Jasa Permak Baju di Kosambi Kota Bandung Masih Diminati di Tengah Perubahan Kebiasaan Konsumen

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Minggu 05 Apr 2026, 11:28 WIB
Pelanggan sedang berbincang dengan Andi untuk memperbaiki pakaiannya di kawasan Kosambi, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Pelanggan sedang berbincang dengan Andi untuk memperbaiki pakaiannya di kawasan Kosambi, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Gerimis tipis turun di kawasan Kosambi Kota Bandung, pada Sabtu (3/5) sore sekitar pukul empat. Meski hujan rintik-rintik, aktivitas di sepanjang jalan tetap berjalan.

Di sisi jalan, pedagang kecil membuka lapaknya, dan seorang juru parkir sibuk mengatur kendaraan yang keluar-masuk pertokoan.

Di tengah keramaian itu, deretan tukang jahit pinggir jalan tetap bekerja seperti biasa. Suara mesin jahit mereka berdetak di bawah payung, dan di meja jahit yang kayunya sudah mulai lapuk berserakan gulungan benang aneka warna yang sebagian besar telah kusam tertutup debu knalpot. Mereka mengerjakan celana, kemeja, hingga jaket pelanggan yang menunggu diperbaiki.

Ade (53), atau yang akrab dipanggil Ade Gares di sekitar Kosambi, tampak serius mengerjakan jahitan ketika didatangi. Tangannya cekatan menggerakkan kain di bawah jarum mesin jahit. Ia sudah menjalani pekerjaan ini sejak lama, setelah sebelumnya bekerja di konveksi yang akhirnya bangkrut.

Ade Gares setia menjaga lapak jahitnya sejak 1994, bertahan di tengah perubahan zaman dan kondisi ekonomi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ade Gares setia menjaga lapak jahitnya sejak 1994, bertahan di tengah perubahan zaman dan kondisi ekonomi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Awalnya saya kerja di konveksi. Tapi pabriknya bangkrut. Di pabrik juga ada target jahitan, sementara tenaga saya sudah tidak sekuat dulu. Akhirnya saya memilih menjahit sendiri di sini,” ujarnya.

Ade mengaku mulai membuka jasa jahit di kawasan Kosambi sejak 1994. Setiap hari ia membuka lapaknya dari pukul delapan pagi hingga menjelang magrib. Penghasilannya pun tidak selalu sama.

“Kadang sehari bisa dapat sekitar Rp150 ribu kalau lagi lumayan. Pelanggannya bisa lima orang atau lebih, tapi tidak tentu juga,” katanya.

Sebagian besar pelanggan datang untuk memperbaiki pakaian, terutama celana yang perlu dikecilkan atau dipotong panjangnya.

“Yang paling sering itu permak celana, mengecilkan pinggang atau memotong panjangnya. Ada juga yang bikin baju dari bahan, tapi tidak terlalu sering,” katanya.

Meski lapaknya sederhana di pinggir jalan, pelanggan Ade tidak hanya berasal dari sekitar kawasan Kosambi. Beberapa bahkan datang dari daerah yang cukup jauh.

“Ada langganan dari Ujung Berung, Ciparay, sampai Baleendah juga ada yang datang ke sini untuk permak atau bikin gamis, celana, sama kemeja,” ujarnya.

Namun menurutnya, kondisi usaha menjahit sekarang tidak lagi seramai dulu.

“Sekarang harga jasa memang lebih mahal, tapi penghasilan terasa lebih sedikit. Pengeluaran juga makin besar, dari bahan pangan sampai kebutuhan alat jahit kayak benang dan jarum,” katanya.

Tak jauh dari lapaknya, seorang penjahit lain terlihat duduk santai sambil berbincang sebelum mulai bekerja. Ia adalah Andi (49), yang sudah sekitar satu dekade membuka jasa jahit di kawasan yang sama.

Andi tetap menjahit di tengah sepinya pelanggan, mengandalkan keahlian yang ia pelajari secara otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Andi tetap menjahit di tengah sepinya pelanggan, mengandalkan keahlian yang ia pelajari secara otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Awalnya, Andi tidak bekerja sebagai penjahit. Ia pernah berjualan pulsa di tempat tersebut sebelum akhirnya beralih profesi.

“Dulu saya jual pulsa. Tapi sekarang orang beli pulsa sudah bisa lewat HP. Jadi saya belajar menjahit saja di sini. Awalnya cuma sering lihat orang menjahit, lama-lama belajar sendiri sampai bisa,” katanya.

Saat sedang berbincang, seorang pelanggan datang membawa celana yang ingin diperbaiki. Andi pun langsung kembali bekerja di sela percakapan.

Ia biasanya membuka lapaknya dari pukul delapan pagi hingga sekitar pukul lima sore.

“Sehari kadang ada lima sampai sepuluh pelanggan, tapi pernah juga seharian tidak ada sama sekali,” katanya.

Perbaikan yang paling sering diminta pelanggan biasanya mengecilkan pinggang celana atau mengubah model celana menjadi lebih ramping.

“Biasanya orang minta celana yang awalnya gombrang dibikin pensil. Tarifnya sekitar Rp35 ribu,” ujarnya.

Sebagian pelanggan datang dari orang-orang yang berbelanja di kawasan pertokoan sekitar Kosambi. Namun ada pula pelanggan lama yang sengaja datang dari daerah lain.

“Ada yang dari Ujung Berung, ada juga dari Kota Baru Parahyangan. Awalnya mungkin lewat saja, tapi lama-lama jadi langganan,” katanya.

Meski demikian, Andi mengakui jumlah pelanggan sekarang tidak sebanyak dulu.

“Sekarang sangat menurun. Mungkin karena ekonomi juga lagi sulit,” katanya.

Selain kondisi ekonomi, cuaca juga menjadi tantangan bagi para penjahit jalanan seperti dirinya.

“Kalau hujan biasanya kerja jadi terganggu. Air bisa nyiprat ke mesin jahit dan pelanggan juga jadi jarang datang,” ujarnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, pekerjaan ini tetap ia jalani untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Alhamdulillah masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tinggal kitanya saja mengatur pengeluarannya,” katanya.

Bagi salah satu pelanggan yang ditemui, jasa tukang jahit jalanan seperti ini masih menjadi pilihan. Givary Akhmaloka (23), warga Bandung Timur, mengaku sudah lama menggunakan jasa jahit di kawasan Kosambi.

Ia lebih memilih memperbaiki pakaian daripada membeli yang baru.

“Kalau bajunya masih bisa dipakai, saya lebih memilih memperbaikinya. Selain lebih irit, saya juga bisa memilih model yang saya suka,” katanya.

Menurutnya, kualitas jahitan yang rapi dan harga yang terjangkau menjadi alasan ia tetap datang ke tukang jahit langganannya.

“Pelayanannya bagus dan hasilnya rapi. Sama yang paling penting harganya juga terjangkau,” ujarnya.

Ia juga melihat menjahit pakaian sebagai cara untuk memperpanjang usia pakaian dan mengurangi limbah.

“Dengan memperbaiki baju, kita tidak langsung membuang pakaian yang sebenarnya masih bisa dipakai,” katanya.

Di tengah derasnya industri pakaian dan tren membeli barang baru, keberadaan tukang jahit pinggir jalan masih menjadi bagian kecil namun penting dari kehidupan kota.

Gerimis di Kosambi berubah menjadi hujan. Andi mulai beres-beres untuk bergegas pulang, sementara Ade Gares menarik plastik bening untuk menutupi tumpukan kain pesanan orang Baleendah. Ia berhenti mengayuh mesin, menatap rintik air, lalu menunggu magrib tiba.

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)