Spion Motor: Ketika yang Hilang Bukan Kacanya, Melainkan Budaya Melihat

6 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Seorang pengemudi ojol tewas dalam kecelakaan dengan ojol lain di Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, pada Senin (29/6/2026). (Sumber: Dok. Polrestabes Bandung)
Seorang pengemudi ojol tewas dalam kecelakaan dengan ojol lain di Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, pada Senin (29/6/2026). (Sumber: Dok. Polrestabes Bandung)

Di tengah padatnya lalu lintas perkotaan, banyak pengendara sepeda motor mungkin tidak terlalu memikirkan kaca spion. Benda kecil yang menempel di sisi kiri dan kanan setang itu kerap dianggap sekadar bagian standar kendaraan—ada karena memang harus ada. Bahkan, tidak sedikit yang memandang spion hanya sebagai syarat administratif agar terhindar dari tilang. Padahal, fungsi spion jauh melampaui sekadar kelengkapan kendaraan.

Bagi sebagian orang, spion mungkin hanya sepasang kaca kecil. Namun dalam perspektif keselamatan lalu lintas, spion adalah alat bantu yang memungkinkan pengendara memahami apa yang tidak dapat ditangkap oleh pandangan langsung. Kemampuan melihat kondisi di belakang dan di samping kendaraan sering kali menjadi pembeda antara keputusan yang aman dan manuver yang berisiko.

Sejarah mencatat, kebutuhan akan kaca spion muncul seiring meningkatnya jumlah kendaraan bermotor pada awal abad ke-20. Salah satu momen penting dalam sejarah otomotif terjadi pada ajang balap Indianapolis 500 tahun 1911. Pembalap Amerika, Ray Harroun, memasang cermin kecil pada mobil balapnya agar dapat melihat posisi pesaing di belakang tanpa harus menoleh. Inovasi sederhana itu kemudian berkembang menjadi rear-view mirror modern yang kini menjadi perlengkapan wajib hampir di semua kendaraan bermotor.

Dari dunia balap, penggunaan spion diadopsi secara luas pada kendaraan sipil karena terbukti meningkatkan kemampuan pengemudi membaca situasi sekitar. Seiring meningkatnya volume lalu lintas dan kompleksitas interaksi antar-kendaraan, kemampuan melihat kondisi di belakang tidak lagi dipandang sebagai faktor kenyamanan semata, melainkan sebagai kebutuhan keselamatan yang mendasar.

Indonesia pun mengadopsi prinsip serupa. Melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan diwajibkan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan, termasuk kelengkapan kaca spion. Ketentuan ini diperjelas dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan. Artinya, kewajiban memasang spion bukanlah aturan yang lahir tanpa dasar, melainkan hasil pembelajaran panjang dari berbagai pengalaman dan evaluasi keselamatan lalu lintas.

Bagi pengendara sepeda motor, fungsi spion menjadi semakin penting karena tingkat kerentanannya lebih tinggi dibandingkan pengguna mobil. Pengendara motor tidak memiliki perlindungan bodi kendaraan, sehingga kesalahan kecil dalam mengambil keputusan dapat berujung pada konsekuensi besar. Karena itu, keselamatan berkendara tidak cukup hanya dengan memperhatikan kondisi di depan. Pengendara juga perlu memahami apa yang terjadi di belakang dan di samping kendaraan.

Ketika Spion Hanya Menjadi Formalitas

Dalam konteks inilah spion memainkan peran vital. Spion membantu pengendara membangun kesadaran situasional terhadap lingkungan sekitar, terutama sebelum melakukan manuver seperti berpindah lajur, menyalip, berbelok, atau menepi. Dengan melihat spion, pengendara memperoleh informasi mengenai posisi, jarak, dan kecepatan kendaraan lain yang mungkin tidak terlihat secara langsung.

Sayangnya, di jalan raya saat ini, fungsi spion sering kali mengalami pergeseran makna. Tidak sulit menemukan sepeda motor dengan spion yang dilipat ke dalam, diarahkan tidak semestinya, atau bahkan hanya dipasang sebagai formalitas. Fenomena ini menghadirkan ironi tersendiri. Secara administratif, kendaraan mungkin sudah memenuhi syarat. Namun secara operasional, belum tentu aman.

Persoalan keselamatan lalu lintas saat ini tampaknya bukan lagi sekadar soal kendaraan yang tidak memiliki spion. Tantangan yang lebih besar justru terletak pada pengendara yang memiliki spion, tetapi tidak menggunakannya secara optimal. Yang perlahan hilang dari jalan raya kita mungkin bukan kacanya, melainkan budaya melihat.

Budaya melihat sebelum bermanuver sesungguhnya merupakan fondasi dasar keselamatan berkendara. Banyak pengendara diajarkan urutan sederhana: lihat spion, nyalakan lampu sein, pastikan ruang aman, lalu bergerak. Urutan ini terlihat sederhana, tetapi justru menjadi mekanisme penting untuk mencegah konflik antar-kendaraan.

Namun, kebiasaan tersebut kini tampak semakin memudar. Tidak sedikit pengendara yang menyalakan lampu sein bersamaan dengan gerakan berbelok. Ada pula yang berpindah lajur secara mendadak atau memotong arus tanpa memastikan kondisi kendaraan di belakang. Dalam banyak kasus, keputusan bermanuver dilakukan berdasarkan perkiraan sesaat, bukan observasi yang memadai.

Padahal, jalan raya adalah ruang berbagi. Setiap pengendara selalu berada dalam interaksi dengan pengguna jalan lain yang mungkin berada di belakang, di samping, atau di area blind spot. Berbagai penelitian keselamatan lalu lintas menunjukkan bahwa kegagalan melakukan observasi sebelum berpindah arah merupakan faktor yang berulang dalam kecelakaan sepeda motor.

Data nasional memperlihatkan betapa serius persoalan ini. Berdasarkan data IRSMS Korlantas Polri, pada 2024 terjadi sekitar 150 ribu kecelakaan lalu lintas di Indonesia dengan sekitar 27 ribu korban meninggal dunia. Sepeda motor mendominasi kendaraan yang terlibat kecelakaan, dengan proporsi lebih dari tiga perempat total kendaraan yang terlibat.

Data kecelakaan lalu lintas tahun 2024. (Sumber: Instagram/@satlantas_polrestabogorkota)
Data kecelakaan lalu lintas tahun 2024. (Sumber: Instagram/@satlantas_polrestabogorkota)

Dominasi sepeda motor dalam statistik kecelakaan ini menunjukkan bahwa keselamatan pengendara roda dua masih menjadi pekerjaan rumah besar. Tingginya angka tersebut tentu tidak dapat dijelaskan hanya oleh besarnya populasi sepeda motor, tetapi juga berkaitan erat dengan perilaku berkendara, kecepatan pengambilan keputusan, serta kualitas antisipasi terhadap potensi konflik di jalan.

Di sinilah persoalan utama kita hari ini. Banyak pengendara sebenarnya tahu aturan, memahami fungsi spion, bahkan menyadari pentingnya keselamatan. Namun pengetahuan tidak selalu berubah menjadi kebiasaan. Keselamatan lalu lintas pada akhirnya bukan hanya soal mengetahui apa yang benar, melainkan tentang konsistensi melakukan hal yang benar setiap kali berkendara.

Pelajaran dari Jalan Pasirkaliki

Pelajaran mengenai hal ini dapat dilihat dari kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung pada 29 Juni 2026. Insiden yang melibatkan dua sepeda motor tersebut merenggut nyawa seorang pengemudi ojek online (ojol). Berdasarkan keterangan kepolisian, kecelakaan diduga terjadi ketika salah satu pengendara berbelok ke kanan tanpa cukup memperhatikan kondisi lalu lintas dari arah belakang.

Peristiwa ini tidak perlu semata-mata dilihat sebagai upaya mencari siapa yang patut disalahkan. Jauh lebih penting, kejadian tersebut dapat menjadi ruang refleksi bersama mengenai betapa keputusan kecil di jalan dapat menentukan keselamatan seseorang.

Kecelakaan lalu lintas hampir tidak pernah lahir dari satu faktor tunggal. Ia biasanya merupakan akumulasi dari berbagai faktor, mulai dari perilaku manusia, kondisi jalan, kecepatan kendaraan, kepadatan lalu lintas, hingga kualitas pengambilan keputusan dalam hitungan detik. Karena itu, membahas kecelakaan secara komprehensif membantu kita melihat persoalan secara lebih utuh.

Sering kali, perbedaan antara perjalanan yang aman dan kecelakaan fatal hanya ditentukan oleh kebiasaan sederhana: meluangkan satu atau dua detik untuk memeriksa spion sebelum bermanuver. Waktu yang terasa singkat itu justru dapat menjadi pembeda yang sangat menentukan dalam konteks keselamatan.

Pada akhirnya, membangun keselamatan jalan tidak cukup hanya melalui aturan, razia, atau penegakan hukum. Semua itu penting, tetapi tidak akan cukup tanpa perubahan budaya. Keselamatan harus tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari—mulai dari memakai helm, menjaga jarak aman, menggunakan lampu sein, hingga membiasakan diri melihat spion sebelum bergerak.

Membangun budaya keselamatan berarti mengembalikan kesadaran bahwa setiap keputusan di jalan selalu memiliki konsekuensi, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi pengguna jalan lain. Jalan raya adalah ruang bersama yang menuntut tanggung jawab bersama.

Spion mungkin kecil bentuknya, tetapi perannya sangat besar. Ia bukan sekadar aksesori untuk menghindari tilang, melainkan perangkat keselamatan yang membantu pengendara membaca risiko sebelum risiko itu datang. Karena pada akhirnya, tujuan setiap perjalanan bukanlah sekadar sampai lebih cepat, melainkan pulang dengan selamat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 11:42

Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

Lewat Permendikdasmen 12/2026 & Gernas RANA, sekolah kini jadi ruang aman bebas cemas. Saatnya sambut masa depan anak dengan kasih sayang!

Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 09:09

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Nestle Indonesia mempublikasikan program pendampingan gizi di berbagai platform komunikasi dengan menyesuaikan karakteristik tiap platform.

Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 08:39

Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

Apakah demokrasi bisa tumbuh secara sehat tanpa partisipasi masyarakat? Bagaimana pandangan pakar tentang ini?

Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 07:55

SPMB Jalur Domisili Belum Cukup Mengurangi Ketergantungan Pelajar pada Sepeda Motor

SPMB jalur domisili mendekatkan jarak antara rumah dan sekolah, tetapi belum cukup mengurangi ketergantungan pelajar pada sepeda motor dan risiko keselamatan di jalan raya.

Sejumlah sepeda motor milik siswa sebuah SMA di Kota Bandung diparkir di badan jalan. (Istimewa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)