Udara sejuk Lembang menyapa siapa pun yang melangkahkan kaki ke Dusun Bambu, kawasan ekowisata favorit keluarga di Jalan Kolonel Masturi KM 11, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (06/11/2025). Di antara pepohonan hijau yang tetap lestari, berdiri bangunan semi permanen yang ramah lingkungan, menjadi bukti nyata harmoni antara inovasi wisata dan pelestarian alam.
Konsep sustainable tourism Dusun Bambu yang ramah lingkungan dan berdayakan warga lokal. Dyah, Front Office Leader Dusun Bambu, menegaskan bahwa sejak awal kawasan ini dirancang sebagai destinasi yang mengedepankan pariwisata berkelanjutan.
“Dusun Bambu itu konsepnya sustainable tourism. Ramah lingkungan dan berbasis tidak merugikan warga sekitar, baik wahana maupun pengelolaan dusunnya,” tuturnya.
Transformasi terbesar Dusun Bambu juga terjadi pada area wahana bermain.
“Dulu fokus kita hanya restoran dan penginapan. Baru sekitar 2021 diadakan wahana, sebagai respons kebutuhan pengunjung keluarga,” ujarnya.
Salah satu yang menonjol adalah wahana Water Coaster sepanjang 400 meter, unik karena bukan sekadar Waterpark melainkan perpaduan taman bermain dengan lanskap asli Lembang. Penempatannya pun memperhatikan keseimbangan ekologis,
“Area Water Coaster tetap banyak taman dan tanaman, area hijaunya tidak dibabat habis, supaya kesan alami tetap terasa,” tegasnya.
Selain itu, perubahan turut terjadi pada penginapan dari tenda menuju kabin yang lebih aman dari cuaca ekstrim, namun tetap mengusung konsep back to nature.

Dalam proses pengembangannya, Dusun Bambu melibatkan kolaborasi antara pemilik Rony Lukito pendiri brand Eiger dengan desainer lokal dan konsultan lingkungan.
Setiap aspek dirancang secara hati-hati, mulai dari pengelolaan air, tanah, hingga tata ruang yang memperhatikan daya dukung ekosistem sekitar.
Dusun Bambu memberdayakan banyak karyawan dari komunitas sekitar dan memastikan bangunan didesain agar tidak merusak tanah tanpa fondasi beton yang merusak struktur tanah, melainkan didirikan dengan sistem panggung.
Dari 16 hektare lahan yang dimiliki, hanya setengah area yang dibangun, sisanya dibiarkan alami sebagai ruang hijau, membuat kawasan ini tetap asri dan tak terasa sesak oleh berbagai fasilitas buatan.
Penggunaan teknologi hijau juga mulai diterapkan seperti panel surya dan sistem pengolahan sampah untuk mendukung operasional harian, Dusun Bambu sudah menggunakan panel surya di area food court dan sebagian wahana, seperti Mystical Forest, serta lampu LED hemat energi. Kendaraan operasional mengadopsi teknologi listrik, mengurangi emisi karbon secara signifikan.
“Pengolahan sampah juga sudah mulai memakai magot, jadi sampah organik tidak semuanya dibuang ke tempat pembuangan akhir,” jelasnya.
Tanggapan pengunjung dalam keasrian dan inovasi juga menjadi daya tarik meski belum banyak pengunjung yang memberi testimoni eksplisit mengenai konsep ekowisata, namun umpan balik yang umum diterima selalu menyoroti keasrian, kesejukan, dan nilai alami Dusun Bambu.
“Sebagian besar pengunjung memuji suasana dan keasriannya. Banyak yang belum sadar operasional, tapi mereka selalu terkesan dengan konsep alamnya,” ujarnya. Kebaruan wahana seperti Rainbow Slide dan Roller Coaster ringan juga mendapat sambutan hangat karena dianggap belum Mainstream di kawasan Bandung Raya.
Namun menjaga keseimbangan antara bisnis dan lingkungan bukan hal mudah. Sebagian lahan Dusun Bambu termasuk kawasan perhutani, sehingga pembangunan harus memperhatikan izin dan kelestarian ekosistem.
“Setiap penambahan fasilitas selalu melalui banyak pertimbangan, supaya alamnya tidak rusak,” jelasnya.
Dusun Bambu menjadi inspirasi konkret bahwa wisata modern dapat tetap berpihak pada alam dan masyarakat. Dengan kombinasi inovasi, tata kelola lingkungan, dan pemberdayaan, kawasan ini terus berkembang tanpa kehilangan identitas ekowisatanya. Harmoni antara kenyamanan tamu dan kelestarian alam adalah pondasi utama, membuat Dusun Bambu bukan hanya destinasi liburan, tapi juga contoh masa depan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. (*)
