TPS Gedebage Olah Sampah Organik, 14 Ton per Hari Berubah Jadi Kompos

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 30 Des 2025, 11:37 WIB
Pengolahan sampah organik di di TPS Gedebage menjadi kompos. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Pengolahan sampah organik di di TPS Gedebage menjadi kompos. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Pengelolaan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kota Bandung, terutama di tengah keterbatasan daya tampung tempat pembuangan akhir. Di balik upaya tersebut, Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Gedebage menjadi salah satu simpul penting yang bekerja senyap menahan laju timbunan sampah harian kota.

Aroma tidak sedap dan tumpukan sampah yang menunggu untuk diolah dan dipilah menjadi pemandangan awal saat memasuki TPS Gedebage, Bandung. Lalu lalang mobil pengangkut sampah dan suara mesin gibrik turut menggambarkan roda aktivitas yang nyaris tak pernah berhenti di TPS Gedebage ini.

Saat ditetapkan status Darurat Sampah pada 2023 lalu, Kota Bandung masih bergelut dengan persoalan pengelolaan sampah yang volumenya melebihi kapasitas, jika hanya mengandalkan tempat pembuangan utama di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.

Pengolahan Sampah di TPS Gedebage, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pengolahan Sampah di TPS Gedebage, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Untuk membantu mengurangi beban pengelolaan sampah di TPA Sarimukti, TPS Gedebage berperan mengelola sampah yang berasal dari Pasar Induk Gedebage, beberapa kecamatan seperti Kecamatan Mekarmulya, serta hasil sapuan jalan. TPS ini memiliki kapasitas yang mampu menampung total 25–28 ton sampah per hari.

“Sudah sangat melebihi (target). Targetnya tuh kita 18 ton per hari dari DLH (Dinas Lingkungan Hidup) itu,” ucap Pengawas Lapangan TPS Gedebage, Aditya Ramandika, saat diwawancarai pada (25/12/25).

Aditya menambahkan, dari 25-28 ton sampah yang diolah, 14 ton di antaranya menjadi kompos dan sisanya residu.

Pengelolaan sampah di TPS Gedebage dilakukan melalui dua sistem, yaitu biodrying dan biodigester. Hasil dari pengolahan sampah tersebut kemudian dimanfaatkan menjadi kompos.

“Sesuai dengan surat tugasnya, kita mengelola sampah organik menjadi kompos. Tidak boleh ada yang dibuang dan dibakar,” tambah Aditya.

Direktur Operasional TPS Gedebage, Rudi Setia Jumara, menjelaskan bahwa penggunaan kedua sistem ini dinilai lebih efisien, terutama dari segi waktu yang dibutuhkan dalam proses pengolahan.

Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Gedebage, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Gedebage, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Sampah yang dibuat kompos kalau tanpa metode ini bisa sampai 1 bulan atau 26 hari lebih. Kalau pakai metode biodrying bisa 6 hari sudah jadi,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, proses pengolahan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kesiapan perangkat teknis yang tersedia di lokasi.

“Kita punya 7 mesin. Cuma yang difungsikan saat ini 4 mesin, karena (yang lainnya) belum dioptimalkan,” ucap Aditya.

Pengolahan sampah di TPS Gedebage yang hasil akhirnya berupa produk kompos ini sebagian dijual kepada perusahaan atau pemerintah, dan sebagian lainnya dapat diambil secara cuma-cuma oleh petani maupun warga sekitar.

“Untuk yang berkontrak kita jual per karung 30 kilo itu Rp. 23.000. Kalau buat masyarakat dan petani silakan ambil saja asal bawa karung sendiri,” ucap Rudi.

Namun demikian, persoalan lain justru muncul pada tahap distribusi hasil produksi kompos yang belum sepenuhnya terserap.

Aditya menyampaikan, “Yang jadi masalah kita sekarang ini kita punya 1.300 ton kompos di gudang yang belum terserap,” ucap dia.

“Dari situlah kita membutuhkan peran pemerintah dan pihak terkait lah yang harus support mau memanfaatkan kompos kita ini,” jelasnya.

Di sisi lain, kelancaran proses produksi kompos di lapangan juga masih menemui tantangan besar, terutama pada tahap awal pemilahan sampah yang memakan durasi cukup lama.

“Buat warga, saya mohon dengan sangat (sampah nya) minta dipilah antara organik sama anorganik. Biar kita pengolahannya bisa lebih cepat. Soalnya waktu kita habis itu di pemilahan,” ujar Rudi.

TPS Gedebage mampu menampung total 25-28 ton sampah per hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
TPS Gedebage mampu menampung total 25-28 ton sampah per hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Harapan para pengelola TPS ini menunjukkan bahwa efektivitas pengolahan sampah bukan hanya bergantung pada kerja mesin, tetapi juga pada integrasi peran aktif masyarakat dan dukungan kebijakan dari para pemangku kepentingan.

Rudi menyampaikan, “Kalau buat Pemkot Bandung minta bantuannya infrastruktur bangunan dan akses jalan menuju ke sini,” ucapnya.

“Lebih diperhatikan lagi, karena sampah ini (tanggung jawab) pemerintah dan semua elemen masyarakat yang harus turut andil,” tutup Aditya.

Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:19 WIB

Kota Bandung dan Krisis Sampah

Kota Bandung kembali berada dalam sorotan publik akibat persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Gunung"sampah di daerah warga jl. buanasari II no.1 , Kota Bandung pada Selasa, 2 Desember 2025. (Foto:Muhammad Fiqri A.)