Sejarah Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, dari Zaman SBY Sampai Bikin Jepang Kecele

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh. (Sumber: KCIC)
Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh. (Sumber: KCIC)

AYOBANDUNG.ID - Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yang kini dikenal sebagai Whoosh atau Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), bukan sekadar pembangunan jalur rel modern. Ia adalah cerita panjang tentang ambisi Indonesia mengejar modernisasi transportasi, tarik-menarik kepentingan geopolitik Asia, serta drama persaingan antara dua raksasa teknologi: Jepang dengan Shinkansen dan China dengan CRH.

Jalur sepanjang 142,3 kilometer ini menjadi proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara. Dengan kecepatan hingga 350 kilometer per jam, waktu tempuh Jakarta-Bandung dipangkas dari tiga jam lebih menjadi hanya sekitar 40 menit. Namun sebelum sampai pada tahap itu, perjalanan sejarahnya penuh liku: dari wacana di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga keputusan mengejutkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang membuat Jepang merasa kecolongan.

Ide kereta cepat Jakarta–Bandung sebenarnya berakar jauh sebelum era SBY. Sejak masa kolonial Belanda, jalur kereta api yang dibangun Staatsspoorwegen pada 1884 sudah menjadi nadi penghubung Jawa Barat. Namun jalur lama sepanjang 173 kilometer itu memakan waktu tiga hingga empat jam. Ketika populasi Jakarta melonjak mendekati 10 juta jiwa dan Bandung 2,5 juta jiwa pada awal 2000-an, kemacetan di jalan tol Cipularang makin kronis. Kerugian ekonomi akibat waktu tempuh panjang dihitung mencapai triliunan rupiah per tahun.

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Inspirasi datang dari Jepang dengan Shinkansen yang sejak 1964 menjadi ikon modernisasi, serta jaringan kereta cepat Eropa. Pemerintah mulai serius menimbang pembangunan kereta cepat pada 2008. Saat itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di bawah Menteri Paskah Suzetta menggandeng Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk melakukan studi kelayakan.

Studi ini sebenarnya bagian dari rencana besar menghubungkan Jakarta–Surabaya lewat jalur kereta cepat sepanjang lebih dari 700 kilometer. Namun segmen Jakarta–Bandung diprioritaskan karena jaraknya lebih pendek (142 km) dan potensinya besar sebagai pusat ekonomi.

JICA menggarap studi teknis bersama Japan Railway Technical Service (JARTS) dan Yachiyo Engineering Co. Ltd. Mereka meneliti aspek konstruksi, rute, kondisi tanah, perpajakan, hingga potensi pengguna. Hasil awal pada 2008 memperkirakan kecepatan kereta 210 km/jam, kemudian naik menjadi 300 km/jam dalam laporan 2015. Biaya investasi diperkirakan mencapai Rp58,1 triliun dengan skema public-private partnership (PPP).

JICA juga merekomendasikan pembangunan stasiun modern di Halim (Jakarta) dan Tegalluar (Bandung), lengkap dengan pusat perbelanjaan dan kawasan bisnis, meniru konsep stasiun Shinkansen di Tokyo dan Osaka.

SBY memasukkan proyek ini dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011–2025, yang mengalokasikan infrastruktur sebagai pilar utama dengan nilai Rp4.000 triliun. Jepang pun semakin intens melobi.

SBY dan ni Yudhoyono foto bersama mantan PM Jepang Shinzo Abe dan Akie Abe pada 2013. (Sumber: Twitter @SBYudhoyono)
SBY dan ni Yudhoyono foto bersama mantan PM Jepang Shinzo Abe dan Akie Abe pada 2013. (Sumber: Twitter @SBYudhoyono)

Tapi tantangan muncul. Anggaran negara saat itu terbebani subsidi BBM hingga Rp200 triliun per tahun. Kritik publik mempertanyakan kelayakan finansial karena biaya sangat besar. Isu lingkungan juga mencuat, terkait potensi dampak terhadap hutan lindung di Jawa Barat. Di penghujung masa SBY, proyek ini tak kunjung dieksekusi, kalah prioritas oleh pembangunan MRT Jakarta dan agenda politik menjelang Pemilu 2014.

Baca Juga: Sejarah Stadion GBLA, Panggung Kontroversi yang Hampir Dinamai Gelora Dada Rosada

Jokowi Sambut China, Tendang Jepang

Ketika Jokowi terpilih sebagai presiden pada 2014, proyek kereta cepat kembali masuk agenda utama. Jokowi sejak awal membawa citra sebagai “Presiden Infrastruktur”, dengan visi mempercepat pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandara, hingga kereta modern.

Jepang merasa punya keunggulan moral dan teknis karena sudah lebih dari enam tahun menggarap studi. Proposal mereka datang lengkap dengan perhitungan detail dan teknologi Shinkansen yang terbukti andal. Namun ada ganjalan: Jepang meminta adanya jaminan dari pemerintah Indonesia agar risiko proyek ditanggung negara.

Bagi Jokowi, yang ingin menggenjot infrastruktur tanpa menambah beban APBN, ini sulit diterima. Di saat itulah, Tiongkok masuk dengan tawaran agresif.

Pada 2015, China mengajukan proposal senilai sekitar 5,5 miliar dolar AS, lebih murah dibanding tawaran Jepang yang mencapai 6,2 miliar dolar AS. Lebih dari itu, China Development Bank siap memberikan pinjaman jangka panjang tanpa jaminan dari pemerintah Indonesia. Mereka juga menjanjikan konstruksi cepat, teknologi modern, dan transfer keterampilan.

Joko Widodo dengan Presiden China Xi Jinping di Hotel Apurva Kempinski Bali, 2022. (Sumber: Biro Setpres)
Joko Widodo dengan Presiden China Xi Jinping di Hotel Apurva Kempinski Bali, 2022. (Sumber: Biro Setpres)

Persaingan pun berubah menjadi drama diplomasi. Jepang yang sejak lama memandang Indonesia sebagai mitra strategis, kaget melihat keberanian Beijing. Media Jepang menyebut keputusan Indonesia berpindah ke China sebagai “pengkhianatan”. Perdana Menteri Shinzo Abe bahkan menyatakan kekecewaan terbuka.

Ironisnya, studi kelayakan JICA yang detail justru menjadi rujukan bagi tim China. Jepang merasa hasil kerja bertahun-tahun dipakai kompetitor untuk melengkapi proposalnya.

Ujungnya, pada 16 Oktober 2015, pemerintah meresmikan berdirinya PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), sebuah perusahaan patungan antara konsorsium BUMN Indonesia—PT KAI, PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, dan PTPN VIII—dengan China Railway International Co. Ltd.

Baca Juga: Reaktivasi Rel Kereta Bandung-Ciwidey: Dulu Belanda Bisa, Kini Hanya Bisa Berwacana

Hanya tiga bulan berselang, pada 21 Januari 2016, Jokowi melakukan groundbreaking di Cikalong Wetan, Bandung Barat. Momen itu menjadi simbol dimulainya proyek kereta cepat pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.

Sejak saat itu, proyek berjalan dengan segala dinamika: pembengkakan biaya, perubahan rute, masalah lahan, hingga perdebatan politik. Namun yang jelas, keputusan Jokowi memilih China membuat Jepang “kecele”. Shinkansen yang selama ini dianggap calon tunggal akhirnya kalah oleh paket finansial dan strategi Belt and Road Initiative dari Beijing.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)