Cerita Pahit di Balik Antusiasme Job Fair: Faktanya, Lulusan Perguruan Tinggi Masih Sulit Mendapat Pekerjaan

4 menit baca
Ikbal Tawakal
Ditulis oleh Ikbal Tawakal diterbitkan
Menurut data BPS, jumlah orang yang menganggur per Februari sebanyak 7,28 juta orang atau naik 1,11 persen dibandingkan periode yang sama di 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Menurut data BPS, jumlah orang yang menganggur per Februari sebanyak 7,28 juta orang atau naik 1,11 persen dibandingkan periode yang sama di 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

AYOBANDUNG.ID – Ribuan orang memadati aula Universitas Katolik Parahyangan pada Kamis, 2 Oktober 2025, berharap satu perusahaan saja sudi melirik lamaran mereka. Di balik hiruk-pikuk itu, tersimpan potret nyata kondisi ketenagakerjaan Indonesia yang kian pelik: angka pengangguran meningkat, persaingan semakin ketat, dan masa depan banyak sarjana masih menggantung.

Salah satunya adalah, Adya Redha Saputra (32), seorang pencari kerja sejak 2022. Sarjana Pertanian lulusan Universitas Padjadjaran itu menyandang titel akademis dari kampus ternama, namun gelar yang melekat di belakang namanya ternyata tidak serta-merta memudahkan langkahnya menandatangani kontrak kerja di sebuah perusahaan.

Saat lulus pada 2018, ia percaya diri bahwa curriculum vitae-nya akan dilirik oleh banyak perekrut. Ia rela menunggu hampir satu tahun hingga akhirnya mendapatkan pekerjaan pertamanya pada 2019. Namun, keyakinan itu hanya bertahan sebentar. Awal 2020 ia memutuskan untuk mengundurkan diri, tepat sebelum badai pandemi Covid-19 menghantam Indonesia.

Pengalaman kerja satu tahun yang semula membuatnya optimistis justru terasa tidak berarti ketika pandemi menutup banyak pintu kesempatan. Sejak Maret 2020, rekening yang biasanya terisi gaji bulanan mendadak kosong. Dua tahun lamanya ia menjalani hidup tanpa kepastian, sekadar bertahan dengan pekerjaan lepas sambil terus menebar lamaran.

Mencari pekerjaan setelah pandemi ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Kontrak yang sempat ia dapat pada 2022 pun berakhir begitu cepat, memaksanya kembali ke titik awal sebagai pencari kerja.

Reda datang seorang diri ke Unpar Career Expo, sebuah job fair yang diharapkan bisa membuka jalan menuju pekerjaan baru. Dengan kemeja krem, celana jeans, dan sepatu hitam, ia berkeliling dari satu stan ke stan lain, membawa setumpuk harapan yang belum juga terjawab.

Susana job fair di kampus Universitas Katolik Parahyangan pada Kamis, 2 Oktober 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Susana job fair di kampus Universitas Katolik Parahyangan pada Kamis, 2 Oktober 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Bukan kali pertama ia mendatangi job fair. Entah sudah berapa banyak lamaran ia kirim, baik lewat acara serupa maupun aplikasi pencari kerja. Hingga kini, belum ada satupun yang berbuah panggilan. Ia menyadari persaingan yang begitu ketat, terutama dengan ribuan lulusan baru yang setiap tahun terus berdatangan.

Cerita Reda bukanlah hal yang berdiri sendiri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2025 memperlihatkan kondisi serupa dialami jutaan orang lain. Jumlah pengangguran mencapai 7,28 juta orang atau 4,76 persen dari total angkatan kerja. Angka ini meningkat dibandingkan Februari 2024, menandakan bertambahnya barisan orang-orang yang sedang mencari pekerjaan.

Lebih jauh, BPS mencatat bahwa kelompok usia muda 15–24 tahun adalah penyumbang pengangguran terbesar, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 16,16 persen. Angka yang jauh melampaui kelompok usia produktif 25–59 tahun (3,04 persen) maupun usia lanjut di atas 60 tahun (1,67 persen). Data itu menguatkan kenyataan yang dialami Reda: betapa sulitnya generasi muda memasuki pasar kerja meskipun berbekal ijazah sarjana.

Di sisi lain, pengangguran di perkotaan juga lebih tinggi, yakni 5,73 persen dibandingkan 3,33 persen di perdesaan. Kota besar seperti Bandung menjadi cermin nyata ketatnya persaingan, ketika ribuan orang berkumpul dalam satu ruang job fair, semua dengan harapan yang sama: dilirik oleh satu perusahaan saja.

Yohanes, sarjana hukum antusias mengikuti job fair di Unpar Career Expo 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Yohanes, sarjana hukum antusias mengikuti job fair di Unpar Career Expo 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Di tengah kerumunan itu, Yohanes (38) ikut mengadu nasib. Lulusan fakulta hukum asal Maluku ini sempat bekerja selama delapan tahun di sebuah perusahaan besar, namun pandemi mengubah segalanya. Kebijakan efisiensi membuat statusnya yang semula kontrak gagal diangkat menjadi karyawan tetap, hingga akhirnya ia terkena pemutusan hubungan kerja.

Ditemani istrinya, ia tetap bersemangat mengisi formulir, mengantre, dan menyodorkan berkas lamaran. Ia menyadari kenyataan pahit bahwa banyak perusahaan kini lebih melirik tenaga kerja muda atau lulusan baru. Namun, dengan pengalaman panjang di bidang administrasi dan HRD, ia masih berharap ada yang menganggapnya berharga.

Apa yang dialami Yohanes senada dengan data BPS yang mencatat TPT laki-laki lebih tinggi (4,98 persen) dibanding perempuan (4,41 persen). Persaingan bagi pencari kerja pria jelas lebih berat, terlebih di usia yang mendekati kepala empat.

Hari itu, sekitar seribu orang hadir di hari kedua Unpar Career Expo. Seribu orang pula yang otomatis menjadi pesaing langsung Reda dan Yohanes. Wajah-wajah penuh optimisme bercampur dengan raut lelah dan cemas, menyatu dalam ruangan yang sama.

Namun, job fair bukan hanya soal menyerahkan CV. Bagi banyak orang, ini juga ajang bertukar informasi, melihat peta industri, hingga sekadar mengukur peluang. Meski ada perusahaan yang tampak hanya hadir untuk formalitas, kehadiran acara seperti ini masih dianggap penting bagi pencari kerja.

BPS menegaskan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya menambah jumlah lapangan kerja, melainkan juga memastikan kesesuaian antara kualifikasi tenaga kerja dengan kebutuhan industri. Cerita Reda dan Yohanes menjadi gambaran nyata: bukan hanya soal siapa yang punya gelar atau pengalaman, tetapi siapa yang benar-benar cocok dengan spesifikasi yang dicari perusahaan. (*)

Di tengah realitas yang keras itu, ada satu hal yang tetap hidup: harapan. Harapan bahwa satu lamaran akan dibalas, satu panggilan telepon akan datang, dan satu peluang akan mengubah arah hidup. Harapan itulah yang membuat ribuan orang terus berdiri di antrean job fair, sekalipun persaingan makin ketat dan angka pengangguran kian bertambah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Agu 2026, 12:45

Touring Tidak Selalu tentang Healing, tetapi Juga Ruang Sosial dan Psikologis

Touring bukan sekadar hobi berkendara atau perjalanan untuk healing. Di balik perjalanan dan biaya yang dikeluarkan, touring menjadi ruang untuk menjaga kesehatan sosial dan psikologis.

Touring bukanlah sekadar hobi berkendara yang menguras materi, melainkan ruang sosial dan psikologis. (Sumber: magnific.com | Foto: bublikhaus)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 12:21

Melawan Greenwashing untuk Mendorong Sikap Kritis terhadap Klaim Ramah Lingkungan

Greenwashing mengancam kepercayaan konsumen dan investor serta mengganggu alokasi modal. Transparansi, audit ESG, dan sikap kritis pasar menjadi kunci membangun bisnis berkelanjutan di masa depan.

Fenomena greenwashing didefinisikan sebagai persilangan antara kinerja lingkungan yang buruk dengan komunikasi positif yang menyesatkan. (Sumber: magnific.com)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 10:43

Mengenang Majalah Hai, Ikon Remaja di Era 80–90an

Mengenang Majalah Hai, teman generasi 1980-an dan 1990-an yang tak hanya menghadirkan musik, komik, dan cerita, tetapi juga memperluas wawasan serta membentuk selera dan imajinasi anak muda Indonesia.

Majalah Remaja Hai era 1980–1990-an Majalah Hai era 1980–1990-an, bacaan populer yang lekat dengan kehidupan remaja dan menjadi bagian dari kenangan sebuah generasi.
Beranda 13 Agu 2026, 10:32

Pohon di Kota Bandung Ditebang Ilegal, Tapi Anggaran Beli Lahan RTH 2026 Malah Tak Ada

Puluhan pohon di Kota Bandung ditebang liar, giliran anggaran beli lahan RTH 2026 malah nihil. Kini janji ruang hijau kota terancam cuma angan-angan di atas kertas.

Sisa pohon yang ditebang di Jalan LLRE Martadinata (Jalan Riau), Kota Bandung, Selasa 4 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 10:03

Pohon, Bisnis, dan Kehidupan

Saat pohon tumbang, yang jatuh bukan hanya batang, dahan, daun, justru yang ikut runtuh sederetan cerita, petuah, pamali, ingatan, hingga khazanah lokal.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 19:54

Mengapa Bahasa Merek Berubah Saat Pindah ke Instagram?

Membahas bagaimana satu merek menyesuaikan gaya bahasa di website dan Instagram saat menyampaikan pesan Ramadhan, tanpa kehilangan pesan utama kepada publik.

Ilustrasi masakan. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 17:20

Aku, ‘Preman Pensiun’, dan Terminal Cicaheum

Mengajak pembaca menyusuri kenangan personal di Terminal Cicaheum, dari masa kecil hingga era Preman Pensiun.

Suasana Terminal Cicaheum pada pagi hari, Kota Bandung, Rabu 24 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 15:24

Merawat Hutan, Menjaga Warisan Peradaban di Jawa Barat

Kondisi hutan di Jawa Barat saat ini berada dalam status darurat atau sinyal lampu merah yang berakibat dari kerusakan dan penyusutan tutupan hutan yang masif.

Sejumlah pengunjung berfoto di Jembatan Gantung Curug Koleang, Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, Bandung, Sabtu (9/2/2019). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 13:38

Cuaca Ekstrem Kota Bandung Akan Menimbulkan Kerawanan Bahaya Kebakaran

Cuaca ekstrem acapkali menjadi peringatan alam, bukan hanya sekadar perubahan musim tetapi peningkatan suhu mengakibatkan kekeringan yang memiliki potensi besar untuk terjadinya kerawanan kebakaran

Sawah mengalami kekeringan di musim Kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)