Sore yang cerah itu selalu punya cara dan ceritanya sendiri untuk mengembalikan "pejuang rupiah" ke rumah. Setelah seharian bergulat dengan pekerjaan, langkah kaki terasa lebih ringan saat mendapati wajah-wajah yang menunggu di balik pintu.
Waktu senja di ufuk barat itu, tak ada Aa Akil yang biasanya menyambut. Anak kedua itu sudah lebih dulu berangkat mengaji. Sebagai gantinya, Kakang, anak ketiga yang tinggal menghitung hari genap berusia lima tahun, berlari kecil menghampiri dan memeluk dengan erat.
Tak langsung bertanya bagaimana pekerjaanku hari itu. Tidak pula meminta sesuatu, jajanan, buah tangan, termasuk membawa koran kebanggaan urang Sunda. Bocah kecil itu hanya mendekat, lalu berbisik pelan-pelan di telinga. "Bah... dengerin. Mau cerita Ultraman Zero."
Kalimat sederhana itu menjadi pembuka percakapan yang rasanya lebih ampuh mengusir penat dibanding secangkir air hangat.

Ya, di tangannya sudah ada empat figur Ultraman. Tiga berwarna merah, satu berwarna biru. Ibarat sutradara kecil, mulai menghidupkan tokoh-tokoh itu. Ada yang terbang, melompat tinggi, saling menyerang, lalu menyelamatkan semesta dalam hitungan detik. Dunia yang hanya bisa dibangun oleh imajinasi anak-anak. Asyik kan!
Sayangnya, cerita itu mendadak terhenti. Ultraman biru tak lagi bisa terbang. Salah satu tangannya patah. Raut wajah Kakang berubah. Bukan marah, apalagi menangis. Hanya ada sepenggal harapan yang disampaikan dengan polos. "Bah, bisa diperbaiki?"
Tak ada alasan untuk menolak permintaan sekecil itu. Kuambil lem cair dari sudut meja di rumah, lalu perlahan merekatkan kembali tangan Ultraman yang terlepas. Barangkali bagi orang dewasa itu hanya pekerjaan mudah, tinggal beberapa menit kelar. Namun bagi seorang anak, memperbaiki itu bisa terasa sepanjang penantian.
"Tos dilem. Tong dimaenken heula nya. Antosan dugi ka garing," kataku.
Kakang menurut. Tak ada rengekan dan raut wajah kecewa. Sambil menunggu, malah asyik mengambil selembar kertas putih. Pensil, pulpen di tangannya mulai menari. Bus, kereta, jalan raya, dan berbagai bentuk yang hanya dimengerti oleh dunia kanak-kanak perlahan memenuhi halaman kosong. Rupanya, anak-anak selalu punya cara sendiri untuk bersahabat dengan waktu.
Selang sejam, lem itu mengering. "Kang, atos tiasa dimaenken deui."
Belum sempat kuselesaikan kalimat, sorot matanya lebih dulu berbinar. "Hore... Ultramannya sudah bisa dipakai lagi!"
Sorak kecil itu memenuhi ruang (lorong) keluarga. Tak ada pesta. Tak ada hadiah mahal. Hanya mainan lama yang kembali utuh. Warisan dari Aa Akil alakadarnya.
Dalam suasana itu kucoba belajar, tentang arti penting kebahagiaan anak-anak hampir selalu lahir dari perkara yang dianggap sederhana. Ya tidak selalu meminta yang baru. Hanya ingin apa yang disayangi tetap ada, utuh, dan bisa menemani permainan anak-anak.
Berbeda dengan orang dewasa yang terlalu sering mempersulit definisi bahagia. Kita mengejarnya ke mana-mana, mengukurnya dengan capaian, jabatan, angka-angka yang terus bertambah. Padahal, dalam aktivitas di rumah yang sederhana, kebahagiaan bisa hadir dari tangan kecil yang kembali menempel pada tubuh Ultraman.

Tren Indeks Kebahagiaan
Mengingat tingkat kebahagiaan penduduk menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur kualitas hidup dan kesejahteraan suatu negara. Berdasarkan World Happiness Report 2025, Singapura menjadi negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di ASEAN dengan skor 6,6, diikuti Vietnam (6,4), Thailand (6,3), Filipina (6,2) dan Malaysia (6,0).
Ironisnya, Indonesia menempati peringkat keenam dengan skor 5,6, masih lebih tinggi dibandingkan Laos (5,5), Kamboja (4,5), dan Myanmar (4,3). Di tingkat global, Finlandia menjadi negara paling bahagia di dunia dengan skor 7,8, diikuti Islandia dan Denmark. Menariknya, Kosta Rika menjadi satu-satunya negara berkembang yang masuk dalam 10 besar negara paling bahagia di dunia.
Dalam konteks Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Kebahagiaan 2022 sebesar 71,49. Pengukuran ini menggunakan tiga dimensi (kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup), sehingga lebih komprehensif dibandingkan metode sebelumnya. Wilayah Sulawesi dan Maluku mendominasi provinsi dengan tingkat kebahagiaan tertinggi, dengan enam provinsi masuk dalam 10 besar. Jabar harus rela berada pada posisi ke-30.
Sebaliknya, Banten (68,08), Bengkulu (69,74), dan Papua (69,87) menjadi provinsi dengan indeks kebahagiaan terendah. Temuan ini menunjukkan tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia masih bervariasi antardaerah, dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan lingkungan.
World Happiness Report mengukur kebahagiaan berdasarkan survei Gallup World Poll yang melibatkan sekitar 3.000 responden di setiap negara selama periode 2022–2024. Penilaiannya mencakup sejumlah indikator, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, dukungan sosial, harapan hidup sehat, kebebasan, kemurahan hati, dan persepsi terhadap korupsi.
Dalam Indeks Kebahagiaan BPS menekankan pengalaman hidup masyarakat melalui dimensi kepuasan, perasaan, dan makna hidup. Kedua indeks ini menjadi rujukan penting dalam mengevaluasi kualitas hidup dan berusaha menyusun kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (World Happiness Report 2025, Badan Pusat Statistik (BPS), GoodStats 21 September 2025 pukul 15.47 WIB dan 29 Maret 2026 pukul 09.00 WIB)

Menanamkan Rasa Syukur
Dalam semua kesibukannya mencari apa-apa yang dikiranya merupakan sumber kebahagiaan hidup (harta, kekuasaan, popularitas) sesungguhnya yang dia cari adalah cinta. Hanya dengan mendapatkan cinta sejati, dia mendapatkan ketenteraman dan kebahagiaan hidup.
Ingat yang diperlukan untuk manusia modern sekarang ini adalah pertama, menyadari bahwa cinta dan hanya cinta yang dapat membawanya pada kebahagiaan. Dan selanjutnya terus berjuang untuk membawa kehidupan ke arah yang dapat memberinya kesempatan untuk menyebarkan cinta sebanyak-banyaknya dan sebagai imbalan alaminya, pasti mendapatkan cinta sebanyak-banyaknya.
Dengan begitu hidupnya telah berlabuh kepada kepuasan puncak yang menjadi ujung pangkal keberadaanya di muka bumi manusia ini.
Manusia hanya tidak menyadari bahwa sesungguhnya, ketika mengejar harta, kekuasaan dan popularitas, semuanya itu adalah sarana untuk mendapatkan kebahagiaan. Bukan sumber kebahagiaan itu sendiri. Dia telah mengacaukan sarana dengan tujuan.
Karena itu, tidak aneh jika banyak orang justru mengalami puncak kesedihan saat berada di puncak kekayaan, kekuasaan, popularitas. Kenapa, karena harapannya kandas ketika ternyata semua itu terbukti tak memberikan kebahagiaan yang dicarinya. Dia pun menjadi bingung, kehilangan arah dan tak tahu lagi kemana harus mencari makna hidupnya. Yang banyak dilakukan kemudian adalah membenamkan diri lebih jauh ke dalam kesibukan gila-gilaan.
Cara yang tepat untuk meraih kebahagiaan adalah dengan menanamkan rasa syukur di dalam hati. Apa pun yang telah kita capai hendaknya disyukuri. Sikap batin semacam inilah yang menurutnya mampu meredam segala hal yang berpotensi menimbulkan kegelisahan dalam hidup. (Haidar Bagir, 2013:4-6 dan 14)
Bagi Kang Jalal upaya meraih kebahagiaan itu dapat dipilih. Salah satu caranya, kapan saja anda ditimpa penderitaan, teguhkanlah diri anda untuk memilih dan meraih kebahagiaan. Diakuinya, kebahagiaan tidak diperoleh dari sukses pekerjaaan yang menghasilkan uang banyak. Kebahagiaan ditemukan dari pekerjaan yang membahagiakan orang banyak. (Jalaluddin Rakhmat, 2004:x)
Dengan demikian, menjadi orang baik, umur panjang, hidup sehat, cerdas dan selalu berbuat baik ini pertanda berkah terdalam dari kebahagiaan dalam menjalankan kehidupan yang tak menentu ini.
Saking pentingnya meraih kebahagiaan itu untuk dicari, diusahakan karena tak datang dengan sendirinya.
Allah swt menegaskan dalam QS 28:77 "Dan carilah, pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
Sore itu tidak hanya sedang memperbaiki mainan. Justru kita sedang belajar ihwal merawat keluarga sering kali dimulai dari kesediaan berhenti sejenak, mendengarkan cerita yang tampak remeh, lalu hadir sepenuhnya untuk orang-orang yang kita cintai.
Pasalnya, anak-anak tidak akan mengingat berapa lama kita bekerja (seberapa sibuk) kita mengejar mimpi. Melainkan yang akan tinggal dalam ingatan itu justru momen-momen kecil, saat ayah (Abah, Babah) duduk di lantai, memegang sebotol lem, lalu dengan sabar merekatkan tangan Ultraman yang patah.
Walhasil, tanpa disadari, yang sebenarnya sedang direkatkan bukan hanya mainan. Melainkan kenangan, kedekatan, dan rumah yang akan selalu mereka rindukan.
Saat asyik bermain ultraman dengan Kakang, tiba-tiba pikiranku melayang pada petuah Mahatma Gandhi tentang kebahagiaan yang perlu kita renungkan secara bersama-sama supaya hidup kita bermakna, berarti dan bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, masyarakat sekitar.
”Happiness is when what you think, what you say and what you do are in harmony” (Kebahagian adalah ketika apa yang Anda pikirkan, katakan dan lakukan terdapat kesesuaian).
Buyar pikiranku saat Kakang memanggil “Bah ayo maen Ultraman!” Cag ah. (*)