Jalan Timnas Indonesia ke Piala Dunia Berawal dari Bandung

7 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Bobotoh Rayakan Kemenangan Persib (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bobotoh Rayakan Kemenangan Persib (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AJANG Piala Dunia 2026 menyajikan sebuah ironi yang menarik. Saat format turnamen diperluas menjadi 48 peserta, banyak pengamat sejak awal memperkirakan kompetisi akan semakin penuh kejutan. 

Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Empat negara yang berhasil mencapai semifinal adalah empat tim yang saat itu berada di posisi teratas ranking FIFA: Spanyol, Prancis, Argentina, dan Inggris. Seolah-olah sepak bola sedang mengirim pesan sederhana bahwa pada akhirnya, kualitas sistem akan mengejar kualitas hasil.

Fakta itu menarik bukan karena membuktikan ranking FIFA selalu benar. Ranking tetap memiliki keterbatasan. Namun, untuk pertama kalinya sejak sistem peringkat FIFA diperkenalkan pada awal 1990-an, peta kekuatan di atas kertas hampir sepenuhnya bertemu dengan realitas di lapangan. Di balik kebetulan statistik tersebut nyatanya tersimpan pelajaran yang jauh lebih penting daripada sekadar angka.

Negara bersorak

Selama ini, perhatian publik sepak bola hampir selalu tertuju kepada tim nasional. Ketika timnas menang, satu negara bersorak. Ketika kalah, satu negara ikut kecewa. 

Padahal, tim nasional itu ibarat puncak gunung es. Yang tampak hanya bagian kecil. Di bawah permukaan, terdapat lapisan yang jauh lebih besar berupa kompetisi domestik, klab, akademi, pelatih, pencari bakat, hingga ribuan anak yang setiap sore berlatih tekun di lapangan rumput.

Karena itu, membicarakan jalan Indonesia menuju Piala Dunia sebetulnya tidak cukup dimulai dari ruang ganti tim nasional Indonesia. Pembicaraan harus bergeser ke tempat yang lebih sunyi, lebih rutin, tetapi justru lebih menentukan: markas-markas klab sepakbola. Di sanalah para pemain dibentuk jauh sebelum mengenakan lambang Garuda di dada mereka.

Dalam kaitan itu, Bandung memiliki posisi yang menarik. Kota ini bukan sekadar memiliki klab sepak bola besar. Bandung juga memiliki salah satu ekosistem sepak bola paling hidup di Indonesia. Persib bukan hanya nama tenar di klasemen Liga 1. Ia telah menjadi institusi sosial yang mempengaruhi cara masyarakat memandang sepak bola, dari warung kopi hingga ruang-ruang keluarga.

Selama puluhan tahun, Persib membangun hubungan emosional yang tidak banyak dimiliki klab lain. Bobotoh datang bukan sekadar membeli tiket pertandingan. Mereka mewarisi identitas. Seorang ayah mengenalkan Persib kepada anaknya, lalu sang anak tumbuh bersama cerita yang sama. Ikatan lintas generasi seperti ini adalah modal yang tidak bisa dibeli dengan dana transfer sebesar apa pun.

Walau begitu, Klab besar tidak hanya diukur dari besarnya basis pendukung atau banyaknya trofi yang dikoleksi. Dalam sepak bola modern, ukuran yang semakin penting adalah kemampuan sebuah klab menghasilkan pemain yang mampu bersaing di level tertinggi. Trofi adalah hasil dari satu musim. Adapun pemain berkualitas adalah hasil dari sebuah peradaban sepak bola.

Lihatlah negara-negara semifinalis Piala Dunia. Tidak ada satu pun yang membangun kekuatannya hanya dari pemusatan latihan tim nasional. Prancis bertumpu pada jaringan akademi dan klab yang telah dipoles selama puluhan tahun. 

Spanyol menikmati hasil investasi panjang dalam filosofi pembinaan pemain. Inggris bangkit setelah melakukan reformasi besar-besaran pada pendidikan pelatih dan pengembangan pemain muda. Adapun Argentina bertahan sebagai kekuatan sepak bola dunia karena klab-klabnya tidak pernah berhenti melahirkan talenta baru.

Kesamaan mereka bukan terletak pada gaya bermain. Gaya bermain Prancis berbeda dengan Spanyol. Argentina berbeda dengan Inggris. Yang sama adalah fondasinya. Mereka memahami bahwa tim nasional hanyalah etalase. Barang terbaiknya diproduksi setiap hari oleh klab. Klab adalah pabriknya pemain, sedangkan tim nasional adalah ruang pamernya.

Dibebankan kepada klab

Persoalan tentang masa depan tim nasional Indonesia mungkin terdengar terlalu besar untuk dibebankan kepada satu kota atau satu klab. Namun, sejarah sepak bola dunia menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari simpul-simpul lokal yang bekerja dengan konsisten. 

Jika tim nasional Indonesia ingin benar-benar menjadi langganan Piala Dunia, mungkin pertanyaan pertamanya bukan lagi, "Siapa pelatih Timnas Indonesia?" Melainkan, "Sudah sejauh mana klab-klab seperti Persib membangun fondasi yang membuat tim nasional tidak lagi bergantung pada satu generasi emas, tetapi terus melahirkan generasi-generasi berikutnya?"

Persib Bandung Vs Semen Padang FC. (Sumber: ileague.id)
Persib Bandung Vs Semen Padang FC. (Sumber: ileague.id)

Pertanyaan berikutnya pun sederhana: apa sebenarnya kontribusi terbesar sebuah klab terhadap tim nasional? 

Banyak orang spontan menjawab: menyumbang pemain. Jawaban itu benar, tetapi belum lengkap. Klab sejatinya tidak hanya menyumbang pemain. Klab membentuk kebiasaan, karakter, cara berpikir, dan budaya sepak bola. Semua itu tidak terlihat dalam statistik pertandingan, tetapi sangat menentukan kualitas seorang pesepak bola.

Karena itulah akademi sepakbola menjadi titik awal yang tidak bisa ditawar-tawar. Akademi bukan sekadar tempat anak-anak belajar menggiring bola dan mengoper bola. Di sana mereka belajar mengambil keputusan dalam hitungan detik, memahami ruang permainan, bekerja sama, menerima kekalahan, dan mengendalikan ego. Keterampilan teknis bisa dilatih dalam beberapa tahun. Karakter bermain sering kali dibentuk jauh lebih dini.

Dalam banyak kasus, negara yang kuat di sepak bola bukanlah negara yang memiliki anak-anak paling berbakat, melainkan negara yang paling sedikit menyia-nyiakan bakat. Dan itu dua hal yang berbeda. Bakat bisa lahir di mana saja. Tapi, sistemlah yang menentukan apakah bakat itu berkembang atau layu dan hilang di tengah jalan.

Indonesia sesungguhnya tidak pernah kekurangan anak yang pandai bermain bola. Hampir setiap daerah memiliki cerita ihwal bocah-bocah yang lihai mengolah si kulit bundar di lapangan kampung. Persoalannya muncul adalah, berapa banyak dari mereka yang masuk pembinaan yang benar? Berapa banyak yang memperoleh sentuhan dari tangan pelatih berkualitas? Dan berapa banyak yang akhirnya benar-benar sampai ke jenjang sepak bola profesional?

Di sinilah klab seperti Persib memegang peran strategis. Klab besar memiliki sumber daya, jaringan, dan daya tarik yang tidak dimiliki banyak klab lain. Ketika sebuah akademi Persib bekerja dengan standar tinggi, dampaknya tidak berhenti pada satu angkatan pemain. Standar itu akan menjadi rujukan bagi sekolah sepak bola lain, bagi pelatih muda, bahkan bagi orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di dunia sepak bola.

Perkara pelatih dan pemain muda

Hal lain yang sering luput dari pembahasan selama ini dalah kualitas pelatih. Publik biasanya mengukur pelatih dari hasil pertandingan tim utama semata. Padahal, fondasi sepak bola justru dibangun oleh pelatih-pelatih usia dini. Merekalah yang pertama kali mengajarkan bagaimana menerima bola, kapan mengoper, bagaimana membaca arah permainan, hingga bagaimana bersikap ketika tim menang atau kalah.

Negara-negara elite sepak bola memahami bahwa pelatih bukan sekadar pekerjaan, melainkan profesi yang harus terus belajar. Mereka perlu mengikuti pendidikan berjenjang, memperbarui metode latihan, memanfaatkan analisis video, dan berdiskusi dengan pelatih lain. Artinya, investasi terbesar bukan hanya menggelontorkan duit untuk membeli pemain mahal, tetapi juga meningkatkan kualitas orang-orang yang membimbing pemain setiap hari.

Persib memiliki peluang untuk menjadi pusat pengembangan pelatih, bukan hanya pemain. Bayangkan jika setiap musim lahir puluhan pelatih muda yang membawa metode latihan modern ke berbagai kota di Jawa Barat. Dampaknya bakal jauh lebih besar daripada satu gelar liga. Klab tidak hanya mencetak pesepak bola, tetapi juga memperluas pengetahuan sepak bola.

Ada pula satu persoalan lain yang sering memunculkan dilema, yakni menit bermain pemain muda. Hampir semua klab mengaku ingin melakukan regenerasi. Namun, ketika kompetisi berlangsung ketat, keberanian memainkan pemain muda sering menghilang. Target juara, tekanan suporter, dan tuntutan hasil membuat pelatih lebih memilih pemain yang sudah matang.

Dilema itu sebenarnya wajar. Tidak ada pelatih yang ingin kehilangan pekerjaan karena hasil buruk. Tetapi, jika semua klab berpikir hanya untuk raihan hasil akhir nan manis, siapa yang sedang memikirkan kualitas tim nasional lima atau sepuluh tahun mendatang? Di sinilah diperlukan keseimbangan antara target kompetisi dan misi pembinaan.

Klab-klab terbaik di dunia tidak menunggu pemain muda menjadi sempurna. Mereka memberi ruang untuk bertumbuh. Kesalahan dianggap bagian dari proses, bukan alasan untuk menyingkirkan pemain dari skuad utama. Pendekatan seperti ini memang membutuhkan keberanian, tetapi sejarah menunjukkan hasilnya jauh lebih berkelanjutan daripada sekadar mengejar kemenangan sesaat.

Persib sebenarnya memiliki modal sosial untuk melakukan hal itu. Dukungan Bobotoh yang luar biasa memang sering dipandang sebagai tekanan. Padahal, jika dikelola dengan baik, dukungan itu juga bisa menjadi energi. Suporter yang memahami pentingnya regenerasi akan lebih sabar melihat pemain muda berkembang. Mereka tidak hanya menuntut kemenangan hari ini, tetapi juga ikut menjaga masa depan klab.

Mungkin inilah perspektif yang perlu mulai dibangun. Persib sendiri bukan hanya bertanding melawan sebelas pemain lawan setiap melakoni jadwal liga. Persib juga sedang bertanding melawan waktu. Pertanyaannya bukan sekadar apakah klab berjuluk Maung Bandung ini bisa menjadi juara saban musim, melainkan apakah lima belas tahun dari sekarang Persib masih menjadi sumber utama lahirnya pemain-pemain terbaik Indonesia. 

Jika jawabannya "ya", maka setiap latihan akademi, setiap lisensi pelatih yang ditingkatkan, dan setiap menit bermain yang diberikan kepada pemain muda sesungguhnya adalah langkah kecil menuju mimpi yang jauh lebih besar, yaitu membawa tim nasional Indonesia semakin dekat dengan panggung Piala Dunia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)