Eco Enzyme dari Sampah Organik, Langkah Warga Jatihandap Tekan Sampah dan Hasilkan Produk Ramah Lingkungan

6 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Galon air mineral bekas diisi sampah organik seperti kulit buah dan sisa sayuran yang akan difermentasi menjadi eco enzyme. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Galon air mineral bekas diisi sampah organik seperti kulit buah dan sisa sayuran yang akan difermentasi menjadi eco enzyme. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Setiap hari, ribuan ton sampah dihasilkan warga Kota Bandung. Sebagian besar di antaranya merupakan sampah organik dari dapur rumah tangga—kulit buah, sisa sayuran, hingga makanan yang terbuang. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah jenis ini mudah membusuk, menimbulkan bau, serta menambah beban tempat pembuangan akhir.

Namun di tengah persoalan itu, sebagian warga mulai mencoba cara lain dalam memperlakukan sampah dapur mereka.

Di sebuah sudut permukiman di Kota Bandung, tepatnya di Bank Sampah Ikhtiar RW 15, Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati, sisa-sisa dapur yang biasanya dibuang justru diolah menjadi eco enzyme, cairan hasil fermentasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.

Program tersebut dipelopori oleh Lina Gusmatina, seorang warga yang kini menjabat sebagai ketua sekaligus pendiri Bank Sampah Ikhtiar. Perempuan berusia 56 tahun itu mengatakan, ide mendirikan bank sampah bermula dari kepeduliannya terhadap kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggalnya.

“Awalnya itu karena kejadian kebakaran di Sarimukti. Setelah kejadian itu, sampah berserakan sampai ke sini. Dari situ muncul kepedulian, jangan sampai sampah terus dibiarkan seperti itu,” ujar Lina saat ditemui di lokasi bank sampah.

Ia menuturkan, selain faktor lingkungan, kondisi sosial masyarakat sekitar juga menjadi alasan penting berdirinya bank sampah tersebut. Banyak warga di wilayah itu yang menggantungkan penghasilan dari memulung sampah.

“Di sini kan banyak pemulung. Kami ingin membantu mereka meningkatkan pendapatan dan mengelola ekonomi keluarga. Jadi kami buat sistem tabungan. Sampahnya tidak langsung dijual, tetapi ditabung dulu supaya bisa digunakan untuk kebutuhan yang lebih besar,” jelasnya.

Wadah bekas galon cat digunakan warga untuk menampung sisa makanan dan limbah dapur sebelum diolah sebagai bahan pengolahan sampah organik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wadah bekas galon cat digunakan warga untuk menampung sisa makanan dan limbah dapur sebelum diolah sebagai bahan pengolahan sampah organik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Dari Sampah Tercampur hingga Mulai Dipilah

Sebelum bank sampah berdiri pada 2023, pengelolaan sampah di lingkungan tersebut masih dilakukan secara konvensional. Warga biasanya membuang sampah ke tempat pembuangan tanpa pemilahan.

“Dulu sebenarnya sudah ada tempat sampah, tapi semuanya tercampur. Sampah organik dan anorganik jadi satu. Itu juga yang menyebabkan kebakaran di tempat pembuangan karena sampah menumpuk,” kata Lina.

Karena itu, langkah pertama yang dilakukan pengurus adalah mengedukasi warga agar mulai memilah sampah dari rumah.

Menurut Lina, edukasi tersebut dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk bekerja sama dengan dinas lingkungan hidup.

“Kami mengedukasi masyarakat supaya sampah dipilah antara organik dan anorganik. Setelah itu yang anorganik bisa dibawa ke bank sampah supaya punya nilai ekonomi,” ujarnya.

Kini warga yang ingin menabung sampah dapat datang langsung ke bank sampah untuk menyetorkan hasil pilahan mereka. Namun bagi warga yang rumahnya cukup jauh, pengurus juga menyediakan sistem jemput sampah.

“Sebagian warga datang sendiri ke sini, tapi ada juga yang kami jemput. Misalnya kerja sama dengan sekolah TK atau ibu rumah tangga yang kesulitan datang. Kami jemput pakai motor,” katanya.

Jenis sampah yang dikumpulkan cukup beragam, mulai dari kertas, logam, botol plastik, plastik kresek, hingga plastik bening. Tidak hanya itu, bank sampah ini juga menerima jenis sampah yang biasanya kurang memiliki nilai ekonomi.

“Yang nilainya kecil pun kami tampung. Misalnya kemasan susu kotak atau tray makanan. Walaupun nilainya sedikit, kalau ada yang mau menampung, kami kumpulkan di sini supaya tidak terbuang begitu saja,” ujar Lina.

Mengolah Sampah Organik Menjadi Eco Enzyme

Selain mengumpulkan sampah anorganik, Bank Sampah Ikhtiar juga fokus mengolah sampah organik menjadi eco enzyme.

Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran. Cairan ini dikenal memiliki berbagai manfaat, mulai dari pembersih alami hingga disinfektan ramah lingkungan.

Lina mengatakan, ide membuat eco enzyme muncul dari proses belajar dan mencari informasi mengenai pengolahan sampah rumah tangga.

“Kami belajar bagaimana sampah organik bisa diolah menjadi eco enzyme. Salah satu manfaatnya supaya sampah tidak bau,” jelasnya.

Menurut Lina, eco enzyme juga memiliki berbagai kegunaan lain dalam kehidupan sehari-hari.

“Waktu masa Covid dulu, eco enzyme juga bisa dipakai sebagai disinfektan. Cairannya bersifat asam sehingga bisa membantu membunuh kuman,” katanya.

Proses pembuatan eco enzyme sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama karena melalui tahap fermentasi.

“Cara membuatnya dari tiga kilogram kulit buah, sepuluh liter air, dan satu kilogram molase atau gula merah. Semua bahan itu difermentasi selama tiga bulan,” jelas Lina.

Ia menambahkan, semakin lama proses fermentasi berlangsung, kualitas eco enzyme justru akan semakin baik.

“Kalau lebih dari tiga bulan malah lebih bagus. Bahkan kalau sampai satu tahun, hasilnya lebih asam dan lebih efektif untuk membunuh kuman,” ujarnya.

Area Buruan SAE di RW 15 Jatihandap dimanfaatkan warga untuk menanam berbagai sayuran sebagai bagian dari program ketahanan pangan berbasis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Area Buruan SAE di RW 15 Jatihandap dimanfaatkan warga untuk menanam berbagai sayuran sebagai bagian dari program ketahanan pangan berbasis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Dari Eco Enzyme Menjadi Sabun Ramah Lingkungan

Eco enzyme yang dihasilkan kemudian tidak berhenti sebagai cairan fermentasi saja. Pengurus bank sampah mengolahnya menjadi berbagai produk turunan, salah satunya sabun cair.

Menurut Lina, sabun yang diproduksi menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan produk pembersih pada umumnya.

“Kami membuat sabun dengan bahan surfaktan nabati dari minyak kelapa sawit, lalu dicampur dengan eco enzyme. Jadi sabunnya lebih ramah lingkungan,” katanya.

Produk yang paling sering dibuat adalah sabun cuci piring.

“Kalau sabun cuci piring itu paling banyak diproduksi karena paling dibutuhkan. Dari pengalaman saya, sabun ini cukup efektif. Kalau kena minyak di piring langsung mudah hilang,” ujar Lina.

Selain sabun cuci piring, eco enzyme juga pernah diolah menjadi deterjen cair hingga karbol. Namun produksi produk-produk tersebut masih terbatas karena berbagai kendala.

Produksi Masih Terbatas

Dalam satu kali produksi, Bank Sampah Ikhtiar biasanya hanya mampu menghasilkan sekitar 50 hingga 60 botol sabun cair.

“Sekali produksi biasanya sekitar 50 sampai 60 botol saja. Itu pun tidak rutin. Kami biasanya membuatnya kalau ada momen tertentu atau kegiatan bazar,” kata Lina.

Sabun tersebut dijual dengan harga sekitar Rp12.000 per botol dan sebagian dibeli oleh komunitas bank sampah lain.

“Biasanya dibeli oleh komunitas bank sampah yang sudah paham eco enzyme. Ada juga yang membeli saat bazar atau kegiatan warga,” ujarnya.

Salah satu kendala utama untuk memperluas produksi adalah belum adanya izin edar produk.

“Kami belum punya izin edar, jadi belum bisa memproduksi dalam skala besar. Proses perizinannya juga cukup mahal dan harus melalui pengujian laboratorium,” jelas Lina.

Raih Penghargaan Lingkungan Kota Bandung

Meski masih tergolong baru, Bank Sampah Ikhtiar berhasil meraih penghargaan dalam ajang Kang Pisman Award 2025 kategori Best Effort.

Menurut Lina, awalnya mereka hanya mengikuti lomba tersebut sebagai bentuk partisipasi.

“Awalnya kami ikut hanya sekadar berpartisipasi saja. Bank sampah ini juga baru berdiri dua tahun, jadi kami tidak terlalu percaya diri,” katanya.

Namun saat penilaian berlangsung, tim juri justru menilai pengelolaan administrasi bank sampah ini cukup rapi.

“Mereka melihat administrasi kami lengkap. Dari data nasabah, buku tabungan, sampai pencatatan serapan sampah semuanya ada. Mungkin itu yang menjadi nilai lebih,” ujar Lina.

Partisipasi Warga Terus Meningkat

Seiring berjalannya waktu, partisipasi warga dalam program bank sampah juga semakin meningkat. Saat ini tercatat sekitar 130 warga telah menjadi nasabah.

“Alhamdulillah sekarang nasabahnya sudah sekitar 130 orang. Bahkan ada juga warga dari luar RW yang ikut menabung sampah di sini,” kata Lina.

Program tabungan emas yang bekerja sama dengan Pegadaian juga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan minat warga.

“Dengan tabungan emas, nilai tabungan mereka bisa bertambah. Jadi warga semakin semangat menabung sampah,” jelasnya.

Ke depan, Lina berharap Bank Sampah Ikhtiar dapat berkembang menjadi bank sampah induk sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih luas kepada masyarakat. Ia juga berharap adanya dukungan dari pemerintah untuk membantu pengembangan fasilitas pengolahan sampah.

“Saat ini semua masih manual. Kami belum punya mesin press atau mesin pengolah sampah organik. Padahal alat-alat itu sangat membantu,” katanya.

Meski begitu, Lina tetap optimistis bahwa langkah kecil dari tingkat warga dapat memberi dampak bagi lingkungan.

“Harapan kami, masyarakat semakin sadar bahwa sampah sebenarnya masih bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)