Jejak Sejarah Sisingaan, Tarian Singa Kayu dari Tanah Subang

3 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Seni Sisingaan dari Subang. (Sumber: Wikimedia)
Seni Sisingaan dari Subang. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Di jalan-jalan kampung Subang, setiap kali ada anak lelaki disunat, suasananya tidak pernah sepi. Bukan karena tangisan, melainkan gegap gempita iring-iringan. Anak itu duduk di atas replika singa bermahkota emas, diangkat delapan pria kekar yang menari mengikuti ritme musik gamelan dan terompet. Ini bukan pawai biasa. Inilah Sisingaan, kesenian rakyat Subang yang sudah hidup sejak zaman tanam paksa, dan masih bertahan sampai kini.

Sisingaan bukan sekadar pertunjukan. Ia simbol identitas, perlawanan, juga bentuk syukur. Dari pelataran rumah hingga pentas nasional, singa kayu ini berjalan tanpa henti. Diangkat oleh warga, ditunggangi oleh anak-anak, dan dipertahankan oleh sejarah.

Tak ada sejarah yang tunggal, begitu pula asal-usul Sisingaan. Tapi semua sepakat: kesenian ini lahir di Subang. Peneliti Badan Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat Suwardi Alamsyah dalam makalahnya Sisingaan; Kesenian Kabupaten Subang menyebut nama Sisingaan diambil dari alat utama pertunjukan: replika singa dari kayu, yang dalam bahasa Sunda disebut “sisingaan”, gabungan kata “si”, “singa”, dan “-an”, yang berarti tiruan singa.

Sebelum tahun 1989, masyarakat mengenal kesenian ini dengan berbagai nama: Gotong Singa, Kuda Ungkleuk, Singa Depok, hingga Pergosi. Barulah pada seminar kebudayaan di Subang tahun itu, disepakati satu nama resmi: Sisingaan.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Dua pendapat besar berkembang soal akar kesenian ini. Pendapat pertama menyebut Sisingaan lahir pada masa kolonial sebagai bentuk sindiran terhadap penjajahan Belanda dan Inggris. Singa kayu dianggap sebagai simbol tuan tanah kolonial. Anak-anak yang menungganginya melambangkan rakyat Subang yang "menaklukkan" penguasa asing. Dalam narasi ini, sisingaan bukan hanya hiburan, tapi juga satire visual yang kuat.

Pendapat ini dikuatkan oleh peneliti kesenian Edih AS, yang menyebut tahun 1857 sebagai titik mula kemunculan Sisingaan. Ia menunjuk Demang Mas Tanudireja dari Kademangan Ciherang sebagai pelopornya. Dari penelusuran Edih, bahkan pada tahun 1910-an sudah ada lurah dan anak-anak sunat yang diarak keliling kampung dengan Sisingaan. Artinya, tradisi ini sudah berlangsung lebih dari satu abad.

Pendapat kedua datang dari Mas Nanu Munajar, seniman akademisi Subang. Ia melihat akar Sisingaan sebagai kelanjutan dari Odong-odong, kesenian agraris yang bersifat ritual. Jauh sebelum masuknya agama-agama besar, masyarakat Subang mengenal tradisi arak-arakan berbentuk binatang sebagai penghormatan terhadap kekuatan supranatural, hasil panen, dan keselamatan desa. Benda-benda yang diarak menyerupai garuda, elang, kuda, atau macan.

Kalau menurut versi ini, Sisingaan berkembang dari bentuk-bentuk awal Odong-odong. Barulah saat Subang hendak mengirim delegasi ke Taman Mini Indonesia Indah, nama Sisingaan dipatenkan sebagai representasi seni daerah.

Kendati berbeda akar, keduanya sepakat: Sisingaan bukan seni buatan mendadak. Ia tumbuh dari napas masyarakat, berevolusi, dan bertahan karena maknanya terus hidup—baik sebagai bentuk rasa syukur maupun simbol perlawanan.

Sisingaan pada zaman kolonial Hindia Belanda. (Sumber: Arsip Nasional)
Sisingaan pada zaman kolonial Hindia Belanda. (Sumber: Arsip Nasional)

Dari Khitanan ke Panggung Dunia

Sampai hari ini, Sisingaan tetap eksis di tengah masyarakat Subang. Fungsi awalnya sebagai hiburan khitanan masih dominan, meski kini sering pula tampil dalam acara resmi, pawai budaya, atau pertunjukan di luar negeri.

Proses pertunjukan Sisingaan khas dan penuh ritus. Sehari sebelum arak-arakan, anak yang akan disunat dimandikan air bunga dan dirias seperti tokoh pewayangan—Gatotkaca lengkap dengan kumis, bedak, dan pakaian warna emas-hitam. Ia ditemani “Arjuna kecil”, lalu keduanya dinaikkan ke atas dua singa kayu yang siap diusung.

Baca Juga: Hikayat Dinasti Sunarya, Keluarga Dalang Wayang Golek Legendaris dari Jelekong

Sementara itu, di halaman rumah, para penggotong sudah bersiap. Mereka menari, membentuk formasi, dan mengangkat sisingaan dengan gerakan kompak, dinamis, dan atraktif. Iringan musik gamelan dan tiupan terompet mengatur ritme gerakan mereka. Terkadang, atraksi akrobatik ditampilkan: berputar seperti katak, menendang di udara, hingga melompat sambil menggendong singa.

Gerakannya tak sembarangan. Dalam versi jalanan, tariannya berlandaskan pola ketuk tilu: jurus, minced, gurudugan. Dalam versi panggung, lagunya berganti-ganti: arang-arang, kidung, kangsreng, gondang, hingga ditutup Jaipongan. Atraksi pun dipertontonkan: dari bankaret hingga putar katak, dari nincak acak hingga melak cau.

Walaupun fungsi awalnya berubah, makna Sisingaan tetap utuh. Ia adalah seni rakyat yang menghibur, menggerakkan, dan menyatukan. Anak-anak yang ditandu bukan cuma simbol keberanian menghadapi sunat, tapi juga bagian dari warisan budaya yang membanggakan.

Hari ini, Sisingaan tak hanya milik Subang. Ia sudah tampil di Jakarta, Bali, bahkan luar negeri. Tapi jiwanya tetap Subang: kampung yang tak pernah berhenti menari bersama singa dari kayu.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)