TPS Gedebage Olah Sampah Organik, 14 Ton per Hari Berubah Jadi Kompos

3 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Pengolahan sampah organik di di TPS Gedebage menjadi kompos. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pengolahan sampah organik di di TPS Gedebage menjadi kompos. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Pengelolaan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kota Bandung, terutama di tengah keterbatasan daya tampung tempat pembuangan akhir. Di balik upaya tersebut, Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Gedebage menjadi salah satu simpul penting yang bekerja senyap menahan laju timbunan sampah harian kota.

Aroma tidak sedap dan tumpukan sampah yang menunggu untuk diolah dan dipilah menjadi pemandangan awal saat memasuki TPS Gedebage, Bandung. Lalu lalang mobil pengangkut sampah dan suara mesin gibrik turut menggambarkan roda aktivitas yang nyaris tak pernah berhenti di TPS Gedebage ini.

Saat ditetapkan status Darurat Sampah pada 2023 lalu, Kota Bandung masih bergelut dengan persoalan pengelolaan sampah yang volumenya melebihi kapasitas, jika hanya mengandalkan tempat pembuangan utama di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.

Pengolahan Sampah di TPS Gedebage, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pengolahan Sampah di TPS Gedebage, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Untuk membantu mengurangi beban pengelolaan sampah di TPA Sarimukti, TPS Gedebage berperan mengelola sampah yang berasal dari Pasar Induk Gedebage, beberapa kecamatan seperti Kecamatan Mekarmulya, serta hasil sapuan jalan. TPS ini memiliki kapasitas yang mampu menampung total 25–28 ton sampah per hari.

“Sudah sangat melebihi (target). Targetnya tuh kita 18 ton per hari dari DLH (Dinas Lingkungan Hidup) itu,” ucap Pengawas Lapangan TPS Gedebage, Aditya Ramandika, saat diwawancarai pada (25/12/25).

Aditya menambahkan, dari 25-28 ton sampah yang diolah, 14 ton di antaranya menjadi kompos dan sisanya residu.

Pengelolaan sampah di TPS Gedebage dilakukan melalui dua sistem, yaitu biodrying dan biodigester. Hasil dari pengolahan sampah tersebut kemudian dimanfaatkan menjadi kompos.

“Sesuai dengan surat tugasnya, kita mengelola sampah organik menjadi kompos. Tidak boleh ada yang dibuang dan dibakar,” tambah Aditya.

Direktur Operasional TPS Gedebage, Rudi Setia Jumara, menjelaskan bahwa penggunaan kedua sistem ini dinilai lebih efisien, terutama dari segi waktu yang dibutuhkan dalam proses pengolahan.

Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Gedebage, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Gedebage, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Sampah yang dibuat kompos kalau tanpa metode ini bisa sampai 1 bulan atau 26 hari lebih. Kalau pakai metode biodrying bisa 6 hari sudah jadi,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, proses pengolahan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kesiapan perangkat teknis yang tersedia di lokasi.

“Kita punya 7 mesin. Cuma yang difungsikan saat ini 4 mesin, karena (yang lainnya) belum dioptimalkan,” ucap Aditya.

Pengolahan sampah di TPS Gedebage yang hasil akhirnya berupa produk kompos ini sebagian dijual kepada perusahaan atau pemerintah, dan sebagian lainnya dapat diambil secara cuma-cuma oleh petani maupun warga sekitar.

“Untuk yang berkontrak kita jual per karung 30 kilo itu Rp. 23.000. Kalau buat masyarakat dan petani silakan ambil saja asal bawa karung sendiri,” ucap Rudi.

Namun demikian, persoalan lain justru muncul pada tahap distribusi hasil produksi kompos yang belum sepenuhnya terserap.

Aditya menyampaikan, “Yang jadi masalah kita sekarang ini kita punya 1.300 ton kompos di gudang yang belum terserap,” ucap dia.

“Dari situlah kita membutuhkan peran pemerintah dan pihak terkait lah yang harus support mau memanfaatkan kompos kita ini,” jelasnya.

Di sisi lain, kelancaran proses produksi kompos di lapangan juga masih menemui tantangan besar, terutama pada tahap awal pemilahan sampah yang memakan durasi cukup lama.

“Buat warga, saya mohon dengan sangat (sampah nya) minta dipilah antara organik sama anorganik. Biar kita pengolahannya bisa lebih cepat. Soalnya waktu kita habis itu di pemilahan,” ujar Rudi.

TPS Gedebage mampu menampung total 25-28 ton sampah per hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
TPS Gedebage mampu menampung total 25-28 ton sampah per hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Harapan para pengelola TPS ini menunjukkan bahwa efektivitas pengolahan sampah bukan hanya bergantung pada kerja mesin, tetapi juga pada integrasi peran aktif masyarakat dan dukungan kebijakan dari para pemangku kepentingan.

Rudi menyampaikan, “Kalau buat Pemkot Bandung minta bantuannya infrastruktur bangunan dan akses jalan menuju ke sini,” ucapnya.

“Lebih diperhatikan lagi, karena sampah ini (tanggung jawab) pemerintah dan semua elemen masyarakat yang harus turut andil,” tutup Aditya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)