Strategi Pengembangan Kompetensi ASN

12 menit baca
Ferdi Febiansyah Djunaedi
Ditulis oleh Ferdi Febiansyah Djunaedi diterbitkan
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia)
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia)

Peningkatan kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) sangat krusial untuk menghadapi era disrupsi, mewujudkan birokrasi berkelas dunia, dan menjamin pelayanan publik yang inklusif, profesional, dan efektif dengan memperhatikan nilai-nilai ASN yaitu Berakhlak (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif ). Hal ini menjadi prasyarat mutlak bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2023 tentang ASN pada pasal 49 secara jelas mengamanatkan setiap ASN wajib melakukan pengembangan kompetensi melalui pembelajaran secara terus-menerus, ini bisa diartikan bahwa tingkat urgensi pengembangan kompetensi bagi ASN harus menjadi perhatian utama bagi ASN itu sendiri. Zaman yang selalu berubah, tuntutan pelayanan dari masyarakat yang juga tinggi memaksa ASN untuk selalu terus belajar untuk selalu bisa menyesuaikan. Tindak lanjut dari undang undang ASN tersebut terhadap pengembangan kompetensi adalah tentu saja pemerintah harus bisa melahirkan kebijakan yang khusus tentang arah pengembangan kompetensi yang terintegrasi. Pengembangan kompetensi harus diturunkan dari visi dan misi organisasi dan dilakukan melalui sistem pembelajaran terintegrasi yang disesuaikan dengan kebutuhan jabatan, kinerja, dan rencana karier masing-masing individu.

Untuk menjawab hal tersebut, pemerintah melalui Lembaga Administrasi Negara melahirkan Peraturan Lembaga Administrasi Negara No. 23 tahun 2023 tentang Sistem Pembelajaran Pengembangan Kompetensi Secara Terintegrasi (atau dikenal dengan Corporate University/CORPU bagi ASN). Tujuan utamanya adalah mendorong pengembangan kompetensi aparatur yang lebih terarah agar selaras dengan tujuan strategis organisasi dan mendukung tercapainya target pembangunan nasional. Lebih rincinya, peraturan ini bertujuan untuk :

1.     Manajemen talenta : tindaklanjut dari pengembangan kompetensi ini, harus bisa menempatkan pegawai pada posisi yang sesuai dengan box manajemen talenta begitupun dengan saran arah pengembangan karirnya.

2.     Pembelajaran Terintegrasi: Menjadikan pengembangan kompetensi sebagai proses pembelajaran yang berkelanjutan dan terpadu, tidak sekadar menggugurkan kewajiban pelatihan.

3.     Kinerja Organisasi : Membantu instansi pemerintah mencapai visi, misi, dan sasaran strategisnya melalui peningkatan kualitas SDM.

 SISTEM PEMBELAJARAN TERINTEGRASI

CORPU harus dipahami sebagai cara/strategi organisasi untuk membuat seluruh pegawai terus belajar dan berkembang sesuai kebutuhan organisasi. Dalam konteks peraturan LAN diatas, Corpu digunakan agar proses belajar ASN tidak terpisah dari tujuan organisasi. Jadi pelatihan bukan sekadar formalitas, tetapi benar-benar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan ASN agar mendukung target organisasi. CORPU bukan unit kerja, dan bukan tempat pelatihan di dalam kelas, tetapi adalah strategi pembelajaran organisasi yang terintegrasi yang menciptakan ekosistem pembelajaran organisasi.

RUANG LINGKUP ASN CORPU

Ruang lingkup ASN Corpu berfokus pada 7 elemen penyelenggaraan pembelajaran terintegrasi. Pendekatan ini memastikan pengembangan kompetensi ASN tidak hanya bersifat teoritis, tetapi selaras langsung dengan tujuan dan pencapaian kinerja organisasi. 

Ruang lingkup Corpu tersebut meliputi:

  1. Struktur ASN Corpu: Penetapan peran dan fungsi pengembangan kompetensi yang diintegrasikan ke dalam struktur organisasi yang sudah ada, tanpa harus membentuk kelembagaan baru dan juga pembagian peran dalam penyelenggaraan pembelajaran.
  2. Manajemen Pengetahuan : Sistem pengelolaan, penciptaan, dan penyebaran aset pengetahuan instansi untuk mendukung pembelajaran berkelanjutan.
  3. Forum Pembelajaran: Wadah kolaboratif (seperti community of practice) bagi ASN untuk saling berbagi informasi, pengalaman, dan memecahkan masalah bersama.
  4. Sistem Pembelajaran : Identifikasi dan diagnosis kesenjangan kompetensi dan kinerja serta mandat kebijakan agar materi pembelajaran yang diberikan sesuai dengan tuntutan jabatan dan tujuan strategis organisasi.
  5. Strategi Pembelajaran: Pelaksanaan metode pembelajaran yang mencakup pengalaman praktik di tempat kerja/experiential Learning  (70%), Social Learning (20%) dan Pelatihan Formal (10%)
  6. Teknologi Pembelajaran : Infrastruktur digital yang digunakan untuk mengelola, mengakses, dan memfasilitasi proses pembelajaran secara fleksibel dan luas
  7. Integrasi Sistem : Keterpaduan antara Manajemen talenta dan Kinerja Organisasi.

DARI RITUAL PELATIHAN MENUJU PEMBELAJARAN ORGANISASI ASN

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Dok. BKN)
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Dok. BKN)

Menurut Buku Statistik ASN Semester II Tahun 2025 yang diterbitkan Badan Kepegawaian Negara (BKN), jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) Indonesia per 31 Desember 2025 mencapai 6.546.083 orang. Jumlah tersebut merupakan kekuatan besar yang dimiliki negara untuk menjalankan pemerintahan, memberikan pelayanan publik, sekaligus memastikan berbagai program pembangunan dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah.

Dengan jumlah sebesar itu, kualitas birokrasi Indonesia seharusnya terus mengalami peningkatan. Namun, realitas menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi birokrasi masih sangat besar. Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Muhammad Taufiq mengungkapkan bahwa berdasarkan survei Ipsos tahun 2025, ASN masih termasuk empat profesi dengan tingkat kepercayaan publik terendah. Fakta ini patut menjadi perhatian serius karena kepercayaan publik merupakan fondasi utama keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan. 

Rendahnya tingkat kepercayaan publik tersebut tidak muncul tanpa sebab. Masyarakat menilai birokrasi melalui pengalaman yang mereka rasakan secara langsung, mulai dari pengurusan administrasi kependudukan, perizinan usaha, layanan kesehatan, hingga berbagai bentuk pelayanan lainnya. Ketika pelayanan dianggap lambat, berbelit, tidak responsif, atau tidak mampu menyelesaikan kebutuhan masyarakat secara efektif, maka persepsi terhadap ASN pun ikut terpengaruh.

Gambaran tersebut juga terlihat dalam Hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pelayanan Publik Tahun 2025. Masih terdapat dua kementerian yang belum memperoleh predikat penilaian, lima pemerintah provinsi, dua pemerintah kota, dan 31 pemerintah kabupaten yang juga belum memperoleh predikat. Data ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan publik antarlembaga masih belum merata. Di satu sisi terdapat instansi yang telah mampu melakukan berbagai inovasi pelayanan, tetapi di sisi lain masih ada instansi yang belum menunjukkan capaian yang memadai.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa persoalan kualitas pelayanan publik masih terjadi, padahal berbagai program pengembangan kompetensi ASN terus dilaksanakan setiap tahun? Masalah utama pengembangan kompetensi ASN bukan kekurangan pelatihan, melainkan ketidakmampuan menghubungkan pembelajaran dengan target kinerja organisasi.

Selama ini pemerintah sebenarnya telah memberikan perhatian yang besar terhadap pengembangan kompetensi ASN. Seminar, bimbingan teknis, workshop, pelatihan teknis, hingga webinar diselenggarakan secara masif oleh berbagai instansi. Anggaran yang dialokasikan pun tidak sedikit. Namun, besarnya aktivitas pembelajaran belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas kinerja organisasi.

Fenomena yang disampaikan Kepala LAN mengenai ASN yang mengikuti webinar menggunakan lima laptop sekaligus demi memperoleh lima sertifikat dalam waktu yang sama merupakan contoh yang menarik. Kasus tersebut mungkin tidak mewakili keseluruhan ASN, tetapi cukup untuk menggambarkan adanya gejala yang lebih mendasar. Pengembangan kompetensi pada sebagian organisasi masih dipahami sebagai pemenuhan kewajiban administratif, bukan sebagai kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas kerja.

Akibatnya, orientasi pembelajaran sering kali bergeser. Keberhasilan tidak lagi diukur dari perubahan perilaku kerja, peningkatan kualitas pelayanan, atau kontribusi terhadap pencapaian target organisasi. Ukuran keberhasilan berubah menjadi jumlah pelatihan yang dilaksanakan, jumlah peserta yang hadir, atau jumlah sertifikat yang berhasil dikumpulkan. Dalam kondisi seperti ini, pelatihan berisiko menjadi ritual birokrasi yang berlangsung berulang setiap tahun tanpa menghasilkan dampak yang signifikan. Padahal tantangan yang dihadapi ASN saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola kerja organisasi. Masyarakat menuntut pelayanan yang lebih cepat, lebih sederhana, lebih transparan, dan dapat diakses kapan saja. Di sisi lain, pemerintah juga dituntut mampu bekerja secara kolaboratif dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan yang semakin kompleks dan lintas sektor.

Tantangan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan pendekatan pelatihan konvensional. Pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas memang penting, tetapi sering kali tidak cukup untuk membentuk kemampuan memecahkan masalah, kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, maupun kemampuan berkolaborasi. Kompetensi tersebut justru lebih banyak dibangun melalui pengalaman kerja, interaksi sosial, dan keterlibatan langsung dalam penyelesaian persoalan nyata.

Aparatur Negeri Sipil (ASN). (Sumber: bkpsdm.purworejokab.go.id)
Aparatur Negeri Sipil (ASN). (Sumber: bkpsdm.purworejokab.go.id)

Karena itulah pemerintah melalui Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 23 Tahun 2023 memperkenalkan Sistem Pembelajaran Pengembangan Kompetensi Secara Terintegrasi atau ASN Corporate University (CorpU). Kehadiran CorpU sesungguhnya merupakan upaya untuk mengubah paradigma pengembangan kompetensi ASN dari yang semula berorientasi pada kegiatan pelatihan menjadi berorientasi pada pencapaian kinerja organisasi.

Sayangnya, masih banyak pihak yang memahami CorpU sebatas lembaga pelatihan modern atau platform pembelajaran digital. Padahal esensi CorpU jauh lebih mendasar. CorpU bukan gedung, bukan unit kerja baru, dan bukan hanya aplikasi pembelajaran. CorpU adalah strategi organisasi untuk memastikan bahwa seluruh proses belajar ASN memiliki hubungan langsung dengan tujuan organisasi.

Melalui pendekatan ini, proses pengembangan kompetensi tidak lagi dimulai dari pertanyaan mengenai pelatihan apa yang akan diselenggarakan. Sebaliknya, organisasi terlebih dahulu harus menjawab kompetensi apa yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran strategisnya. Dengan demikian, pembelajaran menjadi instrumen untuk menyelesaikan masalah organisasi, bukan hanya menjadi agenda tahunan yang harus dilaksanakan.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menerjemahkan visi, misi, dan sasaran strategis organisasi ke dalam kebutuhan kompetensi yang terukur. Setiap target kinerja harus memiliki kompetensi pendukung yang jelas. Setelah itu dilakukan pemetaan kompetensi melalui Human Capital Development Plan (HCDP) dan Individual Development Plan (IDP) untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki ASN dengan kompetensi yang dibutuhkan organisasi.

Langkah berikutnya adalah memilih metode pembelajaran yang paling efektif. Dalam pendekatan CorpU, pembelajaran tidak hanya bertumpu pada pelatihan formal. Model pembelajaran 70-20-10 menempatkan experiential learning sebagai porsi terbesar, yakni 70 persen. ASN belajar melalui pengalaman nyata seperti penugasan lintas fungsi, keterlibatan dalam proyek strategis, rotasi jabatan, job shadowing, magang, maupun penyelesaian masalah organisasi secara langsung.

Sebanyak 20 persen pembelajaran diperoleh melalui interaksi sosial seperti coaching, mentoring, community of practice, dan knowledge sharing. Melalui mekanisme ini, pengetahuan yang dimiliki individu dapat ditransformasikan menjadi pengetahuan organisasi. Budaya belajar tidak lagi bergantung pada instruktur atau lembaga pelatihan, tetapi tumbuh melalui interaksi sehari-hari di lingkungan kerja.

Sementara itu, pelatihan formal hanya mengambil porsi 10 persen. Bukan berarti pelatihan formal tidak penting, melainkan karena pelatihan harus ditempatkan sebagai instrumen yang melengkapi kebutuhan pembelajaran, bukan sebagai satu-satunya cara untuk mengembangkan kompetensi ASN.

Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan kompetensi ASN tidak boleh lagi diukur dari banyaknya pelatihan yang diselenggarakan, jumlah peserta yang hadir, atau sertifikat yang diterbitkan. Ukuran yang jauh lebih penting adalah apakah kompetensi ASN meningkat, apakah kinerja organisasi membaik, dan apakah masyarakat merasakan pelayanan publik yang lebih berkualitas.

Di tengah masih rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap birokrasi, reformasi pengembangan kompetensi ASN menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. ASN Indonesia tidak kekurangan pelatihan. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang bahwa belajar bukanlah kegiatan sesaat untuk memperoleh sertifikat, melainkan proses berkelanjutan untuk menghasilkan kinerja dan pelayanan yang lebih baik. Ketika setiap pekerjaan menjadi ruang belajar dan setiap ASN menjadi pembelajar sepanjang hayat, maka tujuan besar reformasi birokrasi untuk menghadirkan pemerintahan yang profesional, adaptif, dan dipercaya masyarakat akan semakin mudah diwujudkan.

STRATEGI PENGEMBANGAN KOMPETENSI ASN, APA YANG HARUS DILAKUKAN ORGANISASI?

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: dinkominfo.demakkab.go.id)
Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: dinkominfo.demakkab.go.id)

Pembelajaran Berbasis Kebutuhan Organisasi

Visi dan misi adalah fondasi utama yang memberikan arah dan tujuan organisasi. Visi merupakan cita-cita jangka panjang, sedangkan misi adalah langkah konkret untuk mencapainya. Keduanya berfungsi sebagai kompas dalam pengambilan keputusan, alat ukur kinerja, dan motivasi bagi seluruh pegawai. 

Peran strategis keduanya dalam sebuah organisasi adalah:

  • Menentukan Arah Strategis: Visi menggambarkan tujuan akhir (cita-cita), sementara misi merinci apa yang harus dilakukan. Keduanya memandu manajemen dalam merancang strategi jangka panjang. Presiden Joko Widodo pernah berkata, untuk membuat perencanaan yang baik, mulailah dengan tujuan yang jelas
  • Menyelaraskan Sumber Daya: Menghindari penyimpangan fokus kerja agar setiap waktu, tenaga, dan dana teralokasi secara efektif untuk mencapai tujuan bersama.
  • Meningkatkan Motivasi: Memberikan rasa memiliki (identitas) dan semangat bagi karyawan karena mereka memahami dampak nyata dari pekerjaan.

Pengembangan kompetensi adalah media atau alat bagi organisasi untuk menjaga pengetahuan, keterampilan dan perilaku (Knowledge, Skill dan Attitude atau KSA) para ASNnya adalah selaras dengan langkah-langkah strategis organisasi untuk mencapai tujuannya. Corpu harus dihadirkan untuk memastikan seluruh ASN dalam organisasi memiliki KSA yang tepat dengan tujuan organisasi. Jika visi dan misi menuntut inovasi atau transformasi, Corpu berfungsi menyiapkan ASN agar mampu menguasai keahlian baru tersebut, karena Organisasi yang mengaitkan pelatihan dengan visi-misinya akan menghasilkan ASN dengan produktivitas tinggi.

Dalam sistem Corpu, pengembangan kompetensi tidak lagi sekadar formalitas. Pengembangan kompetensi harus sejalan dan dampaknya nyata bagi langkah-langkah strategis organisasi. Strategi yang bisa digunakan untuk pengembangan kompetensi ASN tersebut harus dimulai dari :

1.     Membedah Visi dan Misi. Uraikan visi dan misi menjadi langkah-langkah strategis organisasi. Dalam paradigma Permenpan dan RB nomor 6 tahun 2022 tentang Manajemen Kinerja ASN dikenal dengan nama Indikator Kinerja Utama. Analisis setiap kata dalam indikator kinerja utama tersebut menjadi kata kunci untuk dikembangkan menjadi suatu kompetensi

2.     Competency Mapping. Identifikasi profil kompetensi ASN dan profil kompetensi jabatan/pekerjaan atau bahkan dengan kompetensi jabatan dimasa mendatang. Dalam hal ini, organisasi harus sudah membuat program Human Capital Development Plan (HCDP) dan menurunkannya kedalam Individual Development Plan (IDP) dan menjadikannya menjadi sebuah target kinerja. Identifikasi ini harus berfokus dan mengukur Knowledge, Skill dan Attitude (KSA)

3.     Metode/Strategi Pengembangan Kompetensi yang tepat. Pengembangan Kompetensi melalui pelatihan formal masih menjadi primadona karena kemudahan pelaksanaannya dan anggaran yang melimpah. Dengan kondisi seperti sekarang, organisasi harus memposisikan diri dalam keadaan yang prihatin, artinya kondisikan dalam keadaan yang serba terbatas sumber daya nya terutama penganggaran. Organisasi harus bisa menganalisis, bahwa banyak hal didalam organisasi dapat memberikan pengalaman nyata bagi pengembangan kompetensi ASN. Inilah yang menjadi prinsip bagi Pelaksanaan experiential learning dalam konteks Corporate University yang mempunyai porsi terbesar sebanyak 70%. Beberapa contoh dari experiential learning diantaranya adalah :

·      Keterlibatan dalam Tim lintas fungsi

·      Mutasi Jabatan (Rotasi maupun Promosi)

·      Job Shadowing

·      Job Enrichment

·      Job Enlargement

·      Detasering

·      Magang

·      Secondment/Pertukaran Pegawai

Organisasi harus bisa menciptakan suasana dan lingkungan yang kondusif, sehingga melahirkan interaksi sosial yang baik pula. Dari sinilah ASN bisa belajar dari interaksi sosial, jejaring dan umpan balik. Penerapan strategi yang mendapat porsi sebesar 20% ini, bergeser dari pelatihan kelas yang konvensional menuju pembentukan budaya organisasi pembelajar (learning organization). Berikut adalah bentuk dan implementasi social learning di dalam CorpU, diantaranya :

·       Coaching dan Mentoring: Atasan, mentor, atau ASN senior ditugaskan untuk memberikan bimbingan, berbagi pengalaman, dan memberikan umpan balik langsung terkait penyelesaian tugas harian guna meningkatkan kinerja individu.

·       Community of Practice (CoP): Pembentukan komunitas ahli atau kelompok kerja lintas divisi yang memiliki kesamaan minat (interest) atau tantangan pekerjaan. Di dalam CoP, talenta organisasi dapat bertukar insight, memecahkan masalah bersama (troubleshooting), dan berbagi praktik terbaik (best practices).

·       Knowledge Sharing: Dialog rutin, diskusi antar rekan kerja, atau forum berbagi pengetahuan (knowledge management). Hal ini sering kali didukung oleh penggunaan sistem manajemen pembelajaran terintegrasi yang memfasilitasi kolaborasi jarak jauh sepereti Zoom Meeting, Google Meet atau MicroSoft Teams dan lainnya.

Terakhir, jika organisasi dirasa bisa menemukan celah kompetensi yang bisa diisi dengan pelatihan biasa, gunakan pendekatan formal learning. Cara ini tergolong mudah, hanya dengan membuka dan mempelajari HCDP/IDP yang sudah ada dan melihat jenis kompetensi apa yang belum terpenuhi metode pengembangan kompetensinya atau cukup dengan melihat uraian pekerjaan apa yang tidak bisa dilakukan oleh ASN tersebut, maka itulah celah kompetensinya. Ada banyak jenis pelatihan formal seperti ini diantaranya : seminar, bimtek, sosialisasi, pelatihan teknis dan sebagainya.

4.     Integrasi dalam Manajemen SDM.  Competency-Based Human Resource Management (CBHRM), jadikan kompetensi sebagai standar baku dalam proses : Rekrutmen, Seleksi, penempatan, mutasi, kelas jabatan, pengembangan, penilaian kinerja dan pensiun. 

Sudah tidak ada alasan lagi bagi organisasi untuk tidak melaksanakan Corpu. Corpu adalah sebuah komitmen dari seluruh komponen organisasi untuk mau dan bersedia belajar melalui berbagai pendekatan. Organisasi yang tidak belajar tidak akan berubah, organisasi yang tidak berubah maka akan mati perlahan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ferdi Febiansyah Djunaedi
Analis SDM Aparatur Ahli Muda pada Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)