Sumpah dari Masa ke Masa

5 menit baca
mufti wibowo
Ditulis oleh mufti wibowo diterbitkan
Sumpah dari Masa ke Masa. (Sumber: GeminiAI)
Sumpah dari Masa ke Masa. (Sumber: GeminiAI)

Sejarah peradaban manusia tidak hanya dibangun di atas fondasi pedang, mesiu, dan tumpukan batu monumen. Sejarah justru sering kali berporos pada sesuatu yang tidak berwujud, namun memiliki daya ledak dahsyat; semisal sebuah kata yang diucapkan, sebuah ikrar yang diikat, atau sebuah sumpah yang ditegakkan. Ketika seseorang atau sekelompok orang menautkan kehormatan dan masa depan mereka pada sebuah kalimat janji, dunia kerap kali berubah selamanya.

Dari ruang sidang kuno hingga kongres bawah tanah di era kolonial, sumpah berfungsi sebagai kompas moral sekaligus motor penggerak sejarah. Tiga momen sumpah besar, Sumpah Hipokrates dari Yunani Kuno, Sumpah Palapa dari Majapahit, dan Sumpah Pemuda dari Indonesia—membuktikan bagaimana komitmen kolektif maupun individual mampu melintasi ruang dan waktu, membentuk peradaban, dan tetap menawarkan cermin refleksi yang relevan bagi kehidupan kiwari.

Untuk memahami bagaimana sebuah sumpah mampu merajut ulang takdir zaman, kita perlu melihat kembali konteks kelahiran tiga ikrar besar yang dampaknya masih kita rasakan hingga detik ini. Sumpah Hippocrates (~400 SM). Di pulau Kos, Yunani kuno, seorang dokter bernama Hipokrates merumuskan sebuah pakta moral bagi mereka yang mendedikasikan diri untuk menyembuhkan sesama. Di tengah dunia kuno yang dikuasai oleh mistisisme dan kesewenang-wenangan, Sumpah Hipokrates meletakkan landasan bahwa sains dan seni penyembuhan harus diabdikan sepenuhnya demi keselamatan pasien. Inti dari sumpah itu sederhana, namun radikal pada masanya, memegang teguh prinsip kerahasiaan, menolak segala bentuk niat buruk atau eksploitasi, dan yang paling abadi—"First, do no harm" (pertama, jangan merugikan). Selama lebih dari dua milenium, sumpah ini mengalami berbagai adaptasi, namun jiwa utamanya tetap tidak berubah, menjadikan profesi medis bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan panggilan kemanusiaan yang luhur.

Sumpah Palapa menjadi lembaran sejarah Kerajaan Majapahit mencatat sebuah momen dramatis pada tahun 1336 M. Saat diangkat sebagai Patih, Mahapatih Gajah Mada mengucap sumpah yang mengguncang balairung kerajaan. Di hadapan para pejabat tinggi, ia bersumpah: "Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa..." (Jika telah kalah Nusantara, baru ia akan menikmati istirahat/lepas puasa). Sumpah ini bukanlah sekadar ambisi ekspansi teritorial kekuasaan belaka. Sumpah Palapa adalah sebuah cetak biru geopolitik yang menyatukan ratusan pulau, ragam bahasa, dan berbagai kerajaan mandiri di bawah satu payung kebudayaan dan kedaulatan. Gajah Mada mengikat dirinya pada sebuah beban kerja luar biasa besar, menolak kesenangan pribadi demi sebuah visi besar bernama persatuan kepulauan Nusantara.

Sumpah Pemuda (1928 M) berabad-abad kemudian, tepatnya pada 28 Oktober 1928 di Batavia, gelombang sejarah menuntut bentuk ikrar yang berbeda. Di tengah cengkeraman ketat kolonialisme Hindia Belanda, para pemuda dari berbagai latar belakang suku, ras, dan organisasi daerah—Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, hingga pemuda keturunan Tionghoa—berkumpul dalam Kongres Pemuda II. Mereka menanggalkan ego kesukuan dan merumuskan ikrar yang legendaris: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Yang membuat Sumpah Pemuda begitu monumental adalah pilihan pragmatis sekaligus puitisnya; menetapkan bahasa Melayu Riau sebagai Bahasa Indonesia—bukan bahasa Jawa yang memiliki jumlah penutur mayoritas mutlak. Ini adalah manifestasi tertinggi dari sikap legowo dan kesadaran kolektif bahwa bangsa baru ini harus dibangun di atas fondasi kesetaraan.

Lantas, mengapa sumpah-sumpah tersebut mengubah sejarah? Ketiga sumpah di atas memiliki satu kesamaan fundamental, mengubah potensi kekacauan menjadi keteraturan, dan keragaman menjadi kekuatan. Dampak Sumpah Hipokrates terletak pada pelembagaan kepercayaan publik. Tanpa sumpah ini, dunia kedokteran modern mungkin akan kehilangan kompas moralnya di tengah revolusi industri bioteknologi, komersialisasi layanan kesehatan, dan rekayasa genetika. Sumpah ini menjadi rem darurat etis bagi kemajuan sains.

Sementara itu, dampak Sumpah Palapa terpateri dalam peta geopolitik modern. Konsepsi teritorial Nusantara yang dirintis Gajah Mada ribuan tahun lalu menjadi fondasi nyata bagi batas-batas geografis Republik Indonesia hari ini. Bahkan, nama "Palapa" diabadikan oleh negara modern sebagai simbol konektivitas satelit telekomunikasi pertama Indonesia, menjembatani pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke melalui gelombang udara.

Dan, Sumpah Pemuda adalah sebuah keajaiban sosiopolitis. Jarang sekali dalam sejarah dunia ada sebuah bangsa seluas dan seberagam Indonesia yang dipersatukan bukan oleh satu darah yang sama atau kemenangan militer, melainkan oleh keputusan sadar untuk menggunakan satu bahasa persatuan. Lagu Indonesia Raya yang pertama kali diperdengarkan secara instrumental pada saat itu menjelma menjadi hymne abadi kebangsaan.

Kini, di tengah derasnya arus globalisasi, individualisme, dan disrupsi digital di tahun 2026, apakah sumpah-sumpah masa lalu ini masih relevan? Jawabannya bukan sekadar relevan, melainkan semakin krusial. Kita hidup di era di mana janji mudah diucapkan dan jauh lebih mudah diingkari. Dalam dunia kedokteran kiwari, ketika teknologi kecerdasan buatan (AI) mendiagnosis penyakit dan industri farmasi berputar demi profit global, Sumpah Hipokrates menghadapi ujian terbesarnya. Tantangan hari ini bukan lagi soal ramuan tradisional versus racikan kimia, melainkan bagaimana menjaga agar empati kemanusiaan tidak tereduksi menjadi sekadar algoritma komersial. Sumpah Hipokrates mengingatkan para tenaga medis bahwa di balik setiap data pasien, ada nyawa manusia yang rapuh yang membutuhkan sentuhan welas asih.

Jika Gajah Mada memaknai Nusantara sebagai bentangan pulau, maka di era kiwari, Nusantara mencakup ruang-ruang digital yang kerap terbelah oleh polarisasi, hoaks, dan politik identitas. Semangat Sumpah Palapa hari ini memanggil kita untuk kembali merajut persatuan, bukan dengan pedang dan perisai, melainkan dengan literasi digital, inklusivitas sosial, dan kerendahan hati untuk merangkul perbedaan pendapat di dunia maya.

Bagi kita hari ini, Sumpah Pemuda sering kali diperingati sebagai ritual seremonial tahunan. Padahal, makna substansial dari sumpah tersebut adalah tanggung jawab intelektual. Di tengah gempuran bahasa asing dan slang media sosial, menjunjung bahasa persatuan berarti merawat kualitas berpikir. Bahasa Indonesia adalah alat kita merumuskan gagasan, menulis esai, merajut empati, dan melawan kebodohan. Ketika anak-anak muda hari ini menggunakan ruang publik untuk menyuarakan keadilan sosial, merawat lingkungan, dan melestarikan budaya lokal lewat tulisan maupun karya seni, saat itulah mereka sedang menghidupkan kembali roh 1928.

Sumpah bukanlah sekadar deretan kata manis yang diucapkan di atas panggung sejarah untuk kemudian dilupakan. Sumpah adalah kontrak jiwa antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sumpah Hipokrates, Sumpah Palapa, dan Sumpah Pemuda mengajarkan kepada kita bahwa peradaban yang besar lahir dari manusia-manusia yang berani mengikat diri mereka pada nilai-nilai yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri. Di tengah dunia kiwari yang serba instan dan rapuh, menengok kembali janji-janji agung ini adalah cara terbaik kita untuk merawat ingatan, meneguhkan kompas moral, dan memastikan bahwa kisah-kisah tentang kemanusiaan, persatuan, serta integritas tidak pernah padam. 

Lantas, sudahkah kita menemukan kecocokan janji-janji politik para pejabat negara ini di masa kampanye dengan apa yang mereka kerjakan hari ini saat menjabat? 

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Beranda 29 Okt 2026, 11:52

Rp3 Miliar untuk Skatepark di Lapangan Teuku Umar: Siapa yang Diuntungkan, Warga atau Proyek?

Sejumlah warga Coblong menolak lapangan bola gratis diubah multifungsi dengan skatepark. Mereka mempertanyakan siapa yang sebenarnya dilayani dan mengaku belum pernah diajak bicara.

Pengguna Lapangan Teuku Umar membentangkan spanduk penolakan terhadap rencana revitalisasi yang dinilai berpotensi mengurangi ruang kebersamaan warga di Kecamatan Coblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 09:36

Sumpah dari Masa ke Masa

Membicarakan "sumpah" yang dicatat sejarah.

Sumpah dari Masa ke Masa. (Sumber: GeminiAI)
Beranda 29 Okt 2026, 09:35

Nyala dari yang Terbuang: Ekonomi Sirkular Guwosari, Mengubah Sampah menjadi Harapan

Di tingkat hulu, program dilakukan dengan memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat dari pintu ke pintu.

Warga binaan SS dan FH membuat kerajinan dari bahan daur ulang sampah di Rutan Kelas IIB Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat 11 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 08:56

Peran Ganda Perempuan dalam Kondisi Karhutla

Dalam segala keadaan perempuan seringkali harus menjalani berbagai macam peran baik berdasarkan keinginan ataupun tuntutan sosial.

Ilustrasi Perempuan mendampingi anaknya belajar. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 21:32

Ketika Karhutla Menjadi Pelajaran bagi Warga Bandung

Ketika karhutla kembali melanda. Warga Bandung selalu mengikuti bagaimana api dipadamkan. Namun apa bukti kepedulian kita di sini? Tumbuhkan kesadaran lingkungan menjadi kebiasaan dan tanggung jawab.

Kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: tribratanews.polri.go.id)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 18:53

Mewah di Mata, Ramah di Kantong? Menilik Fifty One Braga

Di balik tampilan megah Fifty One Braga, ada pengalaman nongkrong dengan harga yang relatif terjangkau. Suasana elegan, pelayanan ramah, dan pilihan menu menjadi daya tarik tersendiri.

Tampilan bangunan dan interior Fifty One Braga yang menghadirkan kesan megah dan elegan di kawasan Jalan Braga, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Yuhan Safarah)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 18:37

Melihat Asap dari Lensa Karl Marx

Asap tidak lepas dari perluasan perkebunan kelapa sawit. Siapa yang ada dibaliknya adalah korporasi dan prinsip kapitalistik. Tawaran Karl Marx ialah membangun masayarakat berkelanjutan yang ekologis.

Tawaran Karl Marx ialah membangun masayarakat berkelanjutan yang ekologis. (Sumber: Ilustrasi diolah Gemini AI)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 17:07

Sumpah Pemuda Jangan Cuma Gagah di Kata

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya mendorong lahirnya generasi yang berani bekerja, mencipta, dan berinovasi.

Ilustrasi peringatan Sumpah Pemuda 2026 pentignnya mencegah layunya bunga demokrasi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 28 Okt 2026, 15:46

Tantangan Jurnalis di Era AI Bukan Lagi Soal Kecepatan

Perkembangan AI dan maraknya kreator konten membuat kecepatan bukan lagi keunggulan eksklusif media.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin. (Sumber: Humas Indonesia)
Beranda 28 Okt 2026, 15:30

IDMC 2026 AMSI Dibuka, Bahas Masa Depan Media di Era AI dan Konten Kreator

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, mengatakan industri media menghadapi tantangan serius terkait kepercayaan publik.

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 13:29

Budaya, Etika dan Moral di Tengah Perubahan Zaman: Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Apa yang bisa kita definisikan kembali tentang budaya, etika dan moral dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun ini? Seharusnya budaya, etika dan moral maknanya tidak tercerabut dalam perubahan zaman

Hari Sumpah Pemuda meneguhkan kembali budaya, etika, dan moral di tengah perubahan zaman (Sumber: magnific.com)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 12:46

Kala PKL Bandung Menunggu ‘Wahyu’ dari Balai Kota

Gerobak milik PKL yang menutup jalur pejalan kaki bukan urusan remeh. Begitu pula sampah, kemacetan, dan bangunan liar.

Petugas Satpol PP Kota Bandung melakukan penertiban bangunan liar di atas trotoar. Hal tersebut sebagai upaya lanjutan dalam pembenahan PKL di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 11:42

Nasi Timbel dalam Balutan Anyaman Sunda

Nasi timbel lengkap di Warung Kopi Gunung Ciwidey disajikan dalam anyaman bambu khas Sunda, dengan ikan asin balado dan rempeyek kacang renyah.

Hidangan yang di balut kearifan lokal. (Foto: Zahra Rihhadatul Aisy)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 08:06

Bukan Sekadar Tempat Ngopi: Cerita tentang Jeda di Kalatemu

Lebih dari sekadar tempat ngopi, Kalatemu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melepas penat, menyelesaikan tugas, dan menikmati jeda dari rutinitas sehari-hari.

Tampak depan Kalatemu dengan logo kafe yang menjadi identitas tempat tersebut di Jalan Manisi, Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Yuhan Safarah)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 20:11

Kamar Mewah dalam Lapas

Pungli di lapas ada uang ada kamar mewah

Ilustrasi lapas. (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock project)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 19:00

Perguruan Tinggi di Bandung dan Karhutla

Karhutla sering terjadi di Indonesia sehingga diperlukan upaya-upaya agar tidak terjadi lagi di masa datang dengan aktifnya kampus atau Perguruan Tinggi berpartisasi dalam pencegahannya

Petugas gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, Rabu (12/8). (Sumber: Bidang Komunikasi Kebencanaan)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 18:02

Jejak Kenangan: Famor Radio Idola Bandung Era 80-90-an

Di Bandung, salah satu nama yang pernah mewarnai kehidupan pendengar pada era 1970-an hingga 1980-an adalah Radio FAMOR.

Booklet pedoman acara Radio Famor 1260 kHz yang memuat berbagai pilihan program siaran sepanjang tahun 1988. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 16:30

Karhutla Jauh dari Kota Bandung, namun Ibarat Kebakaran Halaman Rumah Sendiri (Bagian 1)

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bukan lagi masalah jauh. Dampaknya nyata merusak alam, mengancam kesehatan dan merugikan ekonomi—layaknya halaman rumah kita sendiri yang sedang membara.

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan Gunung Semeru. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 15:23

Kita Menghirup Asap yang Sama

Dampak asap karhutla.

Ilustrasi polusi asap kebakaran. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 14:54

Santri Inovator: Menghadirkan Religiusitas dalam Teknologi

Hadirnya santri dalam memrakarsai kebaruan dan inovasi menjadikan optimisme bagi sumber daya di negeri ini. Sekalipun masih ada yang skeptis.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)