Sejarah Priangan Sebelum Kompeni Datang, Hidup Bersahaja di Tengah Hutan dan Sawah

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 20 Nov 2025, 15:52 WIB
Lukisan pemandangan Priangan Abdullah Suriosubroto. (Sumber: Tropenmuseum)

Lukisan pemandangan Priangan Abdullah Suriosubroto. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Priangan masa lalu selalu dibayangkan sebagai sebuah negeri berkabut yang penduduknya hidup damai di antara huma dan hutan. Imajinasi seperti itu memang menggoda. Tetapi kenyataan abad ke-17 hingga awal abad ke-18 ternyata lebih riuh dibanding mitos. Di dataran wilayah geobudaya Jawa Barat bagian selatan itu, pepohonan masih mendominasi wajah bumi, dan siapa saja yang melongok dari bukit akan melihat lembah-lembah yang nyaris kosong, hanya ditinggali gubuk-gubuk kecil di tepian ladang. Sawah irigasi masih jarang, kota-kota kepala daerah cuma berupa simpul-simpul kecil di sepanjang jalur yang menghubungkan pedalaman dengan pesisir. Dengan kata lain, Priangan sebelum Kompeni benar-benar masih berupa pulau rimbun di tengah kegaduhan politik Jawa.

Tapi, sebuah masyarakat yang tampak sepi tidak berarti pasif. Justru sebaliknya. Penduduknya gesit berpindah, para kepala daerah sibuk mengatur strategi, dan hutan yang tampak tenang itu sebenarnya menjadi panggung dari perebutan orang. Di sini, orang adalah modal. Siapa yang punya lebih banyak orang, dialah yang lebih kuat. Sederhana mamang. Namun kesederhanaan itu berubah dramatis ketika sebuah tanaman kecil bernama kopi diperintahkan untuk tumbuh di lereng Priangan.

Semua ini terjadi sebelum para blue dari Belanda benar-benar berkantor rapi di pegunungan Jawa Barat. Ada masa transisi panjang, dari tahun-tahun ketika Priangan masih jadi rebutan Mataram, Banten, dan VOC, hingga masa ketika pemerintah kolonial akhirnya menyebut para kepala daerah sebagai bupati dan menanamkan sebuah tata kelola khas Eropa di dalam masyarakat yang sebelumnya amat cair. Untuk sampai ke sana, dataran tinggi ini melewati sebuah perjalanan panjang yang diwarnai lompatan-lompatan administratif, pasar lada, karavan barang, serta perubahan struktur kekuasaan yang diam-diam mengubah cara hidup orang Priangan.

Baca Juga: Sejarah Pahit Keemasan Kopi Priangan di Zaman Kolonial, Kalahkan Yaman via Preangerstelsel

Bayangkan Priangan pada 1700-an awal. Alamnya luas, rerimbunan hutan menutupi sebagian besar lereng, pemukiman kecil tersebar di lembah dan dataran tinggi. Satu kampung kadang hanya terdiri dari lima rumah tangga, paling banyak tiga puluh. Tidak ada perkampungan padat seperti sekarang. Orang bekerja di huma, bukan sawah. Sawah irigasi hanya terdapat di sekitar kediaman kepala daerah, atau umbul, pejabat di bawahnya yang memegang peran penting dalam kehidupan politik lokal.

Penelti Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University, Atsuko Ohashi dalam The Genesis of Local Dutch East Indian Administration menggambarkan Priangan pada masa itu bukanlah wilayah yang diatur oleh satu otoritas tunggal. Ada kepala daerah yang mewarisi jabatan dari ayahnya dan memegang kekuasaan atas orang-orang yang memilih tinggal di bawah perlindungannya. Ada umbul yang menjadi kepanjangan tangan sang kepala daerah. Ada patih sebagai wakil yang punya suara kuat. Semua unsur ini membentuk satu sistem kepemimpinan yang cair.

Orang bebas berpindah jika merasa tidak cocok. Penduduk bahkan bisa meninggalkan wilayahnya dan hidup dari berburu ketika panen memburuk. Jika seorang kepala daerah dianggap terlalu keras atau tak adil, rakyatnya bisa pindah ke kepala daerah lain. Begitu pula oembol yang merasa tidak cocok dengan atasannya bisa membawa rakyatnya keluar dan mencari perlindungan di tempat lain.

Sifat cair ini membuat Priangan punya dinamika sosial yang mirip pasar bebas. Tidak ada kewenangan absolut yang bisa mencegah eksodus. Larangan melarikan diri pernah dikeluarkan VOC, tetapi itu sebatas larangan di atas kertas. Mereka tidak punya kekuatan fisik untuk menahan siapa pun. Di Priangan, kehendak manusia lebih cepat bergerak daripada kebijakan kolonial.

Kepala daerah mengurus banyak hal. Mereka berdagang ke Batavia dan Cirebon, membawa lada, kapas, atau belerang, lalu pulang dengan garam atau barang besi. Mereka pula yang mengurus perselisihan antarwarga. Bahkan ketika rakyat mereka dituduh oleh kepala daerah lain, sang oembol bisa turun tangan menjadi pembela. Perlindungan adalah mata uang terpenting dalam masyarakat ini. Tidak heran bila populasi menjadi indikator utama kekuasaan. Semakin banyak orang, semakin tinggi martabat seorang kepala daerah.

Baca Juga: Sejarah Panjang Hotel Preanger Bandung, Saksi Bisu Perubahan Zaman di Jatung Kota

Terdapat satu hal yang membuat keadaan berubah perlahan: jaringan jalan. Priangan memiliki jalur yang menghubungkan kota-kota kepala daerah dengan Batavia dan Cirebon. Jalan itu dirawat oleh para kepala daerah, termasuk penginapan-penginapan kecil di sepanjang perjalanan. Semua dilakukan demi kelancaran aktivitas dagang. Jalan adalah nadi yang menghubungkan hulu dan hilir. Jalan pula yang nantinya memuluskan masuknya tata kelola kolonial.

Tapi, perubahan besar tidak dimulai dari jalan. Ia dimulai dari kopi.

Pada 1707, pemerintah VOC memberikan perintah untuk menanam kopi. Empat tahun kemudian, 46 kilogram kopi pertama dikirim dari Tjandjoer. Volume kirimannya lalu naik turun karena harga yang fluktuatif. Tetapi keuntungan tinggi membuat kepala daerah ketagihan. Mereka menjadi semakin kaya dari kopi. Pemerintah panik. Mereka khawatir uang itu digunakan membeli senjata. Maka muncullah upaya menekan produksi kopi atau membatasi pembelian. Hasilnya nihil. Pemerintah tidak bisa benar-benar mengatur kepala daerah, apalagi menyuruh rakyat mengirim kopi langsung ke Batavia. Tanpa kepala daerah, tidak ada seorang pun yang mampu mengorganisasi karavan kopi.

Dengan kata lain, di awal abad ke-18, kekuasaan masih berada di tangan para pemimpin lokal.

Baca Juga: Hikayat Java Preanger, Warisan Kopi Harum dari Lereng Priangan

Koffie Pakhuis alias gudang penyimpanan kopi zaman kolonial yang kini berubah fungsi jadi Balai Kota Bandung. (Sumber: KITLV)
Koffie Pakhuis alias gudang penyimpanan kopi zaman kolonial yang kini berubah fungsi jadi Balai Kota Bandung. (Sumber: KITLV)

Kompeni tidak sepenuhnya tinggal diam. Pada 1740-an mereka mulai membangun Batavia sebagai pusat koloni dan memperkenalkan sistem administrasi Eropa ke Priangan. Mereka mengganti istilah kepala daerah menjadi bupati. Oembol menjadi kepala distrik. Priangan menjadi Wilayah Pemerintahan Bupati Priangan. Keputusan-keputusan administratif ini kelak mengubah seluruh pola kekuasaan.

Perluasan Tanam Kopi, Penyempitan Otonomi Pribumi

Pada 1820-an, wajah Priangan sudah berubah drastis. Apa yang dulu berupa entitas politik cair kini berubah menjadi wilayah administratif yang kaku dengan batas jelas. Pemerintah kolonial menempatkan seorang residen Eropa, lalu seorang pengawas di tiap kabupaten. Muncul birokrasi dua lapis. Para bupati menjadi penghubung antara pemerintah kolonial dan rakyat.

Tapi posisi bupati sendiri tidak lagi kokoh. Kekuasaan mereka menyusut seperti kain dicuci berkali-kali. Pemerintah bisa mengganti bupati kapan pun. Bahkan mereka dilarang bepergian tanpa izin residen. Mereka menjadi figur penting tetapi tidak berdaulat.

Lebih jauh, para bupati tidak lagi mengelola kopi seperti sebelumnya. Pemerintah mengambil alih organisasi produksi dan transportasi. Sistem produksi menjadi sangat terstruktur, dan setiap distrik punya fungsi ekonomi masing-masing. Ada distrik penghasil padi yang berfungsi memberi makan buruh kopi. Ada distrik penghasil kopi intensif yang tanahnya cocok untuk tanaman itu. Ada distrik pengangkutan yang menjadi pusat mobilisasi orang dan barang. Priangan menjadi sebuah mesin produksi besar.

Salah satu kabupaten yang menunjukkan struktur ini adalah Tjanjoer. Dari dua puluh distrik yang dianalisis, terlihat betapa fungsi setiap tempat sudah seperti bagian mesin pabrik. Ada kelompok yang fokus pada beras, kelompok yang fokus pada kopi, kelompok yang memasok tenaga kerja, dan kelompok yang menjadi simpul transportasi. Semua berjalan seperti mekanisme jam yang digerakkan dari luar.

Baca Juga: Dari Gurun Pasir ke Kamp Konsentrasi, Kisah Tragis Keluarga Berretty Pemilik Vila Isola Bandung

Penanaman sawah irigasi meluas karena pemerintah sadar bahwa kopi tidak mungkin tumbuh tanpa pangan yang cukup. Sawah menjadi prioritas, tetapi kerja rodi tidak pernah memandang apakah seseorang punya sawah atau tidak. Semua orang kena giliran, termasuk pendatang yang baru membuka ladang. Sebuah sistem pungutan tenaga yang tak peduli pada kondisi ekonomi atau status seseorang. Satu-satunya yang diperhitungkan hanyalah jumlah orang dalam rumah tangga.

Priangan yang sebelumnya otonom kemudian berubah menjadi wilayah yang dikunci oleh birokrasi kolonial. Orang tak lagi bebas berpindah. Bupati tak lagi membangun jalan sesuai kehendaknya. Bahkan waktu dan tenaga rakyat pun bukan lagi milik mereka sendiri. Inilah kehilangan paling besar. Bukan sekadar kemiskinan atau pemaksaan, tetapi hilangnya ruang menentukan ritme hidup sendiri.

Di antara harumnya kopi, sunyinya huma, dan gemericik air irigasi, terselip kisah tentang bagaimana satu masyarakat berubah bukan semata karena ekonomi atau perang, tetapi karena cara baru dalam mengatur manusia. Priangan sebelum Kompeni adalah dunia yang mengalir bebas. Priangan sesudahnya adalah dunia yang diarahkan oleh aturan-aturan dari luar. Di situlah sejarah dataran tinggi ini menemukan bentuk barunya.

Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

News Update

Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)