Beda Pendapat kok Dituding Antek Asing?

Taufik Hidayat
Ditulis oleh Taufik Hidayat diterbitkan Rabu 01 Apr 2026, 10:05 WIB
Narasi persatuan belakangan ini baunya mulai anyir. Sering kali, ia terasa lebih mirip ancaman ketimbang pelukan yang tulus. (Sumber: Pexels | Foto: Diana)

Narasi persatuan belakangan ini baunya mulai anyir. Sering kali, ia terasa lebih mirip ancaman ketimbang pelukan yang tulus. (Sumber: Pexels | Foto: Diana)

Narasi persatuan belakangan ini baunya mulai anyir. Sering kali, ia terasa lebih mirip ancaman ketimbang pelukan yang tulus. Kita menyaksikan kebangkitan sebuah retorika usang yang digali kembali dari kuburan Orde Baru: siapa pun yang berseberangan dengan kehendak atau kebijakan strategis pemerintah, rawan dituding sebagai kelompok tidak patriotik, anti-pembangunan, hingga diberi stempel pamungkas, antek asing.

Ada sebuah paranoia yang seolah sengaja diternakkan di ruang publik. Ketika akademisi menyodorkan setumpuk data tentang daya rusak ekologis dari kebijakan hilirisasi nikel, atau ketika masyarakat sipil dan masyarakat adat mati-matian menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) yang merampas ruang hidup mereka dan beberapa kasus lainnya yang menggemparkan akhir-akhir ini, respons yang datang dari rahim kekuasaan sungguh miskin nalar.

Bukannya menanggapi dengan data, transparansi kebijakan, atau dialog publik, kritik justru diberangus dengan tudingan murahan sebagai “kaki tangan asing” yang menjadi benalu bagi keberlanjutan negara. Pelabelan semacam ini jauh melampaui cacat logika yang busuk; ini adalah wujud fasisme linguistic – sebuah arogansi kekuasaan yang secara sadar membunuh dialektika untuk memaksakan kebuntuan total. Sebuah komunikasi yang secara paksa diputus oleh negara.

Nasionalisme sebagai Alat Gebuk

Padahal, jika kita mau sedikit saja repot mengusap debu dari buku-buku sejarah, republik ini tidak didirikan oleh barisan orang-orang yang gemar mengangguk. Republik ini lahir dari rahim perdebatan yang radikal, keras, dan tanpa tedeng aling-aling.

Mari menengok ke belakang. Dwitunggal Sukarno dan Hatta akhirnya berpisah jalan secara politik karena prinsip yang tak bisa dikompromikan soal Demokrasi Terpimpin. Hatta melahirkan pamflet Demokrasi Kita sebagai kritik tajam yang menelanjangi otoritarianisme sahabatnya sendiri – dan itu bukan makar. Sjahrir lewat Perjuangan Kita dengan sangat dingin mengkritik kecenderungan fasis di masa awal revolusi. Tan Malaka dengan Madilog-nya menawarkan metode berpikir radikal yang sama sekali menabrak arus utama. Agus Salim bisa berdebat sengit dan saling sindir di forum tanpa harus merasa lawan bicaranya adalah musuh negara.

Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)
Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)

Bagi para founding fathers kita, berbeda pendapat dan menelanjangi kelemahan penguasa bukanlah tindak subversif. Itu adalah kerja-kerja intelektual. Itu adalah wujud cinta yang paling telanjang dan rasional pada tanah air. Nasionalisme, bagi mereka, adalah merawat kewarasan republik, bukan membebek pada penguasa.

Lalu, mengapa hari ini ruang publik kita terasa begitu kerdil, seolah nasionalisme telah dibajak sekadar menjadi alat gebuk untuk menertibkan mereka yang berisik?

Kolonisasi Nalar Demokrasi

Filsuf kritis dari mazhab Frankfurt, Jurgen Habermas, menawarkan pisau analisis yang sangat presisi untuk membedah kebusukan ini. Bagi Habermas, fondasi sebuah masyarakat yang demokratis dan beradab adalah Tindakan Komunikatif. Artinya, komunikasi di ruang publik harus ditujukan murni untuk mencapai kesepahaman bersama (konsensus), di mana kekuatan dari argumen yang lebih baik (the unforced force of the better argument) adalah satu-satunya otoritas yang diakui. Bukan siapa yang suaranya paling keras, siapa yang punya pasukan buzzer paling banyak, atau siapa yang memegang kendali atas laras bedil dan pasal karet perundang-undangan.

Tragisnya, apa yang dipraktikkan negara saat ini justru merupakan wujud telanjang dari apa yang disebut Habermas sebagai Tindakan Strategis. Negara tidak sedang mengajak warganya berdialog di meja bundar atau di bawah Terik matahari jalanan. Negara sedang memanipulasi, mengintimidasi, dan menyeret opini publik untuk mencapai kepentingannya sendiri secara sepihak.

Ketika instrumen negara melontarkan label “antek asing”, itu adalah bentuk distorsi komunikasi yang paling brutal. Penguasa menggunakan relasi kuasanya untuk mendiskualifikasi lawan debat dari arena sedari awal, karena mereka sadar betul: mereka akan babak belur jika harus bertarung murni di wilayah rasionalitas dan data. Ruang publik kita hari ini sedang mengalami apa yang Habermas sebut sebagai colonization of the lifeworld oleh sistem kekuasaan dan modal. Logika birokrasi dan pasar menindas interaksi sosial yang organik dan kritis.

Data di lapangan mengonfirmasi kecemasan ini dengan sangat gamblang. Laporan berbagai lembaga HAM dan tren Indeks Demokrasi Indonesia terus menunjukkan bahwa ruang kebebasan sipil tidak sedang baik-baik saja; ia sedang menyempit menuju titik asfiksia (gagal napas).

Kita melihat bagaimana kritik terhadap kegagalan proyek food estate yang membabat hutan, atau protes atas tata kelola agraria yang eksploitatif di berbagai daerah, direpresi dengan cara-cara purba. Penggunaan pasal karet UU ITE dan KUHP baru untuk mengkriminalisasi pembela HAM, doxing brutal terhadap akademisi kampus yang kritis, hingga pengerahan aparatur dan milisi sipil untuk membubarkan diskusi-diskusi ilmiah adalah fenomena sehari-hari yang menormalkan ketakutan.

Lebih mengerikan lagi, eskalasi represi ini telah mencapai ambang batas yang biadab. Ruang publik kita hari ini diwarnai oleh teror fisik yang tak lagi malu-malu dipertontonkan. Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis yang belakangan ini menggemparkan public – beserta teror intimidasi berlapis, perusakan properti, yang menargetkan nyawa dan keluarga para pengkritik rezim – menjadi bukti telanjang bahwa premanisme politik dibiarkan beroperasi dengan kekebalan hukum. Ini bukan sekadar kriminalitas biasa; ini adalah teror sistematis yang sengaja dirawat untuk membunuh nyali siapa pun yang berani menjaga akal sehatnya. Negara seolah absen, atau jangan-jangan, justru menikmati ketakutan tersebut.

Seolah-olah, meragukan efektivitas program pemerintah adalah bentuk pengkhianatan berdarah. Ini sangat berbahaya. Ketika nasionalisme dipelintir menjadi tameng untuk melindungi kebijakan yang secara teknis nir-etika, negara sebenarnya sedang menggali kuburannya sendiri.

Jika komunikasi yang terputus ini terus dirawat sebagai metode memerintah, kita tidak sedang berjalan menuju visi Indonesia Emas, melainkan meluncur deras menuju jurang otoritarianisme berwajah baru. Sebuah rezim mutakhir yang etalasenya tampak demokratis karena menyelenggarakan pemilu secara rutin, namun mesin di dalamnya sepenuhnya anti-dialog, anti-kritik, dan berlumuran teror.

Kita harus segera merebut kembali tradisi intelektual bangsa ini. Menghargai perbedaan pendapat bukan berarti kita dituntut untuk selalu sepakat dalam harmoni yang palsu. Menghargai perbedaan adalah kesediaan untuk berdebat secara beringas di tataran gagasan, tanpa harus saling mengancam dengan penjara, stempel antek asing, apalagi siraman air keras. Pemerintah tidak perlu segentar dan se-paranoid itu pada kritik. Sebab pada akhirnya, negara yang kuat dan bermartabat tidak pernah dibangun oleh deretan warga yang hanya tahu cara membungkuk dan mengangguk, melainkan oleh mereka yang punya keberanian moral untuk berkata “tidak” di saat kekuasaan mulai kehilangan akal sehatnya. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Taufik Hidayat
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

News Update

Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 17:17

Cintapada, Padasuka, Padaasih, Toponim yang Merekam Kekayaan Alam dan Kekhawatiran

Kata 'pada' terdapat dalam berbagai kata dan sering terkait dengan makna alam, tempat, atau daerah.

Kampung Cipadakati di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Peta: Google maps)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 16:00

Jelajah Kuliner Roti Bandung, dari Bakery Viral Kekinian hingga Toko Jadul Legendaris

Bandung punya banyak bakery populer, mulai dari artisan sourdough modern hingga toko roti jadul dengan resep yang hampir tidak berubah.

Ilustrasi roti hits di Bandung.
Ayo Biz 21 Mei 2026, 15:38

Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional.

Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 21 Mei 2026, 14:48

Dari Tragedi Sampah ke Konservasi, Wajah Baru Eks TPA Leuwigajah

Dua dekade setelah longsor maut 2005, eks TPA Leuwigajah kini dijadikan area konservasi di Cimahi.

Lahan eks TPA Leuwigajah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 12:20

Ketika Reformasi Mulai Bergulir

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani.

Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 09:21

Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

Ketangguhan para siswa tahun 1980-an adalah jawaban dalam menangani bebagai permasalahan generasinya.

Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 08:32

Bandung Review, Membangun Kesadaran Kolektif

Hegemoni sosial seharusnya menjadi semangat untuk membangun kesadaran kolektif, dengan mengadopsi nilai-nilai lokal seperti someah, silih asah, silih asih dan silih asuh untuk membangun kota inklusif

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 08:00

Panduan Wisata ke Kampung Turis Karawang, Oase Pedesaan di Balik Kota Industri

Kampung Turis Karawang menawarkan wisata alam, sawah terasering, waterpark, kuliner Sunda, hingga villa dan camping di kawasan Tegalwaru.

Kampung Turis Karawang.