Bandung Merayakan, Warganya Bertahan

naafizha
Ditulis oleh naafizha diterbitkan Selasa 30 Des 2025, 13:45 WIB
Pada liburan, tempat wisata Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo ini dipadati pengunjung dari berbagai daerah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pada liburan, tempat wisata Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo ini dipadati pengunjung dari berbagai daerah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Desember selalu datang dengan ritme yang berbeda di Kota Bandung. Lampu-lampu kota menyala lebih lama, pusat perbelanjaan dipadati pengunjung, dan agenda wisata serta hiburan meningkat tajam menjelang Natal dan Tahun Baru. Bandung tampak meriah, hidup, dan sibuk merayakan akhir tahun.

Namun di balik kemeriahan tersebut, terdapat realitas lain yang jarang disorot: tidak semua warga Bandung ikut merayakan. Sebagian justru sedang berusaha bertahan menghadapi kepadatan kota, tekanan ekonomi, dan berkurangnya kenyamanan ruang hidup. Fenomena ini bukanlah hal baru. Setiap Desember, lonjakan wisatawan kembali terjadi dan membawa dampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga. Jalanan semakin padat, ruang publik penuh, dan mobilitas harian terganggu.

Kondisi ini kerap dianggap sebagai konsekuensi wajar dari status Bandung sebagai kota wisata. Namun persoalan muncul ketika kemeriahan tersebut tidak diimbangi dengan kebijakan yang berpihak pada warga lokal sebagai penghuni tetap kota.

Sebagai mahasiswa yang tinggal dan beraktivitas di Bandung, saya merasakan bahwa Desember bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang adaptasi. Kemacetan yang semakin parah membuat waktu tempuh perjalanan menjadi tidak efisien. Aktivitas akademik, pekerjaan, hingga kehidupan sosial harus menyesuaikan dengan kondisi kota yang kian padat.

Dalam situasi ini, warga lokal tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan diri dengan arus besar aktivitas akhir tahun.Masalah mobilitas ini menunjukkan bahwa pengelolaan kota pada periode akhir tahun belum sepenuhnya berorientasi pada keberlanjutan. Jalan dan infrastruktur yang sama harus menampung peningkatan volume kendaraan yang signifikan, sementara transportasi publik belum mampu menjadi solusi utama. Akibatnya, warga harus menanggung beban kemacetan yang berulang tanpa jaminan kenyamanan maupun efisiensi.

Selain persoalan mobilitas, euforia akhir tahun juga membawa tekanan ekonomi tersendiri. Peningkatan konsumsi selama Desember—mulai dari makanan, transportasi, hingga kebutuhan harian—secara tidak langsung mendorong kenaikan harga. Biaya hidup terasa meningkat, sementara pendapatan sebagian besar warga tidak mengalami perubahan signifikan.

Bandros atau Bandung Tour on Bus adalah bus wisata ikonik Kota Bandung. (Sumber: Pexels/arwin waworuntu)
Bandros atau Bandung Tour on Bus adalah bus wisata ikonik Kota Bandung. (Sumber: Pexels/arwin waworuntu)

Bagi mahasiswa, pekerja dengan penghasilan tetap, dan kelompok ekonomi rentan, kondisi ini menuntut pengelolaan keuangan yang lebih ketat agar dapat melewati akhir tahun dengan aman. Situasi tersebut memperlihatkan adanya ketimpangan dalam perayaan kota. Bandung tampak semarak di ruang publik dan media sosial, tetapi kemeriahan itu tidak dirasakan secara merata. Sebagian orang menikmati hiburan dan suasana liburan, sementara sebagian lainnya harus bertahan menghadapi kepadatan, kenaikan pengeluaran, serta kelelahan fisik dan mental. Kota merayakan, tetapi tidak semua warganya ikut bergembira.

Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mengelola dinamika akhir tahun ini. Pariwisata memang menjadi sektor unggulan yang mendorong pergerakan ekonomi. Namun tanpa pengaturan yang berimbang, pariwisata massal berpotensi mengorbankan kualitas hidup warga lokal. Pengelolaan lalu lintas, perlindungan ruang publik, serta keberpihakan terhadap masyarakat lokal seharusnya menjadi bagian dari strategi akhir tahun, bukan sekadar respons situasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung menunjukkan adanya peningkatan aktivitas sektor pariwisata dan perdagangan pada periode akhir tahun. Meski demikian, pertumbuhan tersebut perlu dibaca secara kritis. Peningkatan aktivitas ekonomi tidak otomatis menjamin pemerataan manfaat. Tanpa kebijakan distribusi yang adil, pertumbuhan justru berpotensi memperlebar jarak antara mereka yang menikmati perayaan dan mereka yang harus bertahan.

Lebih jauh, kondisi ini berkaitan dengan arah pembangunan Kota Bandung. Kota ini semakin diposisikan sebagai destinasi wisata dan konsumsi, sementara fungsi kota sebagai ruang hidup warganya kerap terpinggirkan. Ketika orientasi kebijakan lebih menonjolkan daya tarik eksternal, kebutuhan internal warga berisiko terabaikan. Padahal, kota yang berkelanjutan seharusnya mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan kualitas hidup masyarakat.

Bagi saya sebagai mahasiswa, Desember menjadi momentum refleksi. Kota bukan hanya panggung perayaan, tetapi juga ruang sosial yang harus inklusif dan adil. Kemeriahan akhir tahun seharusnya tidak dibangun dengan mengorbankan kenyamanan warga. Tantangan Bandung hari ini adalah memastikan bahwa kota ini tidak hanya ramah bagi pengunjung, tetapi juga layak dan manusiawi bagi mereka yang tinggal di dalamnya.

Baca Juga: Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Celebrity Cake hingga Tiramisusu Kekinian

Menutup tahun dengan gemerlap seharusnya diiringi dengan evaluasi kebijakan. Bandung perlu bertanya: untuk siapa kota ini dirayakan? Jika perayaan hanya dinikmati oleh sebagian, sementara sebagian lainnya terus bertahan, maka ada persoalan struktural yang perlu dibenahi. Desember tidak boleh hanya menjadi bulan selebrasi, tetapi juga momentum untuk menata ulang arah pembangunan kota.

Pada akhirnya, kota yang baik bukanlah kota yang paling ramai dirayakan, melainkan kota yang mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kesejahteraan. Bandung akan benar-benar menjadi kota yang hidup ketika kemeriahan akhir tahun tidak lagi menjadi beban, melainkan kebahagiaan yang dapat dirasakan bersama oleh seluruh warganya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

naafizha
Tentang naafizha
Stepping into writing for the first time. Thank you for holding space for my words

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)