Lembang Tempo Dulu

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)

Kawasan Lembang yang kita kenal sekarang adalah sebagai destinasi wisata di utara Bandung yang cukup terkenal. Sebut saja berbagai tempat wisata kekinian, cafe–cafe nuansa hutan yang eksotis hingga wisata kuliner yang menggiurkan.

Namun, selain itu juga pembangunan wisata akan terus menerus menjamur di Lembang setelah dimulai pembangunan wisata terpadu di lahan bekas Grand Hotel Lembang yang legendaris itu menjadi kawasan hiburan kekinian yang sudah pasti akan merubah kawasan Lembang menjadi kawasan yang semakin ramai saja.Imbasnya ya sudah pasti adalah kemacetan dan minimnya kawasan resapan yang mengakibatkan banjir di sejumlah  titik apabila memasuki musim penghujan.

Tapi tahukah kalian semua, dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa yang nantinya di ekspor oleh VOC ke kawasan Eropa. Dalam sebuah jurnal yang berjudul An Early List of Villages, Village heads, Familie, Tribute and Earning in Priangan, West Java 1680 atau Daftar Awal Desa, Kepala Desa, Keluarga, Upeti dan Pendapatan di Priangan, Jawa Barat 1680, pada halaman 11 dikatakan bahwa pada tahun 1680, kawasan Lembang memiliki 5 rumah besar dan dikepalai oleh satu orang cutak atau kepala dusun yang bernama Singamarta, dan mereka memberikan upeti kepada VOC.

Upeti yang dimaksud bukan hal–hal yang dekat dengan Lembang masa sekarang, seperti hasil peternakannya dan hasil pertaniannya namun, upeti yang diberikan kepada VOC pada tahun 1680 dari Lembang adalah bunga pohon Kesumba Keling.  Bunga kesumba keling  dahulunya tumbuh sangat subur di utara Lembang. Bunganya mengandung pigmen karotenoid biksin yang dapat menghasilkan warna kuning, orange dan magenta secara alami.  Bunga kesumba inilah yang diincar VOC untuk nantinya dikirim ke Eropa guna mewarnai kain – kain yang akan menjadi gaun – gaun wanita kelas atas Eropa.

Setelah saya meriset hal ini lebih dalam lagi, ditemukanlah bahwa kawasan utara Lembang tersebut adalah kawasan kampung Cilameta, tepatnya sekarang berada tidak jauh dari puncak Jayagiri, mungkin yang suka trekking ke puncak Jayagiri sudah tidak asing dengan kawasan ini. Dahulu di sana terdapat sebuah dusun yang cukup ramai.

Pada masa VOC ramai karena upeti khasnya, dan pada masa budi daya kina, ramai karena dijadikan tempat pemisahan batang dan kulit kina, hingga warga lokal sering menyebutnya sekarang dengan kawasan pabrik kulit, ternyata kulit yang dimaksud itu adalah kulit kina. Sayangnya desa Cilameta ini harus punah dan warganya kebanyakan menyebar ke arah selatan mendekati kawasan perekonomian dan alun – alun Lembang sebagai pusatnya. 

Kampung Cilameta masa kolonial. (Sumber: Koleksi keluarga Billy Janzs)
Kampung Cilameta masa kolonial. (Sumber: Koleksi keluarga Billy Janzs)

Selain itu ditemukan fakta menarik lainnya dari Lembang yaitu tentang arti kata Lembang itu sendiri. Lagi-lagi datanya saya peroleh dari sebuah jurnal berbahasa Belanda yang berjudul  Het Nederlandsche Java Instituut, Javaansche Geographische Namen Als Spiegel Van De Omgeving En De Denkwijkze Van Het Volk. Pada halaman 3 dijelaskan bahwa diberi nama Lembang adalah karena dikawasan Lembang dahulu banyak sekali ditemukan sejenis rumput yang disebut rumput Lembang. 

Rumput Lembang dalam bahasa Inggris dikenal dengan Bulrush atau Cattail, dan dalam bahasa Indonesia sering disebut tanaman Lidi Air. Nama ilmiah dari rumut ini adalah Typha Latifolia. Dahulu ketika masa kolonial jenis rumput ini banyak ditemukan di kawasan bukit Bosscha sekarang, kawasan Baru Ajak hingga sungai – sungai kecil yang bermuara hingga ke kawasan Situ Umar, yang sekarang berubah menjadi kawasan wisata kekinian Floating Market Lembang.

Dari kedua jenis tumbuhan di atas yaitu kesumba keling dan rumput Lembang dapat diambil kesimpulan bahwa, dahulu Lembang merupakan kawasan hijau dan menyimpan aneka macam tumbuhan alami dengan berbagai kisah yang nyaris dilupakan. Mirisnya, kedua jenis tumbuhan yang menyimpan kisah sejarah akan Lembang tempo dulu tersebut sekarang nyaris tidak ditemukan lagi di Lembang.

Pohon kesumba keling tidak dapat ditemukan lagi di hutan Jayagiri, karena eksploitasi kawasan yang semakin parah. Dan, sama pula dengan nasib rumput Lembang yang tidak ditemukan sama sekali di kawasan yang dahulu banyak ditemukan. Pernah sesekali saya melihat rumput Lembang tersebut di kawasan hutan Tangkuban Parahu, yaitu di kawasan menuju kawah upas, namun karena sekarang kawasan tersebut semakin viral oleh pendakian,   saya belum sempat mengeceknya kembali.

Dari hal di atas dapat disimpulkan bahwa Lembang adalah kawasan yang telah banyak bersalin rupa.  Lembang yang kita kenal sekarang adalah Lembang yang telah banyak melalui rangkaian kisah.

Baca Juga: Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Saya akan mulai memperkenalkannya kepada para pembaca semuanya masa lalu Lembang yang unik, dari mulai masuknya pengelolaan perkebunan teh, kopi dan kina di masa tanam paksa, masa masuknya orang–orang Afrika Selatan yang nantinya akan memberikan torehan sejarah tentang perkembangan pertanian sayuran dan peternakan; yang secara tidak langsung mengajarkan kita sejarah sayur mayur dan susu yang umum terdapat di meja makan kita hari ini adalah rangkaian kisah panjang yang dahulu dimulai di tanah Lembang, dan kisah menarik Lembang lainnya yang merupakan kawasan tempat menyerahnya Hindia Belanda kepada Jepang; yang apabila dalam buku sejarah di sekolah kita hanya diberi tau bahwa Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, Subang, padahal itu adalah rangkaian kisah panjang dan berliku yang ada di tanah Lembang.  

 Semoga bermanfaat dan salam kenal untuk semua pembaca, salam sejarah dari Lembang! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Agu 2026, 19:10

Festival Film Bandung: Konsisten Merawat Apresiasi Perfilman Indonesia

Festival Film Bandung bukan sekadar seremoni tahunan. Selama hampir empat dekade, FFB telah menjadi bagian dari perjalanan perfilman Indonesia.

Para penerima Penghargaan Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2026 berfoto bersama usai acara penganugerahan. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 17:37

Selamat Tinggal Terminal Cicaheum, Selamat Tinggal ‘Warnas Bi Yayah’ dan ‘JPO Preman Pensiun’

Terminal ini dilekatkan dengan tokoh-tokoh preman jalanan, pencopet, hingga aktivitas terminal sehari-hari di Bandung.

Warung nasi Bi Yayah. Ya, yang kedua, warung nasi milik Yuli Yumiati atau yang memerankan tokoh Bi Yayah di sinetron “Preman Pensiun” ikut terkenal seiring popularitas sinetron ini. (Sumber: Facebook)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 15:18

Jejak 'Mak Nyus' Sunda di Ibu Kota: Telaah Historis dan Kurasi Kuliner Jawa Barat Pilihan Bondan Winarno

Masakan Sunda bukan sekadar hidangan pelengkap, melainkan bagian penting dari identitas rasa yang turut membentuk selera masyarakat metropolitan.

Hidangan dari Dapur Sunda, Jl. Cipete Raya No.13, Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan. (Sumber: Google Review | Foto: merry silviani)
Sejarah 26 Agu 2026, 13:54

Sejarah Gedung Sate Bandung, Jejak Kolonial yang Bertahan Lebih dari Seabad

Gedung Sate dibangun pada 1920 sebagai pusat pemerintahan kolonial. Simak sejarahnya hingga menjadi ikon Jawa Barat.

Baris berbaris serdadu wanita KNIL di area Gedung Sate pada tahun 1949. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 26 Agu 2026, 12:42

Jelajah Goa Sunyaragi, Labirin Batu Karang di Jantung Kota Cirebon

Jelajahi Goa Sunyaragi Cirebon, kompleks bersejarah dengan lorong batu karang, arsitektur unik, tiket masuk, dan tips berkunjung.

Wisata Goa Sunyaragi Cirebon. (Sumber: Instagram @goasunyaragi)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 12:23

Peringkat Nabi Muhammad saw. Dalam Kasus Tabloid Monitor Tahun 1990

Kisah tahun 1990 ini, berawal dari survei 50 tokoh yang dikagumi oleh pembaca tabloid Monitor dan memunculkan demonstrasi masyarakat

Klarifikasi dan permintaan Tabloid Monitor atas edisi 15 Oktober 1990 yang kontroversial. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 10:28

Pasar Baru Bandung dan Penyakit 'Kota Branding'

Upaya pem-branding-an memang penting. Kota perlu dikenal. Kawasan perlu memiliki daya tarik. Tetapi, branding hanyalah lapisan paling luar dari sebuah ekosistem. 

Pasar Baru Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Regia Ramadhina Revalgian/Magang)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 08:44

Jika Pohon-Pohon di Kalimantan Bisa Bernyanyi dan Hewan di Dalamnya Bisa Bicara

Manusia seringkali lupa bahwa di bumi ini mereka hidup tidak sendirian melainkan berdampingan dengan mahluk hidup lainnya yang juga harus dijaga kelestariannya.

Orang utan di hutan Kalimantan. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Morgan)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 07:38

Nama, Doa, dan Ikhtiar

Yang membuat nama menjadi bermakna bukan hanya rangkaian hurufnya. Ada harapan orang tua, perjalanan hidup yang mengiringinya, dan tanggung jawab pemilik nama untuk menjadikan doa sebagai kehidupan.

Ilustrasi nama orang sunda yang sudah hampir punah. (Sumber: Pixabay by Pexels)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 18:01

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Produksi semen konvensional menyumbang emisi karbon dunia secara signifikan. Penggunaan bubuk basalt dapat menggantikan sebagian porsi semen konvensional tanpa merusak karakteristiknya.

Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)