Membaca Tindakan 'Bela Pati' Dyah Pitaloka sebagai Simbol Independensi Wanita Sunda

5 menit baca
Tsurayyaa 'Allaam Shf Rabbaanii
Ditulis oleh Tsurayyaa 'Allaam Shf Rabbaanii diterbitkan
Ilustrasi Pasunda Bubat. (Sumber: Wikimedia commons)
Ilustrasi Pasunda Bubat. (Sumber: Wikimedia commons)

*Ditulis oleh Fatia Siti Biladi dan Tsurayyaa 'Allaam Shf Rabbaanii

Hari ini, kita dihadapkan dengan realitas menjamurnya kasus pelecehan dan kekerasan seksual terhadap perempuan. Bahkan di era digitalisasi, kekerasan seksual menemui “wajah barunya”. Era ini ditandai dengan munculnya kecerdasan buatan sebagai sarana untuk penggambaran fantasi terkait bagian tubuh maupun unsur seksis yang menjadikan wanita sebagai objeknya. Bentuk kekerasan lainnya yakni berupa perundungan siber yang kerap terjadi di media sosial maupun obrolan grup yang menjurus pada topik seksual tanpa adanya konsen.

Berdasarkan data dari komnas perempuan, sepanjang 2025 terdapat 376.529 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP). Hal tersebut menunjukan persentase peningkatan sebesar 14,07% dibandingkan tahun sebelumnya. Realitas ini tentunya menjadi tamparan keras bagi kita untuk menjauhi segala perilaku baik yang sekadar mengarah atau bahkan sudah merendahkan derajat wanita.

Jika kita berkaca pada sejarah, sederet peristiwa yang terjadi dewasa ini memiliki kemiripan dengan konteks historis Pasunda Bubat. Yakni, ketika Dyah Pitaloka Citraresmi diperlakukan sebagai “objek politik” dalam upaya perwujudan ambisi dan strategi kekuasaan Gajah Mada. Ketika pernikahan yang seharusnya bersifat setara justru berubah menjadi upaya penaklukan yang secara implisit merendahkan independensi perempuan dan juga martabat kerajaan Sunda.

 (Sumber: Wikimedia commons)
(Sumber: Wikimedia commons)

Pasunda Bubat merupakan salah satu peristiwa sejarah paling tragis dalam hubungan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit yang terjadi pada abad ke-14 sekitar tahun 1357 M, di lapangan Bubat. Peristiwa ini berawal ketika Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda Galuh mengantarkan putrinya—Dyah Pitaloka Citraresmi, untuk dinikahkan dengan Prabu Hayam Wuruk. Akan tetapi, setibanya di Majapahit, rombongan Sunda dihadang oleh Patih Gajah Mada. Gajah Mada memberikan respon bernada penghinaan kepada utusan dari pihak Sunda. Ini bukanlah sikap yang diharapkan oleh sebuah kerajaan yang harus tunduk kepada Majapahit. Seperti kerajaan-kerajaan bawahan lainnya, Raja Sunda juga harus hadir dan menyerahkan tanda penghormatan sebagai bukti bahwa ia mengakui kekuasaan Raja Majapahit yang kemudian bersedia menerima puteri Dyah Pitaloka untuk sebagai persembahan orang-orang Sunda (Herlina, 2025).

Alih-alih menyerah pada tuntutan tersebut, Prabu Lingga Buana dan seluruh rombongan Sunda memilih melawan hingga titik darah penghabisan. Terjadilah pertempuran tidak seimbang di lapangan Bubat. Dyah Pitaloka sendiri tidak tinggal diam, ia memilih tindakan “bela pati” dengan menusuk dirinya sendiri menggunakan tusuk konde sebelum sempat bertemu Hayam Wuruk, sebagai bentuk penolakan tegas terhadap perlakuan yang merendahkan martabat wanita Sunda (Supriatin, 2018).

Tindakan “bela” Dyah Pitaloka bukan akhir tragis semata, melainkan simbol kuat eksistensi dan resistensi wanita Sunda yang berakar dalam nilai budaya lokal. Tindakan “bela pati” yang dilakukan Dyah Pitaloka justru menunjukan bahwa kehormatan dan Independensi gender dapat diperjuangkan meski harus mengorbankan hal yang paling berharga. Selain itu, tindakan ini juga menunjukan bahwa resistensi gender tidak selalu berbentuk perlawanan fisik terbuka, tetapi dapat diwujudkan melalui pilihan pribadi yang radikal yang meninggalkan jejak sejarah yang abadi, sehingga “bela pati” Dyah Pitaloka menjadi teladan abadi tentang bagaimana wanita Sunda menolak objektivitas politik dan mempertahankan kedaulatan dirinya (Isti’anah, 2020).

Independensi gender ialah hak dan kekuasaan perempuan untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa dikendalikan oleh sistem patriarki. Dalam konteks Sunda, Independensi ini berakar pada tradisi matriarki Galunggung dimana perempuan pernah menduduki posisi tinggi sebagai ratu dan resi. Dyah Pitaloka menunjukan Independensi ini melalui penolakan tegas terhadap peran perempuan sebagai objek persekutuan politik semata. Dengan demikian, tindakan “bela pati” yang dia lakukan bukanlah kepasrahan, melainkan manifestasi nyata dari independensi gender, di mana perempuan tidak hanya menjadi pelengkap kekuasaan laki-laki, tetapi juga penjaga kehormatan dan martabat kerajaan (Isti’anah, 2020)

Jika ditelisik lebih dalam menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud, tindakan “Bela Pati” Dyah Pitaloka bukanlah sekadar keputusan emosional sesaat, melainkan wujud kemenangan mutlak Superego atas Id dan Ego. Freud membagi psikis manusia menjadi tiga bagian—Id, Ego, dan Superego. Dalam kasus Dyah Pitaloka, terjadi konflik hebat antara ketiganya. Dimana Id yang berupa dorongan dasar untuk bertahan hidup secara instingtif menginginkan Dyah Pitaloka untuk melarikan diri dan menyerah demi memperjuangkan hasrat cintanya pada Hayam Wuruk. Sedangkan ego menangkap kenyataan memilukan berupa terbantainya rombongan pengantar Dyah Pitaloka dan kandasnya pernikahan karena telah berubah menjadi penundukan kedaulatan Sunda oleh Majapahit. Dan Superego lah yang berbicara atas harga diri dan kehormatan yang menaklukan keduanya. Bagi Dyah Pitaloka hidup dalam penghinaan (sebagai upeti atau tawanan) jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Superegonya menuntut pengorbanan ekstrem untuk menjaga martabat keluarga dan kerajaannya.

Membahas topik ini bukan hanya soal masa lalu, melainkan upaya menghidupkan kembali nilai-nilai kedaulatan gender yang berakar dalam budaya Sunda. Sehingga generasi sekarang dapat belajar dari keberanian Dyah Pitaloka dalam menghadapi tekanan kekuasaan yang patriarkis. Warisan ini harus terus dijaga agar semangat perempuan tetap menyala.

Perlu diperhatikan bahwasannya setiap tindakan hanya dapat dinilai sesuai dengan jiwa zamannya (zeitgeist). Tindakan Bela Pati Dyah Pitaloka dianggap menyimbolkan Independensi wanita Sunda, karena saat itu belum ada landasan hukum terkait objektifikasi wanita. Berbeda dengan zaman kini dimana simbol perlawanan bagi lelaki dapat berupa edukasi dari lingkungan keluarga dan penanaman moral baik untuk menjunjung tinggi kehormatan sesama makhluk ciptaan Tuhan. Bagi wanita, simbol perlawanan tak boleh lagi seekstrem yang dilakukan Dyah Pitaloka, melainkan melalui keberanian mengungkapkan segala bentuk objektifikasi yang dialami agar pelaku dapat ditindak secara tegas. Melalui kombinasi analisis historis, gender, dan psikoanalisis, kita melihat perempuan bukan objek, melainkan subjek sejarah yang heroik. Warisan ini harus terus dikaji dan disebarkan sebagai inspirasi pemberdayaan perempuan di masa kini dan mendatang. (*)

Referensi

  • Abdul. (2022). Dyah Pitaloka dan peristiwa Perang Bubat. Diakses dari https://share.google/KLzgytZahwQOBltCH⁠
  • Ardiansyah, A., Sarinah, S., Susilawati, S., & Juanda, J. (2023). KAJIAN PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD. Jurnal Kependidikan, 7(1), 25–31. Retrieved from
  • https://e-journallppmunsa.ac.id/index.php/kependidikan/article/view/912
  • Herlina, N. (2025). Analisis historis tentang Pasunda Bubat. Diakses dari https://www.researchgate.net/publication/397451845_ANALISIS_HISTORIS_TENTANG_PASUNDA_BUBAT⁠
  • Isti’anah. (2020). Perempuan dalam sistem budaya Sunda: Peran dan kedudukan perempuan di Kampung Geger Hanjuang, Leuwisari Tasikmalaya. Sumber: UIN Sunan Gunung Djati Bandung https://share.google/iT3YbllnK5JzAZ9Cr
  • Komnas Perempuan. (2025). Menguatkan data, mengatasi kerentanan, mendesak negara bersikap untuk keadilan korban. Diakses dari https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/siaran-pers-komnas-perempuan-peluncuran-catatan-tahunan-kekerasan-terhadap-perempuan-2025⁠
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Tsurayyaa 'Allaam Shf Rabbaanii
Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 11:42

Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

Lewat Permendikdasmen 12/2026 & Gernas RANA, sekolah kini jadi ruang aman bebas cemas. Saatnya sambut masa depan anak dengan kasih sayang!

Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 09:09

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Nestle Indonesia mempublikasikan program pendampingan gizi di berbagai platform komunikasi dengan menyesuaikan karakteristik tiap platform.

Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 08:39

Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

Apakah demokrasi bisa tumbuh secara sehat tanpa partisipasi masyarakat? Bagaimana pandangan pakar tentang ini?

Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 07:55

SPMB Jalur Domisili Belum Cukup Mengurangi Ketergantungan Pelajar pada Sepeda Motor

SPMB jalur domisili mendekatkan jarak antara rumah dan sekolah, tetapi belum cukup mengurangi ketergantungan pelajar pada sepeda motor dan risiko keselamatan di jalan raya.

Sejumlah sepeda motor milik siswa sebuah SMA di Kota Bandung diparkir di badan jalan. (Istimewa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)