjek pajak moneter yang reguler. Alasan lain, dan ini dianggap alasan yang lebih kuat, adalah karena takut mengganggu sistem kopi Priangan yang sangat menguntungkan itu.

Johannes van den Bosch, Gubernur Jenderal 1830-1834 (Sumber: KITLV 4639)
Johannes van den Bosch, Gubernur Jenderal 1830-1834 (Sumber: KITLV 4639)

Perjalanan mengenai Kopi Priangan dari tahun 1808-1880 ini merupakan hasil dari eksploitasi pihak Hindia Belanda yang sistematis, dimulai dari kebijakan pada masa Daendels yang membuat para petani mengalami peningkatan beban kerja hingga mencapa 3.900 pohon. Keberhasilan pihak Hindia Belanda mempertahankan dan membawa kopi ke pasar dunia menjadikanya wilayah Priangan sebagai pemasok utama kopi terbesar, puncaknya pada tahun 1840an yang menyumbang keuntungan hingga 65 juta gulden dan mendominasi sekitar 80% dibandingkan dengan gula.

Namun, pasca tahun 1857-1868 sebanyak 80% pohon kopi ditanami oleh kopi perkebunan, pada tahun 1870 kemudian pemerintah membuka kesempatan kepada pribumi untuk membuka perkebunan kopi, hingga tahun 1875 harga kopi priangan merendah karena ditiadakanya sewa tanah, mengapa? Karena pemerintah kolonial takut mengganggu sistem kopi priangan. (*)

DAFTAR REFERENSI

  • Breman, J. (2014). Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

  • Lasmiyati. (2015). Kopi di Priangan Abad XVIII-XIX. Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 7(2), 263-278. Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung.

  • Murdiyastomo, H. Y. A., & Anggastri, S. N. P. (2022). Preangerstelsel: Sistem Tanam Paksa Kopi Priangan Tahun 1723–1892. Estoria: Journal of Social Sciences & Humanities, 2(2), 123-134. Universitas Indraprasta PGRI.

  • Ricklefs, M. C. (2001). A History of Modern Indonesia since c.1200 (3rd ed.). Stanford University Press.

  • Z., M. M. (2017). Produksi Kopi di Priangan pada Abad ke-19. Paramita: Historical Studies Journal, 27(2), 182-194. http://dx.doi.org/10.15294/paramita.v27i2.11160

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Junior Fajar Rimbawan
Mahasiswa Ilmu Sejarah 2025

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 19:54

Mengapa Bahasa Merek Berubah Saat Pindah ke Instagram?

Membahas bagaimana satu merek menyesuaikan gaya bahasa di website dan Instagram saat menyampaikan pesan Ramadhan, tanpa kehilangan pesan utama kepada publik.

Ilustrasi masakan. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 17:20

Aku, ‘Preman Pensiun’, dan Terminal Cicaheum

Mengajak pembaca menyusuri kenangan personal di Terminal Cicaheum, dari masa kecil hingga era Preman Pensiun.

Suasana Terminal Cicaheum pada pagi hari, Kota Bandung, Rabu 24 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 15:24

Merawat Hutan, Menjaga Warisan Peradaban di Jawa Barat

Kondisi hutan di Jawa Barat saat ini berada dalam status darurat atau sinyal lampu merah yang berakibat dari kerusakan dan penyusutan tutupan hutan yang masif.

Sejumlah pengunjung berfoto di Jembatan Gantung Curug Koleang, Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, Bandung, Sabtu (9/2/2019). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 13:38

Cuaca Ekstrem Kota Bandung Akan Menimbulkan Kerawanan Bahaya Kebakaran

Cuaca ekstrem acapkali menjadi peringatan alam, bukan hanya sekadar perubahan musim tetapi peningkatan suhu mengakibatkan kekeringan yang memiliki potensi besar untuk terjadinya kerawanan kebakaran

Sawah mengalami kekeringan di musim Kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)