Merekatkan Ultraman, Merawat Kebahagiaan

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Asyiknya Kakang dengan mainan Ultraman alakadarnya, Kamis (2/7/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Asyiknya Kakang dengan mainan Ultraman alakadarnya, Kamis (2/7/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Sore yang cerah itu selalu punya cara dan ceritanya sendiri untuk mengembalikan "pejuang rupiah" ke rumah. Setelah seharian bergulat dengan pekerjaan, langkah kaki terasa lebih ringan saat mendapati wajah-wajah yang menunggu di balik pintu.

Waktu senja di ufuk barat itu, tak ada Aa Akil yang biasanya menyambut. Anak kedua itu sudah lebih dulu berangkat mengaji. Sebagai gantinya, Kakang, anak ketiga yang tinggal menghitung hari genap berusia lima tahun, berlari kecil menghampiri dan memeluk dengan erat.

Tak langsung bertanya bagaimana pekerjaanku hari itu. Tidak pula meminta sesuatu, jajanan, buah tangan, termasuk membawa koran kebanggaan urang Sunda. Bocah kecil itu hanya mendekat, lalu berbisik pelan-pelan di telinga. "Bah... dengerin. Mau cerita Ultraman Zero."

Kalimat sederhana itu menjadi pembuka percakapan yang rasanya lebih ampuh mengusir penat dibanding secangkir air hangat.

Utraman sisa-sisa warisan dari Aa Akil, anak kedua yang dimainkan oleh Kakang, Kamis (2/7/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Ya, di tangannya sudah ada empat figur Ultraman. Tiga berwarna merah, satu berwarna biru. Ibarat sutradara kecil, mulai menghidupkan tokoh-tokoh itu. Ada yang terbang, melompat tinggi, saling menyerang, lalu menyelamatkan semesta dalam hitungan detik. Dunia yang hanya bisa dibangun oleh imajinasi anak-anak. Asyik kan!

Sayangnya, cerita itu mendadak terhenti. Ultraman biru tak lagi bisa terbang. Salah satu tangannya patah. Raut wajah Kakang berubah. Bukan marah, apalagi menangis. Hanya ada sepenggal harapan yang disampaikan dengan polos. "Bah, bisa diperbaiki?"

Tak ada alasan untuk menolak permintaan sekecil itu. Kuambil lem cair dari sudut meja di rumah, lalu perlahan merekatkan kembali tangan Ultraman yang terlepas. Barangkali bagi orang dewasa itu hanya pekerjaan mudah, tinggal beberapa menit kelar. Namun bagi seorang anak, memperbaiki itu bisa terasa sepanjang penantian.

"Tos dilem. Tong dimaenken heula nya. Antosan dugi ka garing," kataku.

Kakang menurut. Tak ada rengekan dan raut wajah kecewa. Sambil menunggu, malah asyik mengambil selembar kertas putih. Pensil, pulpen di tangannya mulai menari. Bus, kereta, jalan raya, dan berbagai bentuk yang hanya dimengerti oleh dunia kanak-kanak perlahan memenuhi halaman kosong. Rupanya, anak-anak selalu punya cara sendiri untuk bersahabat dengan waktu.

Selang sejam, lem itu mengering. "Kang, atos tiasa dimaenken deui."

Belum sempat kuselesaikan kalimat, sorot matanya lebih dulu berbinar. "Hore... Ultramannya sudah bisa dipakai lagi!"

Sorak kecil itu memenuhi ruang (lorong) keluarga. Tak ada pesta. Tak ada hadiah mahal. Hanya mainan lama yang kembali utuh. Warisan dari Aa Akil alakadarnya.

Dalam suasana itu kucoba belajar, tentang arti penting kebahagiaan anak-anak hampir selalu lahir dari perkara yang dianggap sederhana. Ya tidak selalu meminta yang baru. Hanya ingin apa yang disayangi tetap ada, utuh, dan bisa menemani permainan anak-anak.

Berbeda dengan orang dewasa yang terlalu sering mempersulit definisi bahagia. Kita mengejarnya ke mana-mana, mengukurnya dengan capaian, jabatan, angka-angka yang terus bertambah. Padahal, dalam aktivitas di rumah yang sederhana, kebahagiaan bisa hadir dari tangan kecil yang kembali menempel pada tubuh Ultraman.

Indeks Kebahagiaan Indonesia 2025 (Sumber: Instaagram @goodstats.id, @kompascom, @dataindonesia.id)
Indeks Kebahagiaan Indonesia 2025 (Sumber: Instaagram @goodstats.id, @kompascom, @dataindonesia.id)

Tren Indeks Kebahagiaan

Mengingat tingkat kebahagiaan penduduk menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur kualitas hidup dan kesejahteraan suatu negara. Berdasarkan World Happiness Report 2025, Singapura menjadi negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di ASEAN dengan skor 6,6, diikuti Vietnam (6,4), Thailand (6,3), Filipina (6,2) dan Malaysia (6,0).

Ironisnya, Indonesia menempati peringkat keenam dengan skor 5,6, masih lebih tinggi dibandingkan Laos (5,5), Kamboja (4,5), dan Myanmar (4,3). Di tingkat global, Finlandia menjadi negara paling bahagia di dunia dengan skor 7,8, diikuti Islandia dan Denmark. Menariknya, Kosta Rika menjadi satu-satunya negara berkembang yang masuk dalam 10 besar negara paling bahagia di dunia.

Dalam konteks Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Kebahagiaan 2022 sebesar 71,49. Pengukuran ini menggunakan tiga dimensi (kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup), sehingga lebih komprehensif dibandingkan metode sebelumnya. Wilayah Sulawesi dan Maluku mendominasi provinsi dengan tingkat kebahagiaan tertinggi, dengan enam provinsi masuk dalam 10 besar. Jabar harus rela berada pada posisi ke-30.

Sebaliknya, Banten (68,08), Bengkulu (69,74), dan Papua (69,87) menjadi provinsi dengan indeks kebahagiaan terendah. Temuan ini menunjukkan tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia masih bervariasi antardaerah, dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan lingkungan.

World Happiness Report mengukur kebahagiaan berdasarkan survei Gallup World Poll yang melibatkan sekitar 3.000 responden di setiap negara selama periode 2022–2024. Penilaiannya mencakup sejumlah indikator, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, dukungan sosial, harapan hidup sehat, kebebasan, kemurahan hati, dan persepsi terhadap korupsi.

Dalam Indeks Kebahagiaan BPS menekankan pengalaman hidup masyarakat melalui dimensi kepuasan, perasaan, dan makna hidup. Kedua indeks ini menjadi rujukan penting dalam mengevaluasi kualitas hidup dan berusaha menyusun kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (World Happiness Report 2025, Badan Pusat Statistik (BPS), GoodStats 21 September 2025 pukul 15.47 WIB dan 29 Maret 2026 pukul 09.00 WIB) 

Ilustrasi berdoa. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Menanamkan Rasa Syukur

Dalam semua kesibukannya mencari apa-apa yang dikiranya merupakan sumber kebahagiaan hidup (harta, kekuasaan, popularitas) sesungguhnya yang dia cari adalah cinta. Hanya dengan mendapatkan cinta sejati, dia mendapatkan ketenteraman dan kebahagiaan hidup.

Ingat yang diperlukan untuk manusia modern sekarang ini adalah pertama, menyadari bahwa cinta dan hanya cinta yang dapat membawanya pada kebahagiaan. Dan selanjutnya terus berjuang untuk membawa kehidupan ke arah yang dapat memberinya kesempatan untuk menyebarkan cinta sebanyak-banyaknya dan sebagai imbalan alaminya, pasti mendapatkan cinta sebanyak-banyaknya.

Dengan begitu hidupnya telah berlabuh kepada kepuasan puncak yang menjadi ujung pangkal keberadaanya di muka bumi manusia ini.

Manusia hanya tidak menyadari bahwa sesungguhnya, ketika mengejar harta, kekuasaan dan popularitas, semuanya itu adalah sarana untuk mendapatkan kebahagiaan. Bukan sumber kebahagiaan itu sendiri. Dia telah mengacaukan sarana dengan tujuan.

Karena itu, tidak aneh jika banyak orang justru mengalami puncak kesedihan saat berada di puncak kekayaan, kekuasaan, popularitas. Kenapa, karena harapannya kandas ketika ternyata semua itu terbukti tak memberikan kebahagiaan yang dicarinya. Dia pun menjadi bingung, kehilangan arah dan tak tahu lagi kemana harus mencari makna hidupnya. Yang banyak dilakukan kemudian adalah membenamkan diri lebih jauh ke dalam kesibukan gila-gilaan.

Cara yang tepat untuk meraih kebahagiaan adalah dengan menanamkan rasa syukur di dalam hati. Apa pun yang telah kita capai hendaknya disyukuri. Sikap batin semacam inilah yang menurutnya mampu meredam segala hal yang berpotensi menimbulkan kegelisahan dalam hidup. (Haidar Bagir, 2013:4-6 dan 14)

Bagi Kang Jalal upaya meraih kebahagiaan itu dapat dipilih. Salah satu caranya, kapan saja anda ditimpa penderitaan, teguhkanlah diri anda untuk memilih dan meraih kebahagiaan. Diakuinya, kebahagiaan tidak diperoleh dari sukses pekerjaaan yang menghasilkan uang banyak. Kebahagiaan ditemukan dari pekerjaan yang membahagiakan orang banyak. (Jalaluddin Rakhmat, 2004:x)

Dengan demikian, menjadi orang baik, umur panjang, hidup sehat, cerdas dan selalu berbuat baik ini pertanda berkah terdalam dari kebahagiaan dalam menjalankan kehidupan yang tak menentu ini.

Saking pentingnya meraih kebahagiaan itu untuk dicari, diusahakan karena tak datang dengan sendirinya.

Allah swt menegaskan dalam QS 28:77 "Dan carilah, pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."

Sore itu tidak hanya sedang memperbaiki mainan. Justru kita sedang belajar ihwal merawat keluarga sering kali dimulai dari kesediaan berhenti sejenak, mendengarkan cerita yang tampak remeh, lalu hadir sepenuhnya untuk orang-orang yang kita cintai.

Pasalnya, anak-anak tidak akan mengingat berapa lama kita bekerja (seberapa sibuk) kita mengejar mimpi. Melainkan yang akan tinggal dalam ingatan itu justru momen-momen kecil, saat ayah (Abah, Babah) duduk di lantai, memegang sebotol lem, lalu dengan sabar merekatkan tangan Ultraman yang patah.

Walhasil, tanpa disadari, yang sebenarnya sedang direkatkan bukan hanya mainan. Melainkan kenangan, kedekatan, dan rumah yang akan selalu mereka rindukan.

Saat asyik bermain ultraman dengan Kakang, tiba-tiba pikiranku melayang pada petuah Mahatma Gandhi tentang kebahagiaan yang perlu kita renungkan secara bersama-sama supaya hidup kita bermakna, berarti dan bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, masyarakat sekitar.

”Happiness is when what you think, what you say and what you do are in harmony” (Kebahagian adalah ketika apa yang Anda pikirkan, katakan dan lakukan terdapat kesesuaian).

Buyar pikiranku saat Kakang memanggil “Bah ayo maen Ultraman!” Cag ah.  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)