Merangkai Kepercayaan Diri Remaja Difabel, Langkah Kecil Menuju Mandiri

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Livia bersama teman-temannya berlatih memainkan alat musik untuk membangun kepercayaan diri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Livia bersama teman-temannya berlatih memainkan alat musik untuk membangun kepercayaan diri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Seorang gadis remaja berdiri di depan meja, mengenakan apron berwarna merah muda. Di apron-nya tertulis nama “Livia”.

Livia (24) dengan hati-hati menimbang hasil olahan makanan keringnya sebelum memasukkannya ke dalam wadah plastik.

Di ruangan lain, sejumlah peserta duduk mengelilingi alat tenun yang terbuat dari kayu. Mereka dengan teliti memasukkan potongan kain kecil satu per satu untuk membuat keset atau cempal sederhana, sambil dibimbing oleh instruktur.

Suasana tempat tersebut hangat, ditemani suara-suara percakapan yang silih bersahutan. Setiap kegiatan yang mungkin dianggap mudah oleh kebanyakan orang, di sini justru memerlukan usaha lebih bagi individu difabel.

Setiap gerakan kecil berkontribusi pada proses belajar yang memiliki tujuan lebih besar: menciptakan kemandirian bagi remaja difabel. Dari ruang sederhana inilah, harapan itu perlahan tumbuh.

Baca Juga: Meracik Kopi, Merajut Harapan: Kisah Difabel di Balik Meja Bar Kibi Kopi

Livia menimbang hasil olahan makanannya di dapur Percik Insani. Dari aktivitas sederhana yang ia sukai, tumbuh mimpi untuk suatu hari membuka restoran masakan Hongkong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Livia menimbang hasil olahan makanannya di dapur Percik Insani. Dari aktivitas sederhana yang ia sukai, tumbuh mimpi untuk suatu hari membuka restoran masakan Hongkong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Di Balik Gerakan Kecil, Ada Usaha yang Tak Terlihat

Percik Insani tidak dimulai sebagai lembaga besar. Tempat ini lahir dari keprihatinan sederhana para orang tua yang melihat anak-anak mereka kehilangan arah setelah melewati masa terapi.

“Awalnya itu beberapa orang tua bingung ketika anaknya sudah melewati masa terapi. Mereka belum bisa ngapa-ngapain, hanya di rumah saja,” jelas Koordinator Operasional Percik Insani, Danik Sri Haryani (52).

Dari kegelisahan itu, terbentuklah ruang belajar yang berfokus pada keterampilan. Sejak didirikan pada 2013, Percik Insani berkembang menjadi tempat bagi banyak individu difabel untuk belajar, berproses, dan menemukan peran mereka.

Baca Juga: Saat Dunia Tak Mengerti, Pelukan dan Cinta Ibu Jadi Rumah Teraman bagi Anak Down Syndrome

Danik Sri Haryani mendampingi kegiatan di Percik Insani, menjaga agar setiap peserta mendapat ruang belajar sesuai kemampuannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Danik Sri Haryani mendampingi kegiatan di Percik Insani, menjaga agar setiap peserta mendapat ruang belajar sesuai kemampuannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dalam prosesnya, pendekatan yang digunakan tidak pernah diseragamkan. Setiap individu dipahami melalui kemampuan dan ritme masing-masing.

“Program kita sama, tapi kemampuannya beda-beda. Jadi kita tempatkan mereka sesuai kemampuan itu,” kata Danik.

Pendekatan ini tercermin dalam beragam kegiatan, mulai dari pembelajaran akademik dasar seperti mengenal angka, hingga keterampilan yang lebih kompleks seperti memasak, memproduksi makanan, hingga mencuci peralatan setelah digunakan. Semua diarahkan untuk mendukung fungsi kehidupan sehari-hari, bukan sekadar pencapaian akademis.

Rutinitas harian pun disusun untuk membentuk kebiasaan yang konsisten. Pagi hari dimulai dengan senam bersama, kemudian dilanjutkan dengan berbagai aktivitas yang melatih kemampuan peserta.

Di dapur, suara peralatan masak berbaur dengan instruksi dari instruktur. Seorang peserta mencuci alat masak dengan hati-hati, memastikan setiap langkah dilakukan dengan benar.

Bagi Winda Wirantika (31), seorang instruktur difabel yang telah bertahun-tahun mendampingi di Percik Insani, aktivitas ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari upaya mempersiapkan individu difabel menjalani hidup secara mandiri.

Winda Wirantika membantu peserta belajar dari hal-hal sederhana menuju kemandirian. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Winda Wirantika membantu peserta belajar dari hal-hal sederhana menuju kemandirian. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Tujuannya untuk membuat anak itu alert, mengondisikan perilaku anak di mode ‘on’ sebelum kegiatan lain,” jelas Winda.

Ia menambahkan, proses pembelajaran selalu dimulai dari hal paling dasar, yakni merawat diri sendiri. Setelah itu, barulah peserta diarahkan ke keterampilan lanjutan seperti berkomunikasi, berhitung, memasak, hingga bekerja.

Kemampuan berkomunikasi menjadi fondasi penting dalam proses tersebut. Tidak semua anak dapat mengekspresikan apa yang mereka rasakan, sehingga kelas komunikasi menjadi salah satu fokus utama.

“Hal sederhana seperti izin ke kamar mandi atau minta minum itu perlu dipelajari,” ujar Winda sambil memperagakan dengan gestur tangan.

Ruang Kecil yang Menumbuhkan Mimpi Besar

Melalui pendekatan seperti social story dan metode visual, anak-anak dilatih memahami situasi serta memberikan respons yang tepat. Perubahan memang tidak terjadi secara instan, tetapi perlahan membentuk kebiasaan baru yang lebih adaptif.

Perkembangan itu kerap terlihat dari hal-hal kecil yang sebelumnya tampak mustahil. Justru dari langkah-langkah sederhana inilah makna pembelajaran menjadi nyata.

“Ada yang awalnya nggak mau direkam sama sekali. Sekarang sudah bisa melihat dirinya di rekaman dan menikmatinya,” cerita Winda.

Salah satu kisah yang paling membekas baginya adalah tentang Celio. Saat pertama kali datang ke Percik Insani, Celio sangat menolak direkam, bahkan tidak mau mendengar suaranya sendiri.

Namun seiring waktu, perubahan itu terjadi. Kini, Celio mampu berdiri dengan percaya diri, bernyanyi di depan mikrofon, bahkan memimpin alunan jimbe bersama teman-temannya.

Berbeda dengan Celio yang berkembang dalam kepercayaan diri, Livia menemukan dunianya di dapur. Di antara berbagai kegiatan, memasak menjadi aktivitas yang paling ia sukai.

“Senang, paling suka masak,” ucap Livia singkat, sambil tersenyum malu didampingi Winda.

Menu favoritnya adalah nagasari, hidangan sederhana yang justru menjadi pintu menuju harapan yang lebih besar.

“Pengen bikin restoran masakan Hongkong,” lanjutnya pelan.

Harapan-harapan seperti itulah yang terus dirawat di Percik Insani. Tidak hanya berfokus pada pelatihan, tempat ini juga berupaya menciptakan lingkungan kerja yang aman dan berkelanjutan bagi para peserta.

“Saya ingin Percik Insani punya bidang usaha sendiri, jadi mereka bisa kerja di situ,” kata Danik dengan nada pelan penuh harap.

Keinginan tersebut muncul dari kenyataan bahwa dunia luar belum sepenuhnya ramah bagi individu dengan disabilitas, terutama mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

Di tengah keterbatasan itu, Percik Insani menjadi ruang yang menghadirkan makna. Lewat kegiatan menenun, memasak, berkebun, hingga bermain musik, tempat ini menawarkan lebih dari sekadar pelatihan.

Ia menjadi ruang tumbuh, di mana individu dengan disabilitas tidak hanya belajar, tetapi juga diakui keberadaannya.

“Di mana lagi tempat yang mau menampung mereka, kalau bukan kita yang memulai,” tutur Winda.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)