Capek Rebahan? Self Reward Healing Jadi Solusi, tapi Isi Dompet Jadi Korbannya

5 menit baca
Netizen
Ditulis oleh Netizen diterbitkan
Kata “Self Reward” sudah sangat nyaman dikenal oleh telinga para Gen Z. (Sumber: Pexels/Porapak Apichodilok)
Kata “Self Reward” sudah sangat nyaman dikenal oleh telinga para Gen Z. (Sumber: Pexels/Porapak Apichodilok)

AYOBANDUNG.ID - Coba hitung dengan jarimu, berapa kali kamu memutuskan butuh self reward ketika baru saja menyelesaikan suatu tugas. Bahkan yang lebih parahnya sudah mulai "mengapresiasi diri" saat baru menulis satu paragraf dari tugasmu.

Pasti jumlah jarimu tidak akan cukup buat menghitungnya atau malah kamu lupa sudah berapa kali karena terlalu banyak kamu melakukannya.

Salah satu self reward yang paling mudah ialah rebahan. Siapa sih orang yang gak suka rebahan? Mungkin saat ini orang yang tidak suka rebahan dianggap aneh. Zaman sekarang pasti semua orang tahu apa itu “rebahan”. Sesibuk aktifnya orang kalau ada waktu luang pasti milih buat rebahan bersantai dan berselancar asik di media sosial. Seorang “pengacara” alias pengangguran banyak acara saja butuh rebahan. Untuk kalangan anak muda rebahan pun menjadi hal yang wajib dilakukan agar tidak burnout, katanya. Apalagi buat para remaja jompo yang gerak dikit aja encok seperti kamu yang baca.

Kini rebahan sambil scroll Tiktok seharian menjadi sebuah kegiatan yang melelahkan. Bisa membuat jari-jemari kita pegal karena terus memijat handphone. Bahkan untuk mengubah posisi rebahan dari terlentang ke miring saja itu butuh usaha yang besar. Setelah melakukan kegiatan yang sangat melelahkan tersebut dapat mengganggu mental health. Tapi, tenang semua masalah pasti ada solusinya yaitu healing berupa self reward.

Kelelahan yang berarti ini menjadi alasan yang kuat untuk melakukan self reward. Kelelahan yang dimaksud di sini seperti, usaha untuk berdiam diri di kamar sembari berselancar di sosial media, menarik merapikan selimut, mengirim gosip terkini bersama teman di WhatsApp, menulis to-do list yang tujuan awalnya agar memerinci tugas malah berubah jadi tekanan tidak mengerjakannya karena melihat banyaknya tugas (jadi malah malas mengerjakannya), dan bahkan sekedar berpindah posisi rebahan,

Arti Self Reward secara Normalnya

Kata “Self Reward” sudah sangat nyaman dikenal oleh telinga para Gen Z. Self reward sendiri adalah bentuk menunjukkan rasa terima kasih atas berhasil mencapai tujuan atau melewati proses tertentu. Memberi hadiah kepada diri sendiri sebagai cara untuk menghargai hal yang telah dicapai atau setelah kita melalui masa sulit.

Sebagai contoh, seseorang mungkin memiliki kemungkinan untuk membeli sesuatu yang diinginkan, seperti makanan lezat, setelah menyelesaikan ujian.

Salah satu kajian dari Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul menyatakan bahwa self reward adalah bentuk cara menghindari diri dari stres yang berlebih.

Self reward juga merupakan bentuk aktualisasi diri validasi atas kerja keras yang telah dilakukan.

Anggapan Mental Health Nomor Satu

Pada era modern ini dengan kemudahan akses sosial media munculnya anggapan “aku berhak bahagia” dan banyak bermunculan kampanye mengenai mental health.

Sebenarnya mentalitas tersebut bukan merupakan hal yang buruk. Anggapan “aku berhak bahagia” bisa menjadi pegangan dan pengingat jika melakukan usaha dalam hidup perlu berhenti sejenak untuk membahagiakan diri.

Pernyataan “aku berhak bahagia” dapat menjadi perlindungan pada kesehatan mental dan bentuk penghargaan pada diri sendiri. Di tengah masyarakat yang memiliki pola pikir bahwa kelelahan atau kerja keras adalah tolok ukur keberhasilan kesuksesan kehidupan. Dengan adanya kampanye mengenai mental health dengan menolak standar kehidupan atas pencapaian yang membebani kita dan berkebalikan dengan usaha menjaga kesehatan mental.

Namun, seiring berjalannya waktu pada akhirnya mentalitas ini berubah menjadi bumerang bagi diri sendiri. Anggapan “aku berhak bahagia” justru malah menjadi senjata alasan pembenaran atas hedonisme, pemborosan, dan kemalasan.

Memang pada dasarnya kebahagiaan adalah hak asasi semua orang sebagai penjagaan terhadap kesehatan mental tetapi, bukan berarti menjadi pembenaran atas perilaku pemborosan untuk memuas diri dengan menghalalkan segala cara yang justru merugikan kita.

Baca Juga: Ayobandung.id Ajak Mahasiswa se-Bandung Raya Menulis di AYO NETIZEN

Penyiksaan Dompet

Self reward juga suatu hal yang salah jika dilakukan dengan alasan yang impulsif dan membenarkan pemborosan dengan dalih demi kebahagiaan diri sendiri. (Sumber: Pexels/Ahsanjaya)

Dompet, entah itu digital maupun konvensional secara tertutup menjadi korban yang paling sering dianiaya. Karena ia terus terjebak dalam kemiskinan demi keuntungan pribadi. Jika dia bisa bicara, ocehannya mungkin lebih pedas dari nasi kucing dua karet angkringan.

Alih-alih tidur, ia hanya bisa menghela napas saat membeli barang di tengah malam. Seolah-olah generasi sekarang percaya bahwa belanja, makan makanan yang enak, atau pengobatan cepat akan menyembuhkan setiap emosi negatif.

Akibatnya, dompet menjadi tameng untuk kebahagiaan yang sementara. Kita merelakan nyawa dompet terkikis terus menerus demi kebahagiaan yang cepat dan terburu-buru.

Baca Juga: Menulis di Ayobandung.id seperti Melukis, Kamu Tak Perlu Dituliskan oleh AI

Baik Vs Buruk

Banyak dari Gen Z beranggapan salah satu cara terbaik untuk mengatasi stres dengan membahagiakan diri sendiri adalah bentuk penyembuhan diri dari segala tekanan kehidupan. Setelah seharian bekerja keras, tubuh dan mental sangat membutuhkan penyegaran kembali.

Apalagi, dengan banyak pilihan hiburan yang tersedia di ujung jari, seperti belanja online, layanan streaming, atau bahkan makan enak melalui aplikasi pengiriman makanan akan datang sendirinya sedangkan kita tetap rebahan, sulit untuk menahan keinginan untuk menonton. Ini adalah awal masalah.

Awalnya anggapan “aku berhak bahagia” memiliki tujuan yang positif untuk menjaga kesehatan mental. Self reward menjadi bentuk keseimbangan kehidupan (work life balance) antara kerja keras usaha dalam menjalani kehidupan dan memberi apresiasi atas kerja keras tersebut.

Namun, self reward menjadi buruk ketika kesehatan mental menjadi alasan dihalalkannya perilaku konsumtif. Self reward bukan jadi bentuk apresiasi diri atas kerja keras justru menjadi apresiasi diri karena kita bosan tidak melakukan sesuatu.

Ketika self reward yang dilakukan secara sering hal itu membuat tingkat kepuasan kita juga menurun dan menganggap self reward adalah hal yang biasa. Kemudian mendorong kita untuk melakukan hal yang lebih besar dan lebih merugikan. Namun, kembali lagi kepada individu masing-masing dalam mengaturnya. Semua hal yang berlebih-lebihan itu tidak baik kita melakukan hal sesuai dengan porsinya.

Baca Juga: Kamu Dapat Berbagi Cerita tentang Bandung Raya ke AYO NETIZEN

Solusi bagi Kaum Rebahan

Rebahan sebagai cara mengistirahatkan fisik ketika lelah itu bukan menjadi masalah. Self reward juga suatu hal yang salah jika dilakukan dengan alasan sekadar impulsif yang membenarkan pemborosan dengan dalih demi kebahagiaan diri sendiri.

Mulailah dengan mengubah pola pikir bahwa tidak semua emosi negatif harus segera diobati dengan memberi hadiah yang merugikan dompet kita. Healing tidak harus mengeluarkan biaya banyak cara healing yang tidak perlu mengeluarkan biaya seperti , menikmati waktu sendiri dengan menulis buku, journaling, menonton video hiburan yang membuat kita lebih rileks, dan masih banyak cara lainnya.

Reward atau hadiah yang kita dapat ketika sudah melewati proses yang sulit dan kerja keras akan terasa lebih bermakna bagi kebahagiaan diri. (*)

Penulis, Sekar Aghna Az Zahra, adalah mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)