Kisah Tangan Dingin Kawan Difabel di Balik Semarak Warna Kampung Rajut Binong Jati

7 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Elis sedang mewarnai mural dengan kuas di tangan kirinya. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Elis sedang mewarnai mural dengan kuas di tangan kirinya. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID —Keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti berkarya. Di tangan para penyandang disabilitas, tembok kusam bisa berubah menjadi karya seni. Mereka ingin menunjukkan bahwa tubuh yang tak sempurna tak menghalangi mimpi, juga daya cipta.

Di Gang Masjid, Kampung Binong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, tembok di sepanjang jalan gang sekitar 130 meter yang tadinya kelabu kini mulai berpendar warna. Mural-mural bermunculan di permukaan tembok rumah warga, hasil kerja bersama antara komunitas Masihan Indonesia, para relawan, warga, dan penyandang disabilitas.

Proyek mural ini sudah berlangsung sejak dua pekan lalu. Dimulai dengan membuat sketsa, para peserta kemudian menerapkannya langsung di tembok. Hari ini, Sabtu, 14 Juni 2025, proses kreatif itu memasuki tahap akhir yaitu pengecatan. Sekitar 15 penyandang disabilitas dari beragam latar belakang ikut ambil bagian.

Mereka datang dengan semangat, meski terik matahari menggigit kulit. Tapi itu tak jadi soal. Kuas tetap digerakkan mengikuti pola yang telah tergambar. Tembok yang dulu kusam perlahan menjelma menjadi hamparan visual yang hidup.

Salah satu yang terlibat adalah Elis. Ia datang dari Ujungberung, sekitar 10 kilometer dari lokasi kegiatan. Kaki kirinya telah diamputasi. Tangan kanannya juga sudah tak ada, hanya tersisa lengan kiri yang ia gunakan untuk menggenggam kuas.

Namun semangatnya jauh lebih utuh daripada tubuhnya. Dengan posisi duduk di kursi roda, Elis perlahan menggerakkan tangan kirinya, ke atas, ke bawah, lalu menyamping—menyusuri dinding yang jadi kanvas bersama. Di sampingnya, relawan siap siaga membantu.

Ia tak banyak bicara, tetapi sorot matanya cukup mewakili. Fokus. Penuh keinginan untuk menuntaskan bagiannya. Dan meskipun hanya menyelesaikan sebagian kecil mural, wajahnya memancarkan kebanggaan.

"Mural akan diterapkan juga di lingkungan saya," katanya saat ditemui di sela kegiatan.

Baginya, kegiatan ini bukan sekadar melukis. Tapi juga terapi. Aktivitas fisik yang ia jalani hari itu mampu mengikis kejenuhan karena keterbatasan gerak sehari-hari. Wanita berkerudung krem itu enggan kalah oleh keadaan.

Penyandang disabilitas lainnya, Linda (63), juga ikut dalam pembuatan mural. Sejak lahir, salah satu kakinya tak tumbuh sempurna. Kelainan itu, kata dokter, tak bisa diperbaiki.

Dan bagi Linda kecil, tubuh yang berbeda berarti jalan hidup yang juga berbeda. Ia tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan dan keasingan, merasa seperti hidup di dunia yang tidak menyediakan ruang untuknya.

“Dulu saya pikir saya satu-satunya orang yang seperti ini,” katanya lirih.

Tapi kemudian, sebuah iklan kecil di koran menjadi awal titik balik hidupnya. Bukan tawaran pekerjaan atau janji pengobatan, melainkan ajakan bergabung dengan komunitas penyandang disabilitas bernama Bakti Nurani. Ia pun memberanikan diri datang.

“Ya awalnya kita datang ke situ, ternyata banyak yang lebih dari saya itu, kedisabilitasan itu lebih dari saya itu banyak gitu."

"Jadi bukan saya aja gitu. Yang tadinya saya merasa, ah cuma saya kan yang kayak gini gitu kan. Jadi putus asa itu pasti ada," ujar Linda.

Bersama Bakti Nurani, Linda tak hanya mendapat teman baru, tapi juga perspektif baru bahwa disabilitas bukanlah akhir. Bahwa keterbatasan bisa menjadi celah untuk menemukan makna yang lebih dalam dari sekadar sembuh. Dan bahwa ia masih bisa berguna untuk dirinya, dan orang lain.

Rajutan menjadi salah satu caranya menyembuhkan diri. Gerakan demi gerakan yang repetitif menjadi terapi yang menenangkan pikirannya. Namun benang bukan satu-satunya yang ia pelajari. Dunia olahraga pun menjadi medan lain tempat ia membuktikan diri.

Panahan, voli duduk, angkat berat, kursi roda balap, hingga menembak, semuanya pernah ia coba. Beberapa di antaranya bahkan mengantarnya ke podium juara.

Linda pernah menggenggam medali emas dari ajang voli duduk. Ia pernah terbang ke Kalimantan, ke Bali, bertanding di tempat-tempat yang dulu terasa mustahil.

"Ya, sebenarnya saya itu sudah mencoba beberapa cabor ya, dari angkat berat, dari kursi roda balap, terus dari voli duduk, terus sekarang kan nembak gitu. Jadi itu saya (kompetisi) masih seperti (di) Kalimantan. Bali, udah ke situ juga," tuturnya.

Kini, di usia yang sudah tak muda, Linda tak lagi mengejar prestasi. Ia lebih ingin berbagi. Berbagi kisah, harapan, dan benang yang bisa dirajut bersama. Ia tahu betul bahwa putus asa adalah rasa yang nyata. Tapi ia juga tahu, di balik rasa itu, masih ada ruang untuk bangkit.

“Jangan pernah putus asa. Masih ada kesempatan baik yang menanti di depan," katanya.

Mural untuk Dongkrak Wisata Kampung Binong

Sementara itu, Chief Executive Officer Masihan Indonesia, Andika Fibio mengatakan, kegiatan ini bertajuk Mural Bersama Difabel Merajut Asa (Merakit). Sebuah program yang diberikan di wilayah binaan Masihan Indonesia, salah satunya kampung Cibinong. Ini untuk mendongkrak daya wisata.

Kampung Cibinong memang terkenal dengan kawasan pengrajut. Berbagai jenis dan hasil rajutan lahir di sana. Namun sayangnya kawasan ini jarang sekali dilirik oleh para wisatawan, baik dari dalam atau luar Kota Bandung.

"Jadi kita memperkenalkan nya tuh lewat ekonomis kreatif lewat adanya mural painting. Jadi kita disini akan mural biar temen temen juga aware tertarik juga dengan desa wisata," ucapnya.

Penyandang Disabilitas, warga, dan relawan mewarnai mural yang digambar di salah satu dinding rumah warga. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Penyandang Disabilitas, warga, dan relawan mewarnai mural yang digambar di salah satu dinding rumah warga. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadha

Dalam kegiatan ini, pihaknya melibatkan penyandang disabilitas. Salah satu upaya untuk memperlihatkan bahwa mereka juga bisa berkembang meski memiliki keterbatasan fisik. Kawan disabilitas yang hadir berasal dari berbagai daerah di Kota Bandung. Mereka yang datang telah mendapatkan pembinaan.

Mural sendiri, kata dia, diibaratkan sebagai umpan untuk para wisatawan. Mural yang indah dipercayanya bisa menggaet pengunjung. Sehingga merekanyang datang dapat membeli berbagai suvenir di sana. Ekonomi pun kemudian meningkat.

"Harapannya sih kita bisa memboosting lagi si ekonomi kreatif ini biar lebih aware dan lebih besar lagi dampaknya karena saya rasa juga memang di Binong ini perlu kita kembangkan lagi karena salah satu program di bandung adalah mural sebagai wajah wajah baru yang perlu kita kembangkan," ujarnya.

Andika bilang, pembinaan akan dilakukan secara berkelanjutan agar perkembangan wilayah binaan dalam hal ekonomi bisa meningkat. Ke depan, ia mengaku bukan hanya mural saja yang menjadi pendobrak geliat ekonomi.

"Nanti juga ngga cuman mural, mural ini cuman permukaan doang karena selanjutnya kita akan kembangin lagi bagian bagian temen temen difabel dan berkolaborasi lagi bersama kita biar lebih inklusif lagi di dalam ekonomi kreatif," sebutnya.

Mural dan Rajutan di Kampung Binong

Kampung Binong sendiri menyimpan kisah yang pelan-pelan tumbuh: tentang warna, benang, dan semangat yang tak putus dirajut.

Eka, penggerak Pokdarwis Kampung Wisata Binong, menyambut tamu dengan senyum lebar dan semangat yang menguar dari suaranya.

Di sekelilingnya, beberapa orang sedang memilih busana hasil rajutan. Di mulut gang, sekolompok orang sedang mencoretkan warna di dinding. Bukan sekadar mural biasa, ini adalah kanvas kebersamaan.

"Kegiatan ini emang bukan kegiatan bulanan, tapi rutin. Biasanya ada lomba merajut, sekarang kita bikin mural bareng-bareng," ujar Eka.

Di balik acara yang tampak sederhana itu, tersimpan niat besar, membuat kampung yang “biasa aja”—kata Eka—menjadi penuh ciri khas. Foto-foto dari mural itu diharapkan bisa menyebar dan menarik wisatawan. Namun yang tak kalah penting, kegiatan ini adalah panggung untuk mereka yang sering terpinggirkan: teman-teman difabel.

"Biasanya teman-teman di Fable itu ngerajut, bikin kue, bahkan ada yang atlet. Sekarang mereka juga pengen ngecat rumah warga," kata Eka.

Tak semua bisa ikut penuh waktu. Keterbatasan mobilitas dan aksesibilitas jadi tantangan tersendiri. Tapi semangat mereka untuk berkarya tetap membara.

"Mereka jago ngegambar, cuma kadang susah. Ada yang tuli, ada yang daksa. Tapi mereka tetap pengen ikut," katanya.

Teh Elis dan kawan-kawan jadi jembatan yang menjahit koordinasi. Dan bukan hanya mural, peran para difabel meresap dalam denyut wisata kampung ini. Mereka adalah pengrajin suvenir, dari gantungan kunci hingga hasil rajutan khas yang dijual dalam paket wisata.

"Biasanya, tamu dibagi jadi kelompok 10–15 orang, terus satu mentornya teman difabel. Mereka ngajarin rajut," jelas Eka.

Rajutan itu bukan sekadar aktivitas tangan, tapi juga harapan yang dijalin dari potensi lokal: teh telang, kuliner rumahan, pencak silat, dan bank sampah.

Bank sampah ini jadi proyek baru bersama teman-teman difabel. Sampah plastik yang jadi momok kota, mereka olah jadi benang rajut.

"Benangnya makin sini makin mahal. Jadi kita coba recycle sampah botol minuman, plastik bekas produksi. Nanti yang ngerajutnya teman difabel," ularnya.

Dari situ, produk-produk buatan tangan mereka punya nilai. Bukan hanya nilai estetika, tapi juga ekonomi. "Dulu itu cuma sampah. Sekarang jadi penghasilan. Teman di Fable dapet manfaat, bahkan produk mereka sampai ke mancanegara," katanya.

Dari tangan mereka, lahir tidak hanya karya seni, tetapi juga semangat. Sebuah pesan yang tak diucapkan secara keras, tapi bisa dirasakan siapa pun yang melihatnya bahwa hidup, sesulit apa pun, selalu bisa dirajut kembali.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)