Jejak Suryakencana: Dulu Kawasan Permukiman Tionghoa, Sekarang Kawasan Kuliner Populer

3 menit baca
Aliyah Nailatur Rahmah
Ditulis oleh Aliyah Nailatur Rahmah diterbitkan Minggu 07 Jun 2026, 07:45 WIB
Lawang Suryakencana yang ikonik dengan arsitektur khas Tionghoa (Sumber: dokumentasi pribadi | Foto: Aliyah Nailatur Rahmah)

Lawang Suryakencana yang ikonik dengan arsitektur khas Tionghoa (Sumber: dokumentasi pribadi | Foto: Aliyah Nailatur Rahmah)

Suryakencana merupakan salah satu kawasan destinasi berbagai kuliner legendaris yang paling ramai dikunjungi di Bogor. Kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai pusat kuliner, tetapi juga karena nilai sejarah dan budaya Tionghoa yang masih ada sampai saat ini. Pada masa Kolonial, kawasan ini adalah Jalan Perdagangan atau Handelsstraat yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1808.

Suryakencana mengalami perubahan fungsi kawasan dari pecinan lama menjadi pusat ekonomi di bidang kuliner yang terus berkembang. Banyak bangunan lama yang sekarang dialih fungsikan menjadi tempat makan, kafe, dan pusat perbelanjaan. Selain itu, pertumbuhan usaha kuliner yang terus berkembang seperti banyaknya pedagang kaki lima menimbulkan tantangan dalam hal penataan ruang, kenyamanan, dan kebersihan bagi pengunjung.

Pemerintah Kota Bogor melakukan penataan pada kawasan ini seperti perbaikan trotoar dan fasilitas umum. Menurut artikel dari Antara News 2024 tentang wisatawan yang mengunjungi Kota Bogor pada tahun 2024, disebutkan bahwa data wisatawan meningkat dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai sekitar 6,39 juta orang sepanjang bulan Januari hingga Desember 2024 . Namun, angka ini belum sepenuhnya mencakup kunjungan wisatawan ke kawasan Suryakencana.

Meskipun terjadi perubahan fungsi kawasan menjadi sebuah tempat kuliner, Suryakencana tetap mempertahankan identitas Budaya Tionghoa yang kini menjadi ciri khas kawasan ini. Awalnya kawasan ini terbentuk melalui kebijakan Wijikenstelsel pada masa kolonial yang mengelompokkan etnis Tionghoa dalam satu wilayah ekonomi dan permukiman. Akibat dari aktivitas perdagangan yang mendominasi itu meninggalkan jejak berupa arsitektur yang menunjukkan akulturasi antara Tionghoa dan Belanda.

Banyak bangunan lama seperti ruko yang kini dialihkan fungsi menjadi tempat makan, pusat perbelanjaan serta tempat ibadah seperti klenteng Vihara Dhanagun yang masih dipertahankan sebagai simbol budaya di Kawasan ini. Terdapat juga tradisi budaya Tionghoa seperti perayaan imlek dan Cap Go Meh yang masih terus dilestarikan. Walaupun terdapat perubahan alih fungsi dan arus modernisasi, tetapi Kawasan ini tidak menghilangkan nilai sejarah dan identitas budaya sebagai ciri khas daya tarik di Suryakencana.

Meningkatnya jumlah pengunjung ke Kawasan Suryakencana menimbulkan dampak terhadap perkembangan Kawasan ini. Banyaknya usaha kuliner yang semakin beragam seperti kafe dan juga pedagang kaki lima membuat Kawasan ini mengalami kepadatan dan keterbatasan lahan. Oleh karena itu, pemerintah setempat harus melakukaan penataan ulang di kawasan ini agar perekonomian usaha terus berjalan dengan kenyamanan lingkungan. Proses revitalisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor menjadi faktor utama dalam meningkatkan citra Suryakencana sebagai Kawasan destinasi kuliner dan budaya.

Pemerintah Kota Bogor melakukan penataan terhadap pedagang kaki lima agar tidak menghambat arus jalan dan juga penataan trotoar yang lebih luas untuk kenyamanan pejalan kaki. Dengan dilakukannya revitalisasi bertujuan agar kawasan ini menjadi lebih tertib dan bersih, membantu mempertahankan usaha-usaha kuliner legendris dan lebih banyak menarik pengunjung agar usaha kuliner terus berkembang pesat.

Perkembangan Suryakencana yang pada mulanya kawasan permukiman etnis Tionghoa menjadi destinasi surga kuliner legendaris di Bogor menunjukkan adanya perubahan yang terus berlanjut. Kawasan ini tidak hanya sebagai pusat kuliner, tetapi juga sebagai destinasi akulturasi budaya.

Upaya revitalisasi yang dilakukan oleh pemerintah Kota Bogor mampu menyeimbangkan antara pelestarian budaya dan modernisasi sehingga tidak menghilangkan budaya yang sudah lama ada. Perubahan ini menunjukkan bahwa proses revitalisasi tidak harus menghilangkan nilai Sejarah dan budaya. Sampai sekarang, Suryakencana tidak hanya dikenal sebagai pusat kuliner, tetapi juga sebagai pusat budaya. (*)

Referensi:

  • Jannah, M. R., & Andryanto, S. D. (2023, November 19). Kisah Jalan Suryakencana, Surga Kuliner Kota Bogor di Lintasan Jalur Anyer-Panarukan. Tempo. https://www.tempo.co/hiburan/kisah-jalan-suryakencana-surga-kuliner-kota-bogor-di-lintasan-jalur-anyer-panarukan-119127
  • Renaldi, M., Darmawan, F., & Rusli, M. (2025). REPRESENTASI BUDAYA TIONGHOA DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KAWASAN SURYA KENCANA KOTA BOGOR. Journal of Applied Science in Tourism Destination, 3(1), 1–9. https://doi.org/10.52352/jastd.v3i1.1900
  • Salim, R., & Carina, N. (2023). REVITALISASI KAWASAN PECINAN SURYAKENCANA BOGOR SEBAGAI SEBUAH STRATEGI DALAM MENINGKATKAN CITRA KAWASAN. Jurnal Sains Teknologi Urban Perancangan Arsitektur (Stupa), 4(2), 1737–1750. https://doi.org/10.24912/stupa.v4i2.22250
  • Setiawanto, B. (2024, December 30). Sebanyak 6,3 juta wisatawan ke Kota Bogor sepanjang 2024. Antara News. https://megapolitan.antaranews.com/berita/330982/sebanyak-63-juta-wisatawan-ke-kota-bogor-sepanjang-2024
  • STRATEGI PEMASARAN KAWASAN PECINAN SURYAKENCANA BOGOR SEBAGAI DESTINASI WISATA BUDAYA. (2015). In Journal of Tourism Destination and Attraction: Vol. Vol III (Issue No. 1, pp. 21–22) [Journal-article].
  • Sulivinio, S. (2021, March 25). Jalan Surya Kencana Bogor: Wisata penuh cerita halaman 1 - Kompasiana.com. KOMPASIANA. https://www.kompasiana.com/shirleysulivinio1723/605b5f2d8ede4845e61857e2/jalan-surya-kencana-bogor-wisata-penuh-cerita
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Aliyah Nailatur Rahmah
Mahasiswa Universitas Padjajaran, Jurusan Ilmu Sejarah

Berita Terkait

Ayo Netizen 06 Jun 2026, 12:29

Sasapedahan

Sasapedahan

News Update

Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 06 Jun 2026, 12:29

Sasapedahan

Saatnya memberi kesempatan kepada sepeda untuk menunjukkan kemampuannya.

Asyiknya bermain sepeda. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 16:46

Panduan Jelajah Dufan: Daftar Wahana Terbaik, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Jelajahi Dunia Fantasi Jakarta dengan panduan lengkap berisi daftar wahana, harga tiket Dufan, jam buka, dan fasilitas yang tersedia.

Wisata Dufan. (Sumber: ancol.com)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 15:38

Menelusuri Jejak Stasiun Karees, Penghubung Bandung-Kopo yang Kini Terlupakan

Artikel ini mencoba untuk menelusuri jejak dan sejarah dari Stasiun Karees yang menjadi titik awal penghubung Kota Bandung dengan Kopo atau Soreang.

Jejak rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 13:37

5 Kafe dan Resto Viral Terbaru di Bandung yang Wajib Dicoba

Rekomendasi tempat makan dan kafe viral Bandung dengan konsep unik, dessert estetik, hingga menu rumahan yang banyak dibicarakan.

The Deli Bakes, salah satu kafe favorit di Bandung. (Sumber: Taboo)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 12:45

Menilik Awal Pendakian Gunung Gede

Melihat jejak lawas pendakian awal Gunung Gede.

Pemandangan Indah Surya Kencana di Gunung Gede. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Moch Shezar Rachman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 10:18

ASGAR, dari Desa Banyuresmi sampai Menguasai Pulau Jawa

Mulai dari tahun 1930-an, memotong rambut punya peran sebagai penolong ekonomi bagi warga Garut.

Alat cukur merupakan simbol perjuangan ekonomi dan lahirnya identitas Asgar Garut (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock Project)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 09:48

Geografis-Historis Lembang: Rahasia di Balik Lokasi Wisata Favorit di Bandung

Lembang yang sekarang dikenal sebagai tempat favorit dengan penuh wisata, ternyata disebabkan oleh beberapa faktor.

Foto Rumah Ursone (Piknik Kopi) di Lembang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hilman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 08:57

Jejak Gultik: Transformasi Makanan Pekerja Malam Menjadi Identitas Blok M

Bukan hanya enak, ini kisah sejarah di balik Gultik (Gulai Tikungan) Blok M dan awal kemunculannya yang legendaris.

Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 20:23

Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 19:21

Sop Iga Rp10.000 yang Tak Pernah Sepi, Kuliner Legendaris di Kadungora Garut

Sop iga Rp10 ribu di Kadungora jadi favorit musafir dengan rasa kaldu kuat dan harga yang tetap ramah.

Warung Sop Iga A4 di Kadungora, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)