Dari Sanghyang Tikoro ke Citarum Harum: Mitos yang Jadi Aksi

4 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Sejumlah pelajar, warga dan pegiat lingkungan melakukan aksi bersih-bersih sungai Citarum pada Rabu 30 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pelajar, warga dan pegiat lingkungan melakukan aksi bersih-bersih sungai Citarum pada Rabu 30 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sejak dahulu, masyarakat di berbagai daerah di Nusantara hidup berdampingan dengan sungai, begitu juga masyarakat Sunda dengan sungai Citarum. Dalam cerita lisan, Citarum bukan sekadar aliran air, melainkan nadi kehidupan yang dijaga oleh kekuatan gaib.

Bayangkan suasana ratusan tahun silam, ketika matahari mulai terlihat di ufuk timur, kabut tipis menyelimuti bantaran Citarum. Warga berkumpul di tepian, lalu perlahan mendorong sasajen, berisi bunga, nasi tumpeng kecil, dan dupa dialirkan ke tengah arus.

Mereka memohon dengan khidmat kepada Sanghyang penjaga sungai, agar air tetap jernih dan sawah mereka subur. Riak air yang menelan sesaji seakan sebagai tanda kalau sungai mendengar dan memberikan restu.

Cerita lain tak kalah terkenal adalah legenda Sangkuriang. Ketika Sangkuriang membendung paksa aliran air menjadi danau, namun usahanya gagal karena hasrat menikahi Dayang Sumbi, Ibunya sendiri. Airnya kemudian mencari jalan keluar menuju selatan, membentuk aliran yang kini kita kenal sebagai Sungai Citarum. Mitos yang memperkuat adanya danau purba di Kota Bandung. Dalam mitos ini, manusia yang melawan hukum alam selalu berujung pada bencana.

Kisah tersebut, meski dibungkus mitologi, menyimpan pesan ekologis. Alam memiliki keseimbangannya sendiri, dan manusia dituntut untuk menjaganya. Seperti pepatah Sunda mengatakan, “Lamun ngabalukarkeun karuksakan alam, tungtungna bakal balik ka diri sorangan”, jika merusak alam, akibatnya kembali kepada manusia. Hal tersebut pada hakekatnya, sejalan dengan Kalam Sang Khalik "Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri (Al-Isra : 7).

Sungai Citarum dengan panjang sekitar 297 km, dari hulu di Gunung Wayang, Bandung Selatan, hingga bermuara di Laut Jawa. Citarum mengairi sawah, memasok listrik lewat waduk-waduk besar, hingga menjadi sumber air baku. Namun sayangnya, Citarum juga menanggung beban limbah rumah tangga, industri, dan sampah plastik, bahkan bangkai hewan yang terdampak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Kota Bandung, meski tidak dilintasi langsung oleh aliran utama Citarum, tetap punya peran besar. Sungai Cikapundung yang membelah kota bermuara langsung ke Citarum di Dayeuhkolot. Artinya, setiap sampah yang dibuang ke Cikapundung pada akhirnya akan jatuh ke “tenggorokan” Citarum.

Tidak heran jika hal tersebut menarik perhatian Presiden Joko Widodo yang memprakarsai program nasional Citarum Harum. Program ini melibatkan banyak nara damping dar unsur TNI, pemerintah daerah, akademisi, hingga komunitas warga, dibawah koordinasi Satuan Tugas Citarum Harum.

Kini, menjaga sungai bukan tentang pekerjaan teknis, melainkan pelajaran moral. Teras Cikapundung, misalnya, telah menjadi ruang edukasi di tengah kota Bandung, tempat anak-anak belajar bahwa sungai adalah sahabat, bukan tempat sampah. Kampus-kampus di Bandung pun mulai menjadikan Citarum sebagai laboratorium hidup, tempat mahasiswa meneliti kualitas air, sosial budaya bantaran, hingga model kebijakan publik.

Orang Sunda punya ungkapan: “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak”, jika hutan rusak dan air habis, manusia akan sengsara.

Pepatah ini terasa nyata di Citarum. Bahkan Prabu Siliwangi yang dikenal sebagai raja besar Pajajaran memberikan pesan “Uga Siliwangi”, “Lamun hirup ulah ngahianat ka sasama jeung alam”, dalam hidup, jangan pernah berkhianat kepada sesama dan alam. Pesan leluhur ini seolah kembali menggema saat kita menyaksikan kondisi sungai hari ini.

Mungkin, kalau leluhur dulu memberikan sesaji ke Sanghyang Tikoro untuk menenangkan aliran sungai, kini sesaji terbaik yang bisa kita berikan adalah tindakan nyata dengan: tidak membuang sampah ke sungai, mengurangi limbah, dan ikut terlibat dalam gerakan lingkungan.

Hayu, Jaga Citarum

Potret Sungai Citarum di kawasan Dayeuhkolot sekitar tahun 1900-an. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)
Potret Sungai Citarum di kawasan Dayeuhkolot sekitar tahun 1900-an. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)

Bagi generasi muda, khususnya Gen Z di Bandung dan Jawa Barat, Sungai Citarum bukan hanya warisan alam, melainkan juga ruang belajar dan berkarya. Setiap tetes airnya menyimpan cerita leluhur, setiap riaknya menyimpan peluang untuk masa depan yang lebih baik.

Hal sederhana yang bisa kita mulai, membuat konten edukasi di media sosial tentang kebersihan sungai, ikut program komunitas lingkungan, atau menjadikan projek sekolah dan kampus bertema Citarum Harum. Dengan cara itu, mitos dan kearifan lokal tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan hidup kembali sebagai inspirasi gerakan nyata.

Jika karuhun menyampaikan melalui ritual dan sesaji, kini tindakan nyata yang akan menentukan apakah Citarum akan Harum atau tinggal cerita?. Citarum adalah cermin peradaban. Sejarah yang akan menilai apakah kita generasi yang menjaga, atau justru yang merusaknya.

Pepatah Sunda mengingatkan, “Cai téh pangéran nu ngidinan hirup”, air adalah anugerah Tuhan yang memberi kehidupan. Maka, menjaga Citarum sama artinya dengan menjaga diri kita sendiri, menjaga kota kita, dan menjaga masa depan generasi yang akan datang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)