Sore Hari di Taman Difabel BEDAS: Tentang Akses, Tubuh, dan Ruang Publik

4 menit baca
Nefi Salsabila Hadi
Ditulis oleh Nefi Salsabila Hadi diterbitkan
Taman Difabel BEDAS. (Dokumentasi Penulis)
Taman Difabel BEDAS. (Dokumentasi Penulis)

Sore itu, Taman Difabel BEDAS di Soreang. Tampak seperti taman kota pada umumnya yang; hijau, cukup terawat, dan terasa teduh. Pepohonan besar menaungi jalur pedestrian, sementara elemen warna biru-hijau mendominasi tepian taman dan furnitur luar ruang yang indah.

 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Dari pandangan pertama, niat baik itu terlihat jelas. Ada ramp, ada handrail, ada guiding block. Elemen-elemen ini seolah menjadi pernyataan bahwa taman ini ingin ramah bagi semua orang.

Dalam banyak diskusi tentang desain inklusif dan universal design, niat seperti ini memang penting; ruang publik tidak boleh hanya dirancang untuk satu jenis tubuh saja. Namun, pengalaman berada di sebuah ruang sering kali berbicara lebih jujur daripada gambar perencanaan atau daftar fasilitas dalam bentuk file.

Pengukuran Manual Jalur Jalan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Pengukuran Manual Jalur Jalan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Secara dimensi, jalur jalan di taman ini rata-rata memiliki lebar sekitar 117 cm. Ukuran ini, jika merujuk pada standar ergonomi dasar, sudah tergolong aman dan memungkinkan kursi roda melintas tanpa harus berdesakan atau bersinggungan langsung dengan elemen lain di sekitarnya.

Pada titik ini, desain jalur sebenarnya menunjukkan perhatian pada aspek aksesibilitas fisik, bahwa tubuh dengan alat bantu gerak setidaknya telah diperhitungkan keberadaannya di dalam ruang ini.

 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Ketika saya mengikuti jalur pedestrian, persoalan mulai terasa. Guiding block memang ada, tetapi tidak selalu membawa ke arah yang jelas. Di beberapa titik, jalur ini berhenti begitu saja, tanpa penanda lanjutan atau keterhubungan dengan area yang benar-benar aktif.

Jika saya yang bisa melihat harus berhenti sejenak untuk bertanya “ini ke mana?”, saya membayangkan betapa membingungkannya situasi ini bagi pengguna difabel netra. Jalur pemandu seharusnya memberi rasa aman dan kepastian, bukan sekadar hadir sebagai tanda bahwa taman ini “sudah inklusif”.

Kursi Taman (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Kursi Taman (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Furnitur taman (kursi) juga menyimpan cerita yang serupa. Bentuknya menarik, warnanya cerah, dan secara visual tentunya cukup mengundang. Namun, dari segi ukuran dan posisi, sebagian besar masih terasa didesain untuk tubuh yang dianggap normal dan kuat.

Tingginya, jaraknya, dan cara menggunakannya membuat saya berpikir bahwa penyandang difabel (terutama pengguna kursi roda) kemungkinan hanya bisa melihat, bukan benar-benar ikut menggunakan. Di sini, inklusivitas terasa berhenti pada kehadiran fisik, belum sampai pada pengalaman yang setara.

Meski begitu, saya tidak ingin mengatakan bahwa taman ini gagal. Justru sebaliknya, taman ini penting karena ia membuka ruang perjumpaan. Difabel dan non-difabel berada di ruang yang sama, menghirup udara yang sama, dan berbagi lanskap yang sama.

Dalam banyak kasus, ruang publik memang bekerja pelan-pelan, artinya bukan langsung menyelesaikan ketimpangan yang ada, tetapi setidaknya membuat kita saling terlihat. Terkadang, itu sudah menjadi langkah awal yang berarti.

Tampak Depan (dari jalan raya) (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Tampak Depan (dari jalan raya) (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Hal lain yang cukup mengganggu pikiran saya adalah soal rasa aman ketika hari mulai gelap. Taman ini tidak memiliki lampu taman atau pencahayaan jalur yang khusus. Ketika sore bergeser ke malam, cahaya hanya datang dari lampu jalan di sekitar kawasan dan dari bangunan-bangunan terdekat.

Bagi sebagian orang, kondisi ini mungkin masih bisa ditoleransi. Namun bagi penyandang difabel yang sangat bergantung pada visibilitas, orientasi, dan rasa aman, justru minimnya pencahayaan bisa menjadi alasan untuk tidak kembali. Ruang publik yang inklusif semestinya tidak hanya bisa diakses di siang hari, tetapi juga tetap terasa aman ketika digunakan kapan saja.

Vandalisme-Coretan Pada Tugu (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Vandalisme-Coretan Pada Tugu (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Soal vandalisme, yang saya temukan di taman ini tergolong ringan. Ada beberapa coretan di beberapa sudut, menurut saya tidak ekstrem dan tidak merusak fungsi utama fasilitas/ruang. Saya justru melihatnya sebagai tanda bahwa taman ini hidup dan digunakan dengan tertib.

Tentunya vandalisme bukan hal yang perlu dimaklumi, tetapi ia sering muncul di ruang yang benar-benar disentuh oleh penggunanya. Yang menjadi tantangannya adalah bagaimana membangun rasa memiliki, agar ruang yang dimaksudkan untuk semua ini juga dapat dijaga bersama.

Baca Juga: Sejarah Universitas Islam Bandung, Kampus Biru di Tamansari

Taman Difabel BEDAS bagi saya adalah ruang dengan niat baik yang masih belajar. Taman ini sudah melangkah ke arah inklusivitas, meski belum sepenuhnya sampai.

Dari pengalaman berjalan sore di dalamnya, saya belajar bahwa desain inklusif bukan soal menambah elemen, melainkan soal memahami tubuh, kebiasaan, dan rasa aman pengguna secara nyata. Seperti ruang publik lainnya, taman ini masih punya banyak kesempatan untuk tumbuh, asal kita mau mendengarkan pengalaman mereka yang benar-benar menggunakannya.

Referensi:

  • Mace, R. (1998). Universal Design in Housing. North Carolina State University, Center for Universal Design.
  • Pheasant, S., & Haslegrave, C. M. (2006). Bodyspace: Anthropometry, Ergonomics and the Design of Work. CRC Press.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nefi Salsabila Hadi
Design - Human - Reflection - Nature

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.