Sejarah Seni Tari Jaipong yang Kemunculannya Diwarnai Polemik

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 01 Agu 2025, 07:53 WIB
Tari Jaipongan asal Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia)

Tari Jaipongan asal Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Seni tari jaipong adalah satu dari sekian karya orisinal yang lahir dari kreativitas masyarakat Sunda. Tapi seperti halnya bayi yang lahir dari dua rahim, jaipong tumbuh besar di tengah silang sengkarut klaim dan polemik soal siapa yang pertama menciptakan, siapa yang membesarkan, dan dari mana sebenarnya ia berasal: Karawang atau Bandung?

Tarian yang kini kerap mewakili wajah budaya Jawa Barat di pentas nasional hingga mancanegara itu ternyata memiliki sejarah panjang yang tak selalu harmonis.

Peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, Rosyadi, menyebut bahwa asal-usul jaipong tidak bisa dilepaskan dari dua tokoh: H. Suwanda dari Karawang dan Gugum Gumbira dari Bandung.

H. Suwanda adalah seorang juru kendang yang dikenal andal. Ia menciptakan jaipong sekitar tahun 1976 di Padepokan Suwanda Group, Karawang. Dalam wawancaranya dengan Rosyadi, Suwanda mengatakan:

“Jaipong adalah asli ciptaan saya yang diciptakan pada tahun 1976 di padepokan ini. Ketika itu saya masih cerdas, saya coba meramu dari tepak-tepak gendang ketuk tilu, wayang, kendang penca, doger, banjet, dan bahkan tarling. Semua kesenian itu saya ramu yang kemudian melahirkan seni jaipong,” tulis Rosyadi dalam Menelusuri Asal Usul dan Perkembangan Kesenian Jaipong.

Baca Juga: Hikayat Dinasti Sunarya, Keluarga Dalang Wayang Golek Legendaris dari Jelekong

Suwanda kemudian menyebarkan jaipong melalui rekaman-rekaman kaset tanpa label. Meski sederhana, distribusi itu cukup untuk membuat Karawang gegap gempita oleh musik dan tarian baru bernama jaipong. Ia jadi seni pertunjukan rakyat alternatif, melengkapi tradisi lama seperti ketuk tilu, topeng banjet, dan pencak silat.

Tak lama setelahnya, Suwanda diminta bergabung dengan Jugala Group di Bandung, yang dipimpin oleh Gugum Gumbira, seniman tari yang punya kepiawaian sebagai koreografer. Bersama-sama mereka mengemas jaipong ke dalam bentuk yang lebih kompleks: lebih dinamis, lebih terstruktur, dan siap tampil di atas panggung besar.

Dalam pandangan Suwanda, Gugum Gumbira-lah yang berhasil mengangkat jaipong ke level seni pertunjukan profesional:

“Dengan keahliannya dalam bidang koreografi, Gugum Gumbira menciptakan beberapa tarian jaipong. Akhirnya kerja sama saya dengan Gugum Gumbira mampu mengangkat jaipong menjadi kesenian Sunda yang sangat populer, bukan hanya di dalam negeri, melainkan telah memancanegara.”

Polemik Soal Siapa Penciptanya

Dari sinilah tarik-menarik klaim dimulai. Suwanda merasa sebagai pencipta awal jaipong. Tapi banyak yang mengenal jaipong dari tangan Gugum Gumbira. Gugum-lah yang memodifikasi jaipong menjadi tari kreasi yang rapi, dengan pola koreografi yang bisa diajarkan dan diduplikasi di sanggar-sanggar tari.

Tarian seperti Daun Pulus Keser Bojong dan Rendeng Bojong muncul dari kreativitas Gugum. Awalnya dianggap erotis dan vulgar karena gerakannya, lama-kelamaan jaipong diterima dan bahkan dielu-elukan. Dalam hal ini, Suwanda memainkan musiknya, Gugum membentuk koreografinya.

Baca Juga: Hikayat Sunda Empire, Kekaisaran Pewaris Tahta Julius Caesar dari Kota Kembang

Jaipong seolah lahir dua kali: pertama di Karawang, sebagai bentuk ekspresi rakyat, kedua di Bandung sebagai seni pertunjukan modern. Gaya kendang dari Suwanda disusun ulang oleh Gugum dalam pola-pola yang lebih struktural, dan digunakan untuk mengiringi tari jaipong di panggung-panggung seni yang lebih formal.

Keduanya bahkan sempat tampil bersama ke Jerman pada 1984.

“Saya bersama rombongan manggung di beberapa kota di Jerman. Ternyata orang luar negeri sangat menghargai kesenian kita. Mereka sangat antusias, ada beberapa di antaranya, ketika musik melantun turut serta ngibing, meskipun tidak sesuai dengan irama gendang,” kenang Suwanda.

Gugum Gumbira. (Sumber: YouTube Indonesia Kaya)
Gugum Gumbira. (Sumber: YouTube Indonesia Kaya)

Komersialisasi dan Kelestarian

Dalam panggung rakyat, jaipong bukan sekadar tari yang ditonton, tapi juga mengundang keterlibatan penonton. Jaipong adalah seni dengan “aksi dan reaksi”. Sang penari perempuan menampilkan tarian, sedangkan laki-laki dari kalangan penonton, disebut bajidor, turut menari di atas panggung.

Bajidor tak harus meniru gerakan penari perempuan. Ia bebas menari sesuai irama kendang, dalam batasan norma pertunjukan. Interaksi antara penari dan penonton menciptakan suasana egaliter dan meriah.

Pertunjukan yang memfasilitasi hiburan pribadi semacam ini umum terjadi di Indonesia. Jaipong menjadi media komunikasi antarpenari dan penonton yang melampaui sekadar tontonan, tapi juga menjadi partisipasi aktif.

Baca Juga: Jejak Bandung Baheula: Dari Dusun Sunyi hingga Kota yang Heurin Ku Tangtung

Jaipong mengalami transformasi seiring waktu. Dari musik iringan sederhana, kini jaipong tampil dengan tata musik modern, kostum pentas beraneka rupa, hingga pencahayaan yang dramatis. Komposisi seperti Serat Salira dan Randa Ngora jadi ikon dalam versi jaipong Bandung.

Gerakan modernisasi membawa jaipong masuk hotel, pub, dan acara-acara protokoler pemerintah. Banyak sanggar tumbuh. Banyak anak muda belajar jaipong sebagai identitas budaya lokal.

Tapi, perkembangan itu juga membawa risiko “pendangkalan”. Ketika bentuk pertunjukan terlalu disesuaikan dengan selera pasar, substansi artistiknya bisa terkikis. Di sisi lain, kemajuan teknologi memberi peluang bagi seniman untuk mengembangkan jaipong menjadi lebih adaptif terhadap zaman. Jaipong menjadi contoh seni tradisi yang berhasil menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan akarnya.

Penari Jaipong belia, penerus estafet warisan tradisi. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Penari Jaipong belia, penerus estafet warisan tradisi. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kisah jaipong adalah cerita tentang persilangan antara akar dan daun. Antara asal-usul dan modernitas. Antara suara kendang kampung dan panggung pertunjukan dunia. Meskipun kemunculannya diwarnai polemik, sejarah mencatat bahwa jaipong adalah buah kerja sama dua tokoh: H. Suwanda dengan kendangnya dan Gugum Gumbira dengan koreografinya.

Keduanya bukan saingan, tapi sepasang tangan yang melahirkan dan membesarkan anak budaya bernama jaipong.

Kini, jaipong tak lagi sekadar seni lokal. Ia telah menjadi simbol budaya Sunda, dan sering digunakan untuk menyambut tamu-tamu kenegaraan. Bahkan tak tertutup kemungkinan, jaipong suatu saat didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya takbenda milik Indonesia.

Tapi agar tetap hidup, jaipong harus terus dipelihara, bukan hanya dipentaskan. Ia harus diturunkan pada generasi muda, diajarkan di sekolah, didiskusikan di ruang budaya, dan dirawat di dalam hati mereka yang percaya bahwa budaya tak lahir dari klaim, melainkan dari cinta dan kerja keras.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 01 Apr 2026, 19:02

4 Cerita yang Bisa Kamu Tulis untuk Ayo Netizen April 2026

Berikut empat sudut cerita yang bisa jadi titik masuk tulisanmu.

Dalam tujuan mengapreasiasi kamu yang gemar menulis dengan etika orisinalitas, Ayobandung.id pun memberi total hadiah Rp1,5 juta setiap bulannya. (Sumber: Pexels/Lisa)
Wisata & Kuliner 01 Apr 2026, 17:32

Panduan Wisata Gunung Bromo: dari Rute, Biaya hingga Waktu Terbaik

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menawarkan lebih dari sekadar kawah. Ini panduan lengkap untuk merencanakan kunjungan yang efisien dan tidak boros.

Gunung Bromo (Sumber: freerangestock.com)
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 17:22

Cikuntul, Lahan Basah Tempat Burung Kuntul Berburu Pakan

Bagaimana keadaan Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Kutawaluya sampai-sampai di daerah itu ada daerah yang diberi nama Cikuntul?

Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) pada saat musim berbiak, dengan bulu yang menarik lawan jenis, jingga keemasan, dan warna putih sesudah musim berbiak. (Sumber: John MacKinnon (1993))
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 16:43

Di Balik Ramainya Kendaraan saat Mudik Lebaran, Ada Risiko Kecelakaan Pengemudi yang Minim Pengalaman

Di balik ramainya mudik Lebaran, hadir pengemudi minim pengalaman. Faktor manusia tetap menjadi kunci utama dalam risiko kecelakaan.

Sejumlah kendaraan melintas di Gerbang Tol Pasteur 1, Kota Cimahi pada Jumat, 27 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Apr 2026, 16:15

Daya Tahan Ekonomi Jawa Barat di Tengah Eskalasi Geopolitik, Mengapa Dampaknya Belum Terasa?

Meskipun tensi Amerika Serikat-Israel dengan Iran meningkat, kredit perbankan nasional tetap tumbuh solid. OJK ungkap alasan mengapa dampak konflik Timur Tengah belum hantam perekonomian Jawa Barat.

Meskipun tensi Amerika Serikat-Israel dengan Iran meningkat, kredit perbankan nasional tetap tumbuh solid. OJK ungkap alasan mengapa dampak konflik Timur Tengah belum hantam perekonomian Jawa Barat.
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 15:28

Bandung di Mata Pendatang: Antara Bayangan dan Kenyataan (Tema Ayo Netizen April 2026)

Bandung memang punya daya tarik yang sulit dijelaskan dengan angka.

Suasana arus balik mulai terlihat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 24 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Komunitas 01 Apr 2026, 15:27

Di Antara Urbanisasi, Gender, dan Tabu: Membongkar Realitas Kota dalam Film "Selamat Pagi, Malam"

Film Selamat Pagi, Malam memotret Jakarta sebagai ruang kompleks tempat urbanisasi, isu gender, dan sisi tabu manusia saling berkelindan, menghadirkan realitas yang jauh dari hitam-putih.

Suasana nonton film “Selamat Pagi, Malam” di Museum Konferensi Asia Afrika, Selasa, 31 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 12:45

Tentang Radio, Bukan AI Setelah Lebaran Usai

Radio tetap menjadi ruang komunikasi paling autentik yang menjaga emosi, kepercayaan, dan partisipasi warga di tengah maraknya konten berbasis AI, termasuk pada momen Lebaran tahun ini.

Ilustrasi radio. (Sumber: Pexels | Foto: Đặng Thanh Tú)
Sejarah 01 Apr 2026, 12:02

Hikayat Selat Hormuz, Pintu Sempit yang Selalu Jadi Titik Panas Geopolitik Dunia

Sejak era perdagangan kuno hingga konflik modern, Selat Hormuz selalu menjadi titik strategis ekonomi dan geopolitik dunia.

Selat Hormuz, Iran.
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 10:05

Beda Pendapat kok Dituding Antek Asing?

Kritik dibalas stempel "antek asing" dan teror fisik. Demokrasi kita kian gagal napas.

Narasi persatuan belakangan ini baunya mulai anyir. Sering kali, ia terasa lebih mirip ancaman ketimbang pelukan yang tulus. (Sumber: Pexels | Foto: Diana)
Linimasa 01 Apr 2026, 08:45

Cerita Warga Perbatasan Bandung Barat yang Lebih Memilih Hidup di Ciwidey

Warga Desa Mekarwangi lebih memilih beraktivitas ke Ciwidey karena akses lebih dekat dan mudah dibandingkan ke pusat Bandung Barat.

Desa Mekarwangi, tempat di mana warganya lebih terhubung dengan Ciwidey alih-alih Bandung Barat. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 18:28

Memupuk Kerukunan, Menjaga Keharmonisan

Memupuk kerukunan dan menjaga keharmonisan menjadi keharusan dalam kerangka penguatan tiga pilar utama.

Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi saat menggelar Tradisi Tutup Taun 1957 dan Ngemban Taun 1 Sura 1958, Sabtu 3 Agustus 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 17:02

Ketika Drainase Jalan Menjadi Hazard bagi Pemotor saat Banjir

Drainase jalan seharusnya menjadi solusi saat banjir. Namun dalam beberapa kasus, justru berubah menjadi sumber bahaya tersembunyi bagi pemotor.

Luapan saluran drainase menyebabkan arus banjir deras menggenangi badan jalan di Cianjur. (Sumber: Dok. Satlantas Polres Cianjur)
Beranda 31 Mar 2026, 16:35

Merangkai Kepercayaan Diri Remaja Difabel, Langkah Kecil Menuju Mandiri

Di Percik Insani, remaja difabel belajar membangun kepercayaan diri melalui aktivitas sederhana misalnya memasak hingga bermusik sebagai langkah kecil menuju kemandirian.

Livia bersama teman-temannya berlatih memainkan alat musik untuk membangun kepercayaan diri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 31 Mar 2026, 16:03

Chuan Jianguo, Olokan Sarkastik Warganet China untuk Kamerad Trump

Warganet China menciptakan julukan Chuan Jianguo sebagai bentuk humor politik yang mengkritik dampak kebijakan Donald Trump.

Gambar Chuan Jianguo, Kamerad Donald Trump di Weibo. (Sumber: Weibo)
Sejarah 31 Mar 2026, 14:07

Sejarah Cirebon Dijuluki Kota Udang

Julukan Kota Udang di Cirebon berakar dari sejarah panjang udang rebon sebagai komoditas utama yang membentuk identitas pesisir sejak dulu.

Ilustrasi julukan Cirebon sebagai Kota Udang. (Sumber: Shutterstock)
Beranda 31 Mar 2026, 12:44

Harimau Huru dan Hara, Dua Nyawa yang Melayang di Tengah Ketidakpastian Bandung Zoo

Kematian dua anak harimau di Bandung Zoo mengungkap rapuhnya pengelolaan di tengah konflik berkepanjangan. Di baliknya, muncul pertanyaan besar tentang keselamatan satwa dan masa depan konservasi.

Huru dan Hara mati akibat terinfeksi virus feline panleukopenia. Hara lebih dulu mati pada 24 Maret 2026, disusul Huru pada 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 11:26

Melanjutkan Lebaranomics, Membuka Pintu Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

Lebaranomics telah memompa pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 di angka 5,4–5,5 persen

Ilustrasi kegiatan masyarakat pesisir (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arditya Pramono)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 10:01

Mars Renced Bergema di Lapas Majalengka

D'Renced adalah band yang secara terbuka melalui karyanya akan terus membawa ide, kritik dan gagasan yang berkelanjutan

 (Foto: TIM Media Lapas Kelas II B Majengka)