Laki-Laki, Pancingan, dan Stigma Pengangguran

5 menit baca
Yayang Nanda Budiman
Ditulis oleh Yayang Nanda Budiman diterbitkan
Ilustrasi memancing. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Ilustrasi memancing. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Pemancing tidak akan pernah maju!” Begitu ucapan tendensius sebagian pihak yang kerap menempelkan stereotip buruk terhadap mereka yang hobi mengamati setiap gerak kumbul di hadapannya. Pemancing pasti menjawab: “Kalau maju, ya jatuh, basah!” Terdengar sebatas lelucon, tapi penuh pendalaman.

Jika kamu berada di skena pemancing, mungkin kamu merasakan betapa menyebalkan stigma ini melekat terhadap diri mereka. Oleh karena itu, masalah ini sangat krusial untuk dibahas, terlebih pasca komposisi kabinet baru selesai dibentuk. 

Pertama, kita harus mengiyakan bahwa memancing memang nampak terlihat santai. Siapa yang tak ingin duduk bersila di tepi empang, diterpa angin sepoi-sepoi, sambil menunggu ikan mencicipi racikan umpan yang kita buat? 

Bayangan visual ini dapat membuat siapa pun berketus dengan tatapan sinis, “Enak banget ya, seharian cuma duduk-duduk doang. Nggak ada kerjaan.” Padahal, memancing bukan sekadar duduk manis dan menunggu umpan disambar. Ada banyak hal yang tak bisa didapatkan di bangku perkuliahan. 

Pengetahuan di Balik Lengkungan Joran

Ilustrasi alat pancing (Sumber: Pixabay.com | Foto: Sonel)
Ilustrasi alat pancing (Sumber: Pixabay.com | Foto: Sonel)

Ketika seseorang memutuskan untuk menggemari hobi memancing, mereka pada dasarnya akan terjun ke dunia yang kaya akan ilmu dan keterampilan. Tak banyak orang tahu, pemancing yang baik tahu segudang teknik, mulai dari cara mengolah umpan dengan formula dan takaran yang pas layaknya chef restoran bintang lima sampai mafhum membaca arus dan suasana sungai.

Mereka harus mengenali jenis ikan, kapan waktu ikan lapar, kondisi iklim dan letak lokasi strategis untuk melempar joran. Semua itu butuh waktu, usaha dan bukan perkara yang instan. Jadi, pantaskah cap pemalas itu masih melekat kepada mereka?

Selain itu, para pemancing juga mempunyai batas kesabaran yang jauh lebih luas. Terkadang, pemancing bisa melahap waktu berjam-jam menunggu satu ikan menyambar umpan. Dari sana mereka belajar bahwa semua ini bukan soal siapa cepat mendapatkan hasil, melainkan bagaimana kita dapat menikmati setiap proses yang panjang dengan menyenangkan. Secara tak langsung mereka mengaplikasikan prinsip slow living: menikmati setiap momen yang terlewati dengan tenang dan tak perlu terburu-buru. 

Tak lupa, ada aspek sosiologis dari para pemancing yang tak dapat dihindarkan. Tak sedikit orang memancing bersama kawan atau keluarga. Memancing adalah momen yang cukup intim untuk berkumpul, berbagi cerita sembari mengepal-ngepal umpan, tertawa bersama hingga joran dilempar kembali.

Jadi, siapa bilang itu tidak produktif? Interaksi persahabatan dan hubungan yang terjalin dalam momen ini bisa jadi jauh lebih berharga daripada hasil ikan yang didapatkan. Boleh jadi, memancing adalah jembatan pereda kecanggungan. 

Kini, mari kita saksikan bagaimana stigma ini kerap mencuat. Di masyarakat, tak sedikit yang menilai puncak kesuksesan berdasarkan preferensi jenis pekerjaan dan kalkulasi penghasilan.  Jika kamu terlihat “hanya” memancing, orang cenderung menganggap kamu tak mempunyai visi hidup.

Padahal, hobi merupakan elemen penting dari keseimbangan hidup. Sebagai manusia yang selalu mencoba tetap “waras” di tengah dunia yang serba cepat, kita perlu waktu untuk bersantai dan membebaskan diri sejenak dari rutinitas sehari-sehari yang melelahkan. 

Ironisnya, banyak pemancing yang sukses dalam karir mereka, tetapi hobi ini masih dipandang sebelah mata. Mereka mungkin berprofesi sebagai pengusaha, insinyur atau bahkan politisi, tetapi saat akhir pekan tiba, mereka memilih untuk melempar kail dan menikmati setiap tarikan joran yang disambar ikan. Apakah ini berarti mereka malas? Tentu saja tidak! Justru, hobi semacam ini membantu mereka me-re-charge energi dan kreativitas yang sebelumnya telah terkuras oleh padatnya rutinitas. 

Mengepalkan Umpan, Merawat Kesehatan Mental

Ilustrasi umpan ikan (Sumber: Pixabay.com | Foto: Robin_S)
Ilustrasi umpan ikan (Sumber: Pixabay.com | Foto: Robin_S)

Dan jangan lupa, ada isu kesehatan mental yang tak boleh dilupakan. Memancing bisa menjadi terapi.  Di tengah dinamika dan tekanan kehidupan, melepaskan stres dengan pergi memancing di alam bisa sangat menenangkan.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh sejumlah peneliti dari Universitas Anglia Ruskin di Cambridge, Inggris, serta Universitas Ulster dan Universitas Queen di Belfast, Irlandia Utara menunjukkan bahwa orang yang gemar memancing mempunyai kesehatan mental yang lebih baik. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa memancing dapat mengurangi resiko depresi, kecemasan, pikiran untuk mengakhiri hidup dan beragam masalah kesehatan mental lainnya. 

Menyatu dengan alam, mendengarkan gemuruh arus sungai yang menenangkan, menghirup hembusan udara segar dan angin yang menerpa syahdu ke setiap helai rambut kepala, kicauan burung dan suara hewan penghuni ekosistem sekitar memberikan ketenangan yang tak bisa kita dapatkan di beranda digital. Ini adalah cara untuk untuk menjaga keseimbangan emosional dan mental. 

Memancing dan Membongkar Narasi “Produktivitas”

Para nelayan sedang memancing (Sumber: Pixabay.com | Foto: Mduman1997)
Para nelayan sedang memancing (Sumber: Pixabay.com | Foto: Mduman1997)

Lantas, bagaimana dengan anggapan bahwa memancing itu kegiatan yang tak produktif? Mari kita resapi kembali. Memancing bisa menjadi media dan kesempatan untuk belajar. Bagi mereka yang memancing dengan orientasi hasil, ini bisa menjadi ladang cuan yang menguntungkan.

Selain itu, ada banyak orang yang menjadikan hobi ini sebagai bagian dari praktik bisnis, seperti membuka warung makan atau menjual peralatan memancing. Jadi jangan salah sangka, hobi ini bisa sangat menguntungkan!

Maka dari itu, kita harus belajar bagaimana menghargai setiap pilihan yang dibuat seseorang. Barangkali, di balik umpan dan kail, terdapat segudang kisah menarik dan pengalaman hidup berharga yang mereka dapatkan.

Kita tak pernah tahu seberisik apa isi kepala mereka di balik ketenangan yang ditampilkan. Kita tidak pernah tahu dialog seperti apa yang sedang mereka perbincangkan dalam perasaan. Memancing adalah cara bagaimana kita meracik ketenangan dalam mengambil keputusan dan menjernihkan keruhnya pikiran. 

Di akhir hari, mari kita berupaya untuk lebih demokratis dan tak perlu tergesa-gesa dalam memvonis seseorang hanya dari hobi mereka. Memancing bukan simbol dari kemalasan, melainkan sebuah seni yang memerlukan konsistensi, kesabaran dan pengetahuan. Setiap individu manusia mempunyai metode sendiri untuk menemukan kebahagiaan, dan tidak ada yang salah dengan itu, selagi tak merugikan orang lain. 

Pancingan dan Penghormatan

Meski bukan pelaku atau praktisi menyelami langsung, saya tetap menolak dengan tegas segala bentuk stigma yang kerap disematkan sebagai simbol kemalasan. Sekali lagi, di balik kegiatan yang nir-ambisi itu, terdapat esensi yang mendalam yang seringkali luput dari kacamata khalayak: soal ketekunan, kesabaran, konsentrasi dan cara manusia mencoba berdamai dengan bagaimana cara alam bekerja untuk dirinya.

Dua orang laki-laki terlihat sedang memancing di laut menjelang sore (Sumber: Pixabay.com | Foto: Angelo_Giordano)
Dua orang laki-laki terlihat sedang memancing di laut menjelang sore (Sumber: Pixabay.com | Foto: Angelo_Giordano)

Oleh karenanya, memacing bukan cuma soal kail dan racikan umpan, melainkan medium kontemplatif yang memungkinkan individu belajar menerima segala alur proses tanpa tergesa dan semata-mata berorientasi pada hasil.

Stigma yang melekat pada laki-laki yang menggemari pancingan sesungguhnya cerminan dari ketidakmampuan kita dalam menyaksikan “produktivitas” dari kacamata yang teramat sempit. Padahal, tidak sedikit metode manusia untuk terlihat “produktif” baik secara emosional, sosial, ekonomi, bahkan spritual.

Dengan demikian, sangat tidak relevan jika narasi negatif dan stereotif itu masih melekat kepada mereka yang mempunyai kegemaran  yang berbeda. Bagaimanapun, hobi, apapun jenis dan tujuannya, tak layak divonis dengan prasangka. Dengan saling memahami membuat kita mengerti, bahwa cara manusia menemukan titik kebahagiaannya ternyata berbeda-beda.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yayang Nanda Budiman
Praktisi hukum di Jakarta, menyukai perjalanan, menulis apapun, sisanya mendengarkan Rolling Stones

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!