Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)
Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan. Namun pada 1870-an ketika Undang-Undang Agraria lahir, semuanya berubah. Undang-Undang Agraria 1870 atau Agrarische Wet 1870 adalah kebijakan kolonial Belanda yang menandai dimulainya era ekonomi liberal di Hindia Belanda, yang membuka pintu bagi pemodal asing swasta (terutama untuk perkebunan besar) melalui sistem sewa tanah. Salah satu dampak yang paling terlihat dari Undang-Undang ini adalah warga lokal kehilangan kendali atas tanahnya dalam jangka yang panjang.

Desa yang saya tempati dahulu dipakai sebagai kawasan Balai Pelatihan Pertanian oleh pemerintah kolonial. Sebetulnya balai-balai ini banyak dibentuk di pulau Jawa, salah satunya adalah balai untuk pengembangan bunga potong, pengrajin sepatu dan pertanian. Balai-balai ini dibentuk di Semarang dan bernama Soerja Soemirat. Dan balai Soerja Soemirat untuk pertanian berada di utara Lembang di sebuah tanah yang berada di ketinggian yang sekarang lebih dikenal dengan desa Cibogo.

Warga pribumi dari Cirebon dan Semarang didatangkan untuk membuka lahan dan mereka akhirnya pun menamakan diri mereka koloni Soerja Soemirat. Mereka menanam sayuran-sayuran lokal seperti daun kelor, kecipir, kecombrang, dan daun ginseng. Pada perkembangannya koloni Soerja Soemirat ini pun menjadi kawasan sentra pertanian tanaman sayuran, hingga pasca kemerdekaan terdapat Balai Penelitian Tanaman dan Sayuran.

Kawasan pertanian di Cibogo tahun 1972. (Sumber: wereldculturn.nl)
Kawasan pertanian di Cibogo tahun 1972. (Sumber: wereldculturn.nl)

Warga sekitar pun menggantungkan hidup mereka pada sektor pertanian dan peternakan, hingga Lembang terkenal dengan itu semua. Suasana pertanian dapat sangat terlihat pada foto-foto lama yang saya dapatkan baik itu dari narasumber di lapangan ataupun situs-situs Belanda. Kehidupan mandiri sebagai seorang petani dan peternak begitu terasa, hingga kemandirian ini tumbuh menjadi ciri khas Lembang.

Namun, kini semua telah bergeser. Ketika maraknya kawasan wisata selfie kekinian di Lembang, banyak para warga yang tadinya berkebun atau beternak malah seperti “ketiban Fomo”. Mereka menjual hewan ternak mereka dan merubah kebun-kebun sayur mereka menjadi homestay atau vila bagi para wisatawan pemburu hiburan selfie. Semakin terdesaknya “kefomoan” ini hingga membuat para warga seperti terhipnotis untuk mengikuti alur tren.

Alhasil, ladang-ladang hijau sayuran yang indah kini berubah menjadi vila-vila bertingkat hingga homestay sederhana, hijaunya kebun berubah menjadi lautan beton di mana-mana. Sahutan-sahutan hewan ternak di setiap pagi pun berganti menjadi deru kendaraan yang mondar-mandir untuk mencari hiburan di semua penginapan itu. Terutama di liburan panjang dan tahun baru, keruwetan semakin terasa. Kembang api dinyalakan, musik-musik terdengar dari semua penjuru, tak jarang saya menemukan bangkai-bangkai burung gereja yang mungkin terkena kembang api.

Keheningan nyaman di kampung kami harus berubah menjadi keruwetan di setiap akhir pekan. Apabila telah datang Jumat sore, suasana mulai terasa ruwet. Kepadatan mulai terasa oleh kendaraan-kendaraan pelat luar kota, kemacetan pun mulai terjadi di malam Sabtu itu. Di Sabtu pagi kami warga lokal yang masih harus beraktivitas ke luar rumah, harus sangat terganggu dengan motor-motor besar yang ngebut konvoi ke arah Ciater. Mereka menganggap bahwa jalan Raya Lembang dan jalan Raya Tangkuban Parahu adalah arena sirkuit mereka. Mereka lupa kami warga lokal yang untuk menyeberang saja merasa khawatir.

Sawah-sawah di kawasan Cikole, Lembang, pada tahun 1950-an, kini sawah tidak ditemukan kembali di Lembang. (Sumber: KITLV)
Sawah-sawah di kawasan Cikole, Lembang, pada tahun 1950-an, kini sawah tidak ditemukan kembali di Lembang. (Sumber: KITLV)

Di hari-hari libur panjang, kami warga lokal harus mempersiapkan kebutuhan pokok kami lebih cepat, karena apabila libur panjang suasana macet akan terjadi dari pagi hingga tengah malam, dan untuk warga lokal seperti kami terdapat celotehan “teu perlu-perlu teuing ka luar mah, mending di imah, bisa kolot di jalan” (apabila tidak ada keperluan mendesak untuk keluar rumah pada masa liburan ini, lebih baik di rumah saja, kalau dipaksakan keluar rumah akan tua di jalan).

Hingga saya berpikir, wisata-wisata yang menjamur di Lembang itu memang diciptakan bukan sebagai sarana hiburan bagi warga lokal, karena yang warga lokal rasakan hanyalah dampaknya saja. Jujur, saya sangat merindukan keadaan Lembang sebelum menjamurnya wisata-wisata kekinian. Lembang yang menawarkan kesederhanaan, ketenangan, dan dapat menjadi dirinya sendiri.

Apabila hujan besar datang, kurang dari 10 menit kawasan pasar Panorama Lembang akan tergenang cukup dalam dan lama, hal ini pun merupakan dampak dari wisata-wisata kekinian yang merampas ruang-ruang terbuka hijau, merampas serapan-serapan air. Kami sebagai warga lokal semakin termarginalkan di hari-hari liburan, bahkan saya dan beberapa kawan menyebut hari-hari liburan panjang itu dengan hari-hari horor warlok.

Salah satu hiburan warga lokal terutama untuk anak-anak di desa tempat tinggal saya adalah “nonton macet”. Anak-anak sekolah dasar akan berkumpul di pinggir jalan melihat kemacetan atau sekedar menunggu bus besar lewat dan minta dinyalakan “teloletnya”. Padahal dulu di tahun 80an dan 90an, anak-anak seusia mereka dapat dengan leluasa bermain di kebun-kebun, mata air, bermain sambil menggembalakan unggas, sebuah pemandangan yang jomplang.

Kami warga lokal sangat termarginalkan, untuk beraktivitas di saat-saat liburan di Lembang itu adalah tantangan tersendiri, kami harus pergi lebih pagi dan pulang memilih malam saja sekalian, daripada harus terjebak buang-buang waktu di jalan raya berjam-jam, sebuah ironi yang harus kami telan paksa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)