Radikalisme, Internet, dan Anak Muda?

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Ilustrasi terorisme di media sosial (Sumber: Kompas | Foto: wall street journal)
Ilustrasi terorisme di media sosial (Sumber: Kompas | Foto: wall street journal)

Malam itu, udara di wilayah Bandung Timur terasa lebih dingin dari biasanya. Bekas hujan yang sejak sore mengguyur Cibiru masih tersisa. Genangan air memenuhi jalanan dari Bunderan hingga Puskesmas.

Sambil menunggu hasil print warna tugas Aa Akil, anak kedua yang berusia 10 tahun di foto copian Manisi 45, seorang kawan tiba-tiba bertanya,

“Kenapa tidak menulis tentang aksi bom rakitan yang belajar dari internet di SMAN 72 Jakarta?” celetuknya

“Masih, Kang!” kujawab singkat.

Laki-laki berbadan tegap langsung menimpali, “Mana, kan suka menulis tentang radikalisme, internet, dan anak muda?”

Peledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara. (Sumber: (Pikiran Rakyat, 12 November 2025) | Foto: Istimewa)
Peledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara. (Sumber: (Pikiran Rakyat, 12 November 2025) | Foto: Istimewa)

Tindakan Radikal, Amarah Perundungan

Pengamat terorisme Universitas Malikussaleh Aceh, Al Chaidar, menegaskan kasus ledakan bom rakitan di SMAN 72 Jakarta merupakan peristiwa yang unik. Secara hukum, tindakan ini memang masuk dalam kategori terorisme. Namun, berbeda dari kebanyakan kasus serupa, pelaku tidak terhubung dengan jaringan teror mana pun dan melakukan aksinya secara mandiri.

Menurutnya, radikalisasi berbasis internet umumnya memiliki pola yang jelas. Adanya jaringan yang dikenal, bahan-bahan yang dapat diunduh, komunikasi antara pelaku dan kelompoknya. “Dalam kasus ini, semua itu tidak ditemukan,” ujarnya.

Uniknya, diduga tindakannya lebih berkaitan dengan persoalan psikologis yang tidak terselesaikan. Jika pelaku mengalami perundungan, misalnya, lebih cenderung membalas di tempat yang merasa disakiti. Penggunaan bom sederhana berdaya ledak rendah, menjadi tanda pelaku merasa tidak diperhatikan.

Bagi pengamat terorisme Universitas Indonesia, Solahudin menilai peristiwa itu lebih merupakan moral disengagement through ideological justification, pemutusan ikatan moral yang dibungkus dengan pembenaran ideologis pribadi, bukan aksi teror yang memiliki keterhubungan dengan jejaring radikal. “Aksinya memang mirip teror, tetapi mens rea-nya pribadi, berupa balas dendam, bukan ideologi. Dalam terorisme, motif adalah pembeda utama antara kekerasan kriminal umum dan tindakan terorisme,” jelasnya. (Kompas, Minggu 09 November 2025)

Polisi menetapkan siswa pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta sebagai anak berhadapan dengan hukum (ABH). Hasil penyelidikan Densus 88 menunjukkan pelaku bertindak mandiri tanpa keterkaitan dengan jaringan teror mana pun. Parahnya, selama ini diketahui sering mengakses dark web dan mempelajari cara merakit bahan peledak melalui internet. Dari lingkungan sekolah ditemukan tujuh peledak, empat di antaranya sempat meledak. Penggeledahan rumah pelaku mengungkap sejumlah barang bukti yang memperkuat dugaan seluruh rangkaian aksi dilakukan secara individu.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat pelaku mengalami perubahan perilaku signifikan dalam beberapa bulan terakhir, mulai menjadi tertutup sampai intens mengakses konten bernada radikal di platform digital. Motif pelaku diduga merupakan perpaduan antara emosi pribadi yang tidak tersalurkan dan internalisasi narasi ekstrem dari ruang digital. KPAI merekomendasikan deteksi dini, penguatan dukungan psikososial sekolah, penyempurnaan regulasi penanganan kekerasan sebagai langkah pencegahan paparan ekstremisme pada anak. (Pikiran Rakyat, Rabu 12 November 2025)

Pelaku di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara Sering Nonton Film Ekstrem (Sumber: Instagram | Foto: @sman72jakarta)
Pelaku di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara Sering Nonton Film Ekstrem (Sumber: Instagram | Foto: @sman72jakarta)

Internet Jadi Persemaian Kelompok Radikal

Internet, dalam konteks kekerasan atas nama agama aksi terorisme, kekerasan terhadap minoritas dan kasus konflik antara umat beragama adalah salah satu media yang paling banyak digunakan untuk menyalurkan hasrat demokrasi tersebut. Banyak dari kalangan ekstrimis muslim yang memanfaatkan momen dan media tersebut untuk menyebarkan ideologi jihad mereka. (Jurnal Indo-Islamika, Volume 1, Nomor 2, tahun 2012/1433:197)

Memang segala ide, gagasan radikalisme, terorisme disebarkan dengan mudah memenfaatkan kemajuan teknologi. Di komunitas muslim lahirlah sebutan Islam Virtual. Melalui internet banyak yang menyampaikan penafsiran mereka sendiri tentang Islam dan asas yang berkaitan dengan Islam. Ini memiliki implikasi yang serius dengan adanya macam-macam materi dan perspektif yang tersedia dan secara acak yang dimana informasi ini dapat diakses. Pengalaman pertama seseorang dengan Islam di dunia maya adalah mungkin apa yang dinamakan kelompok skirmatis (terpecah-pecah) organisasi radikal sebagai suatu penefsiran ortodok arus utama. (Gary R Bunt, 2005:5)

Hasil penelitian John Obert Voll tentang jaringan teroris bukan lagi mata rantai terpenting dalam kaiatan dengan transformasikan politik komunitas muslim di seluruh dunia, melainkan jaringan intelektual dan pertukaran ideologi melalui media internet (email).

Salah satu pola aksi terorisme di Indonesia ini menggunakan cyberterrorism, yakni penggunaan komputer dan jaringan internet oleh kelompok teroris dalam melakukan aksinya seperti menggunakan media internet untuk proses radikalisasi, membobol sistem keuangan, sistem pengendalian alat transfortasi seperti kereta api, pesawat terbang.

Imam Samudara, mulai aktif di dunia maya, jelang peledakan Bom II Bali sejak Juni 2005 hingga dipindahkan ke Nusa Kambangan. Pada Bom II Bali, Noordin M. Top dan Abdul Azis membangun situs khusus sebagai medium untuk melakukan mengkoordinasi semua kegiatan yang terkait dalam pelaksanaan aksi teror. Max Fiderman (Agung) membuat situs anshor.net dari kartu kredit. (Agus SB, 2014:6, 19-20 dan Agus SB, 2016:92)

Ilustrasi Ayo Rehat dari Media Sosial (Sumber: ayobandung.com | Foto: Fathia Uqimul Haq)
Ilustrasi Ayo Rehat dari Media Sosial (Sumber: ayobandung.com | Foto: Fathia Uqimul Haq)

Paradoks Dunia Maya, Pusaran Media Sosial

Kekuatan internet terletak pada keparadokskan dan kekontradiksinya. Pasalnya, cyberspace merupakan ruang maya yang dibentuk melalui jaringan antarkomputer. Ketika mengembara di dalamnya kita akan menemukan berbagai panorama yang penuh paradoks dan kontrdiksi; kesenangan-ketakutan, kebaikan-keburukan, keaslian-kepalsuan. Paradoks cyberspace memang sama saja dengan paradoks di dalam dunia nyata, tetapi ia bersifat ekstrem, kuat, langsung, intens.

Jeff Zaleski menyajikan sebuah peta pemikiran di balik cyberspace dengan menampikan berbagai gagasan, termasuk paradoknya dari berbagai cyberist, cyberreligionistis, cyberprogrammers. Mereka optimis terhadap realitas baru cyberspace yang dianggap akan dapat menggantikan realitas yang ada dan dapat menjadi semacam agama baru, spiritualitas baru, Tuhan baru. Di samping itu Zaleski menggambarkan bagaimana sikap fatalis mereka dalam menghadapi berbagai sisi buruk dan menakutkan dari dunia baru.

Pada sisi lain, Zeleski menampilkan peta pengguna cyberspace oleh berbagai kelompok real religionist (Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen, Islam) bagaimana dunia baru ini digunakan sebagai sarana penyebaran ajaran agama, komunikasi antarumat beragama, bahkan sebagai penyalur energi spiritual. Bagaimana cyberspace menjadi sarana yang positif dan efektif bagi realitas keberagamaan di dalam masyarakat global ini.

Mark Slouka, kritikus budaya Amerika sangat sinis terhadap orang di balik teknologi informasi dengan melontarkan kritik pedas terhadap para filsuf dan ideologi yang ada di balik teknologi cyberspace yang menanamkan diri net religionists, orang-orang yang mempunyai obsesi ingin menjadi Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang percaya dunia pikiran dapat dimuat (dibuatkan simulasinya) dalam komputer. Percaya masa depan manusia tidak berada di RL (Real Life) tetapi dalam berbagai bentuk VR (Virtual Reality). Cyberspace merupakan sebuah bentuk lebih tinggi daripada spiritualitas. Mereka melalui teknologi komputer seakan-akan menciptakan semacam gerakan kenabian menurut versi mereka.

Dalam kondisi demikian, sebagimana yang dikatakan oleh Hakim Bey di dalam The Information War, Media (cyberspace) mengambil alih peran agama (pendeta). Dalam tugasnya memberi manusia petunjuk jalan keluar dari tubuh dengan cara mendefinisikan ulang ruh sebagai informasi. Padahal hakikatnya informasi di dalam cyberspace merupakan image yang wujud abstraknya merampas keutamaan prinsip tubuh dan menghentikannya dengan prinsip ekstasi tanpa tubuh. (Yasraf Amir Piliang, 2011:255-266 dan 278)

Gerakan radikalisme Islam yang menyeruak di jejaring virtual (facebook, youtube, twitter, instagram, dan whatsapp) telah menjadi ruang bagi cara baru untuk melakukan propaganda, perekrutan, pelatihan, perencanaan, ajakan pendirian Khilafah Islam.

Strategi kekinian yang terus dipraktikkan “para pembela Islam” ini sangat mempengruhi cara berfikir masyarakat Muslim. Pasalnya, mereka secara aktif menggunakan media sosial dengan menargetkan anak-anak muda sebagai mayoritas warga di jejaring sosial (netizen). (Jurnal Afkaruna, Vol 11, No 2 (2015): Juli - Desember 2015:240-259)

Saat asyik membaca lembar demi lembar buku Radikalisme di Media Sosial (Islami Digital Indonesia: 2023) yang ditulis secara serius oleh Muhammad Nuruzzaman, tiba-tiba Anak ketiga, Kakang (4 tahun) memanggil “Bah Bacain cerita Nabi Ibrahim ya!” Cag Ah! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)