Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Ruang Urban di Lorong Kosambi, The Hallway Space

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan Minggu 01 Jun 2025, 12:17 WIB
The Hallway Space, ruang urban di lorong Kosambi, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang/Algifari Tohaga)

The Hallway Space, ruang urban di lorong Kosambi, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang/Algifari Tohaga)

Bandung selalu punya cara untuk membuat setiap orang terkesan, bukan hanya deretan tempat hits yang sering di unggah oleh selebgram, tapi juga sudut-sudut kota, spot-spot kecil, dan ruang tersembunyi. Seperti lorong panjang di lantai atas pasar kosambi, sebelumnya jauh dari kata “estetik” kini menjadi space yang paling nyentrik. Pencahayaan yang redup, mural yang menghiasi dinding, dan deretan toko kecil dengan gaya urban kontemporer menjadi wajah baru dari tempat yang dulu nyaris tak dilirik. Itulah The Hallway Space.

Namanya menggambarkan sebuah ruang yang menjadi bukti bahwa kreativitas tidak membutuhkan gedung megah atau lokasi elit. Ia cukup hadir di celah, menempati lorong sunyi dan menyajikan ruang imajinasi baru di tengah keramaian pasar tradisional.  

Masuk ke kawasan The Hallway Space terasa seperti menemukan pintu rahasia di rumah tua yang tak sengaja terbuka. Kafe dengan aroma kopi yang menggugah selera, toko vinyl dan kaset lawas dengan deretan karya dari band-band lokal ternama, tempat barang thrift yang tampil apa adanya namun tetap menarik dan stand kerajinan tangan yang menjual karya-karya handmade, sepert aksesori dari kulit, lilin aromaterapi buatan lokal, hingga ilustrasi cetak dengan gaya indie yang khas.

Meja-meja kayu kecil tersebar di beberapa titik, ditemani stopkontak, tanaman pot, dan suasana yang tenang, seolah-olah seluruh tempat ini tahu kita datang bukan hanya untuk duduk, tapi untuk merasa.

Melalui kacamat Kajian Budaya Populer, The Hallway Space dapat dilihat sebagai representasi dari proses konstruksi kultural dimana ruang, konsumsi, dan identitas saling terhubung dalam kehidupan urban kontemporer. Sejak lama, Bandung dikenal sebagai kota kreatif dan penuh dengan semangat eksperimentasi, salah satunya tercermin dalam The Hallway Space, ruang-ruang sederhana yang tumbuh di tengah kehidupan sehari-hari, tempat yang menyatukan seni, kopi, komunitas, dan estetika dalam satu space kecil. Gaya hidup urban dan simbol-simbol budaya populer dipertemukan dalam suasana yang hangat, alternatif, dan penuh karakteristik.

Dalam konteks ini, budaya populer bukan hanya tentang apa yang dikonsumsi, tapi bagaimana konsumsi itu menjadi proses produksi makna. The Hallway Space, dengan estetika desain interior yang kurasional, menu kopi yang selektif, serta komunitas yang menghidupinya, merupakan site of meaning, ruang produksi dan pertukaran makna budaya.

Mengutip Pierre Bourdieu, ruang seperti ini adalah arena di mana selera (taste) beroperasi sebagai cultural capital, yaitu modal simbolik yang digunakan individu untuk menegosiasikan posisi sosial mereka. Dalam ruang ini, kopi bukan sekadar minuman, tetapi objek simbolik yang menyampaikan pengetahuan, gaya, dan preferensi kelas tertentu.

Duduk di salah satu kafe The Hallway Space sambil membuka laptop dengan headphone tersambung, misalnya, tidak hanya menunjukkan bahwa seseorang sedang bekerja, tetapi juga menjadi bentuk performatif dari identitas urban yang “melek budaya” dan terhubung dengan jaringan sosial-kreatif.

Estetika ruang, pemilihan warna, elemen mural, hingga pencahayaan hangat semuanya menciptakan narasi visual yang sangat Instagrammable. Tapi lebih dari itu, visualisasi tersebut adalah bagian dari bahasa budaya populer yang menyiratkan keterlibatan dalam kultur urban kreatif. Bahasa ini dimengerti dan dikodekan oleh pengunjung yang menjadi bagian dari subkultur kota, yaitu mereka yang in the know, yang mampu membaca isyarat simbolik dan berpartisipasi di dalamnya.

Lorong di Kosambi yang dipenuhi orang-orang, The Hallway Space. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Lorong di Kosambi yang dipenuhi orang-orang, The Hallway Space. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)

Selain itu, kehadiran The Hallway Space di tengah pasar tradisional Kosambi memberi dimensi lain, ini bukan sekadar ruang gaya hidup, melainkan bentuk apropriasi dan transformasi ruang marjinal menjadi situs budaya populer baru. Hal ini relevan dengan konsep budaya populer, ia tidak memandang budaya dari atas ke bawah, tetapi dari bagaimana masyarakat sehari-hari memproduksi, memodifikasi, dan merekayasa makna dari ruang yang mereka tempati.

The Hallway Space, dengan segala dinamika dan estetikanya, menunjukkan bagaimana ruang-ruang urban hari ini tidak hanya dipenuhi oleh arsitektur atau fungsi ekonomi, tetapi oleh semangat cultural bricolage, di mana potongan-potongan budaya disusun ulang untuk membentuk sesuatu yang baru, kreatif, dan sarat makna simbolik.

Sementara banyak ruang publik kota diseragamkan dan dikomersialisasi, The Hallway Space menghadirkan alternatif, bahwa ruang kreatif bisa tumbuh dari tempat tak terduga. Konsep ini dekat dengan pemikiran Henri Lefebvre tentang the production of space, yang menyatakan bahwa ruang selalu diproduksi melalui relasi sosial dan ekonomi.

Baca Juga: Nostalgia ke Kampung Halaman Bersama Roemah Aki

Di sinilah kita melihat resistensi lembut terhadap dominasi ruang-ruang konsumsi yang steril. The Hallway Space memperlihatkan bahwa kreativitas bisa hadir secara organik, di tengah pasar, di lorong tua, bukan di mal atau kompleks mewah. Ia adalah bentuk re-claiming ruang kota oleh komunitas kreatif.

Sebagai seseorang yang pernah mengunjungi The Hallway Space, saya merasa bahwa ruang ini mengundang lebih dari sekadar aktivitas fisik. Ia membuka ruang batin, untuk merenung, untuk berbagi ide, bahkan untuk merasa terhubung. Saya duduk di salah satu sudutnya sambil memperhatikan lalu-lalang orang, anak muda yang berdiskusi musik, fotografer yang sedang melakukan sesi kecil, atau pasangan yang sekadar berbincang ringan. Semua menyatu dalam satu narasi “Bandung yang kreatif dan penuh warna”

The Hallway Space bukan hanya soal tempat ngopi atau foto-foto. Ia adalah manifestasi dari harapan, bahwa kota bisa lebih ramah, ruang bisa lebih inklusif, dan kreativitas bisa tumbuh di mana saja. Di balik mural dan cangkir kopi itu, tersimpan semangat kota yang tak pernah lelah bereksperimen.

Bandung tak butuh ruang yang sempurna untuk menjadi kreatif. Ia hanya butuh tempat yang jujur, dan komunitas yang berani menghidupkannya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Peminat Kajian Budaya dan Media, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mar 2026, 08:58

Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Menjelang Idulfitri pada dekade 1990-an, suasana Kota Bandung tidak hanya dipenuhi aroma kue Lebaran dan kesibukan orang bersiap mudik.

Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)