Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Toko Buku Djawa menjadi bagian dari kenangan masa kecil penulis, terutama karena lokasinya dekat dengan tempat tinggal dan menjadi tempat membeli buku sejak kecil.

  • Toko Buku Djawa dahulu dikenal sebagai toko buku di kawasan Braga yang menyediakan buku impor, majalah, alat tulis, serta menjadi bagian dari deretan toko buku lama yang kini telah menghilang.

  • Penutupan Toko Buku Djawa pada 2015 menandai perubahan wajah Braga, ketika ruang yang dahulu menjadi toko buku kemudian bertransformasi menjadi kedai kopi yang populer di kalangan generasi muda.

Setelah saya menuliskan 7 artikel tentang 200 ikon Bandung yang kini telah tidak beroperasi atau telah tiada yang berdasarkan buku 200 Ikon Bandung yang diterbitkan harian umum Pikiran Rakyat pada 25 September 2020, bertepatan dengan 200 tahun Bandung, kini dalam rangka memperingati kembali HUT Bandung yang ke-216, saya memilih satu ikon Bandung pilihan saya. Sebuah tempat yang dahulu lekat sekali dengan warga kota Bandung, terutama pecinta buku, namun kini tinggal kenangan.

Ikon pilihan saya ini jatuh pada “Toko Buku Djawa”. Mungkin untuk generasi muda sekarang namanya melekat pada satu tempat ngopi kekinian yang bernama “Kopi Toko Djawa”, ya ... dahulu toko Djawa adalah toko buku, majalah, dan alat tulis lengkap dan murah di kawasan Braga.

Toko ini sangat lekat dengan masa kecil saya, karena dekat dengan tempat tinggal. Dibandingkan membeli mainan, kakek dan ibu mendidik saya untuk lebih mencintai buku. Hingga akhirnya masa kecil saya tidak pernah lepas dari buku-buku. Saya lahir dan dibesarkan di perkampungan tua di barat Braga. Sebuah perkampungan yang lahir dan hidup dari distribusi kopi, peredaran candu dan prostitusi tertua di kota Bandung.

Sebetulnya toko buku di masa kecil saya ada beberapa yang masih beroperasi, seperti toko buku Lucu dan Singgalang yang ada di jalan Karapitan, karena masa kecil saya pun lekat dengan kawasan seputaran pasar Ancol, di sebuah rumah tua milik keluarga besar ayah yang merupakan asisten pribadi Pak Mashudi.

Di kawasan Braga pun sebetulnya ada beberapa toko buku yang berada di ruko-ruko tua, seperti salah satunya toko buku Mawar yang merupakan toko buku yang letaknya hampir bersebelahan dengan resto Braga Permai, ada lagi toko buku Universal yang terkenal dengan majalah-majalah luar negerinya yang lokasinya tak jauh dari Sumber Hidangan. Dan yang terakhir adalah toko buku Nusa Cendana yang berdiri di hoek Braga–Suniaraja dan menempati toko bekas Chong Brother yang juga pernah beroperasi sebagai toko sepatu Bata. Dan ketiga toko buku tersebut kini telah tiada di Braga, kini semua gedung bekas toko buku tersebut berubah menjadi kuliner kekinian, yang selalu menjadi incaran para pelancong.

Namun, untuk saya pribadi Toko Buku Djawa adalah yang paling lekat di hati. Selain lokasinya yang berada di mulut gang tempat tinggal saya, toko buku ini bertempat di sebuah ruko blok Tatarah, sebuah blok khusus warga Yahudi di Braga pada masa kolonial Belanda. Blok Tatarah memiliki bangunan khas yang indah dari mulai etalase, lantai hingga kaca patri. Saya sedari kecil memang sangat menyukai bangunan lama, dan berbelanja buku di toko Buku Djawa ini kita akan disuguhi pemandangan gedung indah dan menawan.

Toko buku ini dahulu dikelola seorang wanita Tionghoa yang bernama Nyonya Tjoe, ia menyewa gedung ini sejak 1955 dan mendirikan toko Buku Djawa. Salah satu kelebihan toko buku ini adalah menyediakan berbagai pilihan buku impor yang saat itu masih sulit dicari, dan harganya pun jauh lebih murah daripada Gramedia dan Gunung Agung, sehingga toko Buku Djawa selalu menjadi rujukan para pecinta buku impor.

Ketika saya menjadi salah satu pelanggan toko buku ini, kepengelolaan toko telah berganti ke tangan anak Nyonya Tjoe, dan warga menyebut beliau dengan sebutan Ko Daniel. Beliau sangat ramah, kita akan disambut hangat dan kita dapat berbincang-bincang soal buku hingga lupa waktu bersama beliau.

Yang saya masih ingat dengan jelas adalah ketika memasuki toko, aroma buku tercium begitu pekat, lalu kita akan disambut oleh rak bulat kartu pos dengan foto beragam daerah di Indonesia, karena toko ini kerap kedatangan wisatawan mancanegara yang mencari oleh-oleh kartu pos dari Indonesia. Lalu kita akan disambut oleh rak-rak dan etalase jadul yang khas. Yang selalu saya ingat adalah jajaran buku anak, dan saya memilih buku Barbie terbitan Misurind, lalu dengan ramah Ko Daniel akan berkata “udah ada yang baru tuh datang”, lalu ia juga akan bertanya “isi pensilnya masih ada?”, karena dahulu saya kerap menggunakan pensil isi ulang untuk sekolah.

Sayangnya setelah 60 tahun beroperasi, toko Buku Djawa harus tutup di tahun 2015. Toko buku ini akhirnya “dipaksa tutup” oleh perkembangan zaman. Dan setelah tutup toko ini bertransformasi menjadi kedai Kopi Toko Djawa, yang selalu ramai dan sangat dikenal oleh generasi muda sekarang, padahal awalnya adalah sebuah toko buku yang sangat “membumi”.

Informasi lain yang saya peroleh dari salah satu artikel kawan saya yang bernama Deni Rahman, yang sekarang pun membuka toko Buku Bandung, ia mengatakan bahwa beberapa data kliping koran dan informasi digital menyatakan bahwa toko buku ini lahir pada 1955 dan dikaitkan dengan peristiwa Konferensi Asia Afrika.

Begitu berkesannya untuk saya toko Buku Djawa ini, hingga apabila saya sedang kebetulan bertugas memandu peserta ke kawasan Braga, ingatan itu pun kembali sempurna ke dalam benak. Aroma buku, sapaan hangat pemilik toko, dan segala suasana masa kecil saya di sana kembali dengan sangat sempurna, hanya bedanya sekarang terdengar gemuruh para wisatawan yang ramai menyambangi toko kopi Djawa diselingi dengan lantunan lagu-lagu kekinian dan aroma kopi yang lezat.

Sebuah pengalaman indah namun dalam sudut pandang yang berbeda, apabila saya terhanyut dalam kenangan indah masa kecil, para pelancong terhanyut dalam keviralan kopi tersebut dan sibuk mengabadikannya dalam ponsel mereka. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)