Anak Dapat Gizi Gratis, Negara Makin Rungkad

4 menit baca
Netizen
Ditulis oleh Netizen diterbitkan
Alih-alih dari manfaat, program MBG justru mendapatkan banyak respon negatif dari kalangan masyarakat maupun pelajar. (Sumber: Pexels/Raiza Azkaril)
Alih-alih dari manfaat, program MBG justru mendapatkan banyak respon negatif dari kalangan masyarakat maupun pelajar. (Sumber: Pexels/Raiza Azkaril)

Ditulis oleh Rizki Arfiana Putri

AYOBANDUNG.ID – Pada awal tahun 2025, pemerintah Indonesia telah meluncurkan salah satu program sosial paling ambisius dalam sejarah, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa dan kelompok rentan. 

Sebenarnya program ini bertujuan mulia, seperti mengatasi stunting, meningkatkan kualitas gizi anak bangsa, dan memperkuat fondasi Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia ke depan. Namun, di balik visi tersebut, terdapat kekhawatiran besar yang berisiko terhadap kesehatan anggaran negara. 

Program MBG ini ditujukan untuk siswa PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SLB, Santri di pondok pesantren, balita, hingga ibu hamil dan menyusui. Menurut Detik Finance (April 2025), jumlah total target penerima manfaat adalah 82.9 juta orang pada akhir tahun 2025. 

Sementara di bulan April 2025, pemerintah telah merealisasikan anggaran MBG sebesar Rp2,3 triliun. Dengan anggaran itu, sebanyak 3.265 juta orang telah menikmati program prioritas dari Presiden Prabowo Subianto tersebut.

Demi mendukung perluasan program MBG agar merata ke seluruh Indonesia, pemerintah menetapkan anggaran awalnya sebesar Rp71 triliun dengan estimasi kebutuhan total di tahun 2025 sebesar Rp171 triliun. Anggaran inilah yang menjadikan MBG sebagai salah satu program sosial terbesar dalam APBN 2025.

Baca Juga: Mempertanyakan Thrift, Tren Fesyen Hemat yang Tidak Adil untuk UMKM?

Pemerintah mengeklaim bahwa program MBG ini memiliki berbagai dampak strategis, baik dalam bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan maupun ketahanan pangan. 

Dilihat dari segi ekonomi, program MBG bisa mendorong keterlibatan UMKM, petani, dan nelayan sehingga mampu memperkuat ekonomi lokal dan membuka peluang usaha baru.

Program MBG juga diharapkan mampu menurunkan angka stunting sehingga masyarakat terutama kelompok rentan mendapatkan manfaat kesehatan yang signifikan dan kualitas hidup mereka bisa meningkat. 

Tidak hanya itu saja, dengan menyediakan makanan bergizi bagi siswa, program ini dapat meningkatkan konsentrasi dan kemampuan belajar mereka. MBG juga bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor pangan terutama beras dan memperkuat produksi pangan lokal. 

Baca Juga: Persib Juara Divisi Utama 1986, Tiga Pemain Diberi Beasiswa

Alih-alih dari manfaat tersebut, program MBG justru mendapatkan banyak respon negatif dari kalangan masyarakat maupun pelajar. 

Terdapat banyak sekali kehawatiran masyarakat terkait program ini. Bahkan, saya sendiri juga kurang yakin dengan anggaran tersebut apakah makanan yang disediakan benar-benar bergizi dan higienis atau tidak. 

Kekhawatiran ini muncul karena lama-kelamaan anggaran untuk MBG selalu berkurang dari yang awalnya Rp10.000,00 per porsi sekarang dipangkas menjadi Rp8.000,00 per porsi. Kalau pemangkasan terus berlanjut dampaknya pada kualitas makanan yang diberikan, mengingat saat ini harga kebutuhan pokok juga semakin mahal.

Menurut saya program MBG dirasa kurang efektif karena selain berdampak pada gizi dan kehigienisan makanan, dalam pelaksanaannya program MBG juga belum merata ke berbagai daerah.

Ada beberapa sekolah yang sudah menerima program ini, sementara wilayah yang lain belum. Hal inilah yang menimbulkan kesan ketidakadilan dan ketidaksiapan sistem logistik. 

Saat ini Indonesia sedang mengalami defisit APBN. Pemerintah tengah mencari cara untuk mengatasi defisit APBN 2025 yang membengkak. Alokasi anggaran APBN 2025 sebesar Rp3.621,3 triliun tidak mampu diakomodir oleh pendapatan negara yang hanya sebesar Rp3.005,1 triliun. Dengan kata lain, negara mengalami defisit anggaran sebesar Rp616,2 triliun.

Salah satu penyebab terjadinya pembengkakan anggaran itu adalah beban anggaran dari program MB). Bahkan Menteri koordinator Bidang pangan, Zulkifli Hasan mengatakan bahwa anggaran yang tersisa untuk program MBG adalah sebesar Rp71 triliun atau hanya cukup membiayai hingga Juni 2025. 

Zulkifli Hasan juga mengatakan untuk menjalankan program MBG satu tahun penuh diperlukan anggaran hingga mencapai Rp420 triliun. 

Lantas yang menjadi pertanyaan uang sebanyak itu didapat dari mana? 

Tidak mungkin pemerintah terus-menerus melakukan utang demi menutup kekurangan tersebut.

Bahkan, karena adanya defisit APBN, pemerintah sempat mengeluarkan kebijakan efisiensi anggaran yang tertuang pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025.

Tujuan dari efisiensi adalah untuk mengoptimalkan penggunaan dana dan memastikan program-program prioritas seperti MBG tetap berjalan dengan baik. 

Dilihat dari segi ekonomi, program MBG bisa mendorong keterlibatan UMKM, petani, dan nelayan sehingga mampu memperkuat ekonomi lokal dan membuka peluang usaha baru. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)

Kebijakan tersebut berdampak besar terhadap beberapa sektor terutama pendidikan.

Program-program pendidikan yang selama ini dilaksanakan untuk mendukung proses dan aktivitas belajar anak-anak bangsa kini terkena dampaknya. Realitas yang terjadi menunjukkan adanya keterkaitan erat antara pendidikan dan cita-cita besar pemerintah, yaitu pencapaian tujuan Indonesia Emas 2045. 

Namun, fakta yang kita lihat saat ini bertolak belakang antara apa yang dilakukan pemerintah, dan cita-cita serta tujuan yang ingin dicapai. Anggaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengalami pemotongan dari yang sebelumnya Rp33.545 triliun dipangkas menjadi Rp26,2 triliun. 

Sementara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dari Rp57,6 triliun menjadi Rp43,3 triliun.

Pemangkasan ini berdampak signifikan pada beberapa pos belanja strategis yang mendukung aktivitas pendidikan, seperti Program Indonesia Pintar (PIP), tunjangan guru non-PNS, Bantuan Pendanaan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (BPPTNBH), sehingga menyebabkan UKT mahasiswa mengalami kenaikan. 

Baca Juga: Capek Rebahan? Self Reward Healing Jadi Solusi, tapi Isi Dompet Jadi Korbannya

Program MBG sebenarnya merupakan program yang baik karena bertujuan untuk meningkatkan gizi anak, namun pelaksanaannya belum efektif. Masalah distribusi, ketidaktepatan sasaran, dan pembiayaan yang besar justru membebani APBN dan memperbesar risiko defisit. ()

Penulis, Rizki Arfiana Putri, adalah mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Sebelas Maret.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)