Sejarah Stadion Sidolig, Saksi Bisu Perjuangan Sepak Bola Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Pertandingan antara SIDOLIG dengan de Militaire Gymnastiek- en Sportschool. (Sumber: KITLV)
Pertandingan antara SIDOLIG dengan de Militaire Gymnastiek- en Sportschool. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Sebelum menjadi tempat latihan Persib, Sidolig adalah panggung kecil dari ketimpangan sosial di Hindia Belanda. Rumputnya dirawat untuk sepatu kulit orang Eropa, sementara pribumi hanya boleh menonton dari luar pagar. Tapi dari “lapangan orang Belanda” itulah muncul satu hal yang tidak bisa mereka larang: gairah menendang bola. Dan seperti halnya semua gairah yang ditekan, ia kelak berubah jadi bentuk perlawanan paling populer di Bandung.

Letaknya di Jalan Ahmad Yani, di antara deru lalu lintas dan aroma mi kocok yang dijajakan di kawasan ruko. Sebagai salah stau rumah bagi sepak bola Bandung, Sidolig menyimpan sesuatu yang lebih tua dari sepak bola itu sendiri: sejarah panjang tentang kekuasaan, diskriminasi, dan perlawanan yang dibungkus dalam bentuk permainan sebelas lawan sebelas.

Jejak nama Sidolig sekilas punya nuansa Sunda yang berasal dari imbuhan si. Padahal itu singkatan dari kalimat Belanda Sport in de Openlucht is Gezond, yang kalau diterjemahkan berarti “berolahraga di udara terbuka itu sehat.” Ironis, karena dulu udara Sidolig hanya boleh dihirup oleh orang Belanda dan Eropa. Pribumi? Cukup lihat dari luar pagar.

Baca Juga: Jejak Sejarah Bandung Dijuluki Kota Kembang, Warisan Kongres Gula 1899

Ceritanya dimulai lebih dari seabad lalu. Tahun 1903, Bandung masih kota kecil dengan trem dan taman-taman yang disukai orang Eropa. Di salah satu sekolah dasar khusus anak Belanda, Europeesche Lagere School (ELS), sekelompok murid yang bosan belajar bahasa Latin mendirikan klub sepak bola bernama Sidolig. Dipimpin oleh Oscar Veer, mereka mencari lapangan untuk bermain.

Pada awalnya klub ini main bola di Alun-Alun Bandung. Setelah diusir karena terlalu berisik, pindah ke Lapangan Gereja (yang sekarang jadi kompleks Bank Indonesia), lalu ke Lapangan Jalan Jawa dekat Bala Keselamatan. Baru pada 1905, mereka mendapat lapangan tetap di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jalan Ahmad Yani. Lapangan itu dikelola oleh Frans Sidolig, seorang arsitek Belanda yang juga ikut mendirikan klub.

Di masa itu, sepak bola bukan milik semua orang. Stadion Sidolig berada di bawah kendali Voetbal Bond Bandoeng en Omstreken (VBBO), federasi sepak bola untuk kalangan Belanda dan Eropa. VBBO ini semacam liga eksklusif tempat orang kulit putih bermain, dan orang kulit sawo matang hanya boleh menonton dari luar pagar. Kalau nekat masuk, siap-siap diusir.

Bayangkan: di satu sisi, orang-orang Belanda berlarian dengan sepatu kulit di lapangan hijau. Di sisi lain, anak-anak pribumi berdesakan di balik pagar, menonton dan belajar diam-diam bagaimana cara menendang bola. Dari pagar Sidolig itulah, generasi pertama pemain pribumi Bandung belajar sepak bola.

Sepak bola di Hindia Belanda waktu itu memang aneh. Di Batavia, Surabaya, dan Semarang, juga begitu. Klub-klub Belanda punya lapangan sendiri, lengkap dengan fasilitas. Klub pribumi? Main di lapangan tanah, bola pun kadang dibuat dari kain bekas. Tapi mereka tetap bermain. Sepak bola bagi pribumi kala itu, bukan hanya olahraga. Ia adalah bentuk kebebasan yang bisa dilakukan tanpa izin dari tuan kolonial.

Baca Juga: Sejarah Stadion GBLA, Panggung Kontroversi yang Hampir Dinamai Gelora Dada Rosada

Saksi Sejarah Keemasan Persib Zaman Baheula

VBBO menguasai Sidolig hingga awal 1950-an. Tapi setelah perang dan revolusi meletus, situasinya berubah. Ada catatan minor yang menyebut Sidolig pernah digunakan sebagai tempat penampungan ssnjata pada masa Perang Revolusi. Ada pula keteranab yang menyebut Sidolog pernah jadi saksi peristiwa berdarah pembunuhan serdadu Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).

VBBO, simbol eksklusivitas Eropa, perlahan bubar pada awal 1950-an. Lapangan Sidolig kemudian diambil alih oleh pemerintah daerah Bandung. Baru setelah itulah Sidolig perlahan menjadi “rumah” bagi Persib Bandung. Tak ada catatan pasti kapan Persib mulai resmi bermarkas di sana. Tapi yang jelas, Sidolig menjadi tuan rumah pertandingan internasional pertama Persib pada Mei 1952, melawan klub Aryan Gymkhana dari India. Pertandingan itu berakhir 4–1 untuk Persib, sebuah kemenangan besar di masa awal republik.

Bagi warga Bandung waktu itu, kemenangan tersebut bukan cuma soal olahraga. Itu tentang harga diri. Tentang bagaimana anak-anak pribumi yang dulu hanya menonton di luar pagar Sidolig kini menaklukkan tamu dari negeri jauh, di lapangan yang dulu bukan milik mereka.

Dekade 1960-an dan 1970-an adalah masa-masa romantik Sidolig. Lapangan itu jadi tempat lahir para legenda: Adeng Hudaya, Ade Dana, Sutiono Lamso. Setiap sore, anak-anak dari kampung sekitar datang menonton latihan Persib. Tak jarang mereka duduk di atas pohon atau genteng rumah hanya untuk melihat idola mereka menendang bola.

Ketika Persib meraih gelar juara Liga Indonesia pertama kali pada musim 1994/1995, sebagian besar latihan dilakukan di Sidolig. Lapangan itu mungkin sederhana, tapi punya “aura.” Banyak pemain percaya, berlatih di Sidolig membawa hoki.

Stadion Sidolig dari luar. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Stadion Sidolig dari luar. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Sayangnya memasuki tahun 2000-an, stadion ini mulai tampak renta. Tribunya reyot, ruang ganti sempit, dan drainase lapangan buruk. Kadang kalau hujan deras, lapangan berubah jadi kolam. Tapi Persib tetap bertahan di sana.

Baru pada 2021–2022, pemerintah dan PT Persib Bandung Bermartabat melakukan renovasi besar-besaran. Rumputnya diganti dengan jenis Zoysia matrella, tahan terhadap iklim tropis. Tribun diperbaiki, ruang ganti diperluas, gym kecil dibangun di sisi barat. Lampu-lampu sorot dipasang agar latihan malam lebih nyaman.

Renovasi ini sebenarnya disiapkan untuk Piala Dunia U-20 2023 yang batal digelar di Indonesia. Namun Sidolig tetap dipakai untuk ajang Piala Dunia U-17 dan beberapa pertandingan Piala Presiden.

Kini Sidolig bukan lagi sekadar lapangan latihan. Ia adalah kompleks olahraga dengan sejarah yang hidup. Di balik setiap garis putih di rumputnya, ada jejak masa lalu yang sulit dihapus.

Persib dan Empat Rumahnya

Persib adalah klub dengan banyak rumah. Stadion Siliwangi, Si Jalak Harupat, GBLA, dan Sidolig, semuanya punya kisah sendiri.

Siliwangi adalah rumah tua, tempat Persib bermain sejak era 1930-an sampai 2008. Di sanalah digelar pertandingan-pertandingan penting: Piala AFC 1995 dan laga persahabatan melawan PSV Eindhoven tahun 1987. Tapi kerusuhan suporter pada 2008 membuat Siliwangi kehilangan nyawa.

Pemain Persib berlatih di SIdolig pada 2024. (Sumber: Ayobandung)
Pemain Persib berlatih di SIdolig pada 2024. (Sumber: Ayobandung)

Baca Juga: Sejarah Stadion Si Jalak Harupat Bandung, Rumah Bersama Persib dan Persikab

Si Jalak Harupat di Soreang kemudian mengambil alih. Kapasitasnya besar, sekitar 27 ribu penonton. Tapi jaraknya jauh dari kota. Bobotoh harus menempuh 20 kilometer hanya untuk menonton. Ketika GBLA (Gelora Bandung Lautan Api) dibuka pada 2016, semua berharap itu jadi rumah tetap. Stadion megah dengan arsitektur modern, tapi nasibnya tak selalu baik. Ada retak, rusak, dan beberapa kali ditutup karena masalah perizinan.

Setiap kali Persib kehilangan rumah, Sidolig selalu jadi tempat kembali. Bukan stadion besar, tapi selalu siap menerima. Kadang latihan tertutup, kadang terbuka, tapi selalu ramai. Bahkan ketika suporter dilarang datang ke pertandingan karena sanksi, mereka tetap datang ke Sidolig, sekadar melihat pemain latihan atau berfoto di depan pagar.

Sidolig seperti rumah masa kecil. Tidak megah, tapi punya kenangan. Dari sinilah Persib tumbuh. Dari sinilah bobotoh belajar mencintai klubnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)