Beda Pendapat kok Dituding Antek Asing?

5 menit baca
Taufik Hidayat
Ditulis oleh Taufik Hidayat diterbitkan
Narasi persatuan belakangan ini baunya mulai anyir. Sering kali, ia terasa lebih mirip ancaman ketimbang pelukan yang tulus. (Sumber: Pexels | Foto: Diana)
Narasi persatuan belakangan ini baunya mulai anyir. Sering kali, ia terasa lebih mirip ancaman ketimbang pelukan yang tulus. (Sumber: Pexels | Foto: Diana)

Narasi persatuan belakangan ini baunya mulai anyir. Sering kali, ia terasa lebih mirip ancaman ketimbang pelukan yang tulus. Kita menyaksikan kebangkitan sebuah retorika usang yang digali kembali dari kuburan Orde Baru: siapa pun yang berseberangan dengan kehendak atau kebijakan strategis pemerintah, rawan dituding sebagai kelompok tidak patriotik, anti-pembangunan, hingga diberi stempel pamungkas, antek asing.

Ada sebuah paranoia yang seolah sengaja diternakkan di ruang publik. Ketika akademisi menyodorkan setumpuk data tentang daya rusak ekologis dari kebijakan hilirisasi nikel, atau ketika masyarakat sipil dan masyarakat adat mati-matian menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) yang merampas ruang hidup mereka dan beberapa kasus lainnya yang menggemparkan akhir-akhir ini, respons yang datang dari rahim kekuasaan sungguh miskin nalar.

Bukannya menanggapi dengan data, transparansi kebijakan, atau dialog publik, kritik justru diberangus dengan tudingan murahan sebagai “kaki tangan asing” yang menjadi benalu bagi keberlanjutan negara. Pelabelan semacam ini jauh melampaui cacat logika yang busuk; ini adalah wujud fasisme linguistic – sebuah arogansi kekuasaan yang secara sadar membunuh dialektika untuk memaksakan kebuntuan total. Sebuah komunikasi yang secara paksa diputus oleh negara.

Nasionalisme sebagai Alat Gebuk

Padahal, jika kita mau sedikit saja repot mengusap debu dari buku-buku sejarah, republik ini tidak didirikan oleh barisan orang-orang yang gemar mengangguk. Republik ini lahir dari rahim perdebatan yang radikal, keras, dan tanpa tedeng aling-aling.

Mari menengok ke belakang. Dwitunggal Sukarno dan Hatta akhirnya berpisah jalan secara politik karena prinsip yang tak bisa dikompromikan soal Demokrasi Terpimpin. Hatta melahirkan pamflet Demokrasi Kita sebagai kritik tajam yang menelanjangi otoritarianisme sahabatnya sendiri – dan itu bukan makar. Sjahrir lewat Perjuangan Kita dengan sangat dingin mengkritik kecenderungan fasis di masa awal revolusi. Tan Malaka dengan Madilog-nya menawarkan metode berpikir radikal yang sama sekali menabrak arus utama. Agus Salim bisa berdebat sengit dan saling sindir di forum tanpa harus merasa lawan bicaranya adalah musuh negara.

Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)
Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)

Bagi para founding fathers kita, berbeda pendapat dan menelanjangi kelemahan penguasa bukanlah tindak subversif. Itu adalah kerja-kerja intelektual. Itu adalah wujud cinta yang paling telanjang dan rasional pada tanah air. Nasionalisme, bagi mereka, adalah merawat kewarasan republik, bukan membebek pada penguasa.

Lalu, mengapa hari ini ruang publik kita terasa begitu kerdil, seolah nasionalisme telah dibajak sekadar menjadi alat gebuk untuk menertibkan mereka yang berisik?

Kolonisasi Nalar Demokrasi

Filsuf kritis dari mazhab Frankfurt, Jurgen Habermas, menawarkan pisau analisis yang sangat presisi untuk membedah kebusukan ini. Bagi Habermas, fondasi sebuah masyarakat yang demokratis dan beradab adalah Tindakan Komunikatif. Artinya, komunikasi di ruang publik harus ditujukan murni untuk mencapai kesepahaman bersama (konsensus), di mana kekuatan dari argumen yang lebih baik (the unforced force of the better argument) adalah satu-satunya otoritas yang diakui. Bukan siapa yang suaranya paling keras, siapa yang punya pasukan buzzer paling banyak, atau siapa yang memegang kendali atas laras bedil dan pasal karet perundang-undangan.

Tragisnya, apa yang dipraktikkan negara saat ini justru merupakan wujud telanjang dari apa yang disebut Habermas sebagai Tindakan Strategis. Negara tidak sedang mengajak warganya berdialog di meja bundar atau di bawah Terik matahari jalanan. Negara sedang memanipulasi, mengintimidasi, dan menyeret opini publik untuk mencapai kepentingannya sendiri secara sepihak.

Ketika instrumen negara melontarkan label “antek asing”, itu adalah bentuk distorsi komunikasi yang paling brutal. Penguasa menggunakan relasi kuasanya untuk mendiskualifikasi lawan debat dari arena sedari awal, karena mereka sadar betul: mereka akan babak belur jika harus bertarung murni di wilayah rasionalitas dan data. Ruang publik kita hari ini sedang mengalami apa yang Habermas sebut sebagai colonization of the lifeworld oleh sistem kekuasaan dan modal. Logika birokrasi dan pasar menindas interaksi sosial yang organik dan kritis.

Data di lapangan mengonfirmasi kecemasan ini dengan sangat gamblang. Laporan berbagai lembaga HAM dan tren Indeks Demokrasi Indonesia terus menunjukkan bahwa ruang kebebasan sipil tidak sedang baik-baik saja; ia sedang menyempit menuju titik asfiksia (gagal napas).

Kita melihat bagaimana kritik terhadap kegagalan proyek food estate yang membabat hutan, atau protes atas tata kelola agraria yang eksploitatif di berbagai daerah, direpresi dengan cara-cara purba. Penggunaan pasal karet UU ITE dan KUHP baru untuk mengkriminalisasi pembela HAM, doxing brutal terhadap akademisi kampus yang kritis, hingga pengerahan aparatur dan milisi sipil untuk membubarkan diskusi-diskusi ilmiah adalah fenomena sehari-hari yang menormalkan ketakutan.

Lebih mengerikan lagi, eskalasi represi ini telah mencapai ambang batas yang biadab. Ruang publik kita hari ini diwarnai oleh teror fisik yang tak lagi malu-malu dipertontonkan. Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis yang belakangan ini menggemparkan public – beserta teror intimidasi berlapis, perusakan properti, yang menargetkan nyawa dan keluarga para pengkritik rezim – menjadi bukti telanjang bahwa premanisme politik dibiarkan beroperasi dengan kekebalan hukum. Ini bukan sekadar kriminalitas biasa; ini adalah teror sistematis yang sengaja dirawat untuk membunuh nyali siapa pun yang berani menjaga akal sehatnya. Negara seolah absen, atau jangan-jangan, justru menikmati ketakutan tersebut.

Seolah-olah, meragukan efektivitas program pemerintah adalah bentuk pengkhianatan berdarah. Ini sangat berbahaya. Ketika nasionalisme dipelintir menjadi tameng untuk melindungi kebijakan yang secara teknis nir-etika, negara sebenarnya sedang menggali kuburannya sendiri.

Jika komunikasi yang terputus ini terus dirawat sebagai metode memerintah, kita tidak sedang berjalan menuju visi Indonesia Emas, melainkan meluncur deras menuju jurang otoritarianisme berwajah baru. Sebuah rezim mutakhir yang etalasenya tampak demokratis karena menyelenggarakan pemilu secara rutin, namun mesin di dalamnya sepenuhnya anti-dialog, anti-kritik, dan berlumuran teror.

Kita harus segera merebut kembali tradisi intelektual bangsa ini. Menghargai perbedaan pendapat bukan berarti kita dituntut untuk selalu sepakat dalam harmoni yang palsu. Menghargai perbedaan adalah kesediaan untuk berdebat secara beringas di tataran gagasan, tanpa harus saling mengancam dengan penjara, stempel antek asing, apalagi siraman air keras. Pemerintah tidak perlu segentar dan se-paranoid itu pada kritik. Sebab pada akhirnya, negara yang kuat dan bermartabat tidak pernah dibangun oleh deretan warga yang hanya tahu cara membungkuk dan mengangguk, melainkan oleh mereka yang punya keberanian moral untuk berkata “tidak” di saat kekuasaan mulai kehilangan akal sehatnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)