Manik Maya, Ibu Bumi dan Bapak Langit

5 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Saya (penulis) bersama kawan-kawan pecinta budaya Lembang dalam acara ngertakeun bumi lamba 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Saya (penulis) bersama kawan-kawan pecinta budaya Lembang dalam acara ngertakeun bumi lamba 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)

Acara Ngertakeun Bumi Lamba 2026 yang telah diselenggarakan pada Minggu, 21 Juni 2026, mengusung tema “Manik Maya, Ibu Bumi dan Ayah Langit”. Acara Ngertakeun Bumi Lamba sendiri adalah sebuah ritual sakral yang diselenggarakan di Hutan Tangkuban Parahu. Ritual ini adalah wujud rasa syukur dan untuk menjaga keseimbangan alam semesta dengan hadir dalam filosofi “Ibu Bumi dan Bapak Langit”.

Tradisi ini dijalankan untuk memuliakan gunung sebagai paku alam dan wujud rasa syukur atas bumi yang bukan hanya merupakan sekedar tempat lahir, tinggal dan mati, melainkan sebuah titipan leluhur yang wajib kita jaga. Ngertakeun Bumi Lamba ini didasarkan pada amanat leluhur pada zaman Pakuan Pajajaran hingga petuah masyarakat Badui dan Kasundaan. Tahun ini adalah ke-18 kalinya penyelenggaraan Ngertakeun Bumi Lamba. Awalnya lahir pada 2008 yang bermula pada perjalanan beberapa tokoh Sunda yang berkunjung ke suku Baduy untuk meminta bimbingan, hingga akhirnya lahirlah Festival Tangkuban Parahu yang kemudian menjadi Ngertakeun Bumi Lamba.

Bila berbicara tentang Sunda saya selalu dibuat merinding oleh sebuah tinjauan sejarah dalam pidato pengukuhan jabatan guru besar dalam ilmu sejarah pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran 16 Desember 1995, yang ditulis oleh bapak Edi S. Ekadjati. Yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Padjadjaran, Bandung 1995. Dalam pidato tersebut diulas dengan sangat rinci mengenai Sunda. Isi dari pidatonya saya kutip kurang lebih seperti ini;

Ditinjau dari segi Historis, Sunda, Nusantara dan Indonesia adalah istilah atau nama yang mengandung pengertian geografis, kelompok sosial, politik dan kebudayaan. Pengertian-pengertian tersebut kadang-kadang tampak kentara secara terpisah, kadang-kadang terkandung bersama-sama sekaligus. Untuk membedakan biasanya dibubuhi sebuah kata depan yang menjelaskan makna yang dikandungnya, misalnya tatar Sunda, urang Sunda, sastra Nusantara, wawasan Nusantara, Republik Indonesia, bahasa Indonesia.

Menurut Rouffaer, seorang pustakawan Belanda, kata Sunda berasal dari pinjaman kata asing berkebudayaan Hindu, seperti juga kata-kata Sumatra, Madura, Bali, Sumbawa, yang semuanya merujuk pada nama suatu tempat. Kata Sunda sendiri kemungkinan besar berakar dari kata Sund atau kata Suddah dalam bahasa Sanskerta yang mengandung pengertian bersinar, terang dan putih. Dalam bahasa Jawa Kuna (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata Sunda, dengan pengertian bersih, suci, murni, tak bercela, air, tumpukan, pangkat, waspada.

Secara historis, Ptolemaeus, ahli ilmu bumi bangsa Yunani, merupakan orang pertama yang menyebut Sunda sebagai nama tempat. Dalam buku karangannya yang dituliskan sekitar tahun 150 masehi ia menyebutkan bahwa ada tiga buah pulau yang dinamai Sunda yang terletak di sebelah timur India. Kiranya berdasarkan informasi tersebut inilah, ahli-ahli bumi Eropa kemudian menggunakan kata Sunda untuk menamai wilayah dan beberapa pulau di timur India.

Ahli geologi Belanda van Bemmelen menjelaskan bahwa Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai suatu daratan bagian barat laut India timur, sedangkan dataran bagian tenggaranya dinamai Sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang melingkar dan panjangnya sekitar 7000 kilometer. Dataran Sunda itu terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian utara yang meliputi kepulauan Filipina dan pulau-pulau di sepanjang Lautan Pasifik bagian barat serta bagian selatan yang terbentang dari barat hingga timur dari lembah Brahmaputra di India hingga Maluku di selatan.

Dataran Sunda itu bersambung dengan kawasan sistem gunung Himalaya di barat dan dataran Shul di timur. Selanjutnya sebuah pulau yang kemudian terbentuk di dalam dataran Sunda diberi nama dengan menggunakan istilah Sunda juga, yakni Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda Kecil. Yang dimaksud dengan kepulauan Sunda Besar ialah himpunan pulau yang berukuran besar yang terdiri dari pulau Sumatra, Jawa, Madura dan Kalimantan. Adapun kepulauan Sunda Kecil merupakan gugusan pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan Timor. Namun kemudian istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil ini tidak dipakai lagi dalam ilmu bumi di Indonesia.

Menurut Jan Gonda, seorang peneliti dan indologi ternama asal Belanda, ia dikenal dengan penelitiannya mengenai sastra Sanskerta, sastra Jawa dan bahasa Indo-Eropa. Menurutnya pada mulanya kata Suddha dalam bahasa Sanskerta diterapkan pada nama sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian barat pulau Jawa, gunung tersebut tampak putih dan bercahaya di kejauhan, karena tertutup oleh abu yang berasal dari letusan gunung raksasa tersebut yaitu Gunung Sunda.

Kemudian nama Sunda tidak hanya dilabeli untuk nama gunung saja, namun untuk melabeli nama masyarakat yang mendiaminya. Mungkin sekali pemberian nama Sunda bagi wilayah barat pulau Jawa itu diinspirasi oleh nama sebuah kota dan atau kerajaan di bagian bagian pesisir barat India antara lain kota pelabuhan Goa dan Karwar. Selanjutnya, Sunda dijadikan nama kerajaan yang berada di bagian barat Jawa yang beribu kota di Pakuan Pajajaran, sekitar kota Bogor sekarang. Kerajaan Sunda ini telah diketahui berdiri pada abad 7 masehi dan berakhir pada 1579 Masehi.

Suara Sunda pada masa itu tercermin dalam sajak di bawah:

Duh Ibu anu sajati
Indonesia anu mulya
Na kuring sangsara bae
Iraha Ibu Merdika
Iraha kuring rek Mulya
Sapertos Ibu kapungkur
Kawasa marentah sorangan
Duh Ibu kumaha kuring
Bet jadi ra’yat sangsara
Kana merdika geus sono
Geus hanyang geura gok tepang
Aduh Gusti abdi tobat
Mugi enggal hasil maksud
Merdika Indonesia

Terjemahan:

Oh Ibu yang sejati
Indonesia yang mulia
Kenapa hamba sengsara terus
Kapan ibu merdeka
Kapan hamba akan mulia
Seperti ibu dahulu
Berdaulat memerintah sendiri
Oh Ibu bagaimana hamba
Kok jadi rakyat sengsara
Merdeka telah hamba dambakan
Telah ingin segera berjumpa
Oh Tuhan hamba mohon ampunan
Semoga lekas tercapai cita
Merdeka Indonesia

(Sajak dalam Sora Ra’yat Merdika, 20 Agustus 1931)

Sudah saatnya kita ingat dan sadar, kita adalah bangsa besar yang makmur, selalu menjunjung tinggi nilai luhur dan jujur. Kita telah tertidur cukup lama, menderita karena kehilangan jati diri yang dimainkan tangan-tangan kapitalis. Mari saudara-saudaraku, kita pulih dengan kesadaran penuh, mulai menata kembali jalan yang telah hancur, mari jemput pulang Ibu kembali ke pangkuan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 11:42

Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

Lewat Permendikdasmen 12/2026 & Gernas RANA, sekolah kini jadi ruang aman bebas cemas. Saatnya sambut masa depan anak dengan kasih sayang!

Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 09:09

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Nestle Indonesia mempublikasikan program pendampingan gizi di berbagai platform komunikasi dengan menyesuaikan karakteristik tiap platform.

Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 08:39

Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

Apakah demokrasi bisa tumbuh secara sehat tanpa partisipasi masyarakat? Bagaimana pandangan pakar tentang ini?

Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 07:55

SPMB Jalur Domisili Belum Cukup Mengurangi Ketergantungan Pelajar pada Sepeda Motor

SPMB jalur domisili mendekatkan jarak antara rumah dan sekolah, tetapi belum cukup mengurangi ketergantungan pelajar pada sepeda motor dan risiko keselamatan di jalan raya.

Sejumlah sepeda motor milik siswa sebuah SMA di Kota Bandung diparkir di badan jalan. (Istimewa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)