Budaya Menyontek yang Sering Dianggap Sepele

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Ruang kelas sekolah. (Sumber: Pexels/Sami TÜRK)
Ruang kelas sekolah. (Sumber: Pexels/Sami TÜRK)

"Kamu pelit banget sih, engga mau ngasih kunci jawaban."

"Kamu budeg ya, gak nengok pas aku panggil-panggil tadi."

Begitulah kiranya yang sering saya dengar dari teman-teman saat duduk di bangku sekolah dasar.

Saat itu saya bukan termasuk murid yang pintar karena saya tidak pernah masuk peringkat 10 besar. Saya hanya murid biasa yang punya prinsip cukup aneh dan berbeda dengan murid pada umumnya.

Di saat murid lain berlomba-lomba mendapatkan nilai sempurna, saya kecil justru sangat bangga saat mendapat nilai merah saat ujian. Saat saya kecil punya prinsip bahwa ujian adalah waktu di saat menguji kemampuan pemahaman kita selama belajar satu semester. Jadi fokusnya bukan untuk mendapat nilai sempurna tapi seberapa banyak pemahaman yang bisa saya ambil selama belajar. Saya saat kecil selalu bangga dengan diri sendiri--meski mendapat nilai yang kecil--prinsipnya yang penting hasil diri sendiri.

Prinsip yang sejak kecil saya terapkan ternyata berdampak besar bagi kehidupan saya hari ini. Prinsip yang saya anggap sederhana saat kecil justru membawa diri saya untuk menghargai diri sendiri dan orang lain. Menumbuhkan jiwa-jiwa suportif saat orang lain lebih unggul dari saya. Membuka pola pikir bahwa orang lain memang pantas mendapatkan pencapaian itu karena usahanya memang jauh lebih keras dari saya.

Seberapapun kecilnya pencapaian yang saya dapatkan, saya selalu bangga karena hasil upaya diri sendiri. Begitu pun dengan tulisan-tulisan yang pernah saya buat, saya selalu bangga bagaimana pun pandangan orang lain terhadap tulisan saya.

Saya sering kali menyadari bahwa peningkatan dalam diri saya tidak bisa semasif orang lain tapi saya selalu menikmati proses itu. Bertumbuh meskipun hanya 0.0000001 atau bahkan stagnan cukup lama bukan jadi masalah. Karena ini tentang pertumbuhan diri saya bukan pertumbuhan orang lain.

Kembali pada konteks budaya mencontek yang sudah menjadi akar yang mendarah daging dan dinormalisasi oleh masyarakat Indonesia. Jika saya tarik ke belakang budaya ini memang lahir dari hal-hal kecil yang selalu disepelekan.

Pertama, Sistem pendidikan yang berorientasi hapalan bukan analisis yang kritis. Sejauh saya mengingat ketika duduk di bangku sd soal-soal yang dihadirkan saat ujian tiba hanya berkutat pada jawaban kaku yang terdapat dalam buku pelajaran.

Menurut saya inilah cikal bakal tradisi mencontek itu terjadi. Anak-anak cenderung tidak yakin dengan jawaban yang sudah dihapalnya karena pertanyaan selalu menuntut jawaban yang sama persis dengan materi yang ada di buku. Jika ada satu kata yang tertinggal maka guru bisa mengurangi point karena menganggap jawaban tersebut tidak sempurna.

"Apa yang dimaksud dengan fotosintesis?" dibandingkan dengan "Bagaimana proses fotosintesis terjadi ?".

"Sebutkan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis" dibandingkan dengan "Menurut kamu, bagaimana jika dalam proses fotosintesis ada satu bahan yang hilang?"

Pertanyaan dalam esai pada kertas ujian seringkali berkutat pada pertanyaan apa dan sebutkan dan sangat minim dengan pertanyaan bagaimana (yang menunjukan proses belajar/memahami sesuatu).

Pertanyaan "apa" hanya menghasilkan jawaban singkat yang itu-itu saja. Sementara pertanyaan "bagaimana" bisa mengungkap jawaban yang bersifat eksploratif dan meningkatkan jawaban imajinatif. Membuat semua jawaban murid bisa saja beragam karena pola pikir dan sudut pandang yang berbeda.

Sebagian besar dalam masyarakat Indonesia, sejak kecil anak sudah dibatasi oleh orang tuanya untuk belajar kritis, eksploratif dan imajinatif. Misalnya saat kecil saya pernah bertanya,

"Mah tolong jelaskan bagaimana manusia bisa lahir ke dunia ini?"

"Nanti saat dewasa juga kamu akan tau, masih kecil gak usah nanya-nanya seperti itu, pamali!"

"Tapi mah aku penasaran kalau bayi itu kok bisa tiba-tiba ada?"

"Bayi itu keluar dari mulut seperti muntahan!"

Ilustrasi siswa sekolah. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ilustrasi siswa sekolah. (Sumber: Pexels/Yazid N)

Dewasa ini saya memahami mungkin saja orang tua saya saat itu tidak punya jawaban yang lain selain melontarkan jawaban tidak masuk akal atau berdalih dengan kata "pamali" yang membuat pertanyaan selanjutnya berhenti.

Jenjang pendidikan dan informasi yang terbatas memang sangat mempengaruhi orang tua dalam menerapkan pola asuh terhadap anaknya. Banyak kasus serupa yang terjadi dengan anak-anak lain di Indonesia meski hasilnya tidak selalu sama--bergantung dengan respon anak saat menanggapinya. Bisa saja anak tersebut mencari jawaban di tempat lain atau berhenti sejak pertanyaan pertamanya dibatasi.

Kedua, sistem pendidikan yang berorientasi pada nilai akademik. Sejak kecil saya senang mengobservasi atau memperhatikan aktivitas orang lain. Salah satunya ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, saya melihat ada dua orang teman yang sering berkejaran peringkat di kelas. Semenjak kelas 1 hingga kelas 6, mereka berdua yang silih berganti bertukar posisi.

Satu hal yang menarik bagi saya saat itu adalah adanya persaingan di antara keduanya. Bahkan kedua orang tua mereka terlibat dalam perdebatan bahwa anak mereka-lah yang paling pantas untuk mendapatkan juara satu.

Saya kecil menyimpulkan bahwa sistem pendidikan ternyata memang berorientasi pada nilai akademik yang berakar pada hafalan bukan pemahaman. Padahal yang penting dalam pembelajaran akademik adalah prosesnya bukan hasilnya.

Kedua sistem itu menurut saya turut menyumbang terjadinya budaya menyontek di kalangan para murid. Sistem pendidikan yang menuntut hapalan, membuat anak yang punya daya serap tinggi hanya berfokus pada jawaban-jawaban kaku dan mengurangi daya nalar kritisnya untuk memahami sesuatu. Sementara bagi mereka yang memiliki daya serap kurang baik akan mencari jalan ninja dengan cara menyontek.

Lalu sistem pendidikan yang berorientasi pada nilai akademik membuat anak berlomba-lomba dalam mendapatkan nilai sempurna. Hasil belajar menjadi poin penting sementara proses yang sehat dan baik diabaikan. Tak heran ketika banyak para murid yang menormalisasi kegiatan menyontek tersebut.

Pandangan society juga berpengaruh karena anak yang pintar dengan nilai akademik yang sempurna akan lebih diapresiasi dari anak-anak lainnya. Satu hal yang terjadi pada ibu dari anak-anak tersebut adalah saling menyombongkan kemampuan anaknya di hadapan ibu-ibu yang lain. Sehingga orang tua seringkali menekan anaknya untuk mendapatkan nilai sempurna agar orang tuanya mendapat predikat "Berhasil mendidik anak" di mata orang tua siswa yang lainnya.

Anak-anak dengan kemampuan di luar akademik, seperti kecerdasan emosional, kecerdasan empati, kecerdasan seni, kecerdasan sosial dan kecerdasan lainnya menjadi terabaikan dan tidak terasah potensinya. Karena sistem pendidikan hanya melihat dia yang bersinar dengan nilai akademik yang sempurna.

Budaya menyontek juga tertanam hingga anak-anak menjelang dewasa, bahkan budaya tersebut sudah bermanifestasi menjadi kegiatan yang dikomersialkan dengan hadirnya jasa percaloan dalam dunia akademik.

Banyak kasus di Indonesia, hanya karena ingin masuk universitas ternama, apapun jalan dilakukan-- salah satunya dengan membayar joki ujian demi menjadi mahasiswa di kampus favorit.

Mirisnya mereka yang menjadi joki sering kali merupakan siswa/mahasiswa yang cerdas hanya saja kondisi ekonomi dan kemiskinan menyeretnya kepada ketidak-jujuran demi membayar sebuah kebutuhan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)