Sejarah Es Cendol Elizabeth Bandung, Berawal dari Bon Toko Tas

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Es Cendol Elizabeth, kuliner legendaris Bandung sejak 1970-an. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Es Cendol Elizabeth, kuliner legendaris Bandung sejak 1970-an. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)

AYOBANDUNG.ID - Kalau dengar nama Elizabeth di 1970-an, orang Bandung bisa langsung ingat dua hal: ratu Inggris yang pernah duduk di singgasana selama puluhan tahun, atau toko tas besar yang cabangnya menyebar ke mana-mana. Tapi, di luar dua itu, Bandung punya Elizabeth lain yang lebih membumi: segelas es cendol dingin dengan santan kental, gula aren cair, dan butiran hijau kenyal dari tepung beras. Es Cendol Elizabeth bukan lahir di istana, bukan pula di pabrik tas, melainkan dari gerobak seorang lelaki sederhana bernama H. Rohman.

Bandung tahun-tahun itu masih jauh dari wajah macet yang kita kenal sekarang. Jalan Dago masih rindang, Cihampelas belum dijejali pusat belanja, dan Astanaanyar masih dipenuhi rumah kontrakan kelas menengah ke bawah. Disitat dari laman resmi Pemerintah Kota Bandung, di situlah Rohman tinggal, di sebuah rumah kontrakan di Jalan Lio Genteng. Hidupnya dijalani dengan mendorong gerobak berisi cendol setiap hari, berkeliling dari kampung, gang, hingga jalan-jalan besar. Tak tanggung-tanggung, jalurnya sampai Dago dan Cihampelas—daerah yang jaraknya lumayan untuk seorang pedagang keliling dengan roda kayu.

Sore hari, saat lelah pulang dari berdagang, Rohman melewati Jalan Otto Iskandar Dinata. Di jalan itu, ada seorang langganan bernama Eli. Awalnya, Eli hanya membeli cendol. Tapi kemudian hubungan keduanya melahirkan kisah yang bakal jadi legenda kuliner Bandung. Karena Rohman tak terlalu lancar membaca dan menulis, ia sering minta tolong Eli untuk menuliskan pesanan pembeli. Eli menuliskannya di bon toko tas. Dari situlah asal muasal nama yang terdengar “kebarat-baratan” itu.

Baca Juga: Jejak Bandung Kota Kreatif Berakar Sejak Zaman Kolonial

“Karena bapak itu kurang lancar menulis, kalau ada yang pesan suka minta tolong ke Bu Eli. Nulisnya pakai bon tas Elizabeth. Dari situlah akhirnya dinamakan Cendol Elizabeth,” tutur Nur Hidayah, anak Rohman.

Nama itu kemudian menempel. Orang tidak lagi menyebutnya sekadar cendol, melainkan Cendol Elizabeth. Tentu saja Rohman tidak pernah menduga kalau dari sebuah bon bekas, ia sedang membangun sebuah merek kuliner yang bertahan puluhan tahun.

Dari PKL Otista ke Gerai Permanen

Di masa itu, pedagang kaki lima jadi bagian tak terpisahkan dari wajah Bandung. Dari gorengan, bakso, sampai es cendol, hampir semua dijual di jalanan. Namun, pemerintah kota kemudian memberlakukan aturan zona larangan PKL di Jalan Otista. Posisi Rohman sebenarnya tidak benar-benar di trotoar—gerobaknya berada di halaman toko tas Elizabeth. Tapi karena keberadaannya dianggap jadi pelopor PKL di kawasan itu, ia pun terkena imbas aturan.

Alih-alih melawan, Rohman memilih pindah. Sikapnya itu membuat pedagang lain mau ikut mengalah. “Kalau bapak tidak pindah, pedagang lain pun susah disuruh pindah,” kenang Nur. Keputusan itu justru jadi titik balik. Pada 1998, Rohman meresmikan tempat usahanya di Jalan Inhoftank Nomor 64. Dari rumah produksi sederhana, Es Cendol Elizabeth naik kelas jadi gerai permanen yang terus ramai sampai hari ini.

Popularitas cendol ini bukan hanya karena namanya unik, tapi juga karena rasanya konsisten. Gula aren yang kental, santan gurih, dan cendol hijau kenyal jadi kombinasi yang membuat orang rela antre. Banyak pembeli yang tadinya mengenal cendol dari gerobak Otista, kini sengaja datang ke Inhoftank. Di situlah cendol tak lagi sekadar jajanan pinggir jalan, melainkan ikon kuliner Bandung.

Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

Selain cendol, ada satu menu lain yang ikut menempel: goyobod. Ceritanya bermula dari Eli yang suka membuat minuman manis ini. Suatu hari ia sedang malas, lalu meminta Rohman membuatkan goyobod. Dari percobaan iseng itulah lahir menu baru. Ketika membuka stan di Ciwalk sekitar 2000-an, Rohman menyadari menjual cendol saja tidak cukup untuk menutup biaya sewa. Maka, sejak 2001, goyobod resmi masuk daftar menu tetap. Kini, cendol dan goyobod jadi duet andalan Es Cendol Elizabeth.

Perjalanan bisnisnya pun berkembang. Es Cendol Elizabeth kini punya cabang resmi di Tasikmalaya dan Majalaya, serta didistribusikan ke supermarket. Namun, Nur menegaskan, pedagang-pedagang kaki lima yang mengaku menjual “cendol Elizabeth” di jalanan bukan bagian dari jaringan resmi.

Harga segelas kenangan itu masih terjangkau: Rp22 ribu untuk bungkus besar cendol, dan Rp32 ribu untuk goyobod. Gerai pusat di Jalan Inhoftank buka setiap hari pukul 09.00 sampai 17.00 WIB.

Lebih dari sekadar minuman, Es Cendol Elizabeth adalah cerita ketekunan. Dari roda kayu gerobak, dari bon toko tas, hingga menjadi ikon kuliner Bandung. Di kota yang penuh oleh-oleh modern, Elizabeth tetap bertahan sebagai tanda bahwa kadang nama besar bisa lahir dari hal-hal sepele: segelas cendol dan selembar bon bekas.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)