Lebaran Haji Tempo Dulu

Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Jumat 22 Mei 2026, 17:19 WIB
Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji, adalah sebuah ibadah umat Islam yang berlandaskan ketaatan Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih anak kesayangannya, yaitu Nabi Ismail. Ketika mereka telah tertunduk taat dan tetap akan menjalankan semua perintah Allah, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba ketika akan disembelih, lalu umat Islam mengabadikan kisah ketaatan ini dengan ibadah kurban, sebuah kisah yang berfondasi pada ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya, bahwa apa-apa yang kita miliki di dunia ini sebetulnya hakikatnya adalah titipanNya.

Idul Adha berasal dari bahasa Arab, Id yang berarti hari raya atau sebuah perayaan, lalu Adha yang berarti kurban, sehingga mengandung arti Hari Raya Kurban. Selain untuk mengenang ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, hari raya Idul Adha juga dikaitkan dengan puncak pelaksanaan ibadah haji, yang menandai berakhirnya ibadah haji yang dilaksanakan di tanah suci, maka pada Nusantara tempo dulu hari raya Idul Adha lebih terkenal dengan istilah “Lebaran Hadji”.

Di Nusantara, hari raya Idul Adha ini diwarnai dengan berbagai akulturasi budaya yang sangat kental. Biasanya ibadah ini dilakukan di masjid-masjid besar, alun-alun dan Kraton. Biasanya ibadah ini di masa lalu dilakukan juga sebagai sarana syiar Islam.

Apabila kali ini untuk menentukan hari raya Idul Adha, kita tinggal menunggu hasil sidang isbat pemerintah saja di televisi atau media sosial. Namun, di masa lalu umat Islam melakukan Rukyatul Hilal yaitu mengamati penampakan bulan sabit pertama secara langsung di ufuk, karena umat Islam menggunakan kalender Hijriyah atau kalender yang berdasarkan penanggalan Qamariyah / pergerakan bulan. Jika hilal terlihat, bulan baru ditetapkan, dengan menghitung 10 dari awal bulan tersebut maka ditetapkanlah tanggal 10 Zulhijah sebagai hari Raya Idul Adha.

Di masa lalu perayaan Lebaran Haji sangatlah ditunggu-tunggu warga, tercatat terdapat tiga budaya yang paling terkenal di Nusantara pada perayaan Lebaran Haji.

Pertama adalah Gerebeg Gunungan di kraton Yogyakarta. Arak-arakan hasil bumi oleh warga yang nantinya dibawa ke kauman atau masjid besar. Yang kedua adalah tradisi Meugang di Aceh, yaitu tradisi memasak menikmati hidangan daging bersama sanak keluarga. Dan yang ketiga adalah Manten sapi di Pasuruan, sapi-sapi kurban diperlakukan istimewa, didandani dengan kalung-kalung bunga, kain kafan dan sorban, lalu diarak berkeliling sebagai bentuk penghormatan.

Namun, pada umumnya di Nusantara ini Lebaran Haji suasananya diwarnai dengan ibadah-ibadah sunah, seperti puasa-puasa sunah, terutama puasa Arafah, ziarah kubur dan berkumpul bersama keluarga besar.

Karena masa kecil saya terkadang melakukan Lebaran Haji di Cirebon, maka yang saya ingat adalah budaya Gerebeg Agung yang rutin dilakukan Kraton Kanoman untuk merayakan hari raya Idul Adha. Prosesi Gerebeg Agung adalah Ziarah ke makam leluhur, karena buyut adalah bagian dari Kraton Kanoman, maka kami pun melakukan ziarah dengan cara berjalan beriringan ke makam Sunan Gunung Jati. Setelah itu dilakukan pembacaan doa dan kisah-kisah sejarah masa lalu, sambil membaca solawat yang dipimpin oleh penghulu Kraton untuk memuji asma Allah dan mengenang jasa pendahulu.

Di masa kolonial umat Islam sempat menghadapi tantangan birokrasi terkait pelaksanaan hari raya. Pada saat itu pemerintah kolonial melarang hari libur untuk Lebaran Haji bagi sekolah-sekolah, aturan ini terasa diskriminatif karena aturan dikeluarkan tanpa berdialog terlebih dahulu dengan para pemuka agama Islam.

Apabila di masa sekarang distribusi daging kurban dilakukan dengan pembagian kupon, dan warga mengantri untuk mendapatkannya dengan menukarkan kupon tersebut, di masa lalu pendistribusian daging kurban dilakukan sangat tradisional dan kekeluargaan. Daging biasanya dibungkus dengan pembungkus berbahan alami seperti anyaman daun kelapa atau daun jati, lalu dikirimkan kepada warga sekitar masjid besar, door to door sehingga tidak menimbulkan kericuhan seperti yang biasa terjadi sekarang.

Di Lembang pasca kemerdekaan, sebuah kisah lisan yang terlontar pada saya tentang kisah Lebaran Haji tahun 1950an terjadi di kawasan peternakan Baroe Adjak. Hewan kurban yang berupa kambing disembelih tidak jauh dari sebuah surau yang dibangun untuk para pekerja peternakan, lalu dibagikan kepada semua pegawai peternakan secara merata.

Selain itu di kawasan Cibedug, Cikole pun data lisan tentang kemeriahan Lebaran Haji tercipta dengan meriah. Warga saling bergotong-royong untuk memasak hidangan dari daging kurban tersebut, lalu makan bersama.

Lalu saya menemukan dua berita surat kabar terkait dengan Lebaran Haji di Bandung pada masa lalu. Yang pertama pada Het Nieuws van den Dag Voor Nederl-Indie, 16 April 1932 dan surat kabar Het Dagblad 29 Oktober 1946.

Pada dua artikel dari dua surat kabar tersebut dituliskan bahwa telah terjadi keramaian di Bandung menjelang Lebaran Haji. Sehingga ratusan wanita berbelanja kebutuhan untuk Hari raya dan berdesakan. Dan dalam keramaian tersebut ada salah seorang wanita yang tengah hamil besar sepertinya hendak melahirkan bayinya, dan dalam keramaian menjelang Lebaran Haji itulah sang wanita melahirkan bayi lelakinya dengan sehat. Lalu mereka pun akhirnya dibawa petugas ke klinik. Dalam artikel lainnya, ditulis bahwa Dewan Agama Bandunglah yang bertugas menetapkan hari raya ( melakukan pengamatan hilal ). (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 17:17

Cintapada, Padasuka, Padaasih, Toponim yang Merekam Kekayaan Alam dan Kekhawatiran

Kata 'pada' terdapat dalam berbagai kata dan sering terkait dengan makna alam, tempat, atau daerah.

Kampung Cipadakati di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Peta: Google maps)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 16:00

Jelajah Kuliner Roti Bandung, dari Bakery Viral Kekinian hingga Toko Jadul Legendaris

Bandung punya banyak bakery populer, mulai dari artisan sourdough modern hingga toko roti jadul dengan resep yang hampir tidak berubah.

Ilustrasi roti hits di Bandung.
Ayo Biz 21 Mei 2026, 15:38

Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional.

Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 21 Mei 2026, 14:48

Dari Tragedi Sampah ke Konservasi, Wajah Baru Eks TPA Leuwigajah

Dua dekade setelah longsor maut 2005, eks TPA Leuwigajah kini dijadikan area konservasi di Cimahi.

Lahan eks TPA Leuwigajah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 12:20

Ketika Reformasi Mulai Bergulir

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani.

Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 09:21

Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

Ketangguhan para siswa tahun 1980-an adalah jawaban dalam menangani bebagai permasalahan generasinya.

Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 08:32

Bandung Review, Membangun Kesadaran Kolektif

Hegemoni sosial seharusnya menjadi semangat untuk membangun kesadaran kolektif, dengan mengadopsi nilai-nilai lokal seperti someah, silih asah, silih asih dan silih asuh untuk membangun kota inklusif

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 08:00

Panduan Wisata ke Kampung Turis Karawang, Oase Pedesaan di Balik Kota Industri

Kampung Turis Karawang menawarkan wisata alam, sawah terasering, waterpark, kuliner Sunda, hingga villa dan camping di kawasan Tegalwaru.

Kampung Turis Karawang.