Sejarah yang Terlupa, Mosi Integral Mohammad Natsir dan Kelahiran NKRI

3 menit baca
Habib Fauzan Syah
Ditulis oleh Habib Fauzan Syah diterbitkan
Mohammad Natsir. (Sumber: Wikimedia Commons/Rijksvoorlichtingsdienst (RVD))
Mohammad Natsir. (Sumber: Wikimedia Commons/Rijksvoorlichtingsdienst (RVD))

Tahukah Anda bahwa Indonesia hampir tetap menjadi negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS) jika tidak ada mosi integral Mohammad Natsir?

Moh. Natsir, lahir pada 17 Juli 1908 di Alahan Panjang, Sumatera Barat, adalah tokoh yang tak hanya dikenal sebagai ulama dan cendekiawan Muslim, tetapi juga sebagai pemimpin visioner dalam sejarah politik Indonesia.

Dididik di Bandung sejak tahun 1927, ia berguru pada A. Hassan dan dekat dengan tokoh besar seperti Agus Salim. Kiprahnya mulai menonjol sejak bergabung dengan Jong Islamieten Bond (JIB) Cabang Bandung.

Saat Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 dan berhasil menangkap pemimpin republik seperti Soekarno, Hatta, dan Natsir, rakyat sempat dilanda kekhawatiran. Namun, para pemimpin ini sempat menyebarkan pesan perlawanan, yang kemudian diteruskan dalam bentuk stensil dan surat kabar. Pesannya jelas: rakyat harus terus berjuang dan tidak tunduk pada penjajahan kembali.

Lebih jauh lagi, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta melalui “surat kawat” menyerahkan mandat kepada tokoh di luar Jawa, terutama kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Meski surat kawat itu tak sampai, Sjafruddin berhasil membentuk PDRI di Sumatera Barat; dan menjadi bukti bahwa Republik Indonesia masih hidup di tengah tekanan.

Diplomasi dan Keteguhan Menyatukan Mandat

Perjalanan sejarah mencatat pentingnya misi diplomatik Moh. Natsir yang menjadi utusan untuk meyakinkan Sjafruddin agar mengembalikan mandat PDRI kepada Presiden Soekarno.

Setelah menempuh perjalanan berat ke Payakumbuh dan bertemu di Kota Kaciek, pada 6–7 Juli 1949, delegasi yang dipimpin Natsir berhasil meyakinkan PDRI untuk menyerahkan mandat. Inilah titik krusial dalam pemulihan Republik Indonesia.

Baca Juga: Bandung Juara Fashion, tapi Bukan Juara Kesetaraan Gender?

Kelahiran RIS dan Tantangan Persatuan

Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) yang menghasilkan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, dibentuklah RIS. Namun, sistem federasi ini justru memecah belah bangsa. Ada 15 negara bagian yang muncul, sebagian besar buatan Belanda.

Keadaan ini menimbulkan keresahan rakyat, yang menilai RIS sebagai taktik Belanda untuk kembali menguasai Indonesia secara tidak langsung.

Rumah kelahiran Mohammad Natsir di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Sonjo 01)
Rumah kelahiran Mohammad Natsir di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Sonjo 01)

Melihat kondisi ini, Mohammad Natsir, sebagai Ketua Fraksi Masyumi di DPR RIS, mengambil langkah berani. Ia menyuarakan aspirasi rakyat dan melakukan lobi politik yang intensif kepada berbagai pihak, termasuk partai non-Islam.

Ia menyimpulkan bahwa negara-negara bagian ingin bersatu dengan Republik Indonesia asalkan dilakukan secara konstitusional, bukan dengan pembubaran sepihak.

Mosi Integral: Jalan Damai Menuju Persatuan

Puncaknya terjadi pada 3 April 1950, saat Natsir menyampaikan pidatonya yang monumental di Parlemen RIS, disusul dengan penyampaian “mosi integral”.

Inti dari mosi itu adalah menganjurkan kepada pemerintah untuk mengambil inisiatif menyusun konsep pemulihan negara secara integral.

Gayung bersambut. Untuk kembali pada bentuk Negara Kesatuan, Piagam Persetujuan antara RIS dan Republik Indonesia (Yogyakarta) ditandatangani pada 19 Mei 1950.

Pada 17 Agustus 1950, bertepatan lima tahun Proklamasi Kemerdekaan, RIS resmi dibubarkan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kembali ditegakkan.

Baca Juga: Plagiat dan Duplikat, 2 Hal Beda yang Mesti Dihindari Penulis Ayobandung.id

Warisan Tanpa Darah, Perjuangan Tanpa Peluru

Mosi integral Natsir menjadi titik balik sejarah Indonesia. Melalui jalur diplomasi, konstitusi, dan negosiasi tanpa kekerasan, Natsir berhasil menyatukan kembali Indonesia. Sejarawan dan tokoh agama pun sepakat, tanpa Natsir, NKRI mungkin hanya tinggal impian.

Arnold Mononutu berkata, “Tanpa Moh. Natsir, tidak akan ada Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.”

Ketua MUI Jawa Timur, KH Misbach, menambahkan, “Jika tidak ada Mosi Integral Natsir, akan terjadi bentrokan besar antar negara bagian.”

Jejak abadi seorang negarawan, mosi integral Natsir, adalah bukti bahwa politik bisa menjadi alat pemersatu, bukan pemecah. Ia menunjukkan bahwa diplomasi tanpa peluru bisa lebih kuat daripada kekuatan militer.

Maka tidak berlebihan jika Mohammad Natsir dikenang sebagai Bapak Pendiri Negara, negarawan yang menyatukan bangsa tanpa darah, hanya dengan pikiran, keyakinan, dan keberanian moral. (*)

TONTON, YUK! VIDEO MENARIK TERBARU DARI AYOBANDUNG:

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Habib Fauzan Syah
Lewati saja masa sulitnya,jangan Rubah Tujuannya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Jun 2026, 20:07

Depresi pada Remaja dan Urgensi Aplikasi Konseling

Sejumlah remaja berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental karena kehidupan mereka, stigma, dan kurangnya akses terhadap layanan berkualitas.

Ilustrasi Talkshow Kesehatan Jiwa Happiness Project di Cafe Halaman, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Farits)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 18:52

Ketika THR Berubah Menjadi Aset

Meninjau kebijakan PT ANTAM (Persero) Tbk meluncurkan emas tematik edisi Idulfitri 1447H/2026 bertema “Gempita Hari Raya”.

Emas Batangan Edisi Idulfitri 1447H.
Ayo Biz 22 Jun 2026, 17:24

Menempuh Jarak Ratusan Kilometer untuk Melihat Teladan dari 2 Desa BRILian

Dua desa di Kabupaten Sumedang membuktikan bahwa teladan ekonomi desa tidak butuh keistimewaan, justru hanya perlu sistem yang kuat untuk memutar roda nasib.

Siluet dari Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat, di tepian Waduk Jatigede, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 16:55

Wisata Tembok Ratapan Solo, Destinasi Viral Satire Digital

Fenomena Tembok Ratapan Solo bermula dari satire di Google Maps dan berkembang menjadi arus kunjungan publik ke rumah Jokowi di Solo.

Tembok Ratapan Solo
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 16:49

Cantik yang Mengkhianati: Ketika Aksesori Menjadi Ancaman

Risiko ganda logam saat MRI: luka bakar arus radiofrekuensi dan distorsi gambar pemindaian.

Lepuhan pada kulit pasien akibat arus induksi saat pemindaian MRI. (Foto: Radiology Business)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 16:15

Ketaatan Pengelolaan Risiko Kebakaran

Peran dinas damkar perlu transformasi sehingga paradigmanya berubah dari peran pemadam menjadi fungsi yang proaktif mencegah kebakaran. 

Ilustrasi kebakaran pabrik di daerah Cipadung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Fira Nursyabani)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 15:29

Ekspedisi Karees : Menelusuri Jejak Rel Kereta yang Hilang dari Peta (Part 1)

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba menelusuri kembali sisa-sisa rel Karees, memotret kondisinya hari ini, dan merangkai kembali memori kejayaan halteu ini di masa lampau. Yuk, ikut saya blusukan!

Harta karun pertama yang saya temukan! Menyembul di antara tanah di sebelah kiri jalan, membuktikan sejarah menolak terkubur. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 15:13

Copy-Paste Birokrasi: Ketika Sistem Digital Belum Benar-Benar Digital

Saat sistem digital tidak saling terhubung, beban administratif tidak hilang, ia hanya berpindah wujud dari kertas ke layar.

Ilustrasi ekosistem digital yang melingkupi kehidupan modern (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 13:36

Menelusuri Art Deco: Setitik Eropa di Kota Kembang

Melihat kembali bagaimana arsitektur Art Deco di Kota Bandung bermunculan hingga akhirnya dijadikan sebagai bangunan cagar budaya.

Kondisi Gedung Bank DENIS (sekarang digunakan oleh Bank Jawa Barat) pada tahun 2015. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Rochelimit)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 12:25

Penggunaan Wewangian dari Zaman Mesir sampai Sekarang

Perkembangan singkat wewangian dari awal mula ketenarannya di Mesir sampai sekarang.

Pajangan botol parfum berwarna-warni. (Sumber: pexels.com | Foto: Hồng Quang)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 11:30

'Don’t Buy This Jacket' Kampanye Jujur atau Strategi Manipulasi Persepsi?

Membedah paradoks kampanye "Don’t Buy This Jacket" Patagonia:

Penulis sedang menelaah konsep iklan 'Don't Buy This Jacket'.
Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 11:27

Wisata Gratis di Surabaya: Jelajah Taman Bungkul Ikon Kota yang Selalu Ramai

Taman Bungkul menjadi salah satu destinasi wisata gratis paling populer di Surabaya dengan fasilitas lengkap dan suasana nyaman sepanjang hari.

Taman Bungkul Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:56

Indonesia dalam Angka

Algoritma Statistik memang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi bukan berarti angka itu disusun hanya demi kepuasan publik. Sehingga fakta yang terjadi hanya sebatas retorika

Ilustrasi angka dalam kalkulator. (Sumber: Pexels | Foto: Yan Krukau)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:06

Penggunaan Kendaraan Listrik Dikebut, Tapi Listriknya Sering Padam

Di tengah percepatan adopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif, pemadaman listrik yang masih sering terjadi memunculkan pertanyaan: seberapa siap sistem energi Indonesia?

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf terkait pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa (20/6/2026). (Sumber: Instagram/@pln_id)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 08:58

Ada Apa dengan Tanjakan Emen?

Jalan tanjakan Emen yang berada di Subang tepatnya di Ciater, terkenal dengan misteri seringnya terjadi kecelakaan.

Kondisi sekarang jalan tanjakan Emen. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Haerul Nurjaman)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 18:02

Peran Media Relations dalam Membangun Citra Kolaborasi Brand di Industri Olahraga

Memahami identitas kolaborasi sebagai perpaduan antara motorsport, inovasi, dan gaya hidup modern.

Gambar dari akun Instagram resmi Puma
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 17:37

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Dimas Kurnia Hidayat, kolektor memorabilia Persib Bandung. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 15:26

Bandung Poek, Warga Menjerit, dan Kenangan Menyala

Cibiru Bandung boleh poek untuk dua, tiga, empat, lima jam. Tetapi selama kebersamaan masih hidup, selalu ada cahaya yang tidak pernah padam bila kita rawat dan pupuk bersama.

Ilustrasi Bandung Mati Listrik Bergilir (Sumber: Pixabay)
Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)