Kembang Tanpa Dedaunan

5 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
The Rollies (1972). (Sumber: Wikimedia Commons)
The Rollies (1972). (Sumber: Wikimedia Commons)

Panas nian kemarau ini
Rumput-rumput pun merintih sedih
Rebah, tak berdaya di terik sang surya
Bagaikan dalam neraka

Curah hujan yang dinanti-nanti
Tiada juga datang menitik
Kering dan gersang menerpa bumi
Yang panas bagai dalam neraka

Mengapa (mengapa), mengapa hutanku hilang
Dan tak pernah tumbuh lagi ?
Mengapa (mengapa), mengapa hutanku hilang
Dan tak pernah tumbuh lagi ?...

Kemarau, The Rollies Band, 1979

Lirik lagu dari band legendaris Kota Bandung Rollies tersebut tidak hanya sekadar ungkapan puitis tentang musim kemarau. Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, kalimat itu terasa semakin nyata. Suhu udara yang semakin panas, musim kemarau yang lebih lama, kekeringan yang meluas, berkurangnya kawasan rimba yang otomatis kehilangan aneka sumber daya hayati, menjadi gambaran yang kita jumpai saat ini. Alam semesta ibaratnya sedang berpesan bahwa keseimbangan alam yang sebelumnya terjaga dengan utuh kini mulai terganggu sehingga perlu menjaganya lebih sempurna.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2026 digelar untuk menjawab situasi saat ini Triple Planetary Crisis yaitu tiga tantangan yang saling berhubungan dan mengancam eksistensi bumi saat ini. Tiga tantangan tersebut meliputi perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi. Krisis sistemik ini memerlukan percepatan kerja bersama seluruh dunia dan mobilisasi aksi nyata yang massif.

Adapun perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 mengusung tema global “Inspired by Nature. For Climate. For Our Future” dengan menggunakan hashtag #NowForClimate. Dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Menteri Lingkungan Hidup RI juga menyusun tema dan kegiatan khusus untuk menjawab masalah-masalah lingkungan hidup. Mengacu Surat Edaran Nomor 9 tahun 2026 tentang peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, menjunjung tema SAATNYA BEKERJA UNTUK IKLIM.

Tema nasional ini direkayasa sebagai alat penggerak untuk mentransformasikan pandangan masyarakat. Melalui tema ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup dan bumi, namun juga turut menjadi aksi nyata yang berdampak langsung pada perubahan lingkungan hidup yang lebih asri.

Organisasi PBB memperingatkan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini adalah perubahan iklim. Para ilmuwan dunia telah mengingatkan bahwa kenaikan suhu rata-rata global harus dijaga agar tidak melebihi 1,5 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri. Angka tersebut merupakan batas penting untuk menghindari dampak perubahan iklim yang semakin parah. Jika suhu melewati batas ini dalam jangka panjang, risiko cuaca ekstrem, kelangkaan pangan, dan kerusakan ekosistem akan meningkat drastis.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat semakin sering merasakan cuaca ekstrem. Musim kemarau terasa lebih panas, sementara musim hujan sering datang dengan curah hujan yang sangat tinggi dan menimbulkan banjir. Kekeringan bukan hanya menyebabkan kesulitan memperoleh air bersih. Sektor pertanian juga terkena dampaknya. Sawah mengalami kekurangan air, hasil panen menurun, dan petani menghadapi ketidakpastian musim tanam.

Di berbagai daerah, kebakaran hutan dan lahan semakin mudah terjadi ketika cuaca sangat kering. Perubahan iklim membuat kejadian-kejadian tersebut semakin sering dan semakin intens. Akibatnya, bukan hanya lingkungan yang terdampak, tetapi juga kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat.

Penyebab utama pemanasan global adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Gas-gas seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida menahan panas matahari sehingga suhu bumi terus meningkat. Aktivitas manusia menjadi faktor terbesar penyebab peningkatan gas rumah kaca tersebut. Pembakaran bahan bakar fosil untuk transportasi, industri, dan pembangkit listrik menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar. Selain itu, pembukaan hutan untuk berbagai kepentingan juga menjadi penyebab bumi makin panas.

The Rollies. (Sumber: Wikimedia Commons)
The Rollies. (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagaimana dengan kondisi cuaca atau hawa di Kota Bandung? ternyata sekarang banyak masyarakat Bandung yang menyatakan bahwa Kota Bandung sering panas sehingga masyarakat sering merasakan hareudang alias merasa kepanasan berbeda dengan cuaca di bawah tahun 1990-an yang terasa sejuk, masih berkabut ditimpali kicau burung. Pepohonan di jalanan juga masih banyak berdiri dengan kokoh menjalankan proses alamiahnya bagi kelayakan hidup manusia yang selaras dengan lingkungan alam.

Sejak lama orang merasakan hawa udara Kota Bandung yang sejuk. Letaknya di dataran tinggi membuat suhu Kota Bandung lebih segar dibandingkan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga mulai merasakan bahwa hawa Bandung tidak lagi sesejuk dan sesegar dahulu.

Beberapa penyebabnya antara lain adalah berkurangnya pepohonan dipinggir jalan. Dahulu, banyak ruas jalan di Bandung memiliki kanopi pohon yang rindang sehingga mampu memberikan keteduhan dan menurunkan suhu udara. Pohon tidak hanya menghasilkan oksigen, tetapi juga berfungsi sebagai pendingin alami melalui proses evaporasi atau penguapan air serta transpirasi atau pelepasan uap air melalui daun. Ketika jumlah pohon berkurang akibat pembangunan, pelebaran jalan, atau alih fungsi lahan, kemampuan kota untuk menahan panas jadi melandai. Penelitian menunjukkan bahwa berkurangnya vegetasi berhubungan erat dengan meningkatnya suhu permukaan kota.

penyebab lainnya adalah volume penggunaan kendaraan bermotor di Bandung terus meningkat baik hari biasa juga saat akhir pekan dengan banyak para wisatawan luar kota. Kendaraan menghasilkan panas dari mesin dan gas buang, serta mendorong pembangunan jalan dan area parkir yang didominasi aspal dan beton. Material tersebut menyerap panas matahari pada siang hari dan melepaskannya kembali pada malam hari, sehingga udara kota tetap terasa hangat. Penelitian mengenai Bandung menunjukkan bahwa peningkatan jumlah kendaraan bermotor merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap melambungnya suhuh panas kota.

Akibat kombinasi antara berkurangnya pepohonan dan meningkatnya volume penggunaan kendaraan, suhu di beberapa kawasan Bandung cenderung mengalami kenaikan. Bahkan sejumlah penelitian mencatat adanya peningkatan suhu permukaan yang cukup signifikan dalam beberapa dekade terakhir. sehingga masyarakat Bandung harus gegeber hihid biar tidak merasa kepanasan.

Berpijak pada kondisi di atas maka Kota Bandung berisiko luntur ikoniknya sebagai kota sejuk. Maka penambahan ruang terbuka hijau, penanaman pohon peneduh di sepanjang jalan, pengembangan transportasi umum, serta pengurangan ketergantungan pada kendaraan pribadi mampu dijadikan prioritas penting untuk menjaga kualitas lingkungan kota. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa taman kota dan kawasan hijau mampu membantu menurunkan suhu udara di lingkungan sekitarnya.

Hawa udara Bandung yang semakin panas bukan hanya disebabkan oleh perubahan iklim global, tetapi juga oleh perubahan tata ruang Kota Bandung sendiri. Semakin sedikit pohon di Bandung tetapi jumlah kendaraan bermotor semakin banyak, maka akan besar pula panas yang terperangkap di lingkungan perkotaan. Kalau Bandung ingin tetap nyaman dihuni, keseimbangan antara pembangunan, transportasi, dan ruang hijau harus menjadi perhatian utama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)