Di Balik Puing Bencana: Ancaman Asbes yang Mengintai Relawan

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Sebuah pembangunan gedung sarana warga sudah tidak memakai asbes sebagai atap (Foto: Abah Omtris)
Sebuah pembangunan gedung sarana warga sudah tidak memakai asbes sebagai atap (Foto: Abah Omtris)

Selama tiga hari mengikuti Konsolidasi Nasional Indonesia Ban Asbestos Network (INA-BAN) di Yabbiekayu, Timbulharjo, Yogyakarta, saya pulang membawa satu kegelisahan. Bahaya asbes sesungguhnya telah lama dikenal dalam dunia kesehatan, tetapi di tengah masyarakat—bahkan di Kota Bandung yang telah memiliki regulasi—ancaman tersebut belum benar-benar menjadi kesadaran publik.

Selama ini kita lebih sering memandang asbes sebagai material bangunan yang murah, ringan, dan mudah diperoleh. Atap rumah tinggal, kios, gudang, hingga berbagai fasilitas umum di Bandung masih banyak yang menggunakannya.
Keberadaannya begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari sehingga jarang menimbulkan pertanyaan, apalagi kekhawatiran.

Padahal berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa serat asbes yang terhirup dapat menyebabkan penyakit serius seperti asbestosis, kanker paru-paru, dan mesothelioma. Ancaman ini tidak muncul seketika. Serat-serat mikroskopis dapat bertahan di dalam paru-paru selama puluhan tahun sebelum akhirnya memunculkan gejala. Ketika penyakit terdiagnosis, hubungan antara paparan asbes dan kondisi kesehatan sering kali sudah terlambat disadari.

Bandung sebenarnya bukan kota yang sama sekali abai terhadap persoalan ini. Pemerintah Kota Bandung telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang mengatur pengelolaan bahan dan limbah berbahaya dan beracun (B3). Regulasi tersebut merupakan langkah penting dalam upaya melindungi kesehatan masyarakat.

Namun regulasi saja belum cukup. Hingga hari ini penggunaan asbes masih mudah ditemukan di berbagai kawasan permukiman. Ketika bangunan direnovasi atau dibongkar, lembaran asbes sering dipotong, dipecahkan, atau dibuang tanpa penanganan khusus. Di sinilah serat-serat berbahaya berpotensi menyebar ke udara tanpa disadari.

Salah satu hal yang menarik selama konsolidasi INA-BAN adalah pendekatan yang tidak hanya menyoroti bahayanya, tetapi juga mencari solusi yang realistis. Para peserta memahami bahwa tidak semua masyarakat mampu mengganti atap atau material bangunannya dalam waktu singkat.

Karena itu, selain mendorong penghentian penggunaan asbes baru, dibahas pula langkah-langkah mitigasi terhadap material yang sudah terpasang. Salah satunya adalah melapisi permukaan asbes menggunakan cat non-timbal atau pelapis khusus untuk mengurangi kemungkinan pelepasan serat akibat pelapukan. Langkah ini bukan solusi permanen dan tidak menghilangkan bahaya asbes sepenuhnya. Namun bagi masyarakat yang belum mampu mengganti material bangunannya, cara tersebut dapat menjadi upaya sementara untuk mengurangi risiko paparan.

Diskusi juga berkembang pada pentingnya kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah kemungkinan pemberian subsidi bagi material pengganti asbes yang lebih aman. Selama alternatif yang lebih sehat masih terasa mahal, penggunaan asbes akan tetap menjadi pilihan banyak keluarga. Karena itu, perubahan perilaku perlu diiringi oleh dukungan kebijakan yang memudahkan masyarakat beralih ke material yang lebih aman.

Di antara berbagai pembahasan tersebut, ada satu persoalan yang menurut saya belum banyak mendapat perhatian, yaitu keselamatan para relawan kebencanaan.

Ketika gempa bumi, kebakaran, longsor, atau bangunan runtuh terjadi, relawan adalah orang-orang yang pertama memasuki lokasi untuk menyelamatkan korban. Mereka merayap di antara puing-puing, memindahkan reruntuhan, memotong material bangunan, dan mencari korban yang mungkin masih bertahan hidup.

Dalam situasi seperti itu, lembaran asbes yang pecah dapat melepaskan serat-serat halus ke udara. Ironisnya, di tengah upaya menyelamatkan nyawa orang lain, para relawan justru berpotensi terpapar bahaya yang tidak kasatmata.

Persoalannya, tidak semua relawan mengetahui risiko tersebut. Pembekalan mengenai bahaya asbes masih sangat terbatas, sementara ketersediaan alat pelindung diri yang sesuai standar juga belum selalu terpenuhi. Padahal paparan asbes bukan ancaman yang langsung terasa hari itu juga. Dampaknya bisa baru muncul belasan hingga puluhan tahun kemudian. Artinya, seseorang dapat pulang dari misi kemanusiaan dengan selamat, tetapi tanpa disadari membawa risiko penyakit di masa depan.

Persoalan serupa juga ditemukan di sektor kesehatan. Penyakit akibat paparan asbes sering kali memiliki gejala yang menyerupai penyakit paru atau gangguan pernapasan lainnya. Dalam banyak kasus, riwayat paparan asbes belum menjadi bagian yang digali secara mendalam dalam proses pemeriksaan. Akibatnya, tidak sedikit penyintas yang bertahun-tahun menjalani pengobatan tanpa pernah mengetahui kemungkinan penyebab utama penyakit yang mereka alami.

Kondisi tersebut tentu bukan semata-mata menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Yang dibutuhkan adalah peningkatan pengetahuan, penguatan kapasitas, serta sistem yang lebih peka terhadap penyakit akibat paparan lingkungan dan paparan kerja.Pada akhirnya, bahaya asbes bukan hanya persoalan material bangunan. Ia adalah persoalan kesehatan masyarakat, keselamatan kerja, dan perlindungan terhadap mereka yang berada di garis depan kemanusiaan.

Regulasi yang dimiliki Kota Bandung perlu diiringi dengan sosialisasi yang lebih luas, edukasi kepada masyarakat, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta pembekalan yang memadai bagi para relawan kebencanaan.

Mereka yang menyelamatkan korban bencana seharusnya tidak menjadi korban berikutnya. Kesadaran tentang bahaya asbes bukan hanya untuk melindungi mereka yang tinggal di bawah atapnya, tetapi juga mereka yang mempertaruhkan keselamatannya demi menyelamatkan orang lain. Sebab serat asbes memang tidak terlihat oleh mata, tetapi dampaknya dapat membekas seumur hidup. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)