Masih dalam rangka menyambut HUT Bandung yang ke-216, yang jatuh pada 25 September 2026 nanti, saya akan menuliskan beberapa Ikon Bandung yang sudah tidak ada lagi hari ini, dan tulisan-tulisan ini ditulis berdasarkan sebuah buku yang pada 25 September 2010 silam diluncurkan oleh harian umum Pikiran Rakyat untuk menyambut ulang tahun Bandung yang ke-200.
Kali ini saya akan membahas sebuah radio legendaris di kota Bandung yang dahulu banyak sekali penggemarnya, terutama kalangan anak muda yang besar pada tahun 1980/90-an pasti tidak asing dengan kata-kata “Siksik Obituary dari Johan Tardy SMA 4!”, ya betul sekali, saya akan membahas GMR FM atau Generasi Muda Radio 104,3 FM, yang dahulu berlokasi di Jalan Hatta No. 15 Bandung.
Radio ini adalah sebuah radio yang menjadi rujukan utama musik rock dan metal bagi anak muda Bandung tahun 1980/90-an. Radio ini bermula dari sebuah stasiun radio amatir bernama Young Generation (YG) yang didirikan oleh Erwin Sitompul pada 1867, lalu pada tahun 1989/90 berubah menjadi radio GMR.
Bagi para remaja Bandung penggemar musik cadas, radio ini mungkin memiliki ikatan batin tersendiri. GMR FM punya banyak program yang mengakomodasi penggemar berbagai genre musik rock. Sebut saja beberapa yang fenomenal seperti “Sunday Rock” yang memberikan referensi musik genre hard rock sampai thrash metal, dan “Siksik” yang berupa program interaktif untuk memilih lagu favorit melalui pola kompetisi.
Program Siksik adalah sebuah program yang fenomenal pada waktu itu, setiap pagi menjelang siang, saat program itu disiarkan selama satu jam, sambungan telepon yang masuk ke GMR FM bisa mencapai 200 sambungan. Dan di program ini juga mereka yang ingin mendengar lagu favoritnya di GMR harus mendapatkan tiga dukungan dari para pendengar lainnya. Jika sudah ada tiga dukungan maka Arin sebagai penyiar acara itu akan mengajukan pertanyaan seputar band yang dipilih, sebagai ujian terakhir. Jika jawabannya benar, lagu pilihan tiga pendengar itu akan diputar, jika jawaban mereka salah maka harus diulang dari awal lagi.
Jika dipikir-pikir sekarang, hanya untuk mendengarkan satu lagu rock kesukaan saja perjuangannya harus seperti itu. Sekarang telah ada aplikasi khusus untuk mendengarkan lagu, kita tidak perlu repot-repot berjuang seperti remaja-remaja terdahulu, belum lagi apabila lagu kesukaan kita tersebut harus terpotong iklan. Dan bila melihat perjuangan remaja Bandung saat itu dalam mengikuti program Siksik yang harus memiliki pengetahuan lebih tentang band-band rock kesayangan adalah sangat luar biasa, masalahnya dahulu belum ada Google bahkan Gemini untuk bertanya sejarah band kesayangan. Memang patut diacungi jempol, keseharian remaja tahun 80 dan 90-an itu luar biasa, hal ini mungkin tidak akan dapat dirasakan para generasi muda Bandung sekarang.
Menurut Arin, sang penyiar GMR FM, radionya ini memiliki sebuah buku panduan berupa ensiklopedia musik rock yang dimulai dari masa kejayaan rock 'n' roll sampai zaman Metallica merajai industri musik cadas. Buku itu menjadi referensi utama para penyiar GMR FM, yang kemudian disampaikan kepada para penggemar musik rock anak muda Bandung saat itu. Tentu saja hal ini bisa menjadi pengetahuan luar biasa bagi mereka, hingga terkadang ketika para penyiar GMR FM ini sedang membacakan kisah salah satu band rock, para penggemarnya ini rela mendengarkannya sambil mencatatnya, hingga inilah yang menjadi acuan para penggemar rock pada saat itu di Bandung untuk menambah pengetahuan mereka.

Selain itu untuk menambah sebuah referensi para penyiar GMR FM berburu majalah musik bekas di kawasan sentra buku bekas Cikapundung. Di tempat itu, para penyiar sering bertemu dengan para pendengar setianya yang juga sedang berburu majalah atau buku serupa. Atau jika punya uang lebih, mereka akan membeli majalah musik impor edisi terbaru yang biasanya terbit di toko buku Qta yang sekarang toko buku itu pun telah almarhum, toko yang paling saya ingat adalah toko buku Qta di jalan Sumatra (seberang Eiger, sekarang) dulu menempati rumah tua yang dibuat menjadi toko buku, dan toko buku Qta yang berada di jalan Riau yang juga menempati rumah tua yang akhirnya dibongkar menjadi Riau Junction.
GMR FM tidak hanya menjadi media dan sumber referensi bagi penggemar musik ekstrem, melainkan juga untuk mereka yang menggemari musik hard rock, heavy metal, sampai rock progresif yang memiliki citra cerdas dan rumit. Salah satu penyiar yang dikenal memiliki referensi sangat kuat di progresif rock adalah Samuel Marudut. Namun, Samuel Marudut pun terjun ke dunia musik cadas. Dengan mengurusi manajemen band cadas asal Jakarta.
Sayangnya Samuel harus meninggal dunia secara misterius di kamar kos salah satu personel Band cadas Jakarta pada akhir tahun 1990. Kematian salah satu penyiar kenamaan GMR FM ini sempat menjadi berita heboh di antara para pendengar GMR FM, dan beberapa band lokal mengenangnya dengan menulis obituari di sampul album mereka, seperti yang dilakukan oleh Puppen dan Pas Band di dalam album single pertama mereka. Sayangnya GMR FM tidak dapat bertahan di tengah arus industri radio, tahun 2002 GMR FM resmi tutup, dan dijual kepada radio milik Grup Femina, U FM yang mengambil pangsa pasar para perempuan Bandung. Namun GMR FM akan tetap menjadi kenangan manis para penggemarnya dahulu. (*)