Angkot, Suara Rakyat dan Pergumulan Batin yang Tersirat

6 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Angkot dan Suara Rakyat Kecil (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Angkot dan Suara Rakyat Kecil (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Sore ini, selepas dari Pasar Baru saya ingin pergi ke Gramedia Festival Citylink untuk membeli buku Paulo Freire yang berjudul "Pendidikan Kaum Tertindas". Buku ini sudah lama saya nantikan bertengger di meja sederhana kamar saya.

Gramedia Citylink menjadi pilihan karena Gramedia Miko Mall, Kings Mall dan Merdeka tidak memiliki stock buku ini. Saya perhatikan beberapa gramedia yang berada di mall seringkali bersembunyi di lantai basement. Sehingga beberapa pengunjung kadang tidak menyadari keberadannya.

Sekitar 10 tahun ke belakang ketika saya mengunjungi beberapa gramedia yang terletak di mall, kondisinya ramai, banyak anak berseragam merah-putih yang diantar orang tuanya, remaja berseragam navy dan abu-abu yang duduk di sudut-sudut tak terlihat untuk membaca buku yang plastiknya telah terbuka.

Meski ada beberapa siswa yang diam-diam membuka plastik tanpa seizin petugas. Pemandangan yang hampir hilang beberapa tahun ke belakang. Meski Gramedia Merdeka tetap eksis dan tidak pernah sepi dari serbuan para pecinta buku. Mungkin karena jumlah bukunya yang beragam juga tempatnya yang lebih luas dan nyaman untuk sekedar membaca buku.

Menuju Gramedia Citylink dengan menggunakan transport umum terdapat dua alternatif. Pertama, bisa jalan kaki dari pasar baru menuju lampu merah gardu jati lalu menggunakan angkot 23 dan turun di perempatan Kopo.

Kemudian menyebrang jalan untuk naik angkot Cibaduyut--Kebon Kelapa. Kedua, bisa naik angkot Cimahi--St. Hall kemudian turun dibunderan Cibereum dan bisa melanjutkan dengan angkot Cimahi--Leuwi Panjang turun di Pasir Koja dan melanjutkan kembali menggunakan Dago--Caringin turun di Sukamulya dan berjalan kaki menuju Festival Citylink atau bisa melanjutkan dengan angkot Cibaduyut-Kebon Kelapa.

Sore itu langkah kaki membawa saya berjalan menuju kawasan Stasiun Bandung Pintu Selatan. Tepat di belokan jalan Suniaraja sebrang Bank BSI KC. Suniaraja Bandung terdapat dua angkot hijau berpolet orange bertuliskan Cimahi-St.Hall. Kedatangan saya disambut dengan penuh kegembiraan oleh kedua supir yang sedang berbincang-bincang.

"Ayo, Neng, mangga ka Cimahi, sok lebet"

Saya paham bagaimana rasa bahagia itu tercampar dari wajah mereka karena penumpang adalah hal paling berharga di tengah gempuran pengguna transportasi online. Saya sudah tahu kalau angkot pasti akan ngetem lebih lama untuk menunggu lebih banyak penumpang.

Sambil membaca novel karya Wiwid Prasetyo berjudul "Orang Miskin Dilarang Sekolah" sesekali terdengar sopir angkot yang sedang bergumam.

"Ya Allah, Lahaula Walaquwata, Ya Allah dinten ieu meni tiiseun-tiiseun teuing"

Deg! saya tertegun--perlahan rasa sesak menyeruak ke dalam dada mendengar bagaimana kerasnya dunia. Sebagai pengguna angkot sejak SMP dulu, saya sudah sering mendengar bagaimana percakapan suara rakyat yang terdengar memekikan telinga tapi sangat sunyi terdengar untuk orang-orang yang berkecukupan. Bahkan angin pun tak cukup membawanya terbang melintasi telinga-telinga para pemangku kebijakan.

Bagaimana mereka harus bekerja dari pagi buta hingga menjelang malam, berburu dengan sejumlah setoran, pungli para preman pinggir jalan yang memaksa membeli sejumlah permen atau air mineral, pengguna angkot yang membayar ongkos seenaknya juga semakin menurunnya minat masyarakat terhadap penggunaan transportasi umum.

Kali ini saya tidak bisa membaca buku dengan tenang karena dada begitu sakit dan tak tenang. Kembali lagi percakapan antara supir dengan calo angkot yang membantu mencarikan penumpang.

"Duh, kumahanya, poe ieu meni sepi pisan, bingung kumaha setoran, teu loba pamenta urang mah cukup 50 rebu deui weh ker mawa duit ka imah. Da ieu keur bensin mah alhamdulillah aya," Ujar sang supir dengan nada pasrah.

"Heueuh da kumaha deui, ayena kabeh keur sarepi, sok ku urang doakeun di jalan sing loba penumpang," timpal sang calo.

"Nya atuh, bismillah urang indit heula nya," kata sang supir sambil melajukan perlahan angkotnya.

Melintasi kawasan Stasiun Bandung masih saja belum ada tanda penumpang yang naik. Supir masih terus bergumam atas keresahannya. Sementara saya menahan tangis karena tidak bisa banyak berbuat dan mencoba menekan sudut mata agar air mata tidak keluar dari peraduannya.

Sering kali saya hanya berdoa dan sesekali melakukan nazar sambil bergumam dalam hati "Ya Allah, kalau angkot ini penuh saya janji mau bayar ongkosnya 20 ribu". Terlepas terkabul atau tidak, saya tak tega jika hanya membayar uang dengan tarif ongkos yang sesuai dengan peraturan.

Bagi saya tarif angkot yang tertempel dibagian pintu masuk angkot sudah tak relevan di tengah pengguna yang semakin menipis. Misalnya tarif jarak jauh yang dibayar Rp5.000-Rp.8000 saja.

Angkot di Kota Bandung masih dibutuhkan meski bukan menjadi pilihan utama sejak ada transportasi berbasis daring. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Angkot di Kota Bandung masih dibutuhkan meski bukan menjadi pilihan utama sejak ada transportasi berbasis daring. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Bukan bermaksud mendiskreditkan, tapi saya sering menemui pengguna angkot yang membayar tarif semurah-murahnya. Misalnya jarak dekat dengan tarif Rp.4000 sementara masih ada penumpang yang membayar Rp.2000- Rp.3000 saja.

Namun ketika naik ojek online mereka tak segan memberikan uang lebih untuk driver ojol. Ini bukan tentang siapa yang berhak mendapatkan uang lebih.

Namun masyarakat sering kali meremehkan supir angkot hanya karena dianggap lebih dekat dengan kaum menengah bawah. Sementara ojek online lebih prestisius dan bergengsi sehingga seperti ada rasa bersalah jika tidak memberikan tambahan ongkos melalui fitur "Semangatin driver pake tip, yuk?"

Bahkan beberapa sering saya temui penumpang yang membayar uang dengan pecahan 100 ribu. Saya rasa ini sebuah penghinaan atau kesadaran yang tak diindahkan. Logikanya di tengah menurunnya peminat angkot seharusnya kita sadar, mana mungkin mereka bisa menyediakan uang kembalian sebanyak itu, bahkan untuk sehari-hari pun 20 ribu terasa sulit untuk didapatkan.

Baca Juga: Kritik Sosial, Ubah Rasa Takut lewat Mengubah Mindset 'Manfaatin Hantu'

Sering kali supir mengalah dan memilih mengikhlaskan sementara penumpang tersebut turun hanya dengan kata maaf. Betapa jahatnya mereka seolah menyepelekan hak rakyat kecil di tengah dunia pun kejam terhadap profesinya.

Beruntung saat melintasi kawasan SMA Angkasa banyak anak sekolah yang naik- menyusul dengan sejumlah penumpang umum lainnya yang didominasi oleh perempuan. Menurut pandangan saya sejauh ini anak sekolah adalah penggerak terbesar perekonomian bagi para supir.

Meski ongkosnya cenderung lebih murah tapi banyaknya jumlah mereka menjadi penopang kehidupan sehari-hari. Maka ketika sekolah libur, angkot pun seperti kehilangan ruhnya- menipisnya nafas-nafas kehidupan.

Jika kamu ingin melihat bagaimana kejamnya dunia ini, coba datangi sejumlah terminal yang ada di daerahmu. Kamu akan melihat sejumlah porter yang tidak mendapat gaji dari siapapun, hanya penumpang yang menjadi sumber-sumber kehidupannya. Meski senyuman mereka tak selalu berbalas dan tawaran mereka untuk membawakan barang tak selamanya digubris. Mereka tetap berdiri tegap, berpenampilan rapih dan selalu siap untuk melayani.

Di sana kamu akan menemukan bagaimana kondisi masyarakat yang berjuang untuk mengais pundi-pundi uang untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Bagaimana suara lantang para calo untuk menanyakan keberangkatan penumpang yang datang. Para pedagang asongan yang menawarkan permen jahe, tisu, air minum, kacang, gorengan dan tahu sumedang. Kehidupan yang tak ramah bagi anak kecil yang harus menjual suara lewat mengamen.

Bagi saya angkot bukan hanya sekedar transportasi umum, tapi ia tempat yang selalu mengingatkan saya untuk tidak melupakan suara-suara kecil yang tak pernah terdengar.

Angkot juga mengingatkan saya kepada perjuangan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bagaimana setiap proses dan posisi kehidupan saya hari ini tak lepas dari profesi mulia mereka, mengantarkan setiap penumpang menuju kesuksesan dalam hidupnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)