Tak Seksi tapi Berdampak: Diskon Tarif Listrik sebagai Stimulus Ekonomi yang Terlupakan

Muhammad Taufan Qohar
Ditulis oleh Muhammad Taufan Qohar diterbitkan Selasa 30 Des 2025, 15:54 WIB
Meteran listrik. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Meteran listrik. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mulai mengimplementasikan berbagai program unggulan pada tahun 2025 sebagai wujud realisasi agenda pembangunan nasional. Salah satu program yang paling menonjol sekaligus menyerap porsi anggaran terbesar adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dengan cakupan sasaran yang sangat luas, program ini secara wajar menyedot perhatian publik, akademisi, pelaku usaha, hingga media massa. Perdebatan pun mengemuka, mulai dari efektivitas pelaksanaan, kesiapan kelembagaan, hingga implikasi fiskal jangka panjangnya.

Namun, di tengah dominasi wacana publik mengenai MBG, terdapat program pemerintah lain yang sejatinya memberikan dampak langsung dan cepat bagi masyarakat luas, tetapi relatif luput dari sorotan. Program tersebut adalah stimulus ekonomi berupa diskon tarif listrik sebesar 50% selama dua bulan. Kebijakan ini menyasar rumah tangga secara luas, khususnya pelanggan listrik dengan daya rendah hingga menengah, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh berbagai lapisan masyarakat.

Diskon tarif listrik 50% di Indonesia untuk Januari–Februari 2025 merupakan stimulus fiskal yang dirancang secara strategis namun terbatas, yang bertujuan untuk mengimbangi erosi daya beli akibat kenaikan PPN sebesar 1 poin persentase (11% menjadi 12%, berlaku mulai 1 Januari 2025). Diimplementasikan melalui penerapan otomatis kepada 81,4 juta pelanggan rumah tangga (97% dari basis pelanggan). Dengan sasaran utama pelanggan berdaya hingga 2.200 volt-ampere, kebijakan ini terutama menyentuh rumah tangga berpenghasilan rendah dan menengah, untuk memberikan dukungan konsumsi langsung selama periode perlambatan pertumbuhan ekonomi (Hartatik, 2025).

Nilai Kebijakan dalam Perspektif Mikro

Meskipun dampak makroekonominya bersifat terbatas, diskon tarif listrik 50% tetap memiliki nilai kebijakan yang signifikan jika dilihat dari perspektif desain, implementasi, dan dampak langsung pada kesejahteraan rumah tangga. Alih-alih dinilai semata-mata dari kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi agregat, kebijakan ini lebih tepat dipahami sebagai instrumen stimulus pada level mikro, melalui pengurangan beban pengeluaran dasar masyarakat.

Dalam kerangka tersebut, terdapat sejumlah karakteristik kebijakan yang menjadikan program diskon tarif listrik layak diapresiasi dan dipertimbangkan sebagai instrumen stimulus yang efektif, inklusif, dan relatif efisien. Karakteristik inilah yang akan diuraikan lebih lanjut, mencakup aspek ketepatan sasaran, kemudahan akses, akuntabilitas, cakupan penerima manfaat, hingga kontribusinya terhadap daya beli dan stabilitas ekonomi.

Program diskon tarif listrik 50% menunjukkan keunggulan kebijakan yang bekerja secara langsung pada kebutuhan dasar masyarakat. Dengan menyasar rumah tangga berdaya listrik rendah hingga menengah, kelompok yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya hidup, kebijakan ini mampu menurunkan beban pengeluaran secara nyata dan merata.

Mekanisme penerapan otomatis tanpa proses pendaftaran menghilangkan hambatan birokrasi, sehingga manfaat kebijakan dapat segera dirasakan oleh masyarakat tanpa sekat administratif, sekaligus meminimalkan potensi penyalahgunaan yang kerap muncul pada skema bantuan tunai.

Baca Juga: Hikayat Oleh-oleh Bandung, dari Celebrity Cake hingga Tiramisusu Kekinian

Cakupan penerima yang luas membuat diskon tarif listrik tidak hanya membantu kelompok miskin, tetapi juga kelas menengah yang sering kali luput dari program bantuan sosial. Pengurangan biaya listrik, meskipun bersifat sementara, memberikan ruang bernapas bagi rumah tangga untuk mengalokasikan pengeluaran pada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Dengan demikian, kebijakan ini berkontribusi dalam menjaga daya beli dan stabilitas konsumsi rumah tangga, yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Dari sisi kebijakan publik, desain diskon tarif listrik relatif sederhana, efisien secara fiskal, serta mudah direplikasi dan diskalakan sesuai kebutuhan. Dampaknya pun bersifat cepat (quick wins), terlihat pada siklus pembayaran listrik berikutnya, sehingga berperan penting dalam menjaga sentimen masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi. Selain itu, dengan menahan beban tarif listrik sebagai bagian dari komponen administered prices, kebijakan ini turut mendukung pengendalian inflasi, khususnya pada periode awal tahun ketika tekanan harga cenderung meningkat.

Dampak dan Tantangan Politik

Hingga saat ini, evaluasi dampak diskon tarif listrik terhadap pertumbuhan ekonomi dan konsumsi agregat masih bersifat indikatif. Data makro menunjukkan stabilisasi konsumsi dan inflasi, namun belum tersedia kajian empiris yang secara khusus mengisolasi dampak kebijakan ini dari stimulus fiskal dan moneter lainnya. Di balik manfaatnya yang nyata, program diskon tarif listrik 50% memiliki keterbatasan.

Kebijakan ini bersifat sementara sehingga dampaknya cepat hilang, sementara permintaan listrik rumah tangga yang inelastis membuat efek pengganda ekonominya terbatas. Selain itu, dengan kebutuhan anggaran yang tidak kecil (Rp13,6 triliun), kebijakan ini memiliki biaya peluang fiskal jika dibandingkan dengan stimulus lain yang lebih terarah.

Di luar aspek teknokratis, diskon tarif listrik juga menghadapi tantangan politik. Kebijakan ini tidak “seksi” secara politik karena tidak simbolik, tidak mudah diklaim sebagai program unggulan, dan manfaatnya dirasakan secara luas namun tanpa narasi yang kuat. Akibatnya, kebijakan yang efektif secara substantif berisiko terpinggirkan dalam prioritas kebijakan dan tidak berkelanjutan.

Baca Juga: Bandung Merayakan, Warganya Bertahan

Ke depan, pemerintah perlu mempertimbangkan diskon tarif listrik sebagai instrumen stimulus yang terencana dan periodik, bukan hanya respons darurat. Pembatasan waktu yang jelas, serta integrasi dengan bantuan terarah dan agenda efisiensi energi perlu dilakukan agar kebijakan ini tidak hanya meringankan beban masyarakat, tetapi juga berkelanjutan secara fiskal dan relevan secara politik.

Selain itu, kejelasan desain dan komunikasi kebijakan menjadi penting untuk menjaga ekspektasi masyarakat, sehingga diskon tarif listrik dipahami sebagai kebijakan sementara yang terukur, bukan subsidi permanen yang menimbulkan ketergantungan dan tekanan fiskal di kemudian hari.

Lebih dari itu, pengulangan kebijakan ini memiliki justifikasi ekonomi yang kuat, mengingat pengurangan biaya listrik secara langsung meningkatkan pendapatan disposabel (disposable income) rumah tangga. Peningkatan pendapatan disposabel tersebut berpotensi mendorong konsumsi masyarakat, sementara konsumsi rumah tangga merupakan kontributor utama terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia (konsumsi rumah tangga merupakan komponen terbesar PDB sekitar 52–55%).

Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang rentan terhadap pelemahan permintaan, stimulus berbasis pengurangan biaya hidup dasar seperti diskon tarif listrik dapat berfungsi sebagai penyangga konsumsi yang efektif untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Taufan Qohar
Analis Kebijakan Lembaga Administrasi Negara
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:19 WIB

Kota Bandung dan Krisis Sampah

Kota Bandung kembali berada dalam sorotan publik akibat persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Gunung"sampah di daerah warga jl. buanasari II no.1 , Kota Bandung pada Selasa, 2 Desember 2025. (Foto:Muhammad Fiqri A.)