Taman Skate Pasupati dan Realitas Ruang Publik yang Minim Perhatian dan Dibiarkan Berjalan Sendiri

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Rabu 07 Jan 2026, 09:01 WIB
Anak muda di Kota Bandung bermain skateboard di kolong Jembatan Pasupati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Anak muda di Kota Bandung bermain skateboard di kolong Jembatan Pasupati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Menjelang sore, kolong Jembatan Pasupati perlahan berubah wajah. Langit Kota Bandung menguning, cahaya senja menusuk di sela-sela beton, dengan keadaan tempat berdebu dan berasap karena bersebelahan dengan jalan raya.

Deru mesin kendaraan beradu dengan suara canda tawa anak muda yang bermain skateboard. Sementara suara roda skateboard yang melaju di atas lantai beton, ramp, hingga dan batangan pipa mulai terdengar bersahutan. Satu per satu anak muda datang membawa papan, duduk di pinggir lintasan, menunggu giliran bermain. Semakin sore hingga menginjak malam, suasana justru semakin ramai dan hidup.

Di bawah jalan layang itu, ruang yang semula tak diperhitungkan menjelma tempat bermain dan berkumpul. Taman Skate Pasupati kini menjadi salah satu ruang bermain, berekspresi dan menjadi ruang publik alternatif bagi anak muda Bandung. Namun, di balik ramainya aktivitas, ruang ini menyimpan berbagai persoalan yang selama ini dihadapi para penggunanya.

Muhammad Ridho (17), salah satu pelajar yang sekaligus menjadi skater yang rutin datang ke kawasan ini, mengatakan kolong Pasupati sudah lama menjadi pilihannya untuk bermain skateboard. Akses yang mudah dan kebebasan menggunakan ruang membuat tempat ini terus didatangi skater dari berbagai wilayah Bandung.

Muhammad Ridho. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Muhammad Ridho. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Kalau main di sini tuh rasanya bebas. Nggak perlu bayar, bisa ketemu banyak orang. Tapi kalau soal fasilitas dan keamanan, jujur masih jauh dari kata layak,” ujar Ridho.

Menurut Ridho, kondisi lintasan dan sarana pendukung kerap berubah tanpa kejelasan. Beberapa obstacle (fitur permainan) kecil yang biasa digunakan untuk latihan hilang, sementara pencahayaan di area taman sering kali tidak berfungsi bahkan pernah hilang.

“Lampu taman pernah ilang. Obstacle kecil juga ada yang hilang. Padahal itu penting buat latihan. Kalau malam, kita mainnya harus ekstra hati-hati, tapi temen-temen yang berkegiatan disini patungan buat beli lagi sama ngerawatnya” katanya.

Situasi tersebut membuat para skater harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan. Minimnya penerangan tak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga pada rasa aman, terutama saat taman mulai ramai menjelang malam.

Keluhan serupa disampaikan Saldan Muhammad Rasyid (22), skater lain yang hampir setiap pekan menghabiskan waktu di Taman Skate Pasupati. Ia menilai ruang ini dibiarkan berjalan sendiri tanpa perhatian berkelanjutan.

“Tempatnya ada, tapi kayak nggak diurus. Kita main di sini seolah-olah tanggung jawab sendiri. Padahal ini ruang publik,” ujar Saldan.

Saldan Muhammad Rasyid. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Saldan Muhammad Rasyid. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap fasilitas skate di ruang publik masih sangat minim. Hingga kini, sebagian besar perawatan dilakukan secara kolektif oleh komunitas skater.

“Kalau ada yang rusak atau kurang, biasanya kita patungan. Beli obstacle kecil, benerin seadanya. Dari pemerintah hampir nggak pernah ada dukungan alat atau perawatan,” katanya.

Kondisi ini membuat keberlangsungan taman skate sangat bergantung pada kesadaran dan solidaritas komunitas dan para penggiat. Padahal, jumlah pengguna ruang ini terus bertambah, seiring meningkatnya minat anak muda terhadap skateboard.

Bagi Saldan, taman skate seharusnya menjadi ruang aman bagi anak muda untuk beraktivitas. Tanpa fasilitas yang memadai, risiko cedera dan konflik justru semakin besar.

“Kalau nggak ada tempat kayak gini, anak-anak bisa main di jalan. Itu jauh lebih bahaya,” ujarnya.

Tak hanya dirasakan oleh skater, persoalan keamanan dan fasilitas juga disadari oleh pengunjung yang datang untuk nongkrong. Sherly Marlina(21), salah satu pengunjung yang kerap menghabiskan waktu sore hingga malam di kawasan tersebut. Dia menilai Taman Skate Pasupati punya potensi besar sebagai ruang publik, namun belum dikelola secara serius.

Menurut Sherly, ruang gratis seperti ini sangat berarti bagi anak muda yang tidak selalu memiliki akses ke tempat nongkrong berbayar. Namun, tanpa dukungan dan perawatan, kenyamanan itu mudah hilang.

“Di sini kita bisa datang dan nikmatin tanpa harus beli apa-apa. Tapi harusnya juga diperhatiin, bukan cuma dibiarkan,” katanya.

Muhammad Ridho bersama kawan-kawannya rutin bermain skateboard di Taman Skate Pasupati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Muhammad Ridho bersama kawan-kawannya rutin bermain skateboard di Taman Skate Pasupati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Arif Badurrahman (18) seorang mahasiswa, yang menikmati sorenya bersama keluarganya, menilai minimnya dukungan terhadap taman skate mencerminkan belum seriusnya perhatian terhadap aktivitas dan ekspresi anak muda di ruang publik.

Skateboard masih sering dianggap cuma main-main. Padahal ini olahraga, ada komunitasnya, ada proses latihannya. Tapi fasilitasnya nggak pernah benar-benar didukung,” ujar Arif.

Ia berharap pemerintah tidak hanya menyediakan ruang, tetapi juga hadir dalam perawatan dan pengelolaannya.

“Kalau memang ruang ini untuk publik, harusnya dijaga bareng. Jangan sampai komunitasnya terus-terusan bertahan sendiri,” katanya.

Taman Skate Pasupati menunjukkan bahwa ruang publik bisa hidup bukan karena kebijakan, melainkan karena penggunanya. Namun, tanpa dukungan nyata dan perhatian berkelanjutan, ruang ini akan terus berada di batas rapuh antara kebutuhan anak muda akan ruang aman dan kenyataan bahwa mereka harus merawatnya sendiri. Di bawah Pasupati, skateboard terus melaju, membawa harapan agar ruang bermain ini suatu hari benar-benar diperhatikan.

Berita Terkait

News Update

Komunitas 13 Apr 2026, 05:25

Bandung Berpuisi Buka Panggung, Siapa Saja Bisa Bersuara Lewat Kata

Komunitas Bandung Berpuisi menghadirkan panggung terbuka melalui Open Mic Vol. 17 sebagai ruang ekspresi bagi siapa saja untuk membacakan karya, sekaligus mendekatkan puisi kepada masyarakat.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sejarah 12 Apr 2026, 14:38

Sejarah Letusan Galunggung 1982, Sembilan Bulan Bencana Vulkanik di Jawa Barat

Letusan Galunggung 1982 berlangsung sembilan bulan, memicu pengungsian massal, kerusakan luas, dan menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar di Jawa Barat.

Letusan Galunggung 1982. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 13:26

4 Ide Cerita untuk Kamu yang Merasa 'Terasing' di Bandung Kampung Halamanmu

Kita berdiri di kota tempat lahir, tapi merasa seperti tamu.

Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 12 Apr 2026, 09:39

Hikayat Kampung Adat Mahmud, Penyebaran Islam hingga Larangan Menabuh Gong

Kampung Adat Mahmud di Bandung menyimpan sejarah penyebaran Islam, tradisi rumah panggung, dan larangan menabuh gong yang masih dijaga.

Kampung Mahmud, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 08:52

Bandung Era 1990-an dalam Ingatan Anak Kost

Bandung era 90-an, bagi saya, bukan sekadar kenangan. Ia adalah rumah yang selalu bisa saya kunjungi, kapan saja, dalam ingatan.

Anak kost era 1990-an, bersahabat dengan Erwan Setiawan, kini Wagub Jawa Barat. Kenangan sederhana yang tak lekang waktu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)