Hikayat Buahbatu, Gerbang Kunci Penghubung Bandung Selatan dan Utara

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Suasana Buahbatu zaman baheula. (Sumber: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat)
Suasana Buahbatu zaman baheula. (Sumber: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat)

AYOBANDUNG.ID - Kalau orang Bandung mendengar nama Buahbatu, biasanya yang terbayang pertama adalah macet, tol, dan deretan perumahan yang tampak serupa tapi harga cicilannya beda tipis. Padahal, jauh sebelum jalan Soekarno-Hatta jadi tempat klakson bersahutan, Buahbatu pernah menjadi daerah yang tenang. Tempat di mana orang menjemur padi di halaman, anak-anak bermain di pematang, dan suara lokomotif terdengar sayup di kejauhan.

Jejak Buahbatu sendiri sudah seperti cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut. Disitat dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, kisahnya bermula dari zaman ketika Danau Bandung purba mengering. Danau besar itu, konon, meninggalkan hamparan batu-batu besar di dataran selatan Bandung. Di sekitar batu-batu itu tumbuh banyak pohon mangga. Karena dalam bahasa Sunda “mangga” berarti buah, masyarakat setempat menyebut daerah itu Buahbatu, hasil gabungan dari kata buah dan batu. Nama sederhana yang kemudian hidup ratusan tahun, dan kini malah jadi alamat ramai di peta Google Maps.

Sulit membayangkan bahwa dulu, wilayah yang sekarang ramai dengan papan bilboard dan bengkel pernah menjadi daerah agraris. Sawah membentang, udara sejuk, dan jalanan masih berupa tanah merah. Tetapi perubahan datang cepat, apalagi ketika orang-orang Eropa mulai menghitung untung rugi dari hasil perkebunan di selatan Bandung.

Pada akhir abad ke-19, muncul gagasan besar untuk menghubungkan Bandung dengan daerah selatan yang kaya hasil bumi seperti teh, kina, dan kopi. Pengangkutan dengan pedati dianggap mahal dan memakan waktu. Maka, pada tahun 1897, seorang pengusaha bernama A.A. Maas Geesteranus mengajukan konsesi untuk membangun jalur kereta api Bandung–Ciwidey. Ide itu berpindah tangan beberapa kali hingga akhirnya pada tahun 1916 pemerintah Belanda melalui perusahaan Staatsspoorwegen memutuskan untuk membangun jalur tersebut.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

Pembangunan dimulai dari segmen Bandung–Soreang yang dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Karees–Buahbatu, Buahbatu–Banjaran, dan Banjaran–Soreang. Buahbatu menjadi bagian penting karena menjadi penghubung antara pusat kota dan wilayah selatan. Di sinilah berdiri Stasiun Buahbatu dengan kode BUB pada kilometer 7+741 dari Stasiun Bandung. Lokasinya kira-kira berada di sekitar Jalan Soekarno-Hatta sekarang, tak jauh dari tempat kendaraan antre masuk gerbang tol.

Setelah sempat tertunda karena perencanaan ulang jaringan kereta, jalur Karees–Buahbatu–Soreang akhirnya diresmikan pada 13 Februari 1921. Jalur ini menggunakan rel tipe ringan dengan lebar sepur 1.067 milimeter, memungkinkan kereta berjalan dengan kecepatan antara 20 hingga 40 kilometer per jam. Tiga tahun kemudian, pada 17 Juni 1924, jalur Bandung–Ciwidey diresmikan sepenuhnya.

Saat itu Buahbatu mulai berubah. Dari daerah pedesaan yang tenang menjadi kawasan penyangga ekonomi. Di sekitar stasiun, muncul rumah pekerja, warung makan, hingga gudang logistik. Hasil bumi dari Banjaran dan Ciwidey dibawa ke sini sebelum diteruskan ke pusat kota Bandung atau Batavia. Jalur kereta menjadikan Buahbatu tidak hanya tempat singgah, tetapi juga simpul penting dalam rantai perdagangan kolonial.

Tapi kejayaan itu tidak berlangsung selamanya. Setelah Indonesia merdeka, arus transportasi mulai berubah. Jalan raya diperlebar, mobil dan truk mengambil alih peran kereta. Persaingan tak seimbang ini membuat jalur Bandung–Ciwidey kehilangan penumpang dan keuntungan. Pada 1 Januari 1982, jalur itu resmi ditutup. Sebagian rel di sekitar Buahbatu masih digunakan sampai awal 2000-an untuk mengangkut tank dari Pindad ke Kavaleri, tetapi setelah itu benar-benar berhenti. Kini, sisa relnya terkubur di bawah aspal dan bangunan baru, hanya menyisakan cerita dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Jalan Buah Batu kiwari. (Sumber: Google Earth)
Jalan Buah Batu kiwari. (Sumber: Google Earth)

Bukan Cuma Kawasan Perlintasan

Walau dikenal karena jalur kereta, Buahbatu juga menyimpan kisah lain yang tak kalah penting. Salah satunya adalah pembangunan Masjid Raya Buahbatu yang berdiri di kawasan Pasar Kordon, Margacinta. Dalam catatan sejarah, pembangunan masjid ini dimulai pada 10 November 1938 dan diresmikan setahun kemudian, tepatnya pada 9 Juli 1939. Padoeka Kandjeng Dalem Raden Wiranatakoesoema, Bupati Bandung saat itu, memelopori pembangunannya. Di dalam masjid masih terdapat prasasti marmer berbahasa Sunda yang menjadi saksi sejarah.

Bangunan masjid ini awalnya bernama Masdjid Kaoem Boeahbatoe dan telah mengalami beberapa renovasi besar, termasuk pada tahun 1988 dan 2008. Kini tampil modern dengan kubah emas dan kaca bermotif kaligrafi. Bangunan seluas 2.300 meter persegi ini mampu menampung sekitar 1.000 jamaah. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat kajian Islam terbesar di Bandung Selatan.

Baca Juga: Hikayat Lara di Baleendah, Langganan Banjir yang Gagal Jadi Ibu Kota

Tidak jauh dari masjid, berdirilah Pasar Kordon yang ramai sejak masa kolonial. Catatan dari Komunitas Aleut menyebut, kawasan ini punya kaitan erat dengan masa revolusi fisik Indonesia. Pada tahun 1946, terjadi pertempuran hebat antara pasukan Hizbullah dan Kompi Ambon yang pro NICA di sekitar Buahbatu. Dalam buku memoar R.J. Rusady W. disebutkan bahwa banyak korban berjatuhan dalam peristiwa itu. Buahbatu menjadi salah satu medan tempur penting di Bandung pada masa perang revolusi.

Kisah Buahbatu tidak hanya tentang perjuangan dan darah. Di sekitar Pasar Kordon juga tumbuh legenda rakyat yang diwariskan turun-temurun, salah satunya tentang Curug Ece. Catatan Komunitas Aleut menyebut ada dua versi asal-usul nama Ece. Versi pertama mengatakan ada seorang tua yang mengalami gangguan jiwa ditemukan meninggal di curug. Versi kedua bercerita tentang seorang jawara bernama Ece yang tenggelam setelah kalah adu kekuatan dengan jawara lain. Cerita rakyat ini menambah warna lokal dan memperkaya identitas budaya Buahbatu yang memadukan sejarah dengan mitos.

Dari Wilayah Penyangga ke Pintu Gerbang Kota

Dalam buku Sejarah Kota Bandung 1945–1979 disebutkan bahwa tahun 1964 penduduk Bandung mencapai lebih dari satu juta jiwa, dan salah satu kawasan yang tumbuh pesat adalah Buahbatu. Pemukiman baru bermunculan di berbagai tempat seperti Sedangserang, Sukaluyu, Padasuka, Cijagra, Cigadung, Sarijadi, Buahbatu, Margahayu, dan Arcamanik. Pertumbuhan penduduk yang tinggi membuat Bandung berkembang ke arah selatan dengan alun-alun sebagai pusat konsentrasinya.

Tapi perkembangan itu tidak merata. Pemerintah kolonial lebih banyak menata Bandung bagian utara sebagai pusat kota, sementara wilayah selatan seperti Buahbatu, Dayeuhkolot, dan sekitarnya dijadikan kawasan industri dan perumahan pribumi. Akibatnya, Bandung Selatan tertinggal dalam hal infrastruktur perkotaan. Ketika utara sudah memiliki jalan beraspal dan sistem drainase modern, Buahbatu masih dikelilingi sawah dan jalan tanah.

Ketimpangan tata ruang ini meninggalkan jejak panjang. Bandung Selatan tumbuh sebagai wilayah penyangga ekonomi, sementara pusat kota tetap menjadi simbol kemewahan dan modernitas. Meski begitu, daya hidup Buahbatu tidak pernah padam. Kawasan ini terus berkembang dan akhirnya menjadi salah satu titik penting dalam jaringan kota Bandung.

Baca Juga: Sejarah Flyover Pasupati Bandung, Gagasan Kolonial yang Dieksekusi Setelah Reformasi

Saat memasuki era 1990-an, pembangunan infrastruktur semakin masif. Pada 1987, PT Jasa Marga mulai membangun proyek Jalan Tol Padaleunyi yang menghubungkan Padalarang dan Cileunyi. Salah satu pintu keluar utama tol itu berada di Buahbatu pada kilometer 149. Proyek senilai 1,2 triliun rupiah ini selesai pada 1990 dan menjadi akses utama bagi kendaraan dari Jakarta menuju Bandung bagian selatan.

Gerbang Tol Buah Batu menjadi titik vital yang menghubungkan pusat kota dengan Bojongsoang, Margacinta, dan kawasan sekitarnya. Kini, jalan tol itu tetap menjadi urat nadi mobilitas Bandung Raya meskipun beberapa kali mengalami perbaikan seperti penutupan sementara kilometer 149 pada tahun 2023.

Di sinilah Buahbatu menemukan dirinya kembali. Dari daerah agraris menjadi jalur kereta, lalu berkembang menjadi kawasan urban modern. Kini Buahbatu berdiri sebagai pintu gerbang kota, tempat lalu lintas tak pernah tidur, dan klakson bersahut di bawah papan reklame. Meski begitu, di sela deru kendaraan, masih tersisa ingatan tentang masa ketika di sini hanya ada sawah, batu, dan pohon mangga.

Baca Juga: Sejarah Bandung Jadi Ibu Kota Hindia Belanda, Sebelum Jatuh ke Tangan Jepang

Sejarah Buahbatu adalah potret kecil tentang bagaimana Bandung tumbuh dan berubah. Dari batu dan buah mangga yang sederhana, dari stasiun yang kini tinggal nama, hingga tol megah yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Setiap sudutnya menyimpan cerita, dan setiap nama jalannya adalah petunjuk bahwa waktu telah bergerak jauh, tetapi kenangan tak pernah benar-benar pergi.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)