Desember selalu datang dengan ritme yang berbeda di Kota Bandung. Lampu-lampu kota menyala lebih lama, pusat perbelanjaan dipadati pengunjung, dan agenda wisata serta hiburan meningkat tajam menjelang Natal dan Tahun Baru. Bandung tampak meriah, hidup, dan sibuk merayakan akhir tahun.
Namun di balik kemeriahan tersebut, terdapat realitas lain yang jarang disorot: tidak semua warga Bandung ikut merayakan. Sebagian justru sedang berusaha bertahan menghadapi kepadatan kota, tekanan ekonomi, dan berkurangnya kenyamanan ruang hidup. Fenomena ini bukanlah hal baru. Setiap Desember, lonjakan wisatawan kembali terjadi dan membawa dampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga. Jalanan semakin padat, ruang publik penuh, dan mobilitas harian terganggu.
Kondisi ini kerap dianggap sebagai konsekuensi wajar dari status Bandung sebagai kota wisata. Namun persoalan muncul ketika kemeriahan tersebut tidak diimbangi dengan kebijakan yang berpihak pada warga lokal sebagai penghuni tetap kota.
Sebagai mahasiswa yang tinggal dan beraktivitas di Bandung, saya merasakan bahwa Desember bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang adaptasi. Kemacetan yang semakin parah membuat waktu tempuh perjalanan menjadi tidak efisien. Aktivitas akademik, pekerjaan, hingga kehidupan sosial harus menyesuaikan dengan kondisi kota yang kian padat.
Dalam situasi ini, warga lokal tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan diri dengan arus besar aktivitas akhir tahun.Masalah mobilitas ini menunjukkan bahwa pengelolaan kota pada periode akhir tahun belum sepenuhnya berorientasi pada keberlanjutan. Jalan dan infrastruktur yang sama harus menampung peningkatan volume kendaraan yang signifikan, sementara transportasi publik belum mampu menjadi solusi utama. Akibatnya, warga harus menanggung beban kemacetan yang berulang tanpa jaminan kenyamanan maupun efisiensi.
Selain persoalan mobilitas, euforia akhir tahun juga membawa tekanan ekonomi tersendiri. Peningkatan konsumsi selama Desember—mulai dari makanan, transportasi, hingga kebutuhan harian—secara tidak langsung mendorong kenaikan harga. Biaya hidup terasa meningkat, sementara pendapatan sebagian besar warga tidak mengalami perubahan signifikan.

Bagi mahasiswa, pekerja dengan penghasilan tetap, dan kelompok ekonomi rentan, kondisi ini menuntut pengelolaan keuangan yang lebih ketat agar dapat melewati akhir tahun dengan aman. Situasi tersebut memperlihatkan adanya ketimpangan dalam perayaan kota. Bandung tampak semarak di ruang publik dan media sosial, tetapi kemeriahan itu tidak dirasakan secara merata. Sebagian orang menikmati hiburan dan suasana liburan, sementara sebagian lainnya harus bertahan menghadapi kepadatan, kenaikan pengeluaran, serta kelelahan fisik dan mental. Kota merayakan, tetapi tidak semua warganya ikut bergembira.
Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mengelola dinamika akhir tahun ini. Pariwisata memang menjadi sektor unggulan yang mendorong pergerakan ekonomi. Namun tanpa pengaturan yang berimbang, pariwisata massal berpotensi mengorbankan kualitas hidup warga lokal. Pengelolaan lalu lintas, perlindungan ruang publik, serta keberpihakan terhadap masyarakat lokal seharusnya menjadi bagian dari strategi akhir tahun, bukan sekadar respons situasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung menunjukkan adanya peningkatan aktivitas sektor pariwisata dan perdagangan pada periode akhir tahun. Meski demikian, pertumbuhan tersebut perlu dibaca secara kritis. Peningkatan aktivitas ekonomi tidak otomatis menjamin pemerataan manfaat. Tanpa kebijakan distribusi yang adil, pertumbuhan justru berpotensi memperlebar jarak antara mereka yang menikmati perayaan dan mereka yang harus bertahan.
Lebih jauh, kondisi ini berkaitan dengan arah pembangunan Kota Bandung. Kota ini semakin diposisikan sebagai destinasi wisata dan konsumsi, sementara fungsi kota sebagai ruang hidup warganya kerap terpinggirkan. Ketika orientasi kebijakan lebih menonjolkan daya tarik eksternal, kebutuhan internal warga berisiko terabaikan. Padahal, kota yang berkelanjutan seharusnya mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan kualitas hidup masyarakat.
Bagi saya sebagai mahasiswa, Desember menjadi momentum refleksi. Kota bukan hanya panggung perayaan, tetapi juga ruang sosial yang harus inklusif dan adil. Kemeriahan akhir tahun seharusnya tidak dibangun dengan mengorbankan kenyamanan warga. Tantangan Bandung hari ini adalah memastikan bahwa kota ini tidak hanya ramah bagi pengunjung, tetapi juga layak dan manusiawi bagi mereka yang tinggal di dalamnya.
Baca Juga: Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Celebrity Cake hingga Tiramisusu Kekinian
Menutup tahun dengan gemerlap seharusnya diiringi dengan evaluasi kebijakan. Bandung perlu bertanya: untuk siapa kota ini dirayakan? Jika perayaan hanya dinikmati oleh sebagian, sementara sebagian lainnya terus bertahan, maka ada persoalan struktural yang perlu dibenahi. Desember tidak boleh hanya menjadi bulan selebrasi, tetapi juga momentum untuk menata ulang arah pembangunan kota.
Pada akhirnya, kota yang baik bukanlah kota yang paling ramai dirayakan, melainkan kota yang mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kesejahteraan. Bandung akan benar-benar menjadi kota yang hidup ketika kemeriahan akhir tahun tidak lagi menjadi beban, melainkan kebahagiaan yang dapat dirasakan bersama oleh seluruh warganya. (*)
