Sejarah Seni Tari Jaipong yang Kemunculannya Diwarnai Polemik

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Tari Jaipongan asal Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia)
Tari Jaipongan asal Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Seni tari jaipong adalah satu dari sekian karya orisinal yang lahir dari kreativitas masyarakat Sunda. Tapi seperti halnya bayi yang lahir dari dua rahim, jaipong tumbuh besar di tengah silang sengkarut klaim dan polemik soal siapa yang pertama menciptakan, siapa yang membesarkan, dan dari mana sebenarnya ia berasal: Karawang atau Bandung?

Tarian yang kini kerap mewakili wajah budaya Jawa Barat di pentas nasional hingga mancanegara itu ternyata memiliki sejarah panjang yang tak selalu harmonis.

Peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, Rosyadi, menyebut bahwa asal-usul jaipong tidak bisa dilepaskan dari dua tokoh: H. Suwanda dari Karawang dan Gugum Gumbira dari Bandung.

H. Suwanda adalah seorang juru kendang yang dikenal andal. Ia menciptakan jaipong sekitar tahun 1976 di Padepokan Suwanda Group, Karawang. Dalam wawancaranya dengan Rosyadi, Suwanda mengatakan:

“Jaipong adalah asli ciptaan saya yang diciptakan pada tahun 1976 di padepokan ini. Ketika itu saya masih cerdas, saya coba meramu dari tepak-tepak gendang ketuk tilu, wayang, kendang penca, doger, banjet, dan bahkan tarling. Semua kesenian itu saya ramu yang kemudian melahirkan seni jaipong,” tulis Rosyadi dalam Menelusuri Asal Usul dan Perkembangan Kesenian Jaipong.

Baca Juga: Hikayat Dinasti Sunarya, Keluarga Dalang Wayang Golek Legendaris dari Jelekong

Suwanda kemudian menyebarkan jaipong melalui rekaman-rekaman kaset tanpa label. Meski sederhana, distribusi itu cukup untuk membuat Karawang gegap gempita oleh musik dan tarian baru bernama jaipong. Ia jadi seni pertunjukan rakyat alternatif, melengkapi tradisi lama seperti ketuk tilu, topeng banjet, dan pencak silat.

Tak lama setelahnya, Suwanda diminta bergabung dengan Jugala Group di Bandung, yang dipimpin oleh Gugum Gumbira, seniman tari yang punya kepiawaian sebagai koreografer. Bersama-sama mereka mengemas jaipong ke dalam bentuk yang lebih kompleks: lebih dinamis, lebih terstruktur, dan siap tampil di atas panggung besar.

Dalam pandangan Suwanda, Gugum Gumbira-lah yang berhasil mengangkat jaipong ke level seni pertunjukan profesional:

“Dengan keahliannya dalam bidang koreografi, Gugum Gumbira menciptakan beberapa tarian jaipong. Akhirnya kerja sama saya dengan Gugum Gumbira mampu mengangkat jaipong menjadi kesenian Sunda yang sangat populer, bukan hanya di dalam negeri, melainkan telah memancanegara.”

Polemik Soal Siapa Penciptanya

Dari sinilah tarik-menarik klaim dimulai. Suwanda merasa sebagai pencipta awal jaipong. Tapi banyak yang mengenal jaipong dari tangan Gugum Gumbira. Gugum-lah yang memodifikasi jaipong menjadi tari kreasi yang rapi, dengan pola koreografi yang bisa diajarkan dan diduplikasi di sanggar-sanggar tari.

Tarian seperti Daun Pulus Keser Bojong dan Rendeng Bojong muncul dari kreativitas Gugum. Awalnya dianggap erotis dan vulgar karena gerakannya, lama-kelamaan jaipong diterima dan bahkan dielu-elukan. Dalam hal ini, Suwanda memainkan musiknya, Gugum membentuk koreografinya.

Baca Juga: Hikayat Sunda Empire, Kekaisaran Pewaris Tahta Julius Caesar dari Kota Kembang

Jaipong seolah lahir dua kali: pertama di Karawang, sebagai bentuk ekspresi rakyat, kedua di Bandung sebagai seni pertunjukan modern. Gaya kendang dari Suwanda disusun ulang oleh Gugum dalam pola-pola yang lebih struktural, dan digunakan untuk mengiringi tari jaipong di panggung-panggung seni yang lebih formal.

Keduanya bahkan sempat tampil bersama ke Jerman pada 1984.

“Saya bersama rombongan manggung di beberapa kota di Jerman. Ternyata orang luar negeri sangat menghargai kesenian kita. Mereka sangat antusias, ada beberapa di antaranya, ketika musik melantun turut serta ngibing, meskipun tidak sesuai dengan irama gendang,” kenang Suwanda.

Gugum Gumbira. (Sumber: YouTube Indonesia Kaya)
Gugum Gumbira. (Sumber: YouTube Indonesia Kaya)

Komersialisasi dan Kelestarian

Dalam panggung rakyat, jaipong bukan sekadar tari yang ditonton, tapi juga mengundang keterlibatan penonton. Jaipong adalah seni dengan “aksi dan reaksi”. Sang penari perempuan menampilkan tarian, sedangkan laki-laki dari kalangan penonton, disebut bajidor, turut menari di atas panggung.

Bajidor tak harus meniru gerakan penari perempuan. Ia bebas menari sesuai irama kendang, dalam batasan norma pertunjukan. Interaksi antara penari dan penonton menciptakan suasana egaliter dan meriah.

Pertunjukan yang memfasilitasi hiburan pribadi semacam ini umum terjadi di Indonesia. Jaipong menjadi media komunikasi antarpenari dan penonton yang melampaui sekadar tontonan, tapi juga menjadi partisipasi aktif.

Baca Juga: Jejak Bandung Baheula: Dari Dusun Sunyi hingga Kota yang Heurin Ku Tangtung

Jaipong mengalami transformasi seiring waktu. Dari musik iringan sederhana, kini jaipong tampil dengan tata musik modern, kostum pentas beraneka rupa, hingga pencahayaan yang dramatis. Komposisi seperti Serat Salira dan Randa Ngora jadi ikon dalam versi jaipong Bandung.

Gerakan modernisasi membawa jaipong masuk hotel, pub, dan acara-acara protokoler pemerintah. Banyak sanggar tumbuh. Banyak anak muda belajar jaipong sebagai identitas budaya lokal.

Tapi, perkembangan itu juga membawa risiko “pendangkalan”. Ketika bentuk pertunjukan terlalu disesuaikan dengan selera pasar, substansi artistiknya bisa terkikis. Di sisi lain, kemajuan teknologi memberi peluang bagi seniman untuk mengembangkan jaipong menjadi lebih adaptif terhadap zaman. Jaipong menjadi contoh seni tradisi yang berhasil menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan akarnya.

Penari Jaipong belia, penerus estafet warisan tradisi. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Penari Jaipong belia, penerus estafet warisan tradisi. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kisah jaipong adalah cerita tentang persilangan antara akar dan daun. Antara asal-usul dan modernitas. Antara suara kendang kampung dan panggung pertunjukan dunia. Meskipun kemunculannya diwarnai polemik, sejarah mencatat bahwa jaipong adalah buah kerja sama dua tokoh: H. Suwanda dengan kendangnya dan Gugum Gumbira dengan koreografinya.

Keduanya bukan saingan, tapi sepasang tangan yang melahirkan dan membesarkan anak budaya bernama jaipong.

Kini, jaipong tak lagi sekadar seni lokal. Ia telah menjadi simbol budaya Sunda, dan sering digunakan untuk menyambut tamu-tamu kenegaraan. Bahkan tak tertutup kemungkinan, jaipong suatu saat didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya takbenda milik Indonesia.

Tapi agar tetap hidup, jaipong harus terus dipelihara, bukan hanya dipentaskan. Ia harus diturunkan pada generasi muda, diajarkan di sekolah, didiskusikan di ruang budaya, dan dirawat di dalam hati mereka yang percaya bahwa budaya tak lahir dari klaim, melainkan dari cinta dan kerja keras.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)