Sasapedahan

10 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Asyiknya bermain sepeda. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Asyiknya bermain sepeda. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pagi yang cerah itu, selesai beres-beres rumah. Saat asyik membaca koran, tiba-tiba Aa Akil anak kedua (11 tahun) memanggil, "Bah, ayo sasapedahan? Kan libur, masa diem aja di rumah?"

Kututup koran kebanggaan Jabar itu dan berpamitan pada Istri untuk bermain sepeda kumbang di sekitar Kampus. Tak ada agenda penting hari itu. Hanya hari libur yang berjalan sebagaimana mestinya.

Kakang anak ketiga (4 tahun), "Ikut ya Bah!"

"Hayu sasapedahan, berangkat!" ajakku.

Sebelum berangkat ke UIN Bandung yang terpaut sekitar 300 meter dari Babakan Dangdeur, bocah kelas 5 SD itu malipir dulu ke Aki Amang untuk memastikan ban sepeda tidak bocor.

Setelah selesai dicek dan dikompa sedikit perjalanan dilanjut menuju gerbang Dora Emon, pintu masuk dari daerah Manisi yang sebelumnya melewati masjid Al-Hidayah mudun sedikit menyebrang ke jalan kosan Sangkulirang, belok kiri di sanalah pintu yang muat untuk satu orang.

Ya harus rela memiringkan badan bagi yang gemuk, karena tepat di tengah pintu terdapat besi besar penghalang yang membelah akses jalur tikus, sebutan anak-anak.

Bila bergelombang harus antri untuk menunggu giliran demi bisa masuk pintu alakadarnya di belakang Fakultas Sains dan Teknologi, tepat di depan Tugu Elektro yang jadi tempat nongkrong mahasiswa.

Rute sepedah kedua boca diawali dari depan Gedung Olahraga menanjak sedikit untuk mengelilingi kampus kebanggaan yang dulu terkenal dengan sebutan IAIN, tepat di depan Fakultas Syariah dan Hukum, terus menggowes belok kanan ke atas dengan posisi menanjak untuk ke Gedung Mahad Al-Jamiah, setelah berputar-putar dan bolak-balik diantara Asrama Aisyah - Khadijah.

Selang beberapa menit meluncur melawati Gedung Student Center (Pusat Kegiatan Mahasiswa), ruang perkuliahan Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, eks Fakultas Ushuluddin, Kantin, belok ke kanan untuk meneruskan perjalanan ke DPR (di bawah pohon rindang), Fakultas Psikologi, kantor Fakultas Adab dan Humaniora.

Aa Akil tengah asyik bermain sepeda di depan Gedung O. Djauharuddin AR Kampus I UIN Bandung, Sabtu 10 Mei 2025 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil tengah asyik bermain sepeda di depan Gedung O. Djauharuddin AR Kampus I UIN Bandung, Sabtu 10 Mei 2025 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Terus mengayuh lulus mendekat Gedung Rachmat Djatnika (Perpustakaan), belok kanan ke Gedung Abdjan Soelaeman melaju di pertigaan Tugu UIN Bandung belok kanan, kiri ke Gedung O. Djauharuddin AR, taman kampus yang dulu tempatnya para aktivis menggelar demonstrasi, aksi yang menyuarakan segala problematika kampus, menggugat kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

Setelah memutar diantara Klinik, DPR depan, gerbang utama kampus I, putra balik menuju pertigaan yang melewati Gedung Al-Jamiah (Rektorat), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, eks Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, eks Fakultas Ushuluddin (Indomaret, Pusat Bisnis), masjid Ikomah, terus asyik memutar mengelilingi Tugu Kujang, depan Gedung Anwar Musaddad.

Di sepanjang perjalanan gowes itu, kampus terasa berbeda. Memang lebih tertata, megah, dan ramai. Namun ada satu persoalan yang justru terasa semakin sempit, ruang bagi manusia untuk bergerak tanpa mesin. Tak ada tempat khusus untuk menyimpan sepeda, kecuali sembarang, misalnya di belakang Fakultas Sains dan Teknologi selalu ada yang memarkirkan kuda besi yang diikat langsung ke tiang lampu penerang.

Tepat di depan Fakultas Sains dan Teknologi, Aa Akil beristirahat sambil meneguk air minum dan bertanya, "Bah kalau di Bandung ada jalan khusus buat sepeda!"

"Muhun," jawabku singkat.

"Kena macet ga, kan Bandung terkenal dengan macetos nya!" celetuknya.

"Nya, malihan mah jalan (sepeda) diangge nu sanes," jelasku.

Ketua Bike To Work Bandung, Moch Andi Nurfauzi. (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ketua Bike To Work Bandung, Moch Andi Nurfauzi. (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bandung Tak Ramah Sepeda

Dalam liputan bertajuk "Jalan Kota Bandung yang Tak Lagi Ramah di Mata Pengguna Sepeda" dijelaskan Wajah jalanan Bandung pada 2026 kian sesak. Namun, di tengah deru mesin yang mendominasi ruang jalan, fasilitas bagi pesepeda yang sempat gencar dibangun beberapa tahun lalu justru memudar dan terabaikan.

Kondisi lajur pesepeda di Kota Bandung nyatanya masih menyisakan pekerjaan rumah yang cukup besar. Dukungan fasilitas yang belum sepenuhnya berpihak serta budaya bersepeda yang masih dipertanyakan menjadi dua sisi persoalan yang terus disorot.

Bagaimana seharusnya cara pandang yang diterapkan untuk mewujudkan sistem lingkungan kota yang adil dan inklusif bagi seluruh pengguna jalan?

Kita jangan terjebak dalam pemikiran dikotomis. Jadi mindset-nya masih kebijakan itu berdasarkan demand. Kalau demand-nya nggak ada, nggak ada kebijakan,” ucap Ketua Bike To Work (B2W) Bandung, Moch Andi Nurfauzi.

Nah, itu adalah cara berpikir pengembangan kebijakan yang kurang tepat. Karena kebijakan itu layanan publik yang tidak bisa transaksional gitu,”

Hasil temuan B2W Bandung seperti fasilitas lajur sepeda yang belum merata, praktik parkir liar di lajur sepeda, perbaikan jalan yang belum selesai, hingga lajur yang hilang menjadi persoalan yang disoroti oleh anggota kolektif warga pesepeda Bandung.

Pertama, parkir liar di lajur pesepeda ditemukan di tiga ruas jalan, yakni di sekitar Balai Kota, Jalan Aceh, dan Jalan Karapitan.

Kedua, bekas tambalan jalan yang belum diperbaiki masih dijumpai di Jalan Suci, kawasan Dago, serta di Jalan Merdeka.

Ketiga, lajur sepeda yang terputus ditemukan di kawasan BKR dan di Jalan Soekarno Hatta.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Tegakkan Keadilan, Bukan Anak Tiri

Peraturan mengenai keselamatan dan fasilitas pendukung pesepeda sejatinya telah tertuang dalam Permenhub No. 59 PM Tahun 2020 serta Peraturan Wali Kota (Perwali) Bandung Nomor 47 Tahun 2022.

Regulasi ini mengatur ketentuan umum, ruang lingkup, jenis sepeda, persyaratan keselamatan pesepeda, tata cara bersepeda, fasilitas pendukung, budaya bersepeda, hingga monitoring dan evaluasi.

Hasil observasi B2W Bandung menilai makna keselamatan yang tertuang dalam Perwali bagi pengguna sepeda masih dilekatkan pada dukungan fasilitas semata.

Artinya kalau sudah ada parkir sepeda, kalau sudah ada lajur, maka insyaallah parkir sepeda dijamin selamat gitu. Tapi belum ada indikator keselamatan berdasarkan risiko,” jelasnya.

Ketidakadilan ruang jalan di Bandung masih sangat car-and motorcycle-centric, sementara pengguna jalan lain seperti pesepeda dan pejalan kaki kerap diposisikan sebagai warga kelas dua.

Fokus pada fasilitas itu adalah standar minimal yang harus ada karena itu bukan hanya kebutuhan kita, tapi itu adalah amanat yang sudah tertuang dalam Perwali tadi,” ujarnya.

Bagi B2W, memisahkan antara pembangunan fisik dan pembentukan budaya merupakan pola pikir yang keliru. Jika salah satunya diabaikan, fasilitas yang dibangun berpotensi hanya menjadi ‘monumen’ tanpa fungsi maksimal.

“(Katanya) budayanya dulu harus ada, karena kalau budayanya ada, nanti fasilitas juga ngikutin. Iya kalau fasilitasnya ngikutin, dijamin nggak? anggarannya ada untuk pengembangannya? kan nggak tentu juga. Jadi fasilitas dan budaya itu harus bareng-bareng. Nggak bisa terpisah-pisah mikirnya gitu,”

Agar gerakan ini tidak berhenti sebagai kritik musiman, sekadar wacana di meja diskusi, diperlukan payung hukum yang lebih tinggi dan mengikat. B2W memandang kebijakan setingkat Peraturan Daerah (Perda) sebagai kunci untuk mengunci komitmen jangka panjang Pemerintah Kota.

“Cara melegitimasi perubahan paradigma itu, kami berniat untuk mendorong terbentuknya Perda tentang mobilitas ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selama perda itu belum terbentuk, maka gagasan-gagasan seperti ini hanya muncul dalam ruang-ruang diskusi,” (Ayo Bandung Rabu 07 Jan 2026, 08:34 WIB).

Kayuh hari ini, nikmati hasil investasinya seumur hidup. (Sumber: Instagram @b2w_indonesia)
Kayuh hari ini, nikmati hasil investasinya seumur hidup. (Sumber: Instagram @b2w_indonesia)

Gagal Pecahkan Macet, Investasi Masa Depan

Jalur sepeda di Kota Bandung belum sepenuhnya mampu menjadi solusi transportasi harian karena dukungan infrastruktur yang masih belum terintegrasi secara optimal.

Berbagai kendala masih dihadapi, mulai dari jalur yang terputus di sejumlah titik, alih fungsi lajur sepeda oleh kendaraan bermotor maupun parkir liar, hingga persoalan keselamatan akibat kondisi jalan yang rusak dan tingginya kepadatan lalu lintas. Kondisi ini membuat kenyamanan dan keamanan pesepeda belum sepenuhnya terjamin dalam aktivitas sehari-hari.

Meski demikian, bersepeda tetap memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi transportasi semata. Bersepeda bukan sekadar cara berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah investasi hidup untuk masa depan.

Investasi itu dimulai dari diri sendiri. Setiap kayuhan membantu menjaga kesehatan, meningkatkan kebugaran, dan memperkuat daya tahan tubuh. Bersepeda menjadi investasi bagi keluarga, karena gaya hidup sehat dapat memperpanjang waktu berkualitas bersama orang-orang tercinta sekaligus mengurangi beban pengeluaran untuk kesehatan dan transportasi.

Tentunya dengan bersepeda merupakan investasi bagi bumi Indonesia. Setiap perjalanan yang ditempuh dengan sepeda adalah kontribusi nyata untuk mengurangi polusi udara, kemacetan lalu lintas, serta emisi karbon yang memperburuk krisis lingkungan. Apa yang hari ini tampak sebagai aktivitas sederhana sesungguhnya adalah tabungan jangka panjang bagi kesehatan, kebahagiaan, dan keberlanjutan lingkungan.

Memang bersepeda belum mampu memecahkan kemacetan Kota Bandung secara instan. Namun, setiap kayuhan tetap memiliki makna besar. Pasalnya, saat mengayuh sepeda hari ini, kita sedang menanam manfaat yang akan dinikmati di masa depan oleh diri sendiri, keluarga, dan generasi yang akan datang. Kayuh hari ini, nikmati hasil investasinya seumur hidup. (Instagram @b2w_indonesia).

Dalam prolog buku Bersepeda Melintasi Benua, Merambah Dunia digambar dengan detil, rinci dan apik berdasarkan pengalaman pribadi.

Kalau tempat itu bisa dijangkau mobil, atau malah pesawat terbang, mengapa memilih sepeda? bersepeda sepanjang ribuan kilometer merupakan pemborosan pemborosan waktu dan tenaga. Tetapi bagi seorang romantis --dalam arti mendambakan kebebasan dalam berpikir, merasakan, bertindak dan berbicara -- ada nilai lain dari bersepeda.

Sepeda adalah salah satu sarana untuk melakukan kegiatan yang kreatif. Aktivitas bersepeda tidak sekadar menggerakkan otot, tetapi melibatkan seluruh eksistensi tubuh, mulai dari rasio, intuisi, hingga emosi. Bersepeda dapat melatih gerak motorik: keseimbangan antara fisik dan mental.

Sepeda merupakan sarana transportasi yang murah, ramah lingkungan, dan berdaya jelajah tinggi. Kita bisa mengendarainya sampai jauh ke pelosok daerah dan ke mana pun kita mau. Namun, bagi saya, bersepeda sesungguhnya bukan sekadar menaklukkan jarak, tapi lebih dari itu: untuk menemukan jati diri dan untuk bersikap jujur terhadap kelebihan serta kelemahan diri sendiri.

Walaupun kita sering merasa hidup itu berat dan banyak masalah, kita akan menemukan keindahan kehidupan ini dengan bersepeda. Kita bisa merasakan sejuknya angin pagi atau segarnya tetesan hujan, mendengar kicauan burung atau suara gemerisik semak belukar yang tertiup angin, menghirup wewangian bunga-bunga liar, bau khas tanah basah yang baru disiram hujan, aroma pohon pinus di sepanjang jalan, dan bertemu dengan berbagai jenis satwa liar di habitat alaminya.

Tak hanya itu, ketika melewati beragam daerah, kita akan menjumpai aneka budaya dan berinteraksi dengan penduduknya. Dalam kesempatan semacam itulah kita akan sering menemukan nilai-nilai persahabatan yang murni tanpa pembedaan kedudukan, ras, dan agama.

Pengalaman-pengalaman selama bersepeda akan menjadi guru kita. Ketika mengayuh sepeda jarak dan waktu lebur menjadi satu, menciptakan sukacita. Selama ini kita selalu terburu-buru dikejar waktu, tapi dengan bersepeda jarak jauh kita belajar menikmati waktu dan merayakan kehidupan yang dikaruniakan oleh Sang Mahapencipta. (Bambang 'Paimo' Hertadi Mas, 2016:7-8)

Ingat, persoalannya tidak sesederhana membangun lajur, mengecat marka jalan. Selama ini, kita sering terjebak pada cara berpikir yang keliru. Segala fasilitas baru dianggap penting jika penggunanya sudah banyak. Sebaliknya, masyarakat sulit beralih menggunakan sepeda karena fasilitasnya belum memadai. Walhasil, keduanya saling menunggu tanpa pernah benar-benar bergerak.

Kita sering mengeluhkan kemacetan setiap hari. Dengan menyadari kualitas udara semakin menurun. Sangat memahami soal ketergantungan pada kendaraan bermotor bukanlah solusi jangka panjang.

Namun pada saat yang sama, ruang jalan masih terus didesain untuk mengakomodasi kendaraan, bukan manusia. Ruas jalan-jalan kota perlahan berubah menjadi arena kompetisi kecepatan. Semakin besar kendaraan yang digunakan, justru semakin besar pula ruang yang disediakan.

Parahnya, pejalan kaki dan pesepeda harus bernegosiasi setiap hari untuk mendapatkan hak yang sebenarnya sudah dijamin oleh regulasi.

Padahal sesungguhnya yang gagal bukanlah sepedanya, melainkan cara kita membangun ekosistem mobilitas. Jalur dibangun tetapi tidak tersambung. Regulasi tersedia malah pengawasannya lemah. Kampanye dilakukan justru keberpihakan ruang masih setengah hati.

Dengan demikian, sepeda tidak pernah diberi kesempatan yang cukup untuk membuktikan dirinya sebagai solusi.

Berbagai kota di dunia menunjukkan keberhasilan transportasi bersepeda tidak lahir semata dari keberadaan jalur khusus.

Sejatinya kehadiran Hari Sepeda Sedunia (World Bicycle Day) diperingati setiap tahun pada tanggal 3 Juni harus menjadi momentum yang tepat dalam tumbuhkan keberanian politik untuk mengatur ulang ruang jalan, membatasi dominasi kendaraan bermotor, menata parkir, memastikan keselamatan pengguna jalan yang paling rentan.

Saat melihat Aa Akil mengayuh sepedanya mengelilingi kampus, aktivitas ini menyadari ihwal persoalan ini sebenarnya lebih besar daripada sekadar kemacetan.

Semuanya tentang hak anak-anak menikmati kotanya. Soal ruang publik yang seharusnya dapat diakses dengan aman, nyaman oleh siapa saja. Termasuk tentang keberanian pemangku kepentingan insitusi, kota dalam menentukan masa depannya.

Apakah jalan hanya akan menjadi milik deru mesin, atau tetap menjadi ruang bersama bagi manusia yang beradab. Mari kita memberi kesempatan kepada sepeda untuk menunjukkan kemampuannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)