Strategi Pengembangan Kompetensi ASN

12 menit baca
Ferdi Febiansyah Djunaedi
Ditulis oleh Ferdi Febiansyah Djunaedi diterbitkan
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia)
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia)

Peningkatan kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) sangat krusial untuk menghadapi era disrupsi, mewujudkan birokrasi berkelas dunia, dan menjamin pelayanan publik yang inklusif, profesional, dan efektif dengan memperhatikan nilai-nilai ASN yaitu Berakhlak (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif ). Hal ini menjadi prasyarat mutlak bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2023 tentang ASN pada pasal 49 secara jelas mengamanatkan setiap ASN wajib melakukan pengembangan kompetensi melalui pembelajaran secara terus-menerus, ini bisa diartikan bahwa tingkat urgensi pengembangan kompetensi bagi ASN harus menjadi perhatian utama bagi ASN itu sendiri. Zaman yang selalu berubah, tuntutan pelayanan dari masyarakat yang juga tinggi memaksa ASN untuk selalu terus belajar untuk selalu bisa menyesuaikan. Tindak lanjut dari undang undang ASN tersebut terhadap pengembangan kompetensi adalah tentu saja pemerintah harus bisa melahirkan kebijakan yang khusus tentang arah pengembangan kompetensi yang terintegrasi. Pengembangan kompetensi harus diturunkan dari visi dan misi organisasi dan dilakukan melalui sistem pembelajaran terintegrasi yang disesuaikan dengan kebutuhan jabatan, kinerja, dan rencana karier masing-masing individu.

Untuk menjawab hal tersebut, pemerintah melalui Lembaga Administrasi Negara melahirkan Peraturan Lembaga Administrasi Negara No. 23 tahun 2023 tentang Sistem Pembelajaran Pengembangan Kompetensi Secara Terintegrasi (atau dikenal dengan Corporate University/CORPU bagi ASN). Tujuan utamanya adalah mendorong pengembangan kompetensi aparatur yang lebih terarah agar selaras dengan tujuan strategis organisasi dan mendukung tercapainya target pembangunan nasional. Lebih rincinya, peraturan ini bertujuan untuk :

1.     Manajemen talenta : tindaklanjut dari pengembangan kompetensi ini, harus bisa menempatkan pegawai pada posisi yang sesuai dengan box manajemen talenta begitupun dengan saran arah pengembangan karirnya.

2.     Pembelajaran Terintegrasi: Menjadikan pengembangan kompetensi sebagai proses pembelajaran yang berkelanjutan dan terpadu, tidak sekadar menggugurkan kewajiban pelatihan.

3.     Kinerja Organisasi : Membantu instansi pemerintah mencapai visi, misi, dan sasaran strategisnya melalui peningkatan kualitas SDM.

 SISTEM PEMBELAJARAN TERINTEGRASI

CORPU harus dipahami sebagai cara/strategi organisasi untuk membuat seluruh pegawai terus belajar dan berkembang sesuai kebutuhan organisasi. Dalam konteks peraturan LAN diatas, Corpu digunakan agar proses belajar ASN tidak terpisah dari tujuan organisasi. Jadi pelatihan bukan sekadar formalitas, tetapi benar-benar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan ASN agar mendukung target organisasi. CORPU bukan unit kerja, dan bukan tempat pelatihan di dalam kelas, tetapi adalah strategi pembelajaran organisasi yang terintegrasi yang menciptakan ekosistem pembelajaran organisasi.

RUANG LINGKUP ASN CORPU

Ruang lingkup ASN Corpu berfokus pada 7 elemen penyelenggaraan pembelajaran terintegrasi. Pendekatan ini memastikan pengembangan kompetensi ASN tidak hanya bersifat teoritis, tetapi selaras langsung dengan tujuan dan pencapaian kinerja organisasi. 

Ruang lingkup Corpu tersebut meliputi:

  1. Struktur ASN Corpu: Penetapan peran dan fungsi pengembangan kompetensi yang diintegrasikan ke dalam struktur organisasi yang sudah ada, tanpa harus membentuk kelembagaan baru dan juga pembagian peran dalam penyelenggaraan pembelajaran.
  2. Manajemen Pengetahuan : Sistem pengelolaan, penciptaan, dan penyebaran aset pengetahuan instansi untuk mendukung pembelajaran berkelanjutan.
  3. Forum Pembelajaran: Wadah kolaboratif (seperti community of practice) bagi ASN untuk saling berbagi informasi, pengalaman, dan memecahkan masalah bersama.
  4. Sistem Pembelajaran : Identifikasi dan diagnosis kesenjangan kompetensi dan kinerja serta mandat kebijakan agar materi pembelajaran yang diberikan sesuai dengan tuntutan jabatan dan tujuan strategis organisasi.
  5. Strategi Pembelajaran: Pelaksanaan metode pembelajaran yang mencakup pengalaman praktik di tempat kerja/experiential Learning  (70%), Social Learning (20%) dan Pelatihan Formal (10%)
  6. Teknologi Pembelajaran : Infrastruktur digital yang digunakan untuk mengelola, mengakses, dan memfasilitasi proses pembelajaran secara fleksibel dan luas
  7. Integrasi Sistem : Keterpaduan antara Manajemen talenta dan Kinerja Organisasi.

DARI RITUAL PELATIHAN MENUJU PEMBELAJARAN ORGANISASI ASN

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Dok. BKN)
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Dok. BKN)

Menurut Buku Statistik ASN Semester II Tahun 2025 yang diterbitkan Badan Kepegawaian Negara (BKN), jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) Indonesia per 31 Desember 2025 mencapai 6.546.083 orang. Jumlah tersebut merupakan kekuatan besar yang dimiliki negara untuk menjalankan pemerintahan, memberikan pelayanan publik, sekaligus memastikan berbagai program pembangunan dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah.

Dengan jumlah sebesar itu, kualitas birokrasi Indonesia seharusnya terus mengalami peningkatan. Namun, realitas menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi birokrasi masih sangat besar. Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Muhammad Taufiq mengungkapkan bahwa berdasarkan survei Ipsos tahun 2025, ASN masih termasuk empat profesi dengan tingkat kepercayaan publik terendah. Fakta ini patut menjadi perhatian serius karena kepercayaan publik merupakan fondasi utama keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan. 

Rendahnya tingkat kepercayaan publik tersebut tidak muncul tanpa sebab. Masyarakat menilai birokrasi melalui pengalaman yang mereka rasakan secara langsung, mulai dari pengurusan administrasi kependudukan, perizinan usaha, layanan kesehatan, hingga berbagai bentuk pelayanan lainnya. Ketika pelayanan dianggap lambat, berbelit, tidak responsif, atau tidak mampu menyelesaikan kebutuhan masyarakat secara efektif, maka persepsi terhadap ASN pun ikut terpengaruh.

Gambaran tersebut juga terlihat dalam Hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pelayanan Publik Tahun 2025. Masih terdapat dua kementerian yang belum memperoleh predikat penilaian, lima pemerintah provinsi, dua pemerintah kota, dan 31 pemerintah kabupaten yang juga belum memperoleh predikat. Data ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan publik antarlembaga masih belum merata. Di satu sisi terdapat instansi yang telah mampu melakukan berbagai inovasi pelayanan, tetapi di sisi lain masih ada instansi yang belum menunjukkan capaian yang memadai.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa persoalan kualitas pelayanan publik masih terjadi, padahal berbagai program pengembangan kompetensi ASN terus dilaksanakan setiap tahun? Masalah utama pengembangan kompetensi ASN bukan kekurangan pelatihan, melainkan ketidakmampuan menghubungkan pembelajaran dengan target kinerja organisasi.

Selama ini pemerintah sebenarnya telah memberikan perhatian yang besar terhadap pengembangan kompetensi ASN. Seminar, bimbingan teknis, workshop, pelatihan teknis, hingga webinar diselenggarakan secara masif oleh berbagai instansi. Anggaran yang dialokasikan pun tidak sedikit. Namun, besarnya aktivitas pembelajaran belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas kinerja organisasi.

Fenomena yang disampaikan Kepala LAN mengenai ASN yang mengikuti webinar menggunakan lima laptop sekaligus demi memperoleh lima sertifikat dalam waktu yang sama merupakan contoh yang menarik. Kasus tersebut mungkin tidak mewakili keseluruhan ASN, tetapi cukup untuk menggambarkan adanya gejala yang lebih mendasar. Pengembangan kompetensi pada sebagian organisasi masih dipahami sebagai pemenuhan kewajiban administratif, bukan sebagai kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas kerja.

Akibatnya, orientasi pembelajaran sering kali bergeser. Keberhasilan tidak lagi diukur dari perubahan perilaku kerja, peningkatan kualitas pelayanan, atau kontribusi terhadap pencapaian target organisasi. Ukuran keberhasilan berubah menjadi jumlah pelatihan yang dilaksanakan, jumlah peserta yang hadir, atau jumlah sertifikat yang berhasil dikumpulkan. Dalam kondisi seperti ini, pelatihan berisiko menjadi ritual birokrasi yang berlangsung berulang setiap tahun tanpa menghasilkan dampak yang signifikan. Padahal tantangan yang dihadapi ASN saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola kerja organisasi. Masyarakat menuntut pelayanan yang lebih cepat, lebih sederhana, lebih transparan, dan dapat diakses kapan saja. Di sisi lain, pemerintah juga dituntut mampu bekerja secara kolaboratif dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan yang semakin kompleks dan lintas sektor.

Tantangan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan pendekatan pelatihan konvensional. Pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas memang penting, tetapi sering kali tidak cukup untuk membentuk kemampuan memecahkan masalah, kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, maupun kemampuan berkolaborasi. Kompetensi tersebut justru lebih banyak dibangun melalui pengalaman kerja, interaksi sosial, dan keterlibatan langsung dalam penyelesaian persoalan nyata.

Aparatur Negeri Sipil (ASN). (Sumber: bkpsdm.purworejokab.go.id)
Aparatur Negeri Sipil (ASN). (Sumber: bkpsdm.purworejokab.go.id)

Karena itulah pemerintah melalui Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 23 Tahun 2023 memperkenalkan Sistem Pembelajaran Pengembangan Kompetensi Secara Terintegrasi atau ASN Corporate University (CorpU). Kehadiran CorpU sesungguhnya merupakan upaya untuk mengubah paradigma pengembangan kompetensi ASN dari yang semula berorientasi pada kegiatan pelatihan menjadi berorientasi pada pencapaian kinerja organisasi.

Sayangnya, masih banyak pihak yang memahami CorpU sebatas lembaga pelatihan modern atau platform pembelajaran digital. Padahal esensi CorpU jauh lebih mendasar. CorpU bukan gedung, bukan unit kerja baru, dan bukan hanya aplikasi pembelajaran. CorpU adalah strategi organisasi untuk memastikan bahwa seluruh proses belajar ASN memiliki hubungan langsung dengan tujuan organisasi.

Melalui pendekatan ini, proses pengembangan kompetensi tidak lagi dimulai dari pertanyaan mengenai pelatihan apa yang akan diselenggarakan. Sebaliknya, organisasi terlebih dahulu harus menjawab kompetensi apa yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran strategisnya. Dengan demikian, pembelajaran menjadi instrumen untuk menyelesaikan masalah organisasi, bukan hanya menjadi agenda tahunan yang harus dilaksanakan.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menerjemahkan visi, misi, dan sasaran strategis organisasi ke dalam kebutuhan kompetensi yang terukur. Setiap target kinerja harus memiliki kompetensi pendukung yang jelas. Setelah itu dilakukan pemetaan kompetensi melalui Human Capital Development Plan (HCDP) dan Individual Development Plan (IDP) untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki ASN dengan kompetensi yang dibutuhkan organisasi.

Langkah berikutnya adalah memilih metode pembelajaran yang paling efektif. Dalam pendekatan CorpU, pembelajaran tidak hanya bertumpu pada pelatihan formal. Model pembelajaran 70-20-10 menempatkan experiential learning sebagai porsi terbesar, yakni 70 persen. ASN belajar melalui pengalaman nyata seperti penugasan lintas fungsi, keterlibatan dalam proyek strategis, rotasi jabatan, job shadowing, magang, maupun penyelesaian masalah organisasi secara langsung.

Sebanyak 20 persen pembelajaran diperoleh melalui interaksi sosial seperti coaching, mentoring, community of practice, dan knowledge sharing. Melalui mekanisme ini, pengetahuan yang dimiliki individu dapat ditransformasikan menjadi pengetahuan organisasi. Budaya belajar tidak lagi bergantung pada instruktur atau lembaga pelatihan, tetapi tumbuh melalui interaksi sehari-hari di lingkungan kerja.

Sementara itu, pelatihan formal hanya mengambil porsi 10 persen. Bukan berarti pelatihan formal tidak penting, melainkan karena pelatihan harus ditempatkan sebagai instrumen yang melengkapi kebutuhan pembelajaran, bukan sebagai satu-satunya cara untuk mengembangkan kompetensi ASN.

Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan kompetensi ASN tidak boleh lagi diukur dari banyaknya pelatihan yang diselenggarakan, jumlah peserta yang hadir, atau sertifikat yang diterbitkan. Ukuran yang jauh lebih penting adalah apakah kompetensi ASN meningkat, apakah kinerja organisasi membaik, dan apakah masyarakat merasakan pelayanan publik yang lebih berkualitas.

Di tengah masih rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap birokrasi, reformasi pengembangan kompetensi ASN menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. ASN Indonesia tidak kekurangan pelatihan. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang bahwa belajar bukanlah kegiatan sesaat untuk memperoleh sertifikat, melainkan proses berkelanjutan untuk menghasilkan kinerja dan pelayanan yang lebih baik. Ketika setiap pekerjaan menjadi ruang belajar dan setiap ASN menjadi pembelajar sepanjang hayat, maka tujuan besar reformasi birokrasi untuk menghadirkan pemerintahan yang profesional, adaptif, dan dipercaya masyarakat akan semakin mudah diwujudkan.

STRATEGI PENGEMBANGAN KOMPETENSI ASN, APA YANG HARUS DILAKUKAN ORGANISASI?

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: dinkominfo.demakkab.go.id)
Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: dinkominfo.demakkab.go.id)

Pembelajaran Berbasis Kebutuhan Organisasi

Visi dan misi adalah fondasi utama yang memberikan arah dan tujuan organisasi. Visi merupakan cita-cita jangka panjang, sedangkan misi adalah langkah konkret untuk mencapainya. Keduanya berfungsi sebagai kompas dalam pengambilan keputusan, alat ukur kinerja, dan motivasi bagi seluruh pegawai. 

Peran strategis keduanya dalam sebuah organisasi adalah:

  • Menentukan Arah Strategis: Visi menggambarkan tujuan akhir (cita-cita), sementara misi merinci apa yang harus dilakukan. Keduanya memandu manajemen dalam merancang strategi jangka panjang. Presiden Joko Widodo pernah berkata, untuk membuat perencanaan yang baik, mulailah dengan tujuan yang jelas
  • Menyelaraskan Sumber Daya: Menghindari penyimpangan fokus kerja agar setiap waktu, tenaga, dan dana teralokasi secara efektif untuk mencapai tujuan bersama.
  • Meningkatkan Motivasi: Memberikan rasa memiliki (identitas) dan semangat bagi karyawan karena mereka memahami dampak nyata dari pekerjaan.

Pengembangan kompetensi adalah media atau alat bagi organisasi untuk menjaga pengetahuan, keterampilan dan perilaku (Knowledge, Skill dan Attitude atau KSA) para ASNnya adalah selaras dengan langkah-langkah strategis organisasi untuk mencapai tujuannya. Corpu harus dihadirkan untuk memastikan seluruh ASN dalam organisasi memiliki KSA yang tepat dengan tujuan organisasi. Jika visi dan misi menuntut inovasi atau transformasi, Corpu berfungsi menyiapkan ASN agar mampu menguasai keahlian baru tersebut, karena Organisasi yang mengaitkan pelatihan dengan visi-misinya akan menghasilkan ASN dengan produktivitas tinggi.

Dalam sistem Corpu, pengembangan kompetensi tidak lagi sekadar formalitas. Pengembangan kompetensi harus sejalan dan dampaknya nyata bagi langkah-langkah strategis organisasi. Strategi yang bisa digunakan untuk pengembangan kompetensi ASN tersebut harus dimulai dari :

1.     Membedah Visi dan Misi. Uraikan visi dan misi menjadi langkah-langkah strategis organisasi. Dalam paradigma Permenpan dan RB nomor 6 tahun 2022 tentang Manajemen Kinerja ASN dikenal dengan nama Indikator Kinerja Utama. Analisis setiap kata dalam indikator kinerja utama tersebut menjadi kata kunci untuk dikembangkan menjadi suatu kompetensi

2.     Competency Mapping. Identifikasi profil kompetensi ASN dan profil kompetensi jabatan/pekerjaan atau bahkan dengan kompetensi jabatan dimasa mendatang. Dalam hal ini, organisasi harus sudah membuat program Human Capital Development Plan (HCDP) dan menurunkannya kedalam Individual Development Plan (IDP) dan menjadikannya menjadi sebuah target kinerja. Identifikasi ini harus berfokus dan mengukur Knowledge, Skill dan Attitude (KSA)

3.     Metode/Strategi Pengembangan Kompetensi yang tepat. Pengembangan Kompetensi melalui pelatihan formal masih menjadi primadona karena kemudahan pelaksanaannya dan anggaran yang melimpah. Dengan kondisi seperti sekarang, organisasi harus memposisikan diri dalam keadaan yang prihatin, artinya kondisikan dalam keadaan yang serba terbatas sumber daya nya terutama penganggaran. Organisasi harus bisa menganalisis, bahwa banyak hal didalam organisasi dapat memberikan pengalaman nyata bagi pengembangan kompetensi ASN. Inilah yang menjadi prinsip bagi Pelaksanaan experiential learning dalam konteks Corporate University yang mempunyai porsi terbesar sebanyak 70%. Beberapa contoh dari experiential learning diantaranya adalah :

·      Keterlibatan dalam Tim lintas fungsi

·      Mutasi Jabatan (Rotasi maupun Promosi)

·      Job Shadowing

·      Job Enrichment

·      Job Enlargement

·      Detasering

·      Magang

·      Secondment/Pertukaran Pegawai

Organisasi harus bisa menciptakan suasana dan lingkungan yang kondusif, sehingga melahirkan interaksi sosial yang baik pula. Dari sinilah ASN bisa belajar dari interaksi sosial, jejaring dan umpan balik. Penerapan strategi yang mendapat porsi sebesar 20% ini, bergeser dari pelatihan kelas yang konvensional menuju pembentukan budaya organisasi pembelajar (learning organization). Berikut adalah bentuk dan implementasi social learning di dalam CorpU, diantaranya :

·       Coaching dan Mentoring: Atasan, mentor, atau ASN senior ditugaskan untuk memberikan bimbingan, berbagi pengalaman, dan memberikan umpan balik langsung terkait penyelesaian tugas harian guna meningkatkan kinerja individu.

·       Community of Practice (CoP): Pembentukan komunitas ahli atau kelompok kerja lintas divisi yang memiliki kesamaan minat (interest) atau tantangan pekerjaan. Di dalam CoP, talenta organisasi dapat bertukar insight, memecahkan masalah bersama (troubleshooting), dan berbagi praktik terbaik (best practices).

·       Knowledge Sharing: Dialog rutin, diskusi antar rekan kerja, atau forum berbagi pengetahuan (knowledge management). Hal ini sering kali didukung oleh penggunaan sistem manajemen pembelajaran terintegrasi yang memfasilitasi kolaborasi jarak jauh sepereti Zoom Meeting, Google Meet atau MicroSoft Teams dan lainnya.

Terakhir, jika organisasi dirasa bisa menemukan celah kompetensi yang bisa diisi dengan pelatihan biasa, gunakan pendekatan formal learning. Cara ini tergolong mudah, hanya dengan membuka dan mempelajari HCDP/IDP yang sudah ada dan melihat jenis kompetensi apa yang belum terpenuhi metode pengembangan kompetensinya atau cukup dengan melihat uraian pekerjaan apa yang tidak bisa dilakukan oleh ASN tersebut, maka itulah celah kompetensinya. Ada banyak jenis pelatihan formal seperti ini diantaranya : seminar, bimtek, sosialisasi, pelatihan teknis dan sebagainya.

4.     Integrasi dalam Manajemen SDM.  Competency-Based Human Resource Management (CBHRM), jadikan kompetensi sebagai standar baku dalam proses : Rekrutmen, Seleksi, penempatan, mutasi, kelas jabatan, pengembangan, penilaian kinerja dan pensiun. 

Sudah tidak ada alasan lagi bagi organisasi untuk tidak melaksanakan Corpu. Corpu adalah sebuah komitmen dari seluruh komponen organisasi untuk mau dan bersedia belajar melalui berbagai pendekatan. Organisasi yang tidak belajar tidak akan berubah, organisasi yang tidak berubah maka akan mati perlahan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ferdi Febiansyah Djunaedi
Analis SDM Aparatur Ahli Muda pada Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Agu 2026, 18:41

Pemborosan Pangan dalam Lingkungan Rumah serta Dampaknya Terhadap Lingkungan

Mengurangi food waste menjadi langkah sederhana untuk menjaga lingkungan dan mendukung ketahanan pangan.

Ilustrasi sampah makanan. (Sumber: Pexels | Foto: Sarah Chai)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 18:08

Pengaruh AI dalam Meningkatkan Efektivitas dan Akurasi di Dunia Akuntansi

Dalam dunia akuntansi Artificial Intelligence memudahkan dalam penyusunan laporan keuangan, meminimalisir kesalahan, mendeteksi adanya kecurangan, dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.

ilustrasi dunia akuntansi. (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock project)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 17:09

Masa Depan Forensic Accounting: Optimalisasi Artificial Intelligence dan Data Analytics dalam Mengungkap Korupsi di Indonesia

Memahami bagaimana peran dari artificial intelligence dan data analysis dalam forensic accounting dalam mengungkap fraud dan korupsi di Indonesia.

Ilustrasi akuntan. (Sumber: Pexels | Foto: Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 15:30

Penggunaan Artificial Intelligence dan Simulasi Studi Kasus dalam Mengatasi Masalah Mahasiswa Akuntansi

AI dan simulasi studi kasus membantu mahasiswa akuntansi memahami perubahan standar, membandingkan GAAP, IFRS, dan SAK, serta melatih kemampuan menghadapi permasalahan akuntansi secara lebih realistis

Ilustrasi penggunaan AI. Simulasi studi kasus dan penggunaan Artificial Intelligence (AI) menjadi solusi inovatif untuk berbagai kendala yang dialami oleh mahasiswa akuntansi.
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 14:37

KDM Minta Maaf Gara-gara 80.000 Warga Jabar Masih Gelap-gelapan

Kang Dedi Mulyadi menyoroti 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Ia menilai pemerintah masih memiliki pekerjaan besar untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di seluruh Jawa Barat secara merata.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, saat upacara hari kemerdekaan di Gedung Sate.  (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 13:48

Membaca Bahasa Kekuasaan di Balik Fenomena Pemasangan Pagar Mal Agustus 2026

Ketika mal-mal besar mendadak berpagar tinggi lalu semua pihak buru-buru membantah kaitannya dengan kerusuhan, yang tersingkap justru ketakutan itu sendiri.

Ilustrasi pagar di mal. (Sumber: Pexels | Foto: Thiago Calamita)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 10:49

Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan Integritas

Mari mengisi kemerdekaan dengan ilmu yang mencerahkan, pendidikan yang memanusiakan, teknologi yang beretika, agama yang menebarkan kedamaian, dan pengabdian yang menghadirkan kemaslahatan.

Ilustrasi bendera Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Daris Ardiansyah)
Wisata & Kuliner 18 Agu 2026, 10:06

Kebun Teh Jayanegara Sukabumi, Wisata Perkebunan dengan Panorama Gunung Salak

Hamparan kebun teh, kabut pagi, dan udara sejuk menjadi daya tarik utama Kebun Teh Jayanegara di Kecamatan Kabandungan, Sukabumi.

Kebun Teh Jayanegara Sukabumi. (Sumber: Instagram @smiling.wetjava)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 08:15

81 Tahun Merdeka, Untuk Siapa Kemerdekaan Bekerja?

Mungkin persoalannya bukan apakah Indonesia telah merdeka, melainkan ke mana kemerdekaan itu dibawa dan untuk siapa ia bekerja.

Pada sebuah acara peringatan Hari Kemerdekaan di Gedung Indonesia Menggugat. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 07:48

Makna Hari Kemerdekaan: Wujudkan Bandung Berdikari dengan Optimasi Aset

Mewujudkan Bandung berdikari, mesti mengembangkan lebih banyak lagi ragam profesi atau jenis pekerjaan masa kini.

Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Pemkot Bandung (Sumber: bandung.go.id)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 21:22

Kedaulatan Komunikasi sebagai Wajah Baru Kemerdekaan

Di usia ke-81 RI, kemerdekaan bukan hanya soal wilayah, tetapi kedaulatan komunikasi: kemampuan berpikir jernih, memverifikasi kebenaran, dan berdialog sehat di tengah gempuran algoritma dan hoaks.

Apakah kemerdekaan hanya sebatas bebas dari kolonialisme fisik? (Sumber: Pexels/ahmad syahrir)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 19:20

Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’ dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 2)

Menelusuri hubungan sejarah dan fotografi, dari foto sebagai rekaman masa lalu hingga teknologi visual mutakhir yang membuka cara baru dalam membaca sejarah.

Foto Cipanas Garut dengan view Gunung Guntur yang diambil Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 16:20

El Bahar dan Sang Merah Putih Menjelang Hari Kemerdekaan

Koran yang usianya kini telah mencapai 57 tahun itu hadir hanya dua hari menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Suratkabar El Bahar, salah satu surat kabar yang dikenal kritis dan cukup disegani pada masanya. (Koleksi: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 15:00

Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’, dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 1)

Mengulas sejarah fotografi di Indonesia, perannya sebagai sumber sejarah visual, serta persoalan pelestarian arsip foto dalam merekam perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Ilustrasi foto klasik. (Sumber: Pexels | Foto: tapoy)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 13:02

Refleksi Indonesia Merdeka

Dalam refleksi Indonesia merdeka adalah Indonesia harus terus belajar menjadi Indonesia yang adil, berdaulat, beradab dan manusiawi, itulah kemerdekaan sesungguhnya.

Acara pengibaran bendera Merah Putih berukuran 10×18 meter di Tebing Hawu, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 11:26

Bendera Berkibar Janji Ditebar

81 tahun kemerdekaan bukan semata-mata untuk kepentingan negara yang punya hajat. Tetapi masyarakat yang memiliki harapan untuk merdeka. Hidup di negeri ini dengan jutaan cita-cita.

Warga membentangkan bendera Merah Putih raksasa berukuran 10x18 meter sebagai persiapan pengibaran pada 17 Agustus 2026 di Tebing Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 10:05

Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Taman Bincarung: Trek Pendakian, Lokasi, dan Harga Tiket

Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Bincarung, informasi trek pendakian, lokasi gunung, dan harga tiket yang perlu diketahui sebelum melakukan pendakian.

Peta Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Bincarung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 09:22

Ketimpangan Terselubung di Balik Pilihan Kos Mahasiswa

Ketimpangan dalam soal pilihan tempat kos mungkin tidak selalu kentara, tetapi dampaknya nyata dan berlapis.

Mahasiswa baru salah satu PTN mengikuti Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 21:58

Dari Kaki Gunung Wayang ke Ruang Sidang Doktoral: Saatnya Pendidikan Belajar Mengenali Keunikan

Jika setiap anak berbeda, mengapa sistem pendidikan kita masih begitu gemar menyeragamkan? Kisah Luthfi dari Kertasari membuka pertanyaan itu.

Luthfi Audia Pribadi dalam ujian promosi doktor di UPI, 13 Agustus 2026.
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 18:15

Efektivitas Perusahaan Listrik sebagai Perusahaan Monopoli?

Ada berbagai bentuk pasar dalam perekonomian. Apakah perusahaan listrik sebagai perusahaan monopoli efektif?

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.