AYOBANDUNG.ID - Di tengah arus perubahan media sosial yang kian deras dan beragam, akun Instagram @infoantapani hadir dengan caranya sendiri. Akun ini tidak ingin dipandang sebagai media yang semata-mata mengutamakan kecepatan, namun juga tidak memilih gaya bahasa yang saklek, kaku, atau terlalu formal.
Sejak awal, @infoantapani lahir dari sisi paling personal—bersifat lokal dan terasa dekat dengan warganya. Akun ini digagas oleh sang owner sekaligus founder, Venda Setya Nugraha (34), warga Antapani yang berinisiatif mendirikan @infoantapani pada 2014. Awalnya, akun ini dimaksudkan sebagai wadah informasi warga sekaligus “homeless media” yang bertujuan mempermudah arus informasi di kawasan Antapani.
Berangkat dari hobi memotret dan keinginan menyimpan berbagai momen yang tertangkap lensa kameranya, Venda kemudian membuka akun Instagram sebagai ruang berbagi. Seiring waktu, akun tersebut berkembang dan kini menjadi salah satu rujukan informasi warga Antapani.

“Dulu, setiap habis foto-foto suka bingung mau simpan di mana. Akhirnya banyak yang cuma jadi sampah digital di laptop,” ujar Venda, menjelaskan alasan awal dirinya memilih Instagram sebagai medium berbagi. Dari situlah @infoantapani resmi lahir sebagai proyek personal, sekaligus ruang gerak pribadinya dalam membagikan informasi seputar Antapani.
Bermodalkan pemahaman dasar ilmu desain serta pengalamannya sebagai desainer grafis, Venda merancang tampilan @infoantapani sesuai dengan visinya. Mulai dari desain, tata letak visual, hingga logo—yang terinspirasi dari salah satu ajang bergengsi, Japan International Film Festival—semuanya dikerjakan sendiri.
Menurut Venda, @infoantapani menjadi wadah ideal untuk menyalurkan berbagai konten yang menarik perhatian warga. Kontennya pun beragam, mulai dari informasi kuliner, tempat baru di Antapani, lowongan pekerjaan, laporan kehilangan barang, hingga daftar lokasi yang dulu sempat dikenal namun kini telah hilang dari lanskap Antapani masa kini.
Sentuhan personal menjadi ciri khas utama @infoantapani. Akun ini tidak dipaksakan untuk beradaptasi atau menyerupai gaya akun informasi daerah lain. Justru, Venda sengaja menjaga jarak dari pola visual dan gaya penyajian feeds maupun story yang lazim digunakan akun sejenis.
“Sejak awal, komposisi @infoantapani memang ditujukan sebagai akun infotainment. Pembagiannya kira-kira 20 persen informasi dan 80 persen hiburan. Kontennya harus terasa menghibur atau setidaknya membantu warga Antapani mencari informasi ringan sehari-hari,” jelasnya.
Pilihan tersebut diambil berdasarkan pengamatan pribadi terhadap karakter media yang ia bangun. Venda menyadari betul bahwa akun yang ia kelola secara mandiri ini bukanlah media yang berpijak pada kaidah jurnalistik secara utuh.
Ia mengaku hanya mendalami jurnalistik foto dari waktu ke waktu. Namun, justru di situlah nilai adaptif dan daya bertahan menghadapi perkembangan zaman menjadi bagian penting dalam perjalanannya.
Kehadiran @infoantapani juga tidak dimaksudkan untuk menjadi “segala-galanya” bagi semua segmen audiens. Venda menegaskan, akun ini dirancang sebagai ruang yang aman, ringan, dan akrab—agar warga Antapani bisa semakin dekat serta mengenal lingkungannya sendiri.

Meski begitu, isu sensitif tidak serta-merta dihindari. Venda menjelaskan bahwa dirinya tidak ragu mengangkat isu-isu tersebut, selama proses kurasi informasi dilakukan dengan jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kurasi yang dimaksud mencakup pengecekan langsung kepada pihak yang mengirim informasi melalui pesan langsung (DM). Informasi tersebut kemudian diperdalam lewat komunikasi lanjutan, disertai data dan keterangan pendukung sebelum dipublikasikan.
Untuk peristiwa yang bersifat mendadak atau sulit diprediksi, Venda memilih turun langsung ke lokasi kejadian guna memastikan kebenaran informasi. Ia mengaku senang jika @infoantapani dapat terus menjadi perantara informasi bagi warga Antapani saat ini.
Perjalanan membangun akun ini tentu tidak selalu mulus. Salah satu pengalaman pahitnya terjadi saat ia tanpa sengaja me-repost sebuah isu sensitif yang kemudian menyinggung aparat tertentu.
“Waktu itu pernah salah sasaran. Saya me-repost isu sensitif, dan yang didatangi justru saya, bukan akun pertama yang mengunggahnya,” tuturnya.
“Alhamdulillah, semuanya berakhir secara kekeluargaan. Dari akun ini juga, koneksi saya jadi luas dan sempat mendapat pembelaan di saat dibutuhkan,” lanjut Venda.
Setelah 12 tahun mengelola @infoantapani, kendala terbesar yang ia rasakan adalah pengaturan waktu dan energi. Pasalnya, ia mengelola akun ini seorang diri tanpa bantuan tim. Tak jarang, kritik muncul dari warga yang merasa informasi yang diunggah kurang lengkap.
“Dulu sempat punya tim, tapi lama-lama saya lebih nyaman bekerja sendiri. Jadi lebih leluasa menentukan arah konten. Kalau ada komplain dari warga, ya dimaklumi saja,” ujarnya. Bagi Venda, respons tersebut merupakan bagian dari umpan balik atas konten yang ia bagikan.
Dalam upaya meningkatkan engagement, Venda membangun ikatan emosional dengan audiens melalui konten-konten personal seputar lingkungan Antapani. Salah satunya dengan menghadirkan konten nostalgia dan rekomendasi. Dari interaksi itulah, peluang monetisasi dan kerja sama perlahan muncul.
“Paid promote biasanya dua kali seminggu. Dalam sebulan hampir pasti ada saja tawarannya. Selain itu, ada juga kerja sama berbentuk kontrak tahunan,” jelasnya. Untuk konten berbayar, sebagian besar pihak menghubunginya langsung melalui DM atau nomor pribadi.
Sementara untuk kerja sama jangka panjang, Venda memilih aktif “menjemput bola”—mulai dari menyusun pitch deck, melakukan presentasi, hingga bernegosiasi harga yang disepakati kedua belah pihak.
Penentuan harga pun disesuaikan dengan segmentasi brand yang bekerja sama. Tidak semata soal nominal, @infoantapani juga memberi ruang bagi pelaku UMKM dengan skema pembayaran yang disesuaikan dengan kelas usahanya.
Venda menambahkan, setiap kerja sama dapat dikolaborasikan secara utuh. Salah satu contohnya saat @infoantapani terlibat dalam Event Antapani Run pada Desember 2025. Dalam acara tersebut, berbagai brand yang bekerja sama mendapat peran masing-masing untuk mendukung jalannya acara.
Bagi Venda, @infoantapani akan terus bertahan sebagai rumah informasi warga Antapani. Akun ini diharapkan mampu menjadi penopang informasi paling ringan dan dekat—hal-hal yang kerap dianggap sepele, namun sejatinya bernilai bagi kehidupan warga.
Bukan semata soal algoritma atau pertumbuhan pengikut, melainkan tentang kehadiran yang utuh: menyampaikan informasi dengan rasa, kedekatan, dan ruang personal sebagai identitas utamanya.
