Ratusan Hektare Kebun Teh Malabar Hilang: Benarkah Karena HGU Habis dan Lemahnya Pengawasan?

3 menit baca
Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan
Petani Teh Bakar Gubug dan Rusak Lahan Pertanian Ilegal di Kertamanah Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Petani Teh Bakar Gubug dan Rusak Lahan Pertanian Ilegal di Kertamanah Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID — Ratusan hektare perkebunan teh di PTPN I Regional II Malabar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, dijarah oleh pihak tertentu dalam satu tahun terakhir.

Dalam beberapa bulan terakhir saja, tercatat dua insiden besar yang menghebohkan kawasan Perkebunan Teh Malabar. Kejadian pertama adalah penyerobotan lahan perkebunan oleh oknum warga, di mana dua hektare kebun teh di Blok Pahlawan dibabat habis pada April 2025 dan sempat memicu perhatian publik.

Meski telah dilaporkan, perusakan serupa kembali terjadi. Akhir November lalu, tiga titik lahan lainnya—dengan luas mencapai puluhan hektare—kembali digunduli oleh pihak lain.

Secara keseluruhan, dalam satu tahun terakhir, sekitar 150 hektare kebun teh telah hilang akibat penyerobotan dan pembabatan liar.

HGU yang Habis Diduga Menjadi Pemicu Penyerobotan

Habisnya Hak Guna Usaha (HGU) Perkebunan Teh Malabar disebut menjadi salah satu alasan mengapa penyerobotan lahan marak terjadi. Hal ini diungkapkan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

"Bisa dilakukan pengecekan kepada Kantor ATR/BPN Kabupaten Bandung, sejauh pengetahuan Walhi, di Kabupaten Bandung terdapat ribuan hektare HGU PTPN yang telah habis," ujar Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Wahyudin.

Menurut Walhi, kondisi ini memunculkan celah bagi pihak tertentu untuk memanfaatkan status lahan yang melemah, terlebih ketika pengelola dinilai kurang sigap dalam melakukan pengawasan.

Wahyudin juga menyebut bahwa habisnya HGU mendorong PTPN melakukan alih kelola dengan pola kerja sama. Di tengah berkembangnya pariwisata Pangalengan, sebagian area kebun teh dikomersialkan sebagai objek wisata.

"HGU yang telah habis akhirnya dikerjasamakan dengan pihak lain agar PTPN tidak mendapat kerugian," katanya.

Padahal, lanjutnya, PTPN dapat mengajukan perpanjangan HGU atau mengembalikan lahan kepada negara, bukan membuka peluang alih fungsi yang tidak sesuai ketentuan.

Pariwisata dan Kerusakan Lingkungan

Perkebunan teh Malabar kini juga dimanfaatkan sebagai kawasan wisata, baik oleh korporasi besar maupun pengelola kecil yang membangun spot swafoto di tengah kebun. Akibatnya, sebagian areal kebun terus menyusut.

Situasi diperparah oleh penyerobotan yang berakhir pada alih fungsi lahan menjadi pertanian hortikultura. Kondisi ini dianggap mengkhawatirkan lantaran tutupan lahan berkurang drastis dan meningkatkan risiko bencana.

"Pada musim hujan akan menimbulkan run off yang tinggi dan menggerus material tanah yang tidak menutup kemungkinan dapat memicu banjir bandang," terang Wahyudin.

Karena luas lahan yang hilang mencapai ratusan hektare, Walhi menduga PTPN melakukan pembiaran. Bahkan, ada dugaan PTPN turut membuka peluang bagi pemodal untuk mengubah kebun teh menjadi kebun sayuran.

"Dugaan kuat Walhi selama kurun waktu 20 tahun PTPN sendiri yang kerap menjadikan lahannya untuk dikerjasamakan kepada perusahaan atau individu yang memiliki modal kuat untuk usaha pertanian jenis sayuran," ujarnya.

PTPN sempat beralasan bahwa area yang harus diawasi sangat luas sehingga sulit dipantau. Patroli malam disebut dilakukan, namun para penyerobot sering beraksi secara sembunyi-sembunyi. Walhi menilai alasan tersebut tidak masuk akal karena aktivitas pembabatan menggunakan alat berat yang suaranya semestinya mudah terdengar.

Bantahan PTPN

Manager Kebun Malabar PTPN I Regional II, Heru Supriadi, membantah dugaan Walhi. Ia mengakui adanya HGU yang telah habis, tetapi menegaskan bahwa proses perpanjangan sedang berjalan.

"Dalam proses pengajuan perpanjangan dan itu tidak serta-merta hak pengelolaan lahan lenyap. Apalagi masih ada aset BUMN di sana," ujarnya.

Karena itu, menurutnya, penyerobotan lahan dengan alasan HGU habis tidak dapat dibenarkan kecuali lahan tersebut sudah diambil alih oleh negara.

Ia juga membantah bahwa banyak area kebun teh telah dikerjasamakan dengan pihak lain. Meski ada sejumlah objek wisata berdiri di lahan PTPN, ia mengklaim kawasan tersebut bukan kebun teh produktif.

"Itu lahan eks kebun kina, sudah lama kosong. Kerjasama yang dibangun juga sudah sesuai syarat dan ketentuan berlaku," katanya.

Proses Hukum

Penyerobotan lahan di Perkebunan Teh Malabar kini ditangani Polresta Bandung. Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono memastikan penanganan hukum dilakukan secara menyeluruh.

"Sudah ada beberapa orang yang diperiksa," katanya.

Ia menegaskan, proses hukum tidak hanya menyasar pelaku lapangan, melainkan juga pihak yang diduga menjadi aktor intelektual.

Menurutnya, perusakan kebun teh bukan aksi spontan, melainkan diduga didanai pihak tertentu.

"Kami akan mengejar siapa orang yang mendanai atau sebagai donatur yang memberikan uang kepada masyarakat untuk melakukan penebangan pohon-pohon teh itu," tegasnya.

Sejumlah nama telah dikantongi penyidik dan tinggal menunggu pemeriksaan lanjutan. Diharapkan proses hukum ini segera rampung agar para pihak yang terlibat dapat diseret ke meja hijau.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)