Merangkai Kepercayaan Diri Remaja Difabel, Langkah Kecil Menuju Mandiri

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 31 Mar 2026, 16:35 WIB
Livia bersama teman-temannya berlatih memainkan alat musik untuk membangun kepercayaan diri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Livia bersama teman-temannya berlatih memainkan alat musik untuk membangun kepercayaan diri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Seorang gadis remaja berdiri di depan meja, mengenakan apron berwarna merah muda. Di apron-nya tertulis nama “Livia”.

Livia (24) dengan hati-hati menimbang hasil olahan makanan keringnya sebelum memasukkannya ke dalam wadah plastik.

Di ruangan lain, sejumlah peserta duduk mengelilingi alat tenun yang terbuat dari kayu. Mereka dengan teliti memasukkan potongan kain kecil satu per satu untuk membuat keset atau cempal sederhana, sambil dibimbing oleh instruktur.

Suasana tempat tersebut hangat, ditemani suara-suara percakapan yang silih bersahutan. Setiap kegiatan yang mungkin dianggap mudah oleh kebanyakan orang, di sini justru memerlukan usaha lebih bagi individu difabel.

Setiap gerakan kecil berkontribusi pada proses belajar yang memiliki tujuan lebih besar: menciptakan kemandirian bagi remaja difabel. Dari ruang sederhana inilah, harapan itu perlahan tumbuh.

Baca Juga: Meracik Kopi, Merajut Harapan: Kisah Difabel di Balik Meja Bar Kibi Kopi

Livia menimbang hasil olahan makanannya di dapur Percik Insani. Dari aktivitas sederhana yang ia sukai, tumbuh mimpi untuk suatu hari membuka restoran masakan Hongkong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Livia menimbang hasil olahan makanannya di dapur Percik Insani. Dari aktivitas sederhana yang ia sukai, tumbuh mimpi untuk suatu hari membuka restoran masakan Hongkong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Di Balik Gerakan Kecil, Ada Usaha yang Tak Terlihat

Percik Insani tidak dimulai sebagai lembaga besar. Tempat ini lahir dari keprihatinan sederhana para orang tua yang melihat anak-anak mereka kehilangan arah setelah melewati masa terapi.

“Awalnya itu beberapa orang tua bingung ketika anaknya sudah melewati masa terapi. Mereka belum bisa ngapa-ngapain, hanya di rumah saja,” jelas Koordinator Operasional Percik Insani, Danik Sri Haryani (52).

Dari kegelisahan itu, terbentuklah ruang belajar yang berfokus pada keterampilan. Sejak didirikan pada 2013, Percik Insani berkembang menjadi tempat bagi banyak individu difabel untuk belajar, berproses, dan menemukan peran mereka.

Baca Juga: Saat Dunia Tak Mengerti, Pelukan dan Cinta Ibu Jadi Rumah Teraman bagi Anak Down Syndrome

Danik Sri Haryani mendampingi kegiatan di Percik Insani, menjaga agar setiap peserta mendapat ruang belajar sesuai kemampuannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Danik Sri Haryani mendampingi kegiatan di Percik Insani, menjaga agar setiap peserta mendapat ruang belajar sesuai kemampuannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dalam prosesnya, pendekatan yang digunakan tidak pernah diseragamkan. Setiap individu dipahami melalui kemampuan dan ritme masing-masing.

“Program kita sama, tapi kemampuannya beda-beda. Jadi kita tempatkan mereka sesuai kemampuan itu,” kata Danik.

Pendekatan ini tercermin dalam beragam kegiatan, mulai dari pembelajaran akademik dasar seperti mengenal angka, hingga keterampilan yang lebih kompleks seperti memasak, memproduksi makanan, hingga mencuci peralatan setelah digunakan. Semua diarahkan untuk mendukung fungsi kehidupan sehari-hari, bukan sekadar pencapaian akademis.

Rutinitas harian pun disusun untuk membentuk kebiasaan yang konsisten. Pagi hari dimulai dengan senam bersama, kemudian dilanjutkan dengan berbagai aktivitas yang melatih kemampuan peserta.

Di dapur, suara peralatan masak berbaur dengan instruksi dari instruktur. Seorang peserta mencuci alat masak dengan hati-hati, memastikan setiap langkah dilakukan dengan benar.

Bagi Winda Wirantika (31), seorang instruktur difabel yang telah bertahun-tahun mendampingi di Percik Insani, aktivitas ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari upaya mempersiapkan individu difabel menjalani hidup secara mandiri.

Winda Wirantika membantu peserta belajar dari hal-hal sederhana menuju kemandirian. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Winda Wirantika membantu peserta belajar dari hal-hal sederhana menuju kemandirian. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Tujuannya untuk membuat anak itu alert, mengondisikan perilaku anak di mode ‘on’ sebelum kegiatan lain,” jelas Winda.

Ia menambahkan, proses pembelajaran selalu dimulai dari hal paling dasar, yakni merawat diri sendiri. Setelah itu, barulah peserta diarahkan ke keterampilan lanjutan seperti berkomunikasi, berhitung, memasak, hingga bekerja.

Kemampuan berkomunikasi menjadi fondasi penting dalam proses tersebut. Tidak semua anak dapat mengekspresikan apa yang mereka rasakan, sehingga kelas komunikasi menjadi salah satu fokus utama.

“Hal sederhana seperti izin ke kamar mandi atau minta minum itu perlu dipelajari,” ujar Winda sambil memperagakan dengan gestur tangan.

Ruang Kecil yang Menumbuhkan Mimpi Besar

Melalui pendekatan seperti social story dan metode visual, anak-anak dilatih memahami situasi serta memberikan respons yang tepat. Perubahan memang tidak terjadi secara instan, tetapi perlahan membentuk kebiasaan baru yang lebih adaptif.

Perkembangan itu kerap terlihat dari hal-hal kecil yang sebelumnya tampak mustahil. Justru dari langkah-langkah sederhana inilah makna pembelajaran menjadi nyata.

“Ada yang awalnya nggak mau direkam sama sekali. Sekarang sudah bisa melihat dirinya di rekaman dan menikmatinya,” cerita Winda.

Salah satu kisah yang paling membekas baginya adalah tentang Celio. Saat pertama kali datang ke Percik Insani, Celio sangat menolak direkam, bahkan tidak mau mendengar suaranya sendiri.

Namun seiring waktu, perubahan itu terjadi. Kini, Celio mampu berdiri dengan percaya diri, bernyanyi di depan mikrofon, bahkan memimpin alunan jimbe bersama teman-temannya.

Berbeda dengan Celio yang berkembang dalam kepercayaan diri, Livia menemukan dunianya di dapur. Di antara berbagai kegiatan, memasak menjadi aktivitas yang paling ia sukai.

“Senang, paling suka masak,” ucap Livia singkat, sambil tersenyum malu didampingi Winda.

Menu favoritnya adalah nagasari, hidangan sederhana yang justru menjadi pintu menuju harapan yang lebih besar.

“Pengen bikin restoran masakan Hongkong,” lanjutnya pelan.

Harapan-harapan seperti itulah yang terus dirawat di Percik Insani. Tidak hanya berfokus pada pelatihan, tempat ini juga berupaya menciptakan lingkungan kerja yang aman dan berkelanjutan bagi para peserta.

“Saya ingin Percik Insani punya bidang usaha sendiri, jadi mereka bisa kerja di situ,” kata Danik dengan nada pelan penuh harap.

Keinginan tersebut muncul dari kenyataan bahwa dunia luar belum sepenuhnya ramah bagi individu dengan disabilitas, terutama mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

Di tengah keterbatasan itu, Percik Insani menjadi ruang yang menghadirkan makna. Lewat kegiatan menenun, memasak, berkebun, hingga bermain musik, tempat ini menawarkan lebih dari sekadar pelatihan.

Ia menjadi ruang tumbuh, di mana individu dengan disabilitas tidak hanya belajar, tetapi juga diakui keberadaannya.

“Di mana lagi tempat yang mau menampung mereka, kalau bukan kita yang memulai,” tutur Winda.

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)