Bandung Juara Fashion, tapi Bukan Juara Kesetaraan Gender?

6 menit baca
Keisya Felisiya
Ditulis oleh Keisya Felisiya diterbitkan
Ilustrasi perempuan di Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ilustrasi perempuan di Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat, telah lama dikenal sebagai kota yang kreatif, modern, dan penuh warna. Julukan seperti "Paris van Java" atau "kota fashion" yang melekat pada Kota Bandung karena citra masyarakatnya yang mengikuti tren dan terkadang awal mula trenn, terutama perempuan-perempuannya yang kerap dianggap tampil menarik dan modis. Media seperti Kompas.com (2021) mencatat bahwa identitas Bandung sebagai pusat mode turut membentuk citra kota ini sebagai kiblat fashion lokal. 

Selain itu, julukan “kota perempuan cantik” yang sering terdengar di media dan percakapan sehari-hari tampak memuji, tetapi menyimpan persoalan serius di baliknya Namun, di balik pujian atas penampilan dan gaya hidup, masih banyak persoalan serius yang selama ini kurang mendapatkan sorotan yang setara: ketimpangan gender dan perlindungan terhadap perempuan.

Stereotip kecantikan yang melekat justru kerap membatasi ruang perempuan dalam kontribusi sosial, ekonomi, dan politik yang lebih luas yang lebih luas, seperti yang dikritisi oleh Mojok.co (2023) membatasi ruang mereka dalam kontribusi sosial, ekonomi, dan politik yang lebih luas.

Ketika perempuan hanya dinilai dari fisiknya, peran mereka dalam ekonomi, politik, dan ruang publik menjadi tersisih, atau bahkan tak diakui sepenuhnya.

Kota yang baik adalah kota yang memberi ruang dan kesempatan yang setara bagi semua, baik laki-laki maupun perempuan. Namun faktanya, meskipun Bandung tampak progresif dalam gaya dan budaya, kenyataan sosial menunjukkan bahwa banyak perempuan masih menghadapi kekerasan, diskriminasi, dan keterbatasan akses terhadap hak-hak dasar.

Permasalahan inilah yang mulai disoroti oleh data dan inisiatif pemerintah, termasuk oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bandung, yang mengungkap adanya ratusan kasus kekerasan terhadap perempuan setiap tahunnya. Kondisi ini menunjukkan urgensi untuk meninjau kembali komitmen Kota Bandung dalam mewujudkan kesetaraan gender yang sejati dan berkeadilan.

Baca Juga: Perjalanan Menuju Stasiun Whoosh Tegalluar yang Penuh Rintangan, Kapan Perbaikan?

Fakta Kekerasan Gender di Kota Bandung

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bandung pada tahun 2022 menjadi cerminan suram dari realitas ini. Tercatat sebanyak 450 kasus kekerasan yang menyasar perempuan dan anak. Berbagai macam kekerasan yang paling sering terjadi berdasarkan laporan adalah kekerasan psikis, disusul oleh kekerasan seksual dan fisik.

Meskipun angka ini menunjukkan penurunan menjadi 200 kasus pada tahun 2024, penurunan tersebut belum serta merta mengindikasikan perubahan yang signifikan dalam hal perlindungan yang komprehensif terhadap perempuan dan anak di kota ini. Angka tetaplah angka, dan dibaliknya tersembunyi kisah-kisah pilu individu yang mengalami ketidakadilan khususnya bagi para perempuan baik anak anak hingga dewasa.

Baca Juga: Plagiat dan Duplikat, 2 Hal Beda yang Mesti Dihindari Penulis Ayobandung.id

Sebagai respons terhadap permasalahan ini, Pemerintah Kota Bandung berupaya mengambil langkah-langkah konkret untuk menekan angka kekerasan. Salah satu inisiatif yang digulirkan adalah penguatan peran Pusat Pelayanan dan Pemberdayaan Perempuan (Puspel PP) di tingkat kelurahan.

Hingga Agustus 2023, sebanyak 151 Puspel PP telah terbentuk, yang berfungsi sebagai garda terdepan dalam menyediakan informasi dan pelayanan bagi para korban kekerasan, sekaligus menjadi wadah pemberdayaan bagi perempuan dan keluarga secara umum. Keberadaan Puspel PP diharapkan dapat mempermudah akses bagi korbban untuk mendapatkan bantuan dan dukungan yang mereka butuhkan.

Lebih lanjut, pada Maret 2025, Pemerintah Kota Bandung meluncurkan sebuah layanan terintegrasi bernama Katresna. Program ini dirancang untuk memberikan penanganan medis yang cepat dan tepat, serta dukungan psikologis yang mendalam bagi para korban kekerasan.

Tujuan utama dari layanan Katresna adalah untuk membangun sebuah sistem perlindungan yang lebih kokoh dan humanis bagi perempuan dan anak di Kota Bandung. Dengan adanya layanan ini, diharapkan para korban tidak hanya mendapatkan penanganan fisik, tetapi juga pemulihan pikiran dan perasaan yang sangat penting untuk proses mereka menjadi lebih baik secara profesional.

Tantangan Menuju Kota Ramah Gender

Jemari para pengrajin dengan terampil menyelipkan benang-benang menjadi simpul membentuk ornamen motif hingga lembaran kain tenun indah nan cantik. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Jemari para pengrajin dengan terampil menyelipkan benang-benang menjadi simpul membentuk ornamen motif hingga lembaran kain tenun indah nan cantik. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Namun demikian, di balik berbagai program dan inisiatif yang telah diluncurkan, tantangan dalam mewujudkan kesetaraan gender di Kota Bandung masih cukup tinggi. Kota ini belum dapat dikatakan sepenuhnya ramah gender. Minimnya kebijakan publik yang secara spesifik menjamin keamanan dan kenyamanan perempuan dalam ruang publik menjadi salah satu isu krusial.

Fasilitas umum seperti halte bus dan trotoar, yang seharusnya menjadi ruang aman bagi semua warga, sering kali terasa mengancam dan tidak ramah bagi perempuan, terutama ketika sudah malam. Seharunya rasa aman adalah hak fundamental untuk seluruh masyarakat, namun, karena rasa aman ini belum terjamin bagi perempuan, hal ini jadi penghalang bagi mereka untuk ikut aktif dalam berbagai kegiatan dan kesempatan yang ada di kota.

Dalam upaya untuk memperkuat payung hukum yang melindungi hak-hak perempuan, Pada 2024 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung tengah menggodok Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan. Raperda ini diharapkan dapat menjadi landasan hukum yang kokoh untuk melindungi perempuan dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi yang mungkin mereka alami. Keberadaan perda ini diharapkan tidak hanya memberikan sanksi bagi pelaku kekerasan, tetapi juga mengatur langkah-langkah preventif dan mekanisme dukungan bagi korban.

Meskipun berbagai langkah progresif telah diupayakan, kenyataannya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk memastikan bahwa perempuan di Bandung tidak hanya dikenal dan dikagumi karena keindahan fisiknya, melainkan juga diakui dan dihargai atas hak dan kesempatan yang setara dalam seluruh aspek kehidupan.

Kesetaraan gender bukanlah sekadar jargon, melainkan sebuah kondisi ideal di mana setiap individu, tanpa memandang jenis kelamin, memiliki akses yang sama terhadap peluang, sumber daya, dan partisipasi dalam pengambilan keputusan.

Bandung, dengan segala potensi dan kreativitasnya, memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi tidak hanya juara dalam fashion dan estetika, tetapi juga menjadi teladan dalam mewujudkan kesetaraan gender. Untuk mencapai visi ini, dibutuhkan kolaborasi yangSolid antara pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, dan seluruh elemen kota.

Kebijakan publik yang responsif gender, implementasi program yang efektif, serta perubahan paradigma dalam memandang peran dan posisi perempuan dalam masyarakat adalah langkah-langkah krusial yang perlu terus diupayakan.

Baca Juga: Selepas Workshop, Mahasiswa UM Bandung Antusias Menulis di Ayobandung.id

Citra Kota Bandung VS Realita Kesenjangan Gender

Kini sudah saatnya Bandung melampaui sekedar citra "kota perempuan cantik" dan bertransformasi menjadi kota yang benar-benar memberdayakan perempuannya. Perempuan Bandung memiliki potensi yang luar biasa, bukan hanya dalam berpakaian dan paras muka yang cantik, tetapi juga dalam segi kepemimpinan, inovasi, dan kontribusi di berbagai bidang. Mendukung potensi ini adalah kunci untuk membangun Bandung yang lebih adil, inklusif, dan maju.

Coba kita pikirkan lagi pertanyaan di awal tadi: sampai kapan ya, perempuan Bandung itu cuma dilihat dari kecantikannya saja? Nah, jawabannya itu tergantung pada kesungguhan kita semua untuk benar benar memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Ini bukan cuma soal omongan saja, tapi harus ada tindakan nyata yang didasari pemahaman yang kuat tentang hak-hak dasar setiap manusia dan pentingnya keadilan dalam masyarakat.

Bandung punya potensi besar untuk jadi yang terbaik, bukan cuma di dunia fashion, tapi juga dalam menghargai dan memberikan kekuatan kepada semua penduduknya, tanpa terkecuali perempuan.

Meskipun Bandung dikenal sebagai kota yang kaya akan budaya, kreativitas, dan identik dengan citra perempuan cantik, realitas di balik sterreotip tersebut menunjukkan masih rendahnya tingkat kesetaraan gender dan perlindungan terhadap perempuan.

Tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak serta terbatasnya fasilitas publik yang aman bagi perempuan menjadi bukti bahwa peran perempuan masih belum sepenuhnya dihargai secara setara dalam ruang sosial, hukum, dan ekonomi. 

Untuk benar-benar mewujudkan Bandung sebagai kota yang ramah gender dan inklusif, diperlukan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakatdalam membangun sistem perlindungan dan pemberdayaan yang efektif dan berkelanjutan. Kesetaraan gender harus menjadi prioritas utama dalam perumusan kebijakan publik, perbaikan infrastruktur, serta perubahan paradigma sosial.

Perempuan Bandung harus diberi ruang tidak hanya untuk tampil, tetapi juga untuk berdaya, memimpin, dan berkontribusi secara setara di segala bidang. Hanya dengan itu, Bandung bisa melampaui sekadar label "kota perempuan cantik" dan tumbuh sebagai kota yang adil dan memberdayakan seluruh warganya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Keisya Felisiya
Tentang Keisya Felisiya
Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)