Jasa Permak Baju di Kosambi Kota Bandung Masih Diminati di Tengah Perubahan Kebiasaan Konsumen

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Pelanggan sedang berbincang dengan Andi untuk memperbaiki pakaiannya di kawasan Kosambi, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Pelanggan sedang berbincang dengan Andi untuk memperbaiki pakaiannya di kawasan Kosambi, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Gerimis tipis turun di kawasan Kosambi Kota Bandung, pada Sabtu (3/5) sore sekitar pukul empat. Meski hujan rintik-rintik, aktivitas di sepanjang jalan tetap berjalan.

Di sisi jalan, pedagang kecil membuka lapaknya, dan seorang juru parkir sibuk mengatur kendaraan yang keluar-masuk pertokoan.

Di tengah keramaian itu, deretan tukang jahit pinggir jalan tetap bekerja seperti biasa. Suara mesin jahit mereka berdetak di bawah payung, dan di meja jahit yang kayunya sudah mulai lapuk berserakan gulungan benang aneka warna yang sebagian besar telah kusam tertutup debu knalpot. Mereka mengerjakan celana, kemeja, hingga jaket pelanggan yang menunggu diperbaiki.

Ade (53), atau yang akrab dipanggil Ade Gares di sekitar Kosambi, tampak serius mengerjakan jahitan ketika didatangi. Tangannya cekatan menggerakkan kain di bawah jarum mesin jahit. Ia sudah menjalani pekerjaan ini sejak lama, setelah sebelumnya bekerja di konveksi yang akhirnya bangkrut.

Ade Gares setia menjaga lapak jahitnya sejak 1994, bertahan di tengah perubahan zaman dan kondisi ekonomi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ade Gares setia menjaga lapak jahitnya sejak 1994, bertahan di tengah perubahan zaman dan kondisi ekonomi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Awalnya saya kerja di konveksi. Tapi pabriknya bangkrut. Di pabrik juga ada target jahitan, sementara tenaga saya sudah tidak sekuat dulu. Akhirnya saya memilih menjahit sendiri di sini,” ujarnya.

Ade mengaku mulai membuka jasa jahit di kawasan Kosambi sejak 1994. Setiap hari ia membuka lapaknya dari pukul delapan pagi hingga menjelang magrib. Penghasilannya pun tidak selalu sama.

“Kadang sehari bisa dapat sekitar Rp150 ribu kalau lagi lumayan. Pelanggannya bisa lima orang atau lebih, tapi tidak tentu juga,” katanya.

Sebagian besar pelanggan datang untuk memperbaiki pakaian, terutama celana yang perlu dikecilkan atau dipotong panjangnya.

“Yang paling sering itu permak celana, mengecilkan pinggang atau memotong panjangnya. Ada juga yang bikin baju dari bahan, tapi tidak terlalu sering,” katanya.

Meski lapaknya sederhana di pinggir jalan, pelanggan Ade tidak hanya berasal dari sekitar kawasan Kosambi. Beberapa bahkan datang dari daerah yang cukup jauh.

“Ada langganan dari Ujung Berung, Ciparay, sampai Baleendah juga ada yang datang ke sini untuk permak atau bikin gamis, celana, sama kemeja,” ujarnya.

Namun menurutnya, kondisi usaha menjahit sekarang tidak lagi seramai dulu.

“Sekarang harga jasa memang lebih mahal, tapi penghasilan terasa lebih sedikit. Pengeluaran juga makin besar, dari bahan pangan sampai kebutuhan alat jahit kayak benang dan jarum,” katanya.

Tak jauh dari lapaknya, seorang penjahit lain terlihat duduk santai sambil berbincang sebelum mulai bekerja. Ia adalah Andi (49), yang sudah sekitar satu dekade membuka jasa jahit di kawasan yang sama.

Andi tetap menjahit di tengah sepinya pelanggan, mengandalkan keahlian yang ia pelajari secara otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Andi tetap menjahit di tengah sepinya pelanggan, mengandalkan keahlian yang ia pelajari secara otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Awalnya, Andi tidak bekerja sebagai penjahit. Ia pernah berjualan pulsa di tempat tersebut sebelum akhirnya beralih profesi.

“Dulu saya jual pulsa. Tapi sekarang orang beli pulsa sudah bisa lewat HP. Jadi saya belajar menjahit saja di sini. Awalnya cuma sering lihat orang menjahit, lama-lama belajar sendiri sampai bisa,” katanya.

Saat sedang berbincang, seorang pelanggan datang membawa celana yang ingin diperbaiki. Andi pun langsung kembali bekerja di sela percakapan.

Ia biasanya membuka lapaknya dari pukul delapan pagi hingga sekitar pukul lima sore.

“Sehari kadang ada lima sampai sepuluh pelanggan, tapi pernah juga seharian tidak ada sama sekali,” katanya.

Perbaikan yang paling sering diminta pelanggan biasanya mengecilkan pinggang celana atau mengubah model celana menjadi lebih ramping.

“Biasanya orang minta celana yang awalnya gombrang dibikin pensil. Tarifnya sekitar Rp35 ribu,” ujarnya.

Sebagian pelanggan datang dari orang-orang yang berbelanja di kawasan pertokoan sekitar Kosambi. Namun ada pula pelanggan lama yang sengaja datang dari daerah lain.

“Ada yang dari Ujung Berung, ada juga dari Kota Baru Parahyangan. Awalnya mungkin lewat saja, tapi lama-lama jadi langganan,” katanya.

Meski demikian, Andi mengakui jumlah pelanggan sekarang tidak sebanyak dulu.

“Sekarang sangat menurun. Mungkin karena ekonomi juga lagi sulit,” katanya.

Selain kondisi ekonomi, cuaca juga menjadi tantangan bagi para penjahit jalanan seperti dirinya.

“Kalau hujan biasanya kerja jadi terganggu. Air bisa nyiprat ke mesin jahit dan pelanggan juga jadi jarang datang,” ujarnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, pekerjaan ini tetap ia jalani untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Alhamdulillah masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tinggal kitanya saja mengatur pengeluarannya,” katanya.

Bagi salah satu pelanggan yang ditemui, jasa tukang jahit jalanan seperti ini masih menjadi pilihan. Givary Akhmaloka (23), warga Bandung Timur, mengaku sudah lama menggunakan jasa jahit di kawasan Kosambi.

Ia lebih memilih memperbaiki pakaian daripada membeli yang baru.

“Kalau bajunya masih bisa dipakai, saya lebih memilih memperbaikinya. Selain lebih irit, saya juga bisa memilih model yang saya suka,” katanya.

Menurutnya, kualitas jahitan yang rapi dan harga yang terjangkau menjadi alasan ia tetap datang ke tukang jahit langganannya.

“Pelayanannya bagus dan hasilnya rapi. Sama yang paling penting harganya juga terjangkau,” ujarnya.

Ia juga melihat menjahit pakaian sebagai cara untuk memperpanjang usia pakaian dan mengurangi limbah.

“Dengan memperbaiki baju, kita tidak langsung membuang pakaian yang sebenarnya masih bisa dipakai,” katanya.

Di tengah derasnya industri pakaian dan tren membeli barang baru, keberadaan tukang jahit pinggir jalan masih menjadi bagian kecil namun penting dari kehidupan kota.

Gerimis di Kosambi berubah menjadi hujan. Andi mulai beres-beres untuk bergegas pulang, sementara Ade Gares menarik plastik bening untuk menutupi tumpukan kain pesanan orang Baleendah. Ia berhenti mengayuh mesin, menatap rintik air, lalu menunggu magrib tiba.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Wisata & Kuliner 07 Jul 2026, 15:29

Jelajah Waduk Saguling, PLTA Surga Budidaya Ikan dan Wisata Favorit Pemancing

Waduk Saguling tidak hanya memasok listrik, tetapi juga menjadi sentra perikanan air tawar dengan puluhan ribu keramba jaring apung di Bandung Barat.

Waduk Saguling. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 10:49

Mengepakkan Sayap Ekonomi Kerakyatan Ketika Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara

Semenjak dinamakan Husein Sastranegara menjadi bandara komersial telah memberikan manfaat yang luas bagi penerbangan domestik maupun internasional.

Petugas membersihkan salahsatu fasilitas Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 09:06

Menjahit Harapan di Tengah Sepinya Pasar Thrifting Gedebage

Di tengah sepinya Pasar Cimol Gedebage, Dedi tetap bertahan sebagai penjahit pakaian thrifting. Feature ini mengangkat perjuangannya menghidupi keluarga sekaligus menjaga profesi warisan orang tuanya.

Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)