Sore Hari di Taman Difabel BEDAS: Tentang Akses, Tubuh, dan Ruang Publik

Nefi Salsabila Hadi
Ditulis oleh Nefi Salsabila Hadi diterbitkan Kamis 22 Jan 2026, 09:39 WIB
Taman Difabel BEDAS. (Dokumentasi Penulis)

Taman Difabel BEDAS. (Dokumentasi Penulis)

Sore itu, Taman Difabel BEDAS di Soreang. Tampak seperti taman kota pada umumnya yang; hijau, cukup terawat, dan terasa teduh. Pepohonan besar menaungi jalur pedestrian, sementara elemen warna biru-hijau mendominasi tepian taman dan furnitur luar ruang yang indah.

 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Dari pandangan pertama, niat baik itu terlihat jelas. Ada ramp, ada handrail, ada guiding block. Elemen-elemen ini seolah menjadi pernyataan bahwa taman ini ingin ramah bagi semua orang.

Dalam banyak diskusi tentang desain inklusif dan universal design, niat seperti ini memang penting; ruang publik tidak boleh hanya dirancang untuk satu jenis tubuh saja. Namun, pengalaman berada di sebuah ruang sering kali berbicara lebih jujur daripada gambar perencanaan atau daftar fasilitas dalam bentuk file.

Pengukuran Manual Jalur Jalan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Pengukuran Manual Jalur Jalan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Secara dimensi, jalur jalan di taman ini rata-rata memiliki lebar sekitar 117 cm. Ukuran ini, jika merujuk pada standar ergonomi dasar, sudah tergolong aman dan memungkinkan kursi roda melintas tanpa harus berdesakan atau bersinggungan langsung dengan elemen lain di sekitarnya.

Pada titik ini, desain jalur sebenarnya menunjukkan perhatian pada aspek aksesibilitas fisik, bahwa tubuh dengan alat bantu gerak setidaknya telah diperhitungkan keberadaannya di dalam ruang ini.

 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Ketika saya mengikuti jalur pedestrian, persoalan mulai terasa. Guiding block memang ada, tetapi tidak selalu membawa ke arah yang jelas. Di beberapa titik, jalur ini berhenti begitu saja, tanpa penanda lanjutan atau keterhubungan dengan area yang benar-benar aktif.

Jika saya yang bisa melihat harus berhenti sejenak untuk bertanya “ini ke mana?”, saya membayangkan betapa membingungkannya situasi ini bagi pengguna difabel netra. Jalur pemandu seharusnya memberi rasa aman dan kepastian, bukan sekadar hadir sebagai tanda bahwa taman ini “sudah inklusif”.

Kursi Taman (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Kursi Taman (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Furnitur taman (kursi) juga menyimpan cerita yang serupa. Bentuknya menarik, warnanya cerah, dan secara visual tentunya cukup mengundang. Namun, dari segi ukuran dan posisi, sebagian besar masih terasa didesain untuk tubuh yang dianggap normal dan kuat.

Tingginya, jaraknya, dan cara menggunakannya membuat saya berpikir bahwa penyandang difabel (terutama pengguna kursi roda) kemungkinan hanya bisa melihat, bukan benar-benar ikut menggunakan. Di sini, inklusivitas terasa berhenti pada kehadiran fisik, belum sampai pada pengalaman yang setara.

Meski begitu, saya tidak ingin mengatakan bahwa taman ini gagal. Justru sebaliknya, taman ini penting karena ia membuka ruang perjumpaan. Difabel dan non-difabel berada di ruang yang sama, menghirup udara yang sama, dan berbagi lanskap yang sama.

Dalam banyak kasus, ruang publik memang bekerja pelan-pelan, artinya bukan langsung menyelesaikan ketimpangan yang ada, tetapi setidaknya membuat kita saling terlihat. Terkadang, itu sudah menjadi langkah awal yang berarti.

Tampak Depan (dari jalan raya) (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Tampak Depan (dari jalan raya) (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Hal lain yang cukup mengganggu pikiran saya adalah soal rasa aman ketika hari mulai gelap. Taman ini tidak memiliki lampu taman atau pencahayaan jalur yang khusus. Ketika sore bergeser ke malam, cahaya hanya datang dari lampu jalan di sekitar kawasan dan dari bangunan-bangunan terdekat.

Bagi sebagian orang, kondisi ini mungkin masih bisa ditoleransi. Namun bagi penyandang difabel yang sangat bergantung pada visibilitas, orientasi, dan rasa aman, justru minimnya pencahayaan bisa menjadi alasan untuk tidak kembali. Ruang publik yang inklusif semestinya tidak hanya bisa diakses di siang hari, tetapi juga tetap terasa aman ketika digunakan kapan saja.

Vandalisme-Coretan Pada Tugu (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Vandalisme-Coretan Pada Tugu (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Soal vandalisme, yang saya temukan di taman ini tergolong ringan. Ada beberapa coretan di beberapa sudut, menurut saya tidak ekstrem dan tidak merusak fungsi utama fasilitas/ruang. Saya justru melihatnya sebagai tanda bahwa taman ini hidup dan digunakan dengan tertib.

Tentunya vandalisme bukan hal yang perlu dimaklumi, tetapi ia sering muncul di ruang yang benar-benar disentuh oleh penggunanya. Yang menjadi tantangannya adalah bagaimana membangun rasa memiliki, agar ruang yang dimaksudkan untuk semua ini juga dapat dijaga bersama.

Baca Juga: Sejarah Universitas Islam Bandung, Kampus Biru di Tamansari

Taman Difabel BEDAS bagi saya adalah ruang dengan niat baik yang masih belajar. Taman ini sudah melangkah ke arah inklusivitas, meski belum sepenuhnya sampai.

Dari pengalaman berjalan sore di dalamnya, saya belajar bahwa desain inklusif bukan soal menambah elemen, melainkan soal memahami tubuh, kebiasaan, dan rasa aman pengguna secara nyata. Seperti ruang publik lainnya, taman ini masih punya banyak kesempatan untuk tumbuh, asal kita mau mendengarkan pengalaman mereka yang benar-benar menggunakannya.

Referensi:

  • Mace, R. (1998). Universal Design in Housing. North Carolina State University, Center for Universal Design.
  • Pheasant, S., & Haslegrave, C. M. (2006). Bodyspace: Anthropometry, Ergonomics and the Design of Work. CRC Press.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nefi Salsabila Hadi
Design - Human - Reflection - Nature

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)