Skena aliran musik progresif mulai memasuki kancah Indonesia pada era 1970-an, periode yang mengalami perubahan besar setelah peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, setelah dihapuskannya Manifesto Politik (Manipol) 17 Agustus 1959 yang merupakan upaya membentengi Indonesia dari budaya barat. Perubahan politik ini membuka ruang bagi masuknya berbagai pengaruh budaya, termasuk musik dari Barat yang lebih eksperimental.
Musik yang seringkali memadukan musik barat dengan musik tradisional ini dipelopori Guruh Gipsy, kelompok musik yang diinisiasi oleh Guruh Soekarnoputra. Mereka berhasil memadukan unsur musik tradisional Indonesia dengan progresifitas musik Barat. Selain itu, peran media seperti majalah musik serta eksperimen musikal di lingkungan kampus menjadi faktor penting dalam mempercepat pertumbuhan skena ini.
Majalah musik memiliki peran besar dalam mempengaruhi selera dan dianggap sebagai ”kitab suci” anak muda pada masa itu. Kemunculan berbagai majalah musik menjadi gerbang informasi terhadap perkembangan musik global. Salah satu yang paling berpengaruh adalah Majalah Aktuil, terbit pertama kali pada 8 Juni 1967 di Bandung , yang menjadi kitab utama anak muda dalam mengenal musisi dan genre baru, termasuk musik progresif.
Dikutip dari Pophariini.com, ”Kalau lo berjiwa muda dan lo gak baca aktuil, kayanya ketinggalan jaman,” kata Alm. Andi Julias drammer band rock progresif Makara di era 80an yang juga ketua Indonesian Progressive Society (IPS) ini dalam sebuah wawancara. Melalui ulasan, wawancara, dan liputan konser, majalah ini memperkenalkan band-band progresif Barat sekaligus memberi ruang bagi musisi lokal untuk berkembang pada tahun 70 - an.

Lingkungan kampus juga menjadi salah satu wadah penting dalam perkembangan musik progresif di Indonesia. Masuknya pengaruh musik barat pada tahun 1970-an melalui mahasiswa yang terpapar budaya barat mendorong munculnya eksperimen musikal.
Bahkan dikutip dari Bandungbergerak.com Harry Roesli, personil dari kelompok Gang of Harry Roesli, aktif mengajar di Departemen Musik LPKJ Jakarta dan Jurusan Musik UPI Bandung, menggunakan instrumen tidak lazim seperti botol, kaleng bekas, pecahan botol, dan lain-lainnya. “Bunyi-bunyi yang dihasilkannya berupa hiruk yang aneh dan menggedor kesadaran pendengarnya,” jelas Ajip Rosidi dalam bukunya Apa Siapa Orang Sunda. Proses eksperimental ini menghasilkan kelompok – kelompok musik beraliran progresif seperti Abbhama (LKPJ/IKJ), Gang of Harry Roesli (ITB), Shark Move (ITB & UNPAD).
Pengaruh ini bahkan masih terasa hingga sekarang, di mana kampus tetap menjadi ruang bagi lahirnya musisi dengan pendekatan eksperimental yang kuat.

Tidak hanya menjadi fine art yang mementingkan estetika, tetapi juga applied art sebagai cara berekspresi terutama isu – isu sosial. Misalnya, kekhawatiran Guruh terhadap intervensi budaya Barat, terwakili dalam lagu Chopin Larung yang ditulis dalam bahasa Bali: Sang jukung kelapu-lapu Santukan baruna kroda Nanging Chopin nenten ngugu Kadangipun ngarusak seni budaya (Perahu terombang-ambing Karena dewa laut murka Namun Chopin tiada memahami. Bangsanya merusak seni budaya).
Selain dari Guruh Gipsy, juga dari band Shark Move yang menyinggung isu yang sangat sensitif yaitu pembantaian PKI 1965,”People run, my people run, Sacrifice will come again and soon be there, See those people one by one, One by one, Evil come evil come, Evil War is come again soon be there, See they dies one by one, See those bodies on the ground, on the ground ” lirik dari lagu Evil War – Shark Move. “Lagu ini didedikasikan untuk orang yang tidak bersalah, yang menjadi korban dari arogansi rezim“ Benny Soebardja dalam kanal Youtubenya. “Di tulis dalam Bahasa Inggris, saya menduga untuk menghindari sensor aparat Orde Baru yang baru menancapkan kuku kekuasaaanya, lagu ini bercerita tentang pogrom terhadap kaum komunis paska G30-S yang dialusikan oleh Benny Soebardja (Personel Shark Move) sebagai Perang Jahat.

Di lagu ini Benny berkisah tentang “run, my people run, see their bodies underground”. Ini adalah referensi yang mendirikan bulu roma terhadap mereka yang dieksekusi tanpa pengadilan dan dikuburan tanpa nisan karena dugaan keterlibatan dengan PKI”. (dikutip dari artikel Taufiq Rahman ‘Album Pencerahan Indie Ghede Chokra’ di Jakarta Beat).
Perkembangan musik progresif di Indonesia pada era 1970-an dipengaruhi oleh perubahan kondisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru yang membuka jalan masuknya budaya Barat, serta didukung oleh peran musisi seperti Guruh Gipsy, majalah musik seperti Majalah Aktuil, dan lingkungan kampus sebagai wadah kreatifitas dan eksperimentasi musik.
Musik progresif tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga menjadi sarana kritik sosial dan refleksi terhadap realitas zamannya. Daya tarik utama musik progresif terletak pada kenekatannya mengangkat isu sensitif di tengah situasi represif, sehingga menjadikannya bukan sekadar hiburan, melainkan juga bentuk ekspresi intelektual dan perlawanan simbolik dengan seni. (*)